
Selesai solat magrib, Sefira, nenek Uti dan Lia berkumpul di depan rak susunnya untung menghitung hasil jualannya dan merekap sisa stok yang masih.
Nenek Uti bertugas memilah uang sesuai nominal, Fira bertugas menghitung, dan Lia bertugas merekap stok barang. Dengan wajah berseri-seri mereka melakukan tugasnya.
"Kak stok barang cuma tinggal segini, besok kita jual apa kalo gak pesen dulu," ujar Lia memberikan hasil rekap stok setiap mode barang.
Fira melihat rekapan Lia dan tersenyum. "Alhamdulillah ya ia, barang kita tinggal segini dari ratusan lusin. Insya Allah besok ada lagi barang yang dateng, kakak sudah pesan," terang Fira membuat senyum Lia mengembang.
Nenek Uti menitikkan air mata melihat senyum bahagia mereka. "Nenek kenapa nangis?" Tanya Fira yang melihatnya menangis.
"Terima kasih sudah hadir di tengah-tengah nenek sama Aulia," ucap nenek Uti tulus.
Fira tersenyum mendengarnya, ia berjalan memeluk nenek Uti bersama Lia. "Itu semua sudah rencana Allah nek."
"Terima kasih kak," ucap Lia ikut menitikkan air mata sambil memeluk Fira dan neneknya.
"Nangis-nangisnya udahan ah, ayo kita makan malam habis itu istirahat. Eh tapi jangan lupa sebelum tidur solat isya dulu," ujar Fira tersenyum sambil menghapus air mata yang sempat-sempatnya jatuh.
***
Sedangkan ditempat lain, saat ini Dave sedang memandang malas makanan yang sudah tertata apik di atas meja makan.
"Abang gak makan?" Tanya Stefi menatap Dave yang tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Nggak selera dek," jawab Dave malas.
"Kamu sakit son?" Tanya Larry menatap anak sulungnya itu yang di balas gelengan olehnya.
Sonya hanya diam menatap anaknya. "Mah Stefi mau sambal cumi dong." Stefi menyodorkan piringnya.
"Nih." Sonya memberikan satu sendok sambal cumi.
"Nih abang juga kan suka," ujar Sonya kemudian memberikan sambal cumi di piringnya.
"Huekk." Dave memundurkan kursi lalu berlari ke wastafel dapur dan memuntahkan cairan bening.
"Abang kenapa?" Teriak Sonya khawatir.
"Gak papa ma," jawab Dave berjalan ke meja makan kembali.
"Abang fine?" Tanya Stefi khawatir melihat abangnya.
"I'm fine sist."
"Kita kedokter aja son," saran Larry.
"Dave gak papa pa." Dave menatap papanya dengan pandangan meyakinkan. "Abang gak selera makan. Ma nanti aja abanh makannya."
"Bawa aja kekamar gimana?"
"Ga usah nanti aja," tolak Dave langsung melangkah ke lantai dua tempat kamarnya berada.
"Abang kenapa ma pa?" Tanya Stefi melihat Dave berjalan di tangga.
__ADS_1
"Abang gak papa sayang. Adek makan lagi ya habis itu istirahat," titah Sonya lembut.
"Gue kenapa si anjing! Gak enak banget ni perut gue kaya lagi diubrek-ubrek," decak Dave menahan mualnya.
"Minyak kayu putih dimana ya," gumam Dave berjalan mencari minyak kayu putih yang disimpan mamanya di lemari.
"Apa gara-gara gue belum makan dari siang ya?"
"Tapi kalo gue lihat makanan kaya gak selera gitu," gumamnya lagi.
"Anjing," umpat Dave berlaru ke kamar mandinya.
Dave kembali memuntahkan cairan kuning. "Pusing banget kepala gue," ujar Dave keluar dari kamar mandi lalu berbaring di kasur king sizenya.
Dave membuka ponselnya dan membuka aplikasi chat berwarna hijau.
...Nico...
^^^Co?^^^
^^^P^^^
Tidak ada balasan tapi sudah centang dua. Dave menunggu balasan dari temannya itu.
Iya Dav, napa?
^^^Lo tau obat mual sama pusing gak?^^^
Ngapa lo bro?
Serius?
^^^Anjing!^^^
^^^Buruan apaan?^^^
Ya kan nebak Dav.
^^^Lo tau gak?!^^^
Coba lo beli mixagrep.
^^^Ok^^^
^^^Read^^^
...***...
Hari berlalu begitu cepat tanpa memperlihatkan sepercik impian yang telah di rangkai. Dulu dia pernah bermimpi menikah dengan orang terkasih mengandung dan melahirkan anaknya dengan sosok suami disampingnya.
"Aduh!" Pekik Fira menyadarkan lamunannya.
"Eh kamu nendang lagi ya nak," ucapnya dengan disertai lenguhan kecil. Tangannya mengelus perut yang sudah agak membesar.
__ADS_1
Usia kehamilan Fira kini sudah memasuki usia 23 minggu atau bisa dibilang 5 bulan. Perut yang dulu masih rata kini mulai sedikit buncit.
Hari ini, Fira, nenek Uti dan Lia tutup karena barang belum datang dan stok sudah habis. Mereka menghabiskan waktu bebas hari ini dengan bersantai dan mencari baju-baju dan bawahan yang menurut mereka lucu dan cocok untuk dijual.
"Kenapa kak?" Tanya Lia yang berada di sampingnya.
"Eh nendang lagi," heboh Fira tertawa tidak mengidahkan pertanyaan Lia, dia sibuk memperhatikan dan mengelus perut buncitnya.
Lia yang mendengar itu melihat ke perut Fira. "Boleh pegang kak?" Tanya Lia antusias dan penasaran.
Fira hanya mengangguk dengan sesekali tertawa, Lia yang melihat itu segera menempelkan tangannya di perut buncit Fira.
Sekian lama Lia menempelkan tangannya dia mengernyit. "Kok gak ada rasanya kak?"
Fira meletakkan tangannya di perutnya. "Ayo nendang lagi nak, bunda mau liat."
Sayangnya janin di perutnya tak menendang lagi, Fira mengerucutkan bibir dan berdecak.
"Kok gak nendang lagi sih nak."
"Halo adek kecil, ayo nendang lagi bibi mau liat," ujar Lia mengajak ngobrol janin yang masih berada dalam kandungan tersebut.
"Ada apa sih ini, kenapa kalian berdua tertawa gitu suara kalian kedengeran sampai ke dapur," tanya nenek Uti yang baru datang dari dapur.
"Ini nek, dedeknya nendang tapi pas aku letakkan tangan aku dedeknya gak nendang lagi," jelas Lia mengerucutkan bibirnya.
Nenek Uti terkekeh melihat cucunya itu. "Iya kalo nendang terus kasian kakak kamu kesakitan."
Fira menghentikan tawanya memingat sesuatu. "Lia bukannya bulan depan kamu sudah masuk sekolah?" Tanya Fira memastikan.
Lia mengangguk antusias. "Iya kak."
"Kamu udah tentuin sekolah mana yang kamu mau?"
"Sudah kak, SMA Bina Karya yang ada di perempatan sana belok kiri sedikit. Itu yang paling deket sama rumah kak," terang Lia dengan mata berbinar.
"Keperluan kamu sudah semua?"
Lia menggeleng. "Belum kak."
"Ya sudah gak papa. Nanti sore kita jalan-jalan," ujar Fira tersenyum.
"Hm bagaimana kalau malamnya kak? Ada pasar malam nanti malam," pinta Lia hati-hati menunduk takut jika Fira menolak.
"Baiklah," jawab Fira tersenyum membuat Lia meloncat kegirangan. "Beneran kak?" Tanya Lia memastikan dan diangguki Fira. "Nanti malam kita pergi bersama-sama sama nenek juga."
Selama lima bulan ini, jualan mereka laku keras bahkan mereka sudah berjualan secara online juga. Jika pemesan tidak terlalu jauh biasanya Lia yang pergi mengantarkan dengan motor butut milik mendiang ayahnya dulu yang sudah ia servis atas saran Fira.
Omset mereka setiap hari naik. Rencana selanjutnya, mereka akan memperluas teras rumah kesamping tempat biasa nenek Uti menanam cabai dan kawannya. Ingin membeli bangunan kecil untuk di jadikan toko tapi modal belum terkumpul, untuk sekarang mereka fokus pada sekolah Lia terlebih dahulu.
Selama dua bulan belakangan ini, Dave kembali pada sifat aslinya yang dingin, mandiri dan tidak cengeng kepada orang tuanya seperti belakangan ini terjadi padanya. Perubahan itu membuat kedua orang tuanya sedikit kecewa karena jujur mereka lebih senang dengan Dave yang manja karena Dave selama ini begitu dingin kepada mereka.
Hari-hari mereka lewati seperti biasanya, Larry yang sibuk bekerja, Dave yang jarang di rumah dan Sonya yang menunggu kedua pria berbeda usia itu pulang bersama anak gadisnya di rumah.
__ADS_1
......***......
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan!