
Pagi menjulang, seperti biasa vibes di kampung selalu dipenuhi dengan decitan burung-burung dan pekokan ayam-ayam yang saling bersahutan dan suara orang-orang diluar yang sudah mulai melakukan aktifitasnya masing-masing saling menyapa satu sama lain.
Begitu juga dengan Fira yang sudah sibuk berperang di dapur. Fira membuka kulkas mini yang ia punya melihat persediaan yang ada, hanya ada bahan sop dan telur. Ia lupa beli persediaan kemarin dan jika menunggu dagang sayur keliling sekarang kasian Lia dan Gavin yang mungkin akan menahan lapar, apalagi Lia yang harus meminum obat tepat waktu. Fira memutuskan untuk membuat sop dan telur dadar karena hanya itu yang ada.
"Selamat pagi bunda hooaam," sapa Gavin yang berjalan tertatih kearahnya sambil menguap.
"Eh anak bunda udah bangun. Pagi nak," balas Fira tersenyum.
"Masak apa bund?" Tanya Gavin sembari mengucek-ucek matanya.
"Maafin bunda sayang tidak sempat kemarin beli bahan. Yang ada di kulkas hanya sayur sop dan telur jadi bunda masak sop sama telur dadar gak papa kan?" Terang Fira mensejajarkan tingginya dengan Gavin.
Gavin tersenyum mengangguk. "Gak papa bunda."
"Bibi dimana bun?" Tanya Gavin celingak-celinguk.
"Bibi masih di dalam. Gavin tolong panggil bibi sarapan ya sebentar lagi masakan bunda siap," pinta Fira sembari membalik telur ceplok di teplon tanpa menatap lawan bicara.
"SIAP LAKSANAKAN!" Seru Gavin dengan tangan yang bertumpu di keningnya seperti orang hormat.
Tok tok tok
"Bi ini Gavin," ujar Gavin mengetuk pintu kamar Lia.
Tidak lama Lia membuka pintu kamarnya. "Kenapa sayang?"
"Gavin di suruh bunda panggil bibi buat sarapan," jawab Gavin masih dengan wajah bantalnya.
"Ya sudah ayo kita ke sana," ajak Lia meraih tangan mungil Gavin dengan tangan kanannya.
"Pagi kak," sapa Lia setelah sampai di teras tempat mereka makan.
"Pagi dek,' balas Fira menaruh sayur sop di sana. "Duduk yuk, kita mulai sarapan."
Mereka duduk bersila seperti biasa di atas tikar yang sudah tergelar.
Kenapa mereka tidak membeli meja makan padahal omset usaha mereka naik terus? Dulu Fira sudah menawarkan untuk membeli itu tapi Lia menolak karena katanya makan bersama sambil duduk bersila lebih nikmat dari pada duduk di kursi dan kita juga mendapatkan pahala sunah. Sedangkan, Fira yang tidak terlalu paham ajaran agama hanya diam dan pasrah.
"Ini buat Lia dan ini buat anak bunda yang ganteng," ujar Fira memberikan piring berisi nasi kepada mereka berdua. "Gavin mau sop?" Tanya Fira yang diangguki Gavin. "Mau bunda."
"Lia bisa sendiri kok kak," ujar Lia melihat Fira yang akan menaruh sop ke piringnya.
Fira tersenyum mendengar penolakan Lia. "Kamu udah kasih salep lukanya?" Tanya Fira lembut. "Udak kak tadi," jawab Lia.
"Dek, kamu gak papa kan di rumah sama Gavin nanti? Kakak harus ke toko, kakak janji akan pulang cepet," ujar Fira. Bukannya Fira meragukan Lia bisa menjaga dirinya sendiri, bahkan anak gadis itu sangat berani dalam hal apapun tapi kondisinya sekarang Lia sedang sakit, dia takut meninggalkannya sendiri di rumah.
__ADS_1
Lia menghentikan suapannya lalu menatap manik mata kakaknya itu. Dapat Lia lihat ada kekhawatiran di sana dan Lia memakluminya. "Gak papa kak, sungguh. Tapi aku mau ikut ketoko juga, boleh?" Tanya Lia memelas.
Fira yang mendengar itu melototkan matanya. "Tidak tidak tidak. Kamu harus istirahat dulu di rumah sampai keadaan kamu membaik," ujarnya tak ingin di bantah.
"Tap-"
"LIA!" Potong Fira kesal, tidak taukah ia sangat mengkhawatirkannya apalagi lengannya masih sakit.
Lia yang mendengar nada bicara Fira mencebikkan bibirnya dan dengan kasar dia menyuap sarapannya.
Gavin yang melihat bibi nya seperti itu terkekeh. "Udahlah bi. Bibi di rumah aja sama aku," ujarnya terkekeh membuat Lia semakin kesal.
***
Sesuai ucapan Fira tadi, Lia dan Gavin di rumah sambil menonton tv.
"AVIN OH AVIN! MAIN YUKK" Panggil para bocah di depan rumah Lia.
Gavin yang mendengar itu pergi menemui teman-temannya. "Ada apa?"
"Main yuk Vin," ajak Fian.
"Iya Vin, kita ke sawah yuk kemarin pak Udir minta siput lagi buat makan bebek-bebeknya," terang Jetno.
"Yah kok gitu sih Vin. Ayolah," paksa Jaka.
"Gak papa kalau Avin mau main. Bibi gak papa kok," ujar Lia tiba-tiba keluar sembari tersenyum meyakinkan keponakannya itu.
"Tapi bibi sendiri dirumah," ujar Gavin.
"Bibi gak papa sayang, percaya deh. Masalah bunda nanti bibi yang ngomong," balas Lia.
"Tuh Avin, bibi Lia gak papa," timpal Dion.
"Iya ayo," timpal Fian.
"Beneran bi?" Tanya Gavin memastikan yang diangguki Lia.
Gavin tersenyum senang. "Makasi bi," cetusnya.
"Ayo!" Pekik Gavin pergi bersama teman-temannya.
Ingat! Gavin masih balita berumur empat tahun dunianya masih dunia bermain. Tapi jangan kaget jika Gavin juga bisa bersikap dewasa seperti empat hari yang lalu di puskesmas. Gavin memiliki sifat seperti bunglon, berubah sesuai tempat dan keadaan.
"Kita ambil ember dulu," cetus Jetno.
__ADS_1
Mereka mampir ke rumah Jaka terlebih dahulu untuk mengambil tiga buah ember sebagai wadah siput. Siput yang mereka kumpulkan akan mereka jual ke Pak Udir sebagai makanan bebek-bebek karena pak udir usaha ternak bebek.
***
Di tempat lain, seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya karena terusik dengan suara bising dari luar. Ia mengeram marah lalu terduduk di ranjangnya dengan kesal.
"Tukang bangunan sialan," geram Dave.
"Tidak bisa apa mereka ngelas nya gak pake suara," gumamnya lagi dengan kesal.
Tapi tak urung, Dave bangun lalu ke kamar mandi membasuh wajahnya kemudian keluar karena dia juga sudah lapar. Ia menghidupkan ponselnya dan ternyata sudah jam sembilan pagi. Jarinya kemudian berselancar di aplikasi pesan antar makanan berwarna hijau putih itu guna untuk.. ya untuk pesan makanan dong prenku.
Dave mencari mandor yang bekerja membangun vilanya ini. "Pak bisa bicara sebentar?" Tanya Dave kepada mandor tersebut yang bernama Juan.
"Iya pak ada yang bisa saya bantu?" Tanya Juan sopan.
"Saya mau pembantu dua orang. Orang sini aja yang sudah nikah dan berpengalaman bersih-bersih dan masak. Bapak bisa bantu saya cari?" Jawab Dave sekaligus bertanya.
"Bisa pak," jawab Juan.
"Bagus. Kalau gitu lanjutkan kerjaannya saya mau seminggu lagi Vila ini sudah siap," titah Dave.
"Baik pak, saya usahakan," balas Juan kemudian berlalu dari hadapan Dave.
"Permisi" salam seseorang dari luar.
Mungkin itu makananya. Batin Dave dan berjalan keluar.
"Dengan bapak Dave Miller?" Tanya seorang kurir berjaket hijau.
"Hm."
"Ini pak pesanannya. Totalnya 111 pak," beritahu kurir.
Dave memberikan uang selembar pecahan seratus dan selembar lagi pecahan lima puluh. "Kembaliannya ambil aja," ujarnya.
Kurir itu tersenyum menatap uang tersebut. "Makasi pak," ucapnya yang hanya dibalas deheman oleh Dave.
Dave baru saja akan melangkah masuk tapi diurungkan.
"HEI BOCIL BOCIL!"
***
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!
__ADS_1