
BRAKK
Juna tiba-tiba menggebrak meja. "Alix sama Noah udah selesai hibernasinya? Gak niat ngomong sesuatu git? Kalian masih punya suara kan?" Tanya Juna yang ternyata sudah geram melihat dua orang di depannya itu yang hanya diam saja.
Noah menutup novel yang sedari tadi dia baca itu. "Kenapa gak lo hancurin aja ni kantin. Heboh banget jadi orang," ujar Noah. Juna mengerucutkan bibirnya, Noah selalu saja membalas ucapannya dengan ketus.
Alix terkekeh pelan. "Lo gak ada lucu-lucunya begitu," ujar Alix melihat Juna berusaha mencari perhatian dengan bertingkah imut.
Juna berdecak kesal. "Ta! Liat mereka gue dijahatin," adu Juna pada Karta. "Berisik Jun!" Jawab Karta membuat Elang dan Kevin tertawa terbahak-bahak.
🌻
Siang ini seluruh murid sudah memasuki kelas masing-masing. Memang belum ada jam pelajaran tapi ini adlaah pertemuan murid dengan kelas mereka.
Lya memilih duduk di bangku paling belakang di pojok ruangan, dia duduk bersama Diki, sedangkan Eadred duduk bersama Cakra di depan Lya.
"Assalamualaikum anak-anak," sapa seorang guru laki-laki yang baru saja masuk ke kelas.
"Waalaikumsalam pak," jawab penghuni kelas itu.
Guru laki-laki yang terbilang masih cukup muda itu tersenyum menatap seluruh murid. "Kenalkan nama saya Johan Andriansyah kalian bisa panggil saya pak Johan, kita baru bertemu di kelas sebelas ini. Saya mengajar di mata pelajaran Biologi dan saya yang akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun ini. Saya harap kita bisa bekerja sama menjaga nama baik kelas," jelas pak Johan.
"Baik pak," jawab semua murid serempak.
"Bapak juga senang karena juara umum sekolah kita ada di kelas ini, bapak harap teman kalian Gelya dapat bekerjasama membantu teman-temannya yang lai jika ada kesulitan dalam belajar," ucap pak Johan. Lya merasa dirinya tengah ditatap oleh seluruh teman kelasnya.
Lya tersenyum lebar. "Aman pak!"
Setelah menghabiskan waktu untuk memilih perangkat kelas, pak Johan pun keluar dan membebaskan murid untuk pulang.
Saat Lya ingin keluar, Eadred menahannya. "Bang Karta minta kita ngumpul di markas," ujar Eadred pada Lya dan Diki.
"Ngapain?" Tanya Diki penasaran.
"Gak tau!"
Lya yang mendengar itu pun hanya menganggukkan kepalanya. "Ya udah ayo!"
Diluar kelas sudah ada Keenan, Mira dan Clarissa sudah menunggu di depan. "Belum balik?" Tanya Lya pada Clarissa.
"Tadi rencananya mau ikut kalian kerumah, tapi kata Mira kalian mau kumpul," jawab Clarissa.
Lya mengangguk. "Balik duluan aja, bocil gak boleh ikut-ikutan urusan orang gede," ujar Diki membuat Clarissa menatapnya tajam.
__ADS_1
"Disini cuma kamu yang besar, badan udah kaya kingkong," ujar Clarissa.
Lya yang merasa akan ada perdebatan tidak berfaedah segera mengeluarkan suara. "Lo balik duluan aja, bawa mobil kan? Ada bunda kok dirumah," ucapnya yang diangguki Clarissa.
Mereka berjalan ke parkiran dan menuju markas. Saat sampai, markas masih belum ramai. Hanya ada Hasan dan dua orang lainnya yang memang tinggal menetap di markas. Markas memang terbentuk seperti rumah, memiliki kamar, dapur, ruang tamu dan taman. Rumah besar itu sudah menjadi markas Rakasa sejak Rakasa di bentuk. Ini adalah rumah pemimpin pertama Rakasa yang dia berikan untuk tempat anghota berkumpul. Sedangkan Hasan, Rian dan Martin sudah menjadi penghuni tetap markas dari tahun lalu. Mereka yang tinggal sendiri memutuskan untuk tinggal di markas sembari menjaga markas, tentunya atas izin dari ketua.
"Gak ada makanan bang?" Tanya Lya berjalan ke dapur.
"Kita tadi makan diluar, adanya cuma snack sama minuman soda," jawab Hasan.
Lya membuka kulkas. "Gak ada bahan buat di masak gitu?" Tanya Lya lagi.
"Ngapain lo nanya bahan masakan? Kayak bisa masak aja, idupin kompor aja gak bisa," celetuk Diki.
Lya mendengus. "Kalaupun ada gue minta lo buat bikinin makanan," ujarnya.
"Lo gak bisa masak?" Tanya Mira menghampiri Lya, gadis itu menggeleng. "Gue mendingan disuruh mukulin orang dibanding masak!"
Mira menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Udah gede belajar masak sana. Ntar kalau lo nikah, suami lo mau di kasih makan apa?" Tanya Mira lagi.
"Apa gunanya restoran, hidup gak perlu di buat susah. Punya banyak duit tuh di manfaatin," ujar Lya sombong.
Keenan yang mendengar itu melempar kulit kacang pada Lya. "Jangan sombong. Jatuh miskin baru rasa!" Lya balas melempar kulit kacang pada Keenan. "Gak usah iri, butuh duit bilang!"
Lya berjalan mengikuti ketiga temannya, karena tidak mendapat tempat duduk, Lya menyandarkan tubuhnya pada dinding bersembunyi di balik badan Keenan dan Eadred.
"Gye disini mau ngenalin mereka berdua," ujar Karta pada seluruh anggota sembari menunjuk Devano dan Alix. "Dia Devan dan Alix. Buat anggota lama gue rasa kalian pasti kenal mereka berdua, tapi untuk anggota baru, gue kasib tau ke kalian kalau mereka berdua adalah anggota lama kita. Ada beberapa urusan yang membuat mereka baru bisa balik sekarang dan sekolah di sekolah kita."
Yang lain hanya menyimak ucapan Karta. Lya memperhatikan kedua manusia yang menjadi topik pembicaraan hari ini, Lya akui laki-laki bernama Devan itu memang benar-benar tampan.
"Gue juga mau ingetin ke kalian untuk selalu hati-hati kalau lagi di luar. Jangan buat keributan sama geng motor lain apalagi kalau kalian lagi sendiri. Selalu lapor apapun yang berkaitan dengan penyerangan, mau sekecil apapun itu dan kembali gue ingetin untuk jangan sekali-sekali berniat untuk jadi pengkhianat, gak ada ampunan untuk manusia seperti itu. Ngerti?"
"Ngerti bos!" Jawab anggota yang di dominasi oleh suara laki-laki.
"Oke waktu bebas!"
Mendengar ucapan Karta, seluruh anggota mulai beranjak dari tempat mereka. Ada yang memutuskan untuk pulang atau pergi keluar, ada yang tetap disana dan ada yang nongkrong di gazebo depan.
Begitu juga dengan Lya dan Diki, saudara sepupu itu memutuskan untuk pulang tapi Elang lebih dulu menghentikan langkah mereka.
"LYA!" Teriak Elang memanggil Lya. Gadis itu berbalik.
"Apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Sini dulu, gue ada butuh!"
Lya berjalan mendekati Elang. "Kalau lo yang butuh, harusnya lo yang samperin gue," ujar Lya saat sampai di depan Elang.
"Ogah! Gue kan senior."
Lya berdecih. "Cih.. sok banget. Kenapa?" Tanya Lya.
"Ikut olimpiade ya!" Ujar Elang membuat Lya melototkan matanya.
"Olimpiade apaan? Sekolah baru satu hari udah mau lomba aja," ujar Lya. Gadis itu mengernyitkan dahinya tidak habis pikir. Apa yang akan di lombakan saat sekolah baru saja memberikan jadwal pelajaran tadi.
"Ya gak sekarang. gue mau ngajakin lo aja, biar bisa persiapan dulu," jelas Elang.
"Gak mau ah, ribet!"
"Kenapa gak mau? Lo kan pintar. Ayo lah Ya," bujuk Elang. "Ajak bang Noah aja. Gue gak mampu! Bukan otak gue yang gak mampu, gue nya aja yang males," tolak Lya.
Elang mendengus kesal. "Noah udah kelas 12, dia juga gak mau ikutan begituan. Lo ajalah Ya," bujuk Elang membuat Lya mendengus. "Kalau bang Noah yang pintar begitu aja gak mau, apalagi gue. Gue gak bisa, gue sibuk. Gue kudu ngurus tanaman bunda, bayar air, bayar listrik, gue harus kerja bang buat bayar cicilan mobil dan rumah. Hidup gue susah," ujar Lya mendrama.
Elang terlihat frustasi. Laki-laki itu berjalan menarik Lya kearah Karta dan lainnya. "Ta, tolong bilang ke adek lo buat ikut olim," ujar Elang pada Karta. Lya menepuk lengan Elang.
"Enak aja lo bawa-bawa bang Karta. Gue gak mau bang, jangan maksa dong. Gue aduin ke dukun langganan gue baru rasa lo!"
Karta mengerutkan keningnya. "Kenapa sih?" Tanya Karta. Elang duduk di lantai tepat di depan kaki Karta. "Suruh Lya ikut olim. Gue udah janji sama pak Rama buat ngajak Lya ikut. Lo kan tau dia juara umum," jelas Elang terlihat memohon.
Karta mendongak menatap Lya. "Ikut ajalah. Lo kan pintar," ucap Karta pada Lya.
Gadis itu menggeleng. "Gue gak suka ikutan begituan. Nanti kalau gue menang, kan repot guenya. Fans gue makin banyak, guru-guru makin senang sama gue. Aduhh! Gak ada waktu gue buat begituan," jawab Lya.
Karta memijat keningnya. "Bisa serius dulu?" Tanya Karta, dia jengah hatus mendengarkan jawaban Lya yang selalu tidak masuk akal.
"Ya, duduk dulu aini," ujar Kevin menarik Lya untuk duduk di tempatnya. "Elang ngajak lo sekarang biar lo bisa menyesuaikan diri juga. Mau gak mau lo bakal di tawarin buat ikut olim. Guru-guru gak akan ngelepasin lo setelah ngeliat kemampuan otak lo yang pintar ini," ucap Kevin mencoba membuat Lya mengerti.
Lya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bang jangan berlutut di depan gue gini, udah berasa lagi mau di lamar aja gue. Padahal niatnya mau deketin yang itu," ujar Lya menunjuk Devan dengan dagunya. Kevin mendengus dan segera berdiri.
"Mata lo jelalatan juga ya! Gue pikir lo gak akan tergoda sama mereka," ujar Juna menjitak kening Lya.
"Namanya juga menikmati ciptaaan Tuhan. Kan sayang kalau dianggurin," ujar Lya mengedipkan sebelah matanya pada Devan.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1