SEFIRA

SEFIRA
GL 37


__ADS_3

Laki-laki yang sedari tadi hanya memperhatikan Lya itu sedikit tersentak saat Lya mengedipkan matanya padanya. Namun dia bisa mempertahankan ekspresi datarnya.


Lya berdiri. "Gue pulang dulu, nanti di cariin bunda. Kalau bang Noah mau balas chat Cla, baru gue ikut," ujar Lya melangkah keluar.


Elang melemparkan kulit kacang ke sembarang arah. "Bocah sialan! Baru kali ini ada yang berani sesuka hati dia ke kita. Nyebelin banget sih adek lo!" Kesal Elang pada Karta.


"Adek? Sejak kapan lo punya adek?" Tanya Devan pada Karta.


"Ck.. bukan, dia aja yang suka banget panggil gue abangnya. Emang agak nyebeli tuh bocah tapi dia gak seburuk itu juga," jelas Karta pada Devan. "Lo gak usah ngata-ngatain Lya, lo butuh dia. Lagian ngapain juga lo janji ke pak Rama buat ajak Lya ikut olim. Sekarang lo usaha sendiri, jawabannya ada di dia," ujar Karta lagi sembari menunjuk Noah yang tengah bermain game online bersama Alix.


Juna menepuk pundak Elang. "Tenang! Gue bantu bujuk Noah. Lagian ni batu gak mungkin gak mau bantuin temannya, cuma sekedar bales chat Clarissa apa susahnya."


Kevin mengangguk menyetujui ucapan Juna. "Santai kayak di pantai!"


...🌻...


Kring


Suara bel istirahat menggema di seluruh koridor sekolah. Murid-murid mulai berhamburan menuju kantin.


"Kantin gak?" Tanya Eadred yang duduk di depan Lya berbalik. Diki mengangguk sedangkan Lya berdiri duluan. "Gue mau ke toilet dulu, pesenin gue sekalian," ujar Lya berlari keluar.


Lya segera menyelesaikan urusannya di bilik kamar mandi. Saat keluar seseorang menghentikan langkahnya.


"Well gak nyangka bakal ketemu lo disini," ucap seseorang menatap Lya.


Lya balas menatap gadis di depannya. "Kita satu sekolah, jelas kalau kita ketemu. Bego banget!" Jawab Lya menatap malas Clara.


Clara menatap Lya sinis. "Udah berhasil dapatin Karta? Gue rasa sih nggak, lo kan gak selevel sama Karta!"


Lya mendengus. "Gak penting banget omongan lo," jawab Lya. "Gue kasih tau sama lo, gue gak pernah punya niat buat dapetin Karta."


Clara tertawa sinis. "Gue gak peduli. Selagi kita ketemu, gue cuma mau bilang kalau jangan sekali-kali punya niat buat deketin Devan. Dia punya gue," ujar Clara membuat Lya tertawa. Lya menelisik penampilan Clara yang menurutnya sangat menor ini.


"Lo siapanya Devan?" Tanya Lya tidak minat. "Gue pacarnya," jawab Clara menyombongkan diri. "Jadi gue minta lo untuk jangan punya niat untuk suka sama cowok gue."


Lya menatap Clara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tersenyum menatap gadis di delannya ini. "Sebenarnya gue heran sih kenapa lo bisa ngomobg gini ke gue, gue bahkan gak dekat sama cowok lo itu. Takut kalau cowok lo kepincut sama gue?" Tanya Lya tersenyum remeh.


"Gak takut sih, cuma mau ngingetin lo aja. Lo kan gatel, semua cowok lo deketin. Nempel sana sini kayak ulet bulu, cewek murahan!" Clara menjawab pertanyaan Lya dan langsung keluar dari toilet.


Lya mengepalkan tangannya. Wajah cantiknya memerah menahan amarah.

__ADS_1


BRAKK


Lya menendang salah satu pintu bilik dengan kencang. Hingga mengejutkan dua orang siswi yang baru saja ingin masuk toilet. Lya memandang tajam kedua siswi itu sebelum keluar toilet.


Ternyata perkataan Clara berpengaruh besar terhadap Lya. Gadis itu tengah memikirkan semua kata-kata Clara.


Gue murahan? Apa orang-orang ngeliat gue sebagai cewek murahan? Gue dekat sama teman cowok itu salah? Gue ulat gitu? Batin Lya.


"Clara anjing!" Umpat Lya tertahan.


Lya berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Mukanya mewah dan Lya rasa dia butuh penenang.


BRUKK


Lya menabrak seseorang. Dengan kesal dia menatap laki-laki yang berdiri di depannya. "Punya mata gak lo?" Tanya Lya ketus.


Laki-laki bernama Dino menatap Lya sinis. "Li yang nabrak gue, seharusnya gue yang nanya, punya mata gak?" Tanya Dino membuat Lya menatapnya dengan nyalang.


"Nantangin gue lo?" Tanya Lya. Gadis itu sudah cukup menahan emosinya, bahkan Lya tidak menghiraukan wajah tampan dari Dino ini. "Lo pikir gue takut? Lo siapa? Gak usah sok-sokan. Cabe kayak lo pasyi cuma nyari kesempatan nabrak gue biar bisa dekat-dekatan sama gue kan? Murahan banget!"


BUGH


Lya memukul wajah tampah Dino telak. Teriakan dari beberapa siswi yang terkejut dengan kejadian itu terdengar nyaring dan mendiamkan suasana koridor yang cukup ramai.


BUGH


Dino membalas pukulan Lya. Koridor semakin ramai, Lya dan Dino saling memukul. Lya butuh ini, dia butuh Dino untuk meredam amarahnya. Dia butuh seseorang untuk dia pukul dan melepaskan amarahnya.


BRAKK


Dino terjatuh setelah mendapat tendangan keras dari Lya. Hidung Dino mengeluarkan darah segar, bagitu juga dengan Lya yang mendapat luka di ujung bibirnya. Lya akui Dino cukup kuat, tapi teknik bela diri laki-laki itu sangat kurang. Dino hanya asal pukul saja.


"LYA STOP!" Karta datang menarik lengan Lya yang baru saja ingin kembali menyerang Dino. "Ngapain lo berantem di sekolah?" Tanya Karta.


Lya menatap tajam Karta, dia menghempaskan tangan Karta dari lengannya dengan kasar. "Gakkusah ikut campur!" Jawab Lya. Emosinya kembali memuncak melihat Devan yang datang bersama Karta.


"ADA APA INI?"


Lya mendengus keras saat melihat pak Burhan muncul di tengah-tengah kerumunan. Guru BK menatap Dino yang sedang meringis di lantai dan Lya yang penampilannya sangat acak-acakan.


"Gelya! Kamu benar-benar keterlaluan. Apa kamu tidak sadar jika kelakuan kamu ini bukan seeprti anak perempuan. Baru minggu pertama sekolah dan kamu udah berbuat ulah," ujar pak Burhan menatap Lya.

__ADS_1


"Saya gak mungkin mulul dia kalau dia gak cari masalah sama saya," jawab Lya menunjuk Dino.


Dino berdiri di bantu seseorang yang ada di dekatnya. "Lo yang nabrak gue, bukannya minta maaf malah asal pukul orang."


"Diam lo anjing!" Umpat Lya ingin memumul Dino.


"LYA!"


"GELYA!"


Karta dan pak Burhan berteriak menghentikan Lya. Pak Burhan bediri di depan Dino sedangkan Karta kembali menahan lengan Lya.


"Jangan bego! Lo bisa dapat masalah besar," tegur Karta.


"Kamu ke ruangan saya sekarang. BUBAR!" Ujar pak Burhan meninggalkan kerumunan.


Lya menatap Dino dengan tajam. Laki-laki itu tersenyum miring membalas tatapanya lalu pergi diikuti murid lainnya.


"LYAAA! Ya ampun kenapa lo? Ini bibir bisa luka gini? Siapa yang mukul lo?" Tanya Diki yang baru saja datang bersama Clarissa. "Gel Gel kenapa?" Tanya Clarissa pelan.


Lya tidak menghiraukan mereka, dengan langkah cepat dia pergi ke ruang BK.


Diki baru saja ingin menyusul Lya tapi di hentikan Karta. "Dia harus ke BK. Gak usah diikutin, balik ke kelas!" Perintah Karta pada teman-temannya.


Karta dan teman-temannya berpisah dan menuju kelas masing-masing.


"Keren sih!" Celetuk Alixy. Laki-laki itu tengah berjalan menuju kelas bersama Devan.


Devan menaikkan alisnya sebelah. "Maksud lo?" Tanya Devan sembari memasukkan kedua tangannya ke kantong celana.


"Cewek tadi lah! Sering gue liat cewek berantem. Tapi baru kali ini ngeliat cewek mukulin cowok sampai babak belur begitu," jelas Alixy sembari tertawa kecil.


Devan mengangguk-anggukan kepalanya. Laki-laku itu menyetujui ucapan temannya. "Setelah gue perhatiin tuh cewek sedikit beda. Cantik! Speechless gue liat kemampuan bela diri dia."


Alixy membalikkan tubuhnya, dia berjalan mundur sembari tersenyum geli menatap Devan. "Jatuh cinta lo? Gak pernah tuh gue denger lo muji cewek," ledek Alixy tertawa.


Devan menatap tajam Alixy membuat laki-laki itu mengerasakan tawanya. "Gak usah di jawab! Gue paham lo luar dalam," ujar Alixy lagi. Kini dia sudah berjalan normal menghadap ke depan.


"Gak usah sok tau! Gak mungkin gue jatuh cinta sama orang yang baru gue liat beberapa kali. Gila lo!" Devan memukul kepala Alix. Bukannya marah, Alix malah tertawa terbahak-bahak. "Sekarang belum! Tali lo udah tertarik sama dia. Gak usah sok jual mahal, lo gak bisa ngibulin gue!"


Devan berjalan cepat meninggalkan Alix dengan langkah besarnya. Perkataan Alix mampu membuatnya kesal, namun dia merasa bahwa dia tidak menyangkal perkataan temannya itu.

__ADS_1


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2