SEFIRA

SEFIRA
GL 32


__ADS_3

Saat mereka memasuki pintu kaca yang bisa terbuka sendiri itu, banyak mata yang melihat mereka. Tentu saja, siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan Diki terlebih tubuh jangkung laki-laki itu membuatnya punya poin lebih untuknya. Sedangkan ada dua gadis cantik yang berjalan di sampingnya membuat tidak sedikit kaum hawa merasa iri pada Lya dan Clarissa. Namun banyak juga kaum adam yang merasa iri pada Diki yang bisa berjalan bersama kedua gadis cantik.


Ketiga persepupuan itu tengah berada di surganya para pelajar. Berbagai peralatan tulis berjejer rapi menyapa mereka. Mereka bertiga mulai memilih barang yang ingin mereka beli.


Clarissa membeli dua lusin buku, beberapa pena berwarna warni, sekotak penggaris dengan berbagai bentuk dan kotak pensil berwarna pink. Bahkan Clarissa juga membeli pewarna, entah untuk apa, mungkin saja gadis itu punya hobi menggambar.


Diki juga sama seperti Clarissa, hanya saja laki-laki itu tidak membeli pena sebanyak Clarissa, dia juga tidak membeli penggaris apalagi pewarna.


Lya juga tidak jauh berbeda dengan Diki, gadis itu terlihat tidak peduli dengan banyaknya printilan cantik yang sedang menarik perhatian Clarissa. Lya hanya berdiri di deretan pena dan mengacak-acak susunan pena membuat warna, merek, bahkan bentuk yang sudah di susun rapi ileh pegawainya menjadi tidak beraturan.


Clarissa yang melihat itu pun langsung menepuk punggung tangan Lya. "Gel Gel, jangan jail dong. Nanti di marahin pegawainya," ujar Clarissa.


Lya tidak mengubris. "Ck.. mana bisa mereka marah, gue ini pembeli. Pembeli adalah raja, lagian gak akan berani mereka kalau tau siapa gue," ujar Lya sombong.


Clarissa bersedekap dada. "Emang kamu siapa?" Tanyanya.


Lya ikut bersedekap dada. "Gue Lya! Kenapa?" Jawab Lya santai.


Clarissa mendengus kesal. "Mending kita bayar aja, mana si Diki?" Tanya Clarissa. Lya dan Clarissa mengedarkan pandangannya mencari Diki. Beruntung orang mereka vari memiliki tinggi badan yang tidak lazim, membuat mereka dengan gampang menemukan Diki.


"Itu si coconut foto sama siapa?" Tanya Clarissa melihat Diki sedang berfoto sama dua orang gadis.


Lya yang melihat itu tersenyum. "Ikut gue!" Ujar Lya berjalan kearah Diki.

__ADS_1


"Oh jadi gini kelakuan kamu di belakang aku? Ngapain kamu sama cewek-cewek ini?" Diki dan kedua cewek itu menoleh terkejut pada Lya yang sudah menatap mereka garang.


"Ya? Apaan sih?" Tanya Diki mengkode Lya.


"Apa? Kamu selingkuh? Sama mereka? Atau salah satu dari mereka?"


"Ya apaan sih? Jangan ngaco!" Diki terlihat panik, pasalnya mereka sedikit menarik perhatian pengunjung disana.


Lya menyeringai. "Jawab aku! Yang mana selingkuhan kamu?" Tanya Lya menatap kedua cewek di depannya itu tajam. "Kalau mau selingkuh cari yang lebih dari aku! Kurang apa sih aku? Semua aku kasih baju, celana, motor, tagihan listrik sama air aja aku yang bayarin. Sekarang kamu sekingkuhin aku sama jamet begini? Gak nyangka aku!" Diki menganga tidak percaya. Kata-kata Lya menyentil lambungnya, memang awalnya Diki sedikit risih karena kedua gadis ini secara terang-terangan menggodanya bahkan mereka tidak membiarkan Diki pergi sebelum Diki mau berfoto dengan mereka.


"Buat kalian berdua!" Ujar Lya menunjuk kedua gadis yang hanya berdiam diri itu. "Jangan coba-coba deketin pacar gue kalau lo pada mau selamat! Pergi sana!" Kedua gadis itu terlihat ketakutan dan langsung pergi dari sana.


Lya tersenyum dan berjalan meninggalkan Diki sambil menarik Clarissa untuk membayar belanjaan mereka. Diki? Laki-laki itu tengah menahanalu akibat perbuatan Lya.


Clarissa berdiri di depan Lya, menaruh semua barang agar bisa dihitung oleh kasir. "Mau debit atau cash kak?" Tanya kasir itu Clarissa, namun sedetik kemudian terdiam membeku. Bagaimana tidak? Sebuah kartu berwarna hitam baru saja di letakkan begitu saja di meja kasir. Kasir itu menatap kartu itu dengan tatapan horor.


Kasir itu tergugup menatap Lya. "I-iya mba, maaf," ujar kasir itu. Dapat Lya lihat bahwa tangan kasir itu bergetar menyentuh black card miliknya.


Diki yang berada di belakang Lya terkekeh geli melihat ekspresi kasir itu, sedangkan Clarissa sedang memperhatikan beberapa kasir yang sama terkejutnya saat melihat black card Lya.


"Te-terima kasih sudah berkunjung kak!" Ujar kasir itu menyerahkan black card Lya. "Terima kasih kembali," ujar Lya tersenyum manis.


Lya berjalan menarik Clarissa meninggalkan Diki yang membawa belanjaan mereka. "Heh! Ini berat banget anjir, jahat banget kalian," sungut Diki. "Ya udah di titipin dulu," balas Lya yang tengah berada di toko baju. Dengan kesal, Diki berjalan menuju tempat penitipan barang.

__ADS_1


Clarissa berjalan mencari sesuatu yang mungkin saja menarik perhatiannya. Tidak berbeda dengan Lya. Gadis itu sudah memegang satu hoodie dan dua kaos, Clarissa sedikit meringis melihat warna barang yang di pilih oleh Lya tidak pernah jauh dari warna hitam. Lagi-lagi hoodie hitam, untung saja kaos yang di pilih Lya masih memiliki warna meski hanya warna putih saja. Diki juga sudah menggenggam dua hoodie yang warnanya sama-sama hitam, Clatissa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Gadis itu memilih dua buah baju kaos berwarna putih dan kuning, lalu dua buah cardigan. Clarissa memang sangat suka mengenakan cardigan, sangat fashionable jika di bandingkan dengan Lya.


"Udah?" Tanya Lya saat Diki dan Clarissa mendekatinya. Mereka berdua mengangguk lalu berjalan menuju kasir.


"Ini aja kak?" Tanya kasir itu ramah.


"Maunya sih bawa mba nya sekalian, tapi kan gak di jual," ujar Diki menebarkan pesonanya. Lya dan Clarissa mendengus. Berbeda dengan kasir itu, pipinya memerah mendengar ucapan Diki.


Lya muak. "Ini masih mau senyum-senyuman? Saya bawa barangnya terus tinggalin dia gak masalah," ujar Lya menunjuk Diki.


Diki mengetuk kening Lya. "Masa gue mau di tukar sama baju sih, murah banget dong gue," ujar Diki. "Emang murah," jawab Lya mengeluarkan card-nya, lagi-lagi kasir disana terkejut. Jika Lya tidak salah, di Indonesia hanya ada Nagita Slavina si artis kaya raya istri Rafi Ahmad yang punya benda ynag sama seperti dirinya. Sebenarnya blavk card ini juga bukan milik Lya sepenuhnya, karena usia legal kepemilikan kartu itu adalah 21 tahun, Lya mendapatkan kartu itu dari ayahnya dan Lya bebas menggunakannya.


Ketiga persepupuan itu memutuskan untuk bermain di Timezone, menghabiskan waktu libur mereka sebelum memasuki waktu sekolah. Diki masih mengikuti kedua gadis yang berjalan di depannya. Dia tersenyum, sangat manis menatap kedua gafis itu, mengingat beberapa hari lalu Diki harus ekstra dalam membujuk Lya agar tidak marah padanya. Kini hubungan mereka kembali membaik, Diki dapat menghabiskan waktu di rumah Lya.


"Pacarnya yang mana mas?" Tanya salah satu pegawai yang berdiri di area permainan.


Diki menoleh. "Dua-duanya," jawab Diki santai lalu berjalan menghampiri Lya dan Clarissa. Tangannya bergerak merangkul kedua gadis itu, pegawai yang melihat itupun menganga tidak percaya. Pasalnya Diki mengecup puncak kepala Lya dan Clarissa bergantian.


"Dih kenapa lo?" Tanya Lya pada Diki. "Kamu kesambet apa?" Tanya Clarissa ikut-ikutan.


Diki hanya terkekeh dan menggeleng. "Seneng aja gue, punya bidadari begini, jangan bandel entar gue yang pusing ngurusin kalian," ujar Diki tertawa.


Lya dan Clarissa mengernyit heran. "Stupid coconut!"

__ADS_1


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2