SEFIRA

SEFIRA
GL 43


__ADS_3

Bel tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi. Teman kelas Lya bersorak senang karena sudah jengah menatap buku dan mendengar ocehan guru mereka.


Dengan langkah cepat Lya keluar kelas, namun seseorang menarik tanganya tanpa permisi.


"Woy apaan nih? Lepas!" Berontak Lya.


"Pulang bareng gue," ujar Devan menatap Lya datar. Devan menarik Lya menuju parkiran.


Lya tetap berontak. "Penculikan! DIKI GUE DI CULIK, TOLONG!" Teriak Lya meminta pertolongan. Bukannya mencegah Devan, Diki malah berjalan santai bersama Clarissa dan Keenan. "Di culik cowok ganteng kok nolak," celetuk Clarissa tertawa.


"Dev, lepas dong, gak enak diliatin orang-orang," ujar Lya saat mereka sudah sampai di parkiran.


Devan menatap Lya. "Gue gak punya pacar! Siapa yang bilang kalau gue pacaran sama cewek itu?" Tanya Devan dengan wajah datarnya.


Lya tidak menjawab, dia sedikit takut melihat Devan yang menatapnya tajam.


"Naik!" Titah Devan pada Lya. Dengan patuh Lya mengikutu perintah Devan, Lya duduk di jok belakang motir Devan, tangannya meremas tas hitam Devan.


Devan melajukan motornya meninggalkan sekolah. Lya tidak tau mau dibawa dirinya ini, karena dia yakin ini bukan jalan pulang ke rumahnya. Ingin bertanya tapi Lya percaya pada Devan, tidak mungkin laki-laki itu benar-benar menculiknya lalu menjual Lya di pasar gelap.


"Pegangan Ya!" Ujar Devan menyadarkan lamunan Lya.


"Hah?" Beonya.


"PEGANGAN YANG KUAT!" Ulang Devan. Lya bingung namun dengan cepat dia sadar saat ada dua motor yang mengejar mereka.


Lya melototkan matanya. "DEV KITA DIIKUTIN!" Ujar Lya.


Devan menancap gasnya tiba-tiba dan mempercepat laju motornya. Lya tersentak hingga tanpa sadar memeluk tubuh Devan.


Ya Allah, Lya belum mau mati ya Allah. Tolong jangan kirim malaikat maut secapat ini! Batin Lya mengeratkan pelukannya.


BRUKK


Salah satu motor itu menendang motor Devan membuat motor itu oleng. Motor Devan ambruk, Lya dan Devan terjatuh telak. Untung saja Devan sempat menepikan jalan motornya hingga mereka jatuh di rerumputan. Meaki begitu tubuh mereka tetap saja terlempar, apalagi Lya.


Tubuh mungil itu terjerembab menabrak pohon yang ada di pinggir jalan.


"LYA!" Teriak Devan segera mendekati Lya. Laki-laki itu melepaskan helmnya dan melemparkannya kesembarang arah. "Ya!" Panggil Devan membalikkan tubuh Lya yang tertelungkup.


"Huuwaaaa sakittt!" Tangis Lya. Keningnya terluka meski tidak parah, lututnya juga leect. Tidak ada luka serius baik Lya maupun Devan.


"Kening lo lyka Ya," ucap Devan mengwla setetes darah yang menetes dari kening Lya.


"SIALAN TUH ORANG! BANGSAT LO, ANJING. MUKA CANTIK GUE JADI LECET!" Maki Lya menatap dua motor yang sudah meninggalkan mereka.


Devan membekap mulut Lya. "Heh jangan teriak-teriak! Ayo kita balik, obati luka lo!" Devan membantu Lya berdiri setelah memeriksa tidak ada luka serius dari gadis ini.


Lya memegang pipinya. "Lecetnya banyak ya?" Tanya Lya.


Devan menggeleng. "Cuma kening doang. Tetap cantik kok," jawab Devan menggenggam tangan Lya menuju motornya.


"DEVAN JANGAN GOMBALIN GUE! NANTI GUE SUKA SAMA LO KAN JADI RIBET!" Teriak Lya menutupi pipinya yang terasa panas.


Devan berbalik menatap Lya. "Gak ribet! Tinggal pacaran apa susahnya," jawab Devan membuat pipi Lya tambah merah.

__ADS_1


"SIALAN LO! STOP BIKIN GUE BAPER!" Maki Lya membuat Devan tertawa. "Masih mau disini atau balik?" Tanya Devan menundukkan kepalanya menatap Lya dari dekat.


Lya terdiam menatap mata Devan. Lya yakin wajahnya sudah merah sempurna.


"Maaf ya. Lo luka karena gue," bisik Devan yang masih menatap Lya. Lya tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.


Devan tersenyum. "Gue pengen cium lo. Tapi waktunya gak tepat," ujar Devan membuat Lya terkejut. Dengan cepat Devan menjauhkan wajah tampannya sebelum Lya menghadiahi sebuah tonjokan.


"Berani lo ngelakuin itu, gue robek bibir lo!" Ujar Lya menatap Devan tajam.


Devan tertawa dan mengacak rambut Lya. Tangannya terulur menggenggam tangan Lya dan menarik Lya menuju motornya. Lya hanya diam mengekori langkah Devan.


...🌻...


Ceklek


"Ya!" Panggil Diki muncul dari balik pintu. "Lo gak apa-apa? Mana yang luka?"


Lya menggeleng seraya menggenggam baju kaosnya. Lya dan Devan memang pulang kerumah Diki.


"Kok tau?" Tanya Lya. "Devan nelpon Karta, gue lagi sama Karta tadi," jawab Diki.


Diki mengecek kondisi Lya. "Gak ada yang parah kok, cuma lecet-lecet doang," ujar Lya santai. Diki mengangguk. "Ya udah, ganti baju terus kita obatin luka lo dibawah, Devan sama anak-anak dibawah."


Lya menoleh bingung. "Kok ada mereka?" Tanya Lya membuat Diki berdecak. "Kan Devan nelpon Karta tadi!"


Lya segera masuk ke kamar mandi untuk ganti pakaiannya. "Tunggu disitu!" Ujar Lya pada Diki.


Setelah selesai berganti pakaian, dia dan Diki segera turun kebawah. Lya yang melihat sudah tidak ada tempat duduk di sofa pun memilih duduk di karpet tepat di depan meja, tangannya langsung mencomot cake yang di hidangkan bunda Intan.


Karta menepuk tangan Lya. "Obatin dulu luka lo," ujar Karta menarik Lya untuk mendekat padanya.


Kevin sedari tadi diam memperhatikan Lya, dia cukup kagum dengan ketenangan Lya. Atau memang Lya sangat pandai bermain peran. Mengapa gadis itu terlihat sangat biasa saja berada di dekat Karta, jika kebanyakan gadis akan bereaksi jika berdekatan dengan orang yang dia suka. Maka Lya tidak terlihat seperti itu.


Queen of drama banget lo Ya, sampai orang-orang gak sadar sama perasaan lo selama ini. Batin Kevin.


"Berantem lagi kan?" Celetuk bunda Intan yang datang membawa beberapa minuman kaleng.


Lya mendongak. Kini Karta sedang mengobati lututnya. "Mana ada! Badan lecet begini kok di bilang berantem. Kan udah Lya bilang, kita jatuh dari motor," jawab Lya membela diri.


Bunda Intan bersedekap dada. "Kenapa bisa jatuh? Kenapa juga gak pulang sama Diki?" Tanya bunda Intan masih tidak percaya.


Lya dan Diki saling tatap. "Takdir bun!" Jawab mereka berdua membuat bunda Intan mendengus.


"Punya anak dua gak pernah bener kelakuannya, yang berantem lah, yang jatuh dari motor lah, yang matahin tangan anak orang lah, yang suka maling buah-buahan tetangga lah. Ampun banget!" Bunda Intan mengoceh seiring jalannya memasuki dapur kembali.


Kedua anak yang tengah di omeli itu meringis lalu tertawa pelan. Mereka sedikit malu karena teman-temannya tengah menahan tawa sekarang.


"Pfffttt.. gue yakin tante Intan tertekan selama ini," celetuk Juna membuat Elang tertawa. "Tante Intan kena mental hahaa!" Tambah Elang.


Lya mendengus kesal. "Bang marahin mereka!" Ujar Lya pada Karta.


"Yang mereka omongin benar kan?" Jawab Karta acuh.


Lya mencebik kesal. "Lo gak mau belain gue Dev?" Tanya Lya pada Devan yang sedari tadi diam.

__ADS_1


Devan meletakkan kaleng soda yang dia genggam. "Itu yang disebut bunda lo beneran?" Tanya Devan membuat Lya mendengus. "Nggak! Bunda berlebihan," jawab Lya.


"Apa perlu gue sebut gimana lo ngempesin ban mobik bu Lidya, lo mukul Jessg sampai pingsan, terus-"


"Berisik lo bang!" Sentak Lya memotong ucapan Juna.


Noah yang mendengar ucapan Juna tiba-tiba merasa tertarik. "Ngomong-ngomong soal Jessy, gue mau nanya kejadian lo nolongin dia dia club?" Tanya Noah membuka suara.


Diki mengangguk semangat. "Iya! Waktu itu lo gak mau cerita. Bilangnya cuma gak sengaja ketemu," ujar Diki.


"Lo sering ke bar?" Tanya Karta telak.


Lya melototkan matanya. "Wehh jangan gede-gede suara lo, kalau bunda dengar bisa di gantung gue!" Ujar Lya menepuk lutut Karta. Wajah Lya berubah panik, kenapa dia menjadi seperti tersangka sekarang.


Juna ikut duduk di karpet bersama Lya. "Jadi lo beneran sering ke bar?" Tanya Juna pelan.


Lya menggeleng. "Nggak! Kadang-kadang aja, jarang banget malah!"


"Sejak kapan lo begitu? Gak pernah tau gue! Lo selalu ngelarang gue buat main kesana tapi nyatanya lo yang kesana," ujar Diki merasa dibodohi. Dia secara terang-terangan menatap Lya sinis.


Lya menghela nafasnya. "Tempat begitu tuh gak bagus Dik!"


"Kalau gak bagus ngapain lo kesana?" Tanya Karta yang ikut menatap Lya tajam. "Cuma tiga kali. Gue kesana sekedar minum terus balik," jawab Lya menyerah.


Juna menyentil kening Lya. "Nakal banget lo! Jangan kesana lagi, bahaya!"


Lya menatap Juna dengan senyum miringnya. "Ngaca! Lo bahkan lebih khatam masalah beginian," ujar Lya mendiami Juna.


"Kalau bisa jangan kesana lagi," ujar Noah.


"Bahaya Ya! Ntaf lo candu, kalau sampai lo kelepasan dan rusak disana gimana?" Tanya Devan yang baru membuka suaranya. Lya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Diki melempar tisu bekas pada Lya. "Pertanyaan gue belum lo jawab!" Lya mengerutkan keningnya.


"Apa?" Tanya Lya.


"Sejak kapan lo begitu?" Tanya Diki menatap Lya dengan wajah datar.


"Udah lama pokoknya!" Jawab Lya.


"Kapan? Lo selalu sama gue. Kenapa gue sampai kecolongan dan gak tau kelakuan lo. Siapa yang ngajarin lo begitu?" Maki Diki.


Lya mengha nafasnya. "Gue nyoba sendiri."


"Gila lo!" Umpat Diki.


"Lo pikir siapa yang gak gila kalau tiba-tiba dengar kabar abang lo meninggal?" Tanya Lya terlihat emosi. Mereka semua terdiam. "Gimana gue yang baru balik liburan bukannya senang langsung kerumah malah pergi ke makam? Gue bahkan gak sempat liat jasad abang gue buat terakhir kalinya. Gimana gak gila gue!"


Diki terdiam, dia ingat bagaimana terpuruknya Lya yang baru saja pulang dari luar negeri tapi harus menerima kenyataan bahwa satu-satunya saudara yang dia punya sudah dimakamkan karena kecelakaan.


"Tadi nyuruh gue cerita, pas udah di ceritain malah diem. Maunya apa sih?" Sungut Lya melihat mereka semua. Sebenarnya gadis itu tau kalau mereka merasa tidak enak dan memikirkan ceritanya, tapi Lya adalah Lya. Dia tidak akan mau dipandang menyedihkan. "Gak asik lo semua!" Ujar Lya membuka minuman kaleng dan meneguknya.


"Udah sore, mending pada balik. Gak gerah apa kalian pake seragam sekolah seharian," ujar Lya lagi sambil berjalan menuju kamarnya.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


...Tbc....


__ADS_2