SEFIRA

SEFIRA
Chapters 29


__ADS_3

Matahari sudah di gantikan dengan rembulan yang di temani bintang-bintang yang bertaburan mengelilinginya.


Gavin malam ini mengaji di rumah dengan Fira dan Lia karena kakinya yang masih terasa ngilu untuk jalan. Setelah mengaji dan shalat isya berjamaah dengan Lia yang menjadi imam, meski Gavin laki-laki tapi belum sah jika ia yang menjadi imam shalat bagi mereka.


Seusai shalat, mereka merapikan mukena dan sajadah menaruhnya ke tempat semula kemudian mereka keluar dari mushala kecil yang ada di rumah menuju teras makan untuk makan malam dengan Lia yang menggendong Gavin dan mendudukkannya di tempat biasa mereka makan kemudian membantu Fira menyiapkan makan malam mereka.


Tidak lama kemudian mereka telah selesai makan dan membersihkan tempat makan mereka. Mereka bertiga duduk di ruang tamu dengan Gavin yang berada di tengah-tengah mereka. "Gavin," panggil Fira membuat anaknya itu mendongak menatapnya.


"Maafin bunda karena kesalahan yang sudah bunda buat di masa lalu yang mengakibatkan kamu pernah singgah di rahim bunda dan lahir ke dunia ini sehingga kamu yang menanggung semua kesalahan bunda. Maaf," ucap Fira memeluk dan mengelus kepada belakang Gavin. "Maafin bunda yang terlalu sibuk di luar sehingga lupa dengan anaknya sendiri," lanjutnya.


Fira sadar, ia memang salah karena kesalahannya sendiri anaknya yang masih kecil harus menanggung beban seberat ini. Fira juga sadar bahwa apa yang ia ucapkan kepada anaknya adalah sebuah kesalahan, ia sadar masalah seperti ini bisa mengguncang mental anaknya atau bahkan sudah terguncang dengan banyak masalah yang anaknya hadapi akhir-akhir ini, tapi ia tidak ingin anaknya terlalu larut memikirkan masalah ini sehingga membuat munculnya dendam dalam diri anaknya, Fira tidak ingin itu semua terjadi.


"Sebenci-bencinya kamu sama daddy kamu jangan pernah ada dendam dalam diri kamu nak, bunda tidak melarang kamu untuk benci sama dia tapi bunda mohon jangan terlalu larut dalam lingkar kebencian itu," nasehat Fira. "Lupakan jika kamu bisa melupakan semuanya nak tapi bunda tidak memaksa kamu untuk itu, bunda tau ini semua sangat menyakitkan untukmu. Coba berpikir positif dan hikmah apa yang kamu dapatkan dari Allah dari semua musibah yang kita alami," lanjutnya.


Lia ikut merengkuh. "Apa yang dikatakan bunda kamu benar sayang, bibi memang orang luar yang masuk dalam kehidupan kalian berdua tapi bibi ingin keponakan bibi ini tidak terlalu larut dalam masalah ini, sedih nangis benci boleh tidak ada yang memaksa akan hal itu tapi jangan terlalu larut. Jika ada masalah jangan di pendam sendiri sayang, cerita sama kita, ada bibi ada bunda juga di sini bersama Gavin. Kamu tidak sendirian sayang, bibi mohon bagi sebagian kesedihan yang kamu rasakan, bibi juga ingin merasakan apa yang Avin rasakan. Kita bersama-sama sayang, bertiga," timpal Lia.


Gavin hanya diam mendengar ucapan kedua permatanya. Sekian lamanya dia diam, ia mendongak melihat mereka bergantian dan tersenyum. "Percaya sama Avin. Avin tidak apa-apa bun bi, Avin baik-baik saja, sungguh," ucapnya menganggukkan kepala meyakinkan keduanya.


Fira dan Lia tersenyum haru mendengar ucapan anak berusia empat tahun di depan matanya saat ini. Fira bangga melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang hebat dan berpikiran luas. Begitu juga dengan Lia yang bangga dengan keponakannya ini dan tidak lupa juga peran Fira dalam mendidik anaknya.


***

__ADS_1


"Sayang kangen," rengek Nila di sebrang telpon. "Kamu kapan pulang sih?" Kesalnya.


Dave terkekeh mendengar kekesalan pacarnya itu. "Sabar sayang, sebentar lagi aku pulang. Maybe minggu depan," balasnya.


Nila terdengar mendengus. "Lama deh," ketusnya. "Ya sudah aku mau tidur udah larut."


"Ya kamu tidur gih. Sweet dream babe," ujar Dave.


"Hm."


Tut


Berbeda dengan Dave yang baru saja sampai Jakarta, ia tidak pulang ke mansion tapi ke apartemennya dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu sembari telponan dengan kekasihnya. Senyum terbit di bibir manisnya tidak sabar menunggu hari esok, ia sengaja tidak memberitahu kekasihnya tentang kepulangannya karena ia sudah berencana untuk kasih suprise untuk Nila, bahkan ia tidak memberitahu kepulangannya kepada kedua temannya, Nico dan Felix.


Keesokan harinya, matahari sudah tinggi menjulang dan Dave baru bangun dengan badan yang pegal-pegal. Dengan semangat ia berjalan ke kamar untuk mandi dan bersiap memberikan kejutan untuk yang tersayang, siapa lagi jika bukan Nila.


Di rasa penampilannya sudah cukup, Dave mengambil ponselnya yang ada di nakas lalu mengotak-atik melacak keberadaan kekasihnya itu. Tidak lama ia berhasil menemukan keberadaan Nila sekarang namun ia mengernyitkan dahinya bingung. "Cafe Seroline" gumam Dave. "Ngapain Nila di sana?"


Tidak ingin ambil pusing, Dave menyambar kunci mobilnya lalu keluar apartemen turun ke basement tentu dengan lift. "Mungkin Nila lagi sama teman-temannya," pikir Dave.


Setelah sampai basement Dave langsung masuk mobilnya melaju ke tempat tujuan.

__ADS_1


***


Terlihat sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi tengah duduk berdua di ruang keluarga. Mereka adalah Sonya dan Larry, dengan mata Sonya yang terlihat sembab.


"Apa yang harus kita lakuin pa? Mama mau cucu mama sama bundanya juga," lirih Sonya. "Kenapa papa gak ambil aja sih kemarin semua fasilitas Dave biar jadi kegandangan aja dia," kesalnya.


Larry merangkul pundak istrinya yang sedari tadi mengomel dan sesekali menangis. "Emang mama mau anak kita jadi gelandangan di luar sana?" Goda Larry.


"Ya-ya eng-gak," jawab Sonya terbata. "Tapi biarin aja dia jadi gelandangan mama ikhlas," kesalnya lagi mengingat kelakuan anak sulungnya itu membuatnya darah tinggi.


Larry hanya diam mendengar semua rengekan, kekesalan, bahkan tangisan istrinya itu. Ia sengaja tidak bekerja hari ini karena takut akan kondisi istirnya yang semalaman menangis. Sedangkan Stefi sekolah.


"Pa bawa cucu kita ke rumah ini, bagaimana kalau mereka di sana lagi kesusahan bagaimana kalau cucu kita makannya tidak enak, ayo pa," pinta Sonya dengan mata yang sembab dan hidung yang merah.


"Itu tidak akan terjadi ma, Sefira Anggraini dan adiknya Aulia Putri Rawangsa memiliki usaha toko pakaian dan tokonya selalu ramai di sana. Jadi mama tenang aja, lagian mana mungkin papa biarin mereka kesusahan," jawab Larry. Ia sudah menyelidiki semua yang berkaitan dengan Sefira dan dia juga membantu toko Fira diam-diam seperti dia yang sering menghubungi suplier tempat Fira memesan barang untuk memberikan Fira dengan harga miring, sedangkan sisanya Larry yang membayar dan tentu itu tanpa sepengetahuan siapa-siapa.


...***...


Yok satu kata buat Fira, Gavin, dan Lia gengs!


Pada setuju gak aku buat dubing/rekaman suara Ririn, Sefira dan novel yang lainnya juga di Youtube? Kalo pada setuju komen ya biar aku buatkan.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs jika kamu suka dengan novel ini.


__ADS_2