
Hari sudah pagi, Lya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, namun gadis cantik itu belum juga sadar. Hanya ada bunda Intan, mami Risma dan Clarissa yang ada disana. Diki? Dia belum kembali sejak pergi dari semalam.
Setelah kepergian Diki semalam, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Hanya isak tangis yang terdengar dari mami Risma dan bunda Intan. Entah itu tangis penyesalan atau apapun itu, hanya mereka yang tau.
Diki juga tidak pulang kerumah, dia memilih ikut Eadred ke apartemennya. Setelah dapat beberapa nasihat dari Karta dan Elang, Diki langsung pulang bersama Eadred.
Mami Risma tidak henti-hentinya menangis, jika dia sudah merasa lelah, dia akan menidurkan kepalanya di brangkar pesakitan Lya. Sama seperti sekarang, dia tebagh menggenggam tangan Lya dengan mata yang kembali berair.
"Bangun sayang!" Ucap mami Risma mencium punggung tangan Lya yang tertutup infus. "Maafin mami!"
Mami Risma menatap lekat wajah cantik anaknya. Mengelus rambut Lya dengan sayang, namun tiba-tiba dia merasa kelopak mata Lya bergerak.
"Sayang?" Cicit mami Risma.
"Mi!" Ucap Lya pelan. Bunda Intan dan Clarissa langsung mendekat.
"Alhamdulillah ya Allah! Terima kasih!" Ucap mami Risma menangis memeluk Lya. Bund aIntan ikut menangis, dia mengusap tambut Lya. Clarissa segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Lya.
Setelah di periksa dan dinyatakan keadaannya mulai membaik, Lya sekarang merasa aneh karena mami Risma dan bunda Intan terlihat berbeda.
"Diki mana bun?" Tanya Lya. Bunda Intan tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya. "Diki dirumah, nanti dia kesini," jawab mami Risma.
Lya hanya menganggukkan kepalanya.
Clarissa berjalan mendekati Lya dan memeluk gadis itu. "Thank you Gel Gel, Thank you for sacrificing to save me!" Ucap Clarissa. "Gak apa-apa! Gue baik-baik aja."
Mengahbiskan waktu dirumah sakit adalah hal paling membosankan bagi Lya. Apalagi sekarang dia bahkan belum bisa duduk, luka di perutnya masih sangat basah dan terasa sangat perih. Lya sangat bosan, dia ingin memainkan ponselnya tapi tidak diizinkan oleh mami Risma.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Diki. Lya menjadi khawatir, kenapa bocah itu tidak datang menjenguknya.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuka Lya langsung menoleh, sedikit kecewa saat dia berpikir bahwa Diki yang datang.
"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya ayah David. "Lya udah gak apa-apa kok yah, cuma masih terasa perih aja perutnya."
Ayah David mengangguk, tangannya terulur mengusap kepala anak gadisnya. "Jangan di paksa duduk dulu kalau belum bisa, kbatnya diminum. Jangan banyak gerak, nanti jahitannya lepas."
Lya mengangguk patuh. "Iya yah!"
"Bunda sama Risma balik aja, kalian belum balik dari semalam. Biar ayah yang temani Lya sebentar," ucap ayah David.
"Aku gak apa-apa kok mas, biar aku temani Lya aja," tolak mami Risma halus. "Mami sama bunda pulang aja, paling Clarissa sebentar lagi sampai. Kalian istirahat dulu, kesini pas malam lagi," ucap Lya.
"Kamu serius?" Tanya bunda Intan. Lya menggangguk sebagai jawaban.
"Ya udah bunda sama mami pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung telpon ya yah!" Ucap bunda Intan pada ayah David.
"Siap ibu komandan!" Balas ayah David hormat. Lya tertawa melihatnya.
Setelah kedua wanita itu keluar, ayah David mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang Lya. Tangannya kemabali terulur menggenggan tangan Lya.
"Lya kalau ada apa-apa bilang sama ayah. Kalau ada yang sakit bilang ke ayah, kalau ada yang mau di ceritain, bisa cerita ke ayah. Lya tau kan kalau ayah sayang sama Lya," ucap ayah David. Lya mengerutkan dahinya bingung. "Ayah kenapa sih?" Tanyanya.
__ADS_1
"Gak kenapa-napa sih. Ya pokoknya Lya jangan sampai lupa kalau ayah ini dokter, walaupun ayah itu dokter bedah tapi ayah juga bisa nyembuhin sakit di hati dan pikiran. Apalagi kalau itu Lya!"
Lya membalas genggaman ayah David. "Kya baik-baik aja yah, Lya gak skait," ujarnya. Tapi reaksi gadis itu berbeda, matanya memerah, Lya tidak bodoh untuk tidak mengerti maksud dari perkataan lelaki di hadapannya ini. "Lya juga sayang ayah."
Ayah David mendongakkan kepalanya, dia merasa ada cairan yang siap keluar dari matanya. "Lya ank pintar, ayah percaya sama Lya apapun itu! Sekarang anak cantik ayah harus istirahat biar cepat sembuh."
Lya mengangguk patuh, dia segera menutup matanya. Ayah David beranjak dan membenarkan selimut Lya. "Ayah tinggal dulu ya Ya, nanti ayah sering-sering kesini buat ngecek Lya," ucap ayah David mengecup kening Lya lalu keluar dari kamar Lya. Dia tidak sanggup harus berlama-lama di dalam sana, banyak yang ingin laki-laki tua itu sampaikan pada anak gadisnya, namun dia merasa inu bukan waktu yang tepat.
Sepeninggalan ayah David, Clarissa muncul dan masuk ke dalam. Hal pertama yang dia lihat adalah Lya menahan sesak karena tangisannya. Clarissa segera berlari menghampirinya.
"Gel Gel why? Anyone sick? Aku panggil dokter dulu ya," ucap Clarissa panik tapi Lya menggeleng.
Lya tidak berbucara namun isakannya semakin kuat, Clarissa yang tidak mengerti pun memilih untuk memeluk gadis itu. "it's oke! Kamu aman!" Ujar Clarissa mengulang ucapan Lya kepadanya malam itu.
...🌻...
Siang ini Karta berniat menjenguk Lya bersama inti Rakasa lainnya. Namun sebelum itu, dia menghubungi Tiara terlebih dahulu, niatnya ingin mengajak gadis itu untuk ikut.
"Halo?" Ucap Karta saat teleponnya sudah tersambung.
"Halo! Kenapa Ta?"
"Kamu dimana!"
"Aku lagi diluar sama Dian."
"Ngapain? Sama siapa aja?" Tanya Karta karena samar-samar dia mendengar suara laki-laki disana.
"Emang salah aku nelpon pacar aku?"
"Ya engga lah haha! Ya maksud aku, ada perlu apa gitu, pasti kamu punya maksud dan tujuan."
"Tadinya mau ngajak kamu buat jenguk Lya sama yang lain juga."
"Aduh gimana ya? Tiketnya udah kebeli, ini juga sebentar lagi bakal mulai filmnya."
"Jadi kamu gak bisa?"
"Maaf ya Ta, gimana kalau besok aja?"
"Aku udah janji juga sama yang lain, kamu lanjut aja. Aku pergi sama anak-anak."
"Ya udah kalau gitu aku titip salam buat Lya, semoga dia cepat sembuh."
"Iya!"
Karta menutup telponnya. Moodnya tiba-tiba memburuk.
"Kok belum pergi?" Tanya mama Elsa, ibu Karta. "Sebentar lagi," jawab Karta.
"Gak jemput Tiara dulu? Katanya mau pergi bareng dia," ucap mama Elsa membuat Karta mendengus. "Dia nonton sama Kenzi," jawab Karta membuat mamanya tertawa.
"Aduh Tiara enak yah, punya pacar gabteng, terus punya sahabat kecil ganteng juga. Kalau mau jalan-jalan tinggal pilih deh mau sama siapa," ucap mama Elsa menyindir Karta.
__ADS_1
"Ck.. apaan sih mah."
"Ngomong-ngomong kamu mau jenguk siapa sih? Anggota kamu?" Tanya mama Elsa, Karta mengangguk. "Sakit apa? Kecelakaab? Baju kamu penuh darah gitu, sampai ngeri mama nyucinya."
"Di kroyok orang terus kena tusukan."
Mama Elsa meringis. "Aduh kasihan banget, siapa sih?"
"Gelya namanya."
"Hah? Perempuan?" Tanya mama Elsa terkejut.
Karta mengangguk. "Iya. Bukan perempuan biasa tapi, badung banget anaknya. Tapi dia asik, sial banget karena dia udah dua kali masuk rumah sakit selama gabung sama Rakasa."
"Jangan bilang dia perempuan yang di gebukin Juna sampai masuk rumah sakit."
"Ya ampun! Kasian banget. Jadi penasaran, cantik gak?"
"Cantik! Baik juga anaknya," jawab Karta membuat mama Elsa tersenyum-senyum. "Kenapa?" Tanya Karta.
Mama Elsa menggeleng. "Gak apa-apa."
"Ma," panggil Karta. "Karta ngerasa khawatir banget pas lihat dia luka, Karta takut dia kenapa-kenapa. Karta ngerasa gagal jaga dia."
"Kenapa gitu? Dia siapanya kamu emang?" Tanya mama Elsa menyadarkan Karta. "Bukan siapa-siapa. Tapi dia nganggap Karta sebagai abangnya."
Mama Elsa terkekeh. "Abang ketemu gede?" Karta mendengus. "Ngerti kok! Kamu gak apa-apa khawatir sama orang, apalagi dia emang sedang gak baik-baik aja. Mama sih cuma mau ingetin kalau kamu sudah punya Tiara."
"Karta gak suka sama Lya, buka hal seperti itu Mah," potong Karta.
"Tau! Mama tau. Tapi yang namanya laki-laki dan perempuan yang tidak sedarah itu sangat rentan memiliki perasaan lebih dari pertemanan kalau mereka sering sama-sama. Cintohnya Tiara sama Kenzo mungkin," jelas mama Elsa terkekeh. "Kenapa harus bawa-bawa Tiara sih ma? Mereka cuman sahabat! Tiara punya Karta," jawab Karta yang terlihat kesal.
"Kan mama cuma bilang contoh doang."
"Iya tapi jangan Tiara sama Kenzo juga!"
"Kenapa? Takut kamu?" Karta di buat diam. "Kamu jauh lebih tau gimana hubungan mereka. Kamu itu tau, cuma kamu berusaha untuk tidak mau tau!"
"Udahlah Karta berangkat!" Karta berdiri dari duduknya. "Tunggu!" Mama Elsa menghentikan langkah Karta.
Wanita tua itu berjalan ke dapur, Karta mengikuti mamanya. "Mama buat kue tadi. Kamu bawa buat teman kamu yang sakit itu, siapa tadi namanya?"
"Lya mah."
"Nah kasih ke Lya, bilang ini dari mama. Semoga cepat sembuh," ucap mama Elsa menyerahkan sekotak kue dengan paper bag kepada Karta.
"Ya udah, Karta berangkat. Assalamualaikum." Karta mencium punggung tangan mamanya lalu berjalan keluar rumah.
"Waalaikumsalam."
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1