
Mereka pergi menggunakan mobil sendiri. Clarissa memang sudah bisa menyetir mobil meski dia tidak punya SIM disini setidaknya mereka tidak akan di tilang malam-malam begini kan.
Mobil mereka berhenti di pinggir jalan, dapat dilihat terdapat banyak penjual di sepangjang jalanan. Banyak juga orang-orang yang berkunjung kesini, Lya memang mengajak Clarissa ke salah satu taman yang ramai pengunjung dan penjual saat malam.
Clarissa keluar dan memesan jagung bakar, Lya duduk di kursi yang disediakan tidak terlalu jauh tapi dekat juga dari posisi Clarissa. Melihat sekeliling yang terbilang cukup ramai, mungkin karena sekarang sudah libur sekolah, Lya dapat melihat banyak pasangan kekasih yang sedang berduaan, ada juga yang nongkrong bersama teman-temannya.
"Kamu beneran gak mau?" Tanya Clarissa pada Lya. Lya menggeleng.
"Gue pengen boba deh," ujar Lya melihat slaah satu stand penjual minuman boba. "Lo tunggu disini aja, jangan kemana-mana," titah Lya membuat Clarissa menggangguk patuh.
Lya langsung pergi meninggalkan Clarissa memesan pesanannya dan menunggu sebentar. Menghilangkan rasa jenuh, Lya membuka ponselnya.
"Ini mba," ucap penjual itu menyerahkan pesanan Lya. Setelah membayar, Lya kembali menuju tempat Clarissa, namun matanya menangkap beberapa orang tengah berdiri di dekat Clarissa duduk.
"Galak banget sih cantik!" Lya merinding mendengar salah satu dari mereka mencoba menggoda Clarissa.
"Pergi dari sini!" Jawab Clarissa yang terlihat ketakutan.
Tiga lelaki itu tertawa. "Biar kita temani aja, gimana?" Tanya salah satu dari mereka.
"Pergi!" Ucap Lya yang berdiri di belakang mereka. Clarissa langsung berlari dan bersembunyi di belakang Lya. "I am scared!" Cicitnya.
"Eh ternyata beneran gak sendirian!" Ujar salah satu dari mereka.
"Mana yang ini gak kalah cantik lagi," ucap yang lainnya lalu mereka tertawa.
Lya merasakan tangan Clarissa bergetar meremas hoodie Lya. "Mending kalian bertiga pergi, gue gak minat ladenin kalian."
"Aduh.. galaknya gak kayak yang tadi," ujar salah satunya menggunakan jaket hitam.
Lya merasa ada yang tidak beres. Lya tau bahwa Clarissa tengah menangis. "Lo apain sepupu gue?" Tanya Lya dingin.
"Gak di apa-apain. Cuma di colek-colek doang dagunya," jawab lelaki dengan kaos maroon. Lya mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menghajar mereka tapi dia sadae situasi.
"Kita pergi aja," ucap Lya menarik tangan Clarissa. Tapi salah satu dari mereka menarik tangan Clarissa membuatnya memberontak ketakutan.
"Mau kemaan sih? Buru-buru banget!"
Tubuh Clarissa bergetar. "Ya tolong!" Ucapnya tanpa suara.
BRUKK
Tubuh pria itu terpental, Clarissa berteriak. Lya menendang pria itu dengan sangat keras, Lya menarik Clarissa ke belakangnya.
"Mau main-main lo sama gue?" Tanya Lya tajam.
"Anjing! Bales woy!" Teriak pria yabg masih terduduk di tanah.
BUGH
BUGH
BUGH
Lya menangkis dan memukul dua orang lainnya. Jangan mereka pikir Lya mudah untuk di kalahkan. Gadis itu sedang dalam mode senggol bacok sekarang.
Lya langsung menarik Clarissa menuju mobil, mereka segera meninggalkan tempat itu. Namun di perjalanan, Lya sadar bahwa mereka sednag diikuti.
Benar saja, di jalanan sepu motor-motor itu langsung mencegatnya. Mereka langsung mengancam Lya untuk turun.
Sialan! Ini mah nyari mati namanya. Batin Lya melihat mereka menggunakan jaket persatuan.
__ADS_1
Lya turun dengan wajah datarnya.
"Siapa lo?" Tanya salah satu dari mereka. Jika di lihat dari gayanya, Lya yakin dia ketua geng ini. "Boelh juga kemampuan lo, gak nyangka gue lo bisa ngalahin tiga anak buah gue sekaligus."
Lya menatap tajam lleaki di hadapannya. "Lo ketuanya? Bilang sama anak buah lo yang kurang ajar ini, jangan pernah ganggu sepupu gue. Karena gue gak akan biarin mereka nafas setelah ini!" Ujar Lya.
Lelaki itu tertawa. "Wihhh takut gue," ujarnya dengan ekspresi wajah yang dilebih-lebihkan.
"Ya!" Cicit Clarissa.
Lya berbalik lalu melotot melihat Clarissa yang sudah berada di cekalan dua orang dari mereka.
"LEPAS!" Titah Lya.
"Kalau gue gak mau?" Tanya lelaki itu lagi.
"Bangsat!"
BUGH
Lya memukul wajah lelaki itu.
Beberapa dari mereka mulai melawan Lya. Bolehkan Lya berteriak tidak sanggup, dia sendirian dan mereka sangat banyak, Lya hanya berharap dia masih bisa melihat matahari besok pagi.
"NO! STOP PLEASE," teriak Clarissa. "HELP! SOMEONE HELP US."
BUGH
BUGH
BRUKK
Ketua geng mereka tertawa. "Mau nyerah?" Tanyanya dengan remeh.
"Bangsat lo! Lepasin sepupu gue!" Balas Lya.
"Gimana kalau lo berdua ikut kita!"
"Anjing!"
BRUKK
BUGH
BUGH
BRAKK
Lya marah! Lya membantai mereka dengan sisa tenaga yang dia punya.
"WOYYY!" Teriak seseorang dari atas motor.
Segerombolan motor datang dan langsung menghajar orang-orang itu. Lya terduduk di tanah, nafasnya memburu dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
"Lya!" Teriak Clarissa menghampiri Lya.
"Lo gak papa?" Tanya Lya pada Clarissa. Gadis itu sudah menangis menyeka darah Lya drngan lengan bajunya.
"Sorry! I am sorry hiks..!"
"It's oke! Lo aman!" Ucap Lya pelan.
__ADS_1
Lya melihat anak-anak Rakasa yang sudah membantai habis musuhnya. Darimana mereka datang? Mereka ada disini? Lya tidak tahu, intinya dia sangat berterima kasih.
"Astagfirullahaladzim, Ya!" Pekik Diki yang baru sampai di hadapannya.
"Astagfirullah!" Lya bisa mendebgar Karta mengucao itu meski sangat pelan. "Kita kerumah sakit!" Ucap Karta.
Diki hendak menggendong Lya namun terhenti karena gadis itu meringis kesakitan.
"Ki sakit!"
Diki mengecek tubuh Lya. "Apanya yang sakit?" Tanya Diki lembut.
"Hiks.. sakit!" Lya menangis.
Diki terkejut, ini pertama kalinya dia melihat Lya kembali menangis setelah sekian lama.
"Yang mana Ya, jawab?" Tanya Diki gelagapan.
"Aakkkhh!" Teriak Clarissa saat menyadari hoodie hitam Lya dipenuhi darah.
Diki langsung menyingkap hoodie Lya, mereka terkejut melihat perut Lya yang dipenuhi darah.
"BANG!" Teriak salah satu anggota, dia menunjukkan sebuah pisau yang berlumuran darah yang dia dapat dari musuh.
"Bangsat!" Umpat Karta. Dengan cepat dia menggendong Lya. "VIN, LO NYETIR," teriak Karta pada Kevin.
Diki terdiam. Dia tidak bergerak! Pemuda itu syok. Clarissa sedari tadi sudah menangis.
"Ki, ayo kerumah sakit!" Eadred menyadarkan Diki. Dengan langkah bingung dia memasuki mobil. Clarissa berada di kursi depan sedangkan Karta, Lya dan Diki berada di belakang.
"Tetap sadar, oke," ucap Karta pada Lya yang berada di pelukannya.
"Ya! Bertahan hiks Ya!" Diki menangis menggenggam tangan Lya.
"Sakit!" Ringis Lya.
"Iya tahan sebentar! Jangan tidur Ya, abang mohon!"
Lya membuka matanya, dia melihat Karta dengan wajah khawatir. Lya merasa senang saat Karta menyebut abang untuknya.
"Bang!" Cicit Lya.
"Apa Ya?"
"Bang!" Suara Lya melemah.
"Iya Ya! Abang disini, bertahan ya!" Karta semakin menekan luka di perut Lya. "Cepat Vin!" Perintahnya pada Kevin.
"Iya Ta, ini udah cepat!"
Clarissa menangis sejadi-jadinya. "Maaf! Ya maaf!" Ucapnya.
Sedangkan Diki? Pemuda itu terlihat sangat lemas, air matanya tidak berhenti keluar. Tangannya menggenggam erat tangan mungil Lya.
Elang dan Juna mengurus musuh dengan melapor lada polisi. Noah dan yang lainnya berada di belakang mobil Lya. Para pengguna jalan bahkan terlihat penasaran, puluhan motor tengah mengawal satu mobil yang melaju dengab kecepatan tinggi.
Ya Allah jangan sekarang, jangan lagi! Batin Diki yang tidak berhenti berdoa.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1