SEFIRA

SEFIRA
Chapters 24


__ADS_3

"Kalian mau makan apa?" Tanya Dave memecah keheningan.


"Kalian mau makan apa?" Gavin terjemah dalam bahasa Sunda kepada teman-temannya. Jujur saja Gavin tidak ingin berada di sini dan seolah-olah ia yang brrbicara dengan ayahnya sendiri yang tidak ingin ia terlahir di dunia ini. Gavin ingin menangis mengingat fakta yang ia dengar waktu di puskesmas, dadanya naik turun tapi mati-matian ia tahan agar temannya tidak curiga. Gavin berusaha terlihat biasa-biasa saja seolah ia tidak mengenal sang tuan rumah.


"Apa aja yang ada Avin yang bisa di makan," jawab Dion sedangkan yang lain hanya menggeleng.


"Apa aja yang ada," ujar Gavin terjemahkan tanpa menatap sang tuan rumah.


Dave mengangguk lalu melihat makanan yang masih di tangannya. Ini kan hanya satu buat gue tapi kalau gak di kasih gue kasih anak itu apa dong? Kan gak ada apa-apa di vila ini. Batin Dave meringis dengan terpaksa ia memberikan makanan itu kepada teman anaknya. "Ah iya adanya cuma ini. Nih," ujar Dave memberikan bungkusan tersebut kepada Gavin.


Gavin menerima dengan sedikit kasar kemudian memberikan kepada Dion. "Habiskan dengan cepat!" Titahnya. Fian yang melihat sikap Gavin menepuk pahanya pelan sebagai peringatan untuk bersikap dengan hormat kepada yang lebih tua tapi Gavin tidak mengidahkan peringatan temannya itu.


"Yang lain mau apa? Om pesankan sekarang," ujar Dave melembut.


Mereka terdiam termasuk Gavin. Teman-teman Gavin diam bukan karena tidak ingin menjawab tapi karena tidak mengerti dan Gavin yang tidak ingin berbicara. Jetno menyenggol Gavin yang berada di sampingnya dan Gavin yang mengerti mendengus. "Yang lain mau apa? Dia pesankan," terjemah Gavin datar.


"Kita boleh minta minum gak?" Tanya Jaka kepada Gavin.


Tanpa menjawab Gavin mengatakannya kepada Dave tanpa menatap orangnya. "Minum."


"Mau minum apa? Daddy beliin," tanya Dave.


Gavin menatap nyalang kepada orang yang memanggil dirinya adalah daddy nya. "Biasa."


Tanpa bertanya lagi Dave berselancar di ponselnya memesan beberapa minuman dan makanan untuk Gavin dkk.


"Avin, paman itu gak mau ya? Kok gak pergi ambilin kita minum?" Tanya Jaka pelan yang dibalas gelengan oleh Gavin. "Tidak tau juga ka," jawabnya.


Jaka yang mendengar itu menunduk malu yang dengan tidak tau malunya meminta minum kepada orang yang tidak ia kenal. Tidak hanya Jaka, teman-temannya juga menunduk kecuali Dion yang masih asik makan tanpa memperdulikan temannya.


"Maaf pak mengganggu. Pembantu yang bapak minta sudah saya dapatkan, mereka istri dari bapak Irwan sama bapak Andi, pak. Apakah bapak ingin mereka datang sekarang biar saya suruh Irwan dan Andi memanggil istrinya?" Tanya mandor itu.


"Iya panggilkan sekarang," jawab Dave.

__ADS_1


"Baik pak," balas mandor itu dan berlalu.


"Permisi," salam seseorang di liar dengan sedikit teriak. Dave yang tau orang yang datang adalah kurir yang mengantar makanan yang ia pesan tadi berdiri keluar.


Tidak lama kemudian, Dave masuk lagi dengan beberapa kantong plastik di tangannya. "Nih bagikan pada teman-temanmu, daddy mau ambil piring dulu," ujar Dave memberikan makanan dan minuman tersebut kepada Gavin lalu berjalan ke dapur.


Gavin memberikan minuman kepada teman-temannya sedangkan makanan ia taruh di tengah-tengah mereka. Makanan yang di pesan Dave adalah berbagai macam bentuk naget sebagai cemilan karena mereka sudah sarapan dan minumanmya es teh. Melihat cemilan yang ada di depan membuat teman-teman Gavin berbinar. Dave datang membawa piring sebagai wadah saus naget yang sudah di siapkan penjual.


Mereka makan dengan sesekali meringis keenakan begitu juga dengan Dion yang ikut nyemil sesudah makan kecuali Gavin yang hanya meminum es tehnya sedikit tanpa ikut memakan naget.


"Avin paman itu baik ya," puji Jetno.


"Iya Avin paman itu baik banget sudah beliin kita makanan enak seperti ini," sahut Jaka. Sedangkan Fian hanya mengangguk membenarkan dan Dion yang masa bodo dengan teman-temannya. Gavin hanya tersenyum menanggapi ucapan teman-temannya tapi tidak dengan hatinya.


Jika dia baik tidak mungkin dia berniat membunuh anaknya sendiri. Batin Gavin memalingkan pandangannya ke arah lain. Bohong jika dia tidak ingin memiliki sosok ayah di hidupnya, bohong jika dia tidak rindu ayahnya, bohong jika dia tidak ingin memeluk orang yang ada di depannya sekarang yang ternyata ayahnya dan mengadu ini itu kepadanya, kasih tau kepada teman-temannya bahwa dia juga mempunyai ayah seperti mereka, tapi mati-matian dia menahan rasa itu semua mengingat ayahnya sendiri tidak ingin ia lahir di dunia ini. Ia paham sekarang, kenapa bunda dan bibinya selalu mengatakan ayahnya sudah mati karena memang bagi mereka ayahnya telah mati meski raganya masih berdiri kokoh. Huhuuu siapa yang mewek di part ini please komen karena aku juga sesek sambil nulisnya, ngebayangin bagaimana hebatnya anak kecil bernama Gavin ini gengs.


"Kenapa kamu tidak makan juga?" Tanya Dave penuh perhatian kepada anaknya.


"Permisi pak," salam seorang pria paruh baya menghampirinya.


"Bapak ibu," beo Jaka melihat siapa yang datang.


"Loh Jaka ngapain disini?" Tanya perempuan paruh baya yang di sebut Ibu oleh Jaka tadi.


"Iya ada apa?" Sela Dave membuat Jaka yang akan menjawab pertanyaan ibunya tidak jadi.


"Ini pak, istri saya yang akan bekerja di sini," beritahu pak Andi. Dave mangut-mangut melihat perempuan tersebut.


"Maaf pak saya lama," ujar salah satu pria yang juga membawa perempuan paruh baya, mungkin itu pak Irwan.


"Ini pak, istri saya yang akan bekerja di sini juga," beritahu pak Irwan.


Dapat Dave perkirakan kedua perempuan tersebut tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda juga kira-kira baru berumur 38 atau 39.

__ADS_1


"Kalian berdua saya terima. Kalian bisa bekerja mulai sekarang dan untuk gajinya saya akan berikan setiap awal bulan," ujar Dave dengan wajah datarnya membuat kedua wanita itu senang begitu juga dengan para suami.


"Terima kasih pak," ucap kedua wanita itu.


"Untuk hari ini kalian bersihkan vila ini. Nanti sore temui saya lagi," lanjut Dave kemudian menyuruh mereka pergi.


"Ibu kenapa ada di sini?" Tanya Jaka kepada perempuan bernama Ria.


"Ibu kerja di sini mulai sekarang nak," jawab Andi bukan Ria.


"Benarkah?" Tanya Jaka yang diangguki keduanya. "Sudah ibu mau kerja dulu," pamit Ria kepada anaknya dan suaminya yang akan melanjutkan pekerjaannya ke samping vila.


"Kalian habis ini mau kemana?" Tanya Dave kepada Dave dkk.


Fian menyenggol temannya, Gavin. "Sawah," jawab Gavin singkat.


Dave tersenyum kecut mendengar jawaban singkat dan raut wajah anaknya.


Drrtt drtt


Love.


Panggilan masuk di ponsel milik Dave dan terpampang jelas disana satu nama yang ia simpan. Tanpa lama Dave mengangkatnya.


"Halo sayang?" Sapa Dave kemudian berdiri dan menjauh dari Gavin dkk.


Gavin yang mendengar kata sayang yabg keluar dari mulut ayahnya mengepalkan tangannya erat. Dia tidak bodoh untuk mengartikan satu kata itu meski usianya baru empat tahun akan memasuki lima. Gavin sudah tidak tahan sekarang, dia tidak ingin teman-temannya tau. Gavin berdiri dan berlalu meninggalkan teman-temannya yang terus memanggilnya tapi Gavin tak menghiraukan itu, ia terus berlari tujuannya sekarang ialah pulang mengadu semua rasa yang ia pendam kepada bibinya.


...***...


Follow ig aku @thisiririnn yaw gengs!


Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan juga gengs!

__ADS_1


__ADS_2