
Gelya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Keadaannya mulai stabil meski belum sadarkan diri.
Diki berada di ruangan itu bersama Karta dan keempat teman Karta yang baru saja datang setelah dihubungi Karta. Mereka berlima tengah berdiri menghadap ayah David yang duduk santai di sofa ruangan itu.
"Jadi siapa yang mau menjelaskan?" Tanya ayah David sembari melepas intelnya. Kelima pemuda itu terdiam, Karta yang merasa jika tidak akan ada yang mengeluarkan suara membuatnya mau tak mau menajwab.
"Saya Karta Angkasa, ketua Rakasa salah satu geng motor yangbada di Jakarta. Geng motor yang saya pimpin lumayan terkenal om. Saya dan keempat teman saya ini adalah anggota inti Rakasa, sedangkan Diki dan Gelya adalah anggota baru yang lulus seleksi pertama. Tadi sepulang sekolah kami melakukan tes untuk menentukan lulus atau tidaknya mereka untuk benar-benar menjadi anggota kami."
"Kalian juga merekrut anggota perempuan?" Tanya ayah David memotong penjelasan Karta.
Karta mengangguk sebagai jawaban. "Kami punya anghota perempuan meski jumlahnya tidak banyak. Tadi anggota baru kami tes dengan berduel dengan mereka selama tiga menit. Niatnya untuk melihat sejauh mana kemampuan bela diri mereka, kebetulan anggota perempuan hanya empat termasuk Gelya. Teman saya Juna mebgajukan diri untuk menjadi lawan Gelya, itu karena kita tau bahwa Gelya pernah membantu pacar saya dan menghabisi irang yang mengganggu pacar saya. Tapi Juna adalah orang yang mudaj emosi, dia akan memukuli lawannya tanpa ampun jika merasa bahwa lawannya berbahaya. Saya yakin teman saya Juna tidak berniat melukai Gelya, saya dan teman-teman saya minta maaf yang sebesar-besarnya," jelas Karta panjang lebar. Dia merasa lelah dan haus, mungkin ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan terlebih kepada orang yang tidak dia kenal. Kalau saja Elang tau kejadiannya pasti dia akan menyerahkan tugas ini pada Elang.
Juna menoleh pada Karta, dia merasa bersalah dan tidak enak hati. Karta selalu melindungi dia dan anggotanya yang lain. "Saya Juna om. Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak maslaah kalau om mau meminta pertanggungjawaban dari saya."
"Memangnya anak saya hamil sampai saya harus meminta pertanggungjawaban dari kamu?" Tanya ayah David membuat kelima pemuda itu menatapnya. "Jadi anak saya lolos masuk geng kalian atau tidak?"
Mereka menoleh saling tatap. "Lolos om. Sebenarnya Diki dan Gelya sudah lolos dan tinggal peresmian saja meski mereka tidak melakukan tes kedua," klai ini Elang yang menjawab.
"Gara-gara mereka nyelamatin pacar kamu?" Tanya ayah David. Karta mengangguk membenarkan.
"Iya om!"
"Jadi mba Risa yang kalian tolong itu pacarnya ketua geng motor ini? Terus yang gangguin mba Risa itu pasti musuh mereka," tanya ayah David pada Fiki.
"I-iya yah," jawabnya.
__ADS_1
Ayah David menghela nafas panjang lalu berdiri. "Ayah ada operasi. Kamu tungguin Lya sampai bunda datang. Karena dari tadi kamu gak banyak omong, nanti kamu yang jelasin ke bunda."
Diki langsung meringis, menatap ayahnya memohon pertolongan. "Yah, jangan gitu dong. Ayah bantuin Diki, bisa habis Diki kena amukan bunda."
"Itu resiko. Sekalian bilang kalau kamu ikut geng motor. Eh tapi kalau gak di izinin jangan nagis," ujar ayah David terkekeh lalu keluar ruangan. Tapi sebelum itu dia menepuk pundak Karta terlebih dahulu.
"Gila! Gue pikir bokap lo bakal ngamuk," pekik Kevin pada Diki heboh. Diki tak menghiraukan Kevin, dia masih memikirkan nasibnya.
"Gue minta maaf buat lo Ki. Buat lo juga Ta, gue minta maaf gue kelepasan," ucap Juna kembali meminta maaf. Dia merasa sangat menyesal.
Diki menatap Juna. "Yang bener itu, lo minta maaf sama Lya bang. Sedikit info aja, itu manusia sifatnya kaya binatang. Jafi agak susah kalau mau ngomong, apalagi kayaknya dia udah marah banget sama lo," jawab Diki dengan bercanda.
"Nanti kita bantu ngomong," ujar Elang menepuk pundak Juna.
"Bang!" Panggil Diki membuat inti Rakasa menoleh. "Hm.. jadi gue beneran gabung sama kalian?"
Kevin menjawab dengan tidak santai. "Kalau lo gak punya motor mana bisa gabung sama anak motor."
"Kenapa? Lo gak punya motor?" Tanya Karta. Diki menggelengkan kepalanya lesu membuat Karta mendengus. "Kita bahas ini nanti. Gue lagi gak bisa mikir."
"I-iya bang! Kalau gitu mending kalian pulang aja," ujar Diki lagi.
"Lo ngusir kita?" Tanya Noah menaikkan sebelah alisnya. Setelah sekian lama, akhirnya laki-laki itu membuka suara.
"Eh bu-bukan gitu bang. Masalahnya bunda sebentar lagi datang. Gue gak mau kalian juga ikut diomelin bunda."
__ADS_1
Karta mengerti keadaan. "Ya udah kita balik dulu. Semoga dia cepat sembuh," ucap Karta melangkah keluar ruangan diikuti keempat temannya.
"Apa yang harus gue katakan sama bunda?" Tanya Diki pada dirinya sendiri, dia sudah merinding membayangkan bagaimana dengan nasibnya nanti.
Ceklek
Tidak lama kemudian, pintu ruangan Lya terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya dengan wajah khawatirnya. Diki meringis melihat kedatangan bundanya. "Bunda."
"Bagaimana bisa Lya seperti ini?" Tanya bunda Intan yang sudah berada di samping berangkar Gelya tanpa melihat Diki.
Diki menggaruk leher belakangnya bingung apa yang harus dia katakan pada bundanya. "Hm.. itu bun. Apa ya?" Dengan terbata-bata Diki berbicara. Diki menghembuskan nafasnya pasrah. "Diki sama Lya ikut geng motor."
"APA?" Potong bunda Intan teriak membuat Diki terkejut. Diki langsung menunduk takut. "Kalian ikut geng motor?" Tanya bunda Intan memastikan yang diangguki Diki pelan.
Bunda Intan memijat pelipisnya. Dia sudah lelah dengan kedua anak ini. "Terus kenapa Lya sampai seperti ini?"
"Hm.. tadi kita di tes bela diri bun, terus ada senior yang mudah emosian yang jadi lawan Lya. Mereka kaya berantem beneran gitu sampai pukulannya kena hidung Lya dan berdarah lalu pingsan," jelas Diki menunduk takut melihat wajah pias bundanya. "Maaf bun," cicitnya.
"Terus apa kata dokter?"
"Tu-tulang hidungnya patah," jawab Diki. Percayalah sekarang ini, Diki berdiri menghadap bundanya dengan kaki bergetar. Melihat raut wajah bundanya membuatnya sangat takut hanya untuk menatap bundanya sedetik pun. Beberapa bulir air mata Diki pun kembali turun, bukan karena takut pada bundanya tapi mengingat kembali kondisi Gelya yang belum juga sadar. Dia merasa bersalah karena sudah memaksa Gelya untuk ikut dengannya masuk geng motor.
"Ugh," lengkuh Lya yang baru sadar membuat atensi kedua orang yang ada di ruangan itu menatapnya.
"Lya sudah sadar? Ini bunda, nak," ucap bunda Intan.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)