
Lioniel menatap Lya. "Udah lama kita gak ketemu, makin cantik aja lo," ujar Lioniel.
Lya hanya mengangguk. "Lo juga makin ganteng," jawabnya santai sambil mengetuk-ngetuk stang motor Rio.
Lioniel tersenyum miring. "Masih jomblo kan?" Tanyanya. Lya kembali mengangguk tanpa menatap Lioniel. Gokus Lya tetap pada Rio yang telinganya sudah memerah karena salah tingkah di tatap Lya seperti itu.
"Kalian berdua ngapain disini?" Tanya Juna yang menghampiri mereka.
Lya menoleh kearah inti Rakasa yang menatap mereka tajam. Tentu saja, sekarang mereka tengah berada di zona musuh dan malah terlihat akrab dengan musuh. Lya berbalik menatap Vrax, dia juga melihat Andrian tengah menatapnya tajam.
"Hati-hati!" Celetuk Lya menepuk lengan Rio lalu berjalan kembali ke tempat awal dia dan Diki berdiri.
Diki berdiri di depan Lya. "Ya! Gue rasa kita bakal di omelin bang Karta deh."
"Kenapa?"
"Ya karena kita malah ngobrol sama musuh. Lo bahkan nyuruh Rio hati-hati di depan Juna."
"Rio bukan musuh gue," jawab Lya terlihat tidak peduli. Diki mendengus pasrah.
Ketiga orang yang sudah berada di atas motornya itu terlihat sangat gagah. Mereka sudah bersiap untuk memulai balap malam ini.
Lya hanya berdiri dari jauh menatap ketiga motor yang sudah menancapkan gas mereka dengan sangat kencang. Sorak sorai dari ketiga kubu memenuhi tempat itu, Lya terlihat tidak tertarik sama sekali. Bahkan saat Devan sudah melewati garis finish menandakan kemenangan untuk Rakasa pun Lya hanya diam saja.
Diki ingin sekali ikut merayakan kemenangan Devan bersama teman-temannya tapi dia merasa Lya sedang dalam masalah membuat Diki mengurungkan niatnya.
"Kalian di panggil bang Karta!" Ujar Bian pada Lya dan Diki.
Diki terlihat takut dan panik, jika dia sudah sering di panggil oleh Karta tapi kali ini berbeda. Karta mengutus Bian untuk memanggilnya dan itu bencana. Bian adalah anggota yang tugasnya memanggil atau mencari anggota bermasalah.
Lya berjalan dengan malas menuju Karta diikuti Diki.
"Bang!" Panggil Bian menunjuk Diki dan Lya.
"Kenapa?" Tanya Lya santai.
Tempat itu memang sudah lumayan sepi, geng Vrax dan Daksa sudah pergi karena kekalahan mereka meninggalkan Rakasa yang masih merayakan kemenangan.
"Ngapain lo nyamperin Lioniel?" Tanya Karta tanpa basa-basi.
Lya mantap Karta. "Gue nyamperin Rio, bukan Lioniel," jawab Lya.
"Dengan ngomong hati-hati ke musuh yang bakal balapan sama teman lo sendiri?" Tanya Juna ikut bersuara.
"Salah?" Tanya Lya membuat beberapa dari mereka mendengus kesal.
Diki benar-benar diam, dia tidak tau harus menjawab apa.
Karta maju menghapus kamarnya dengan Lya. "Salah!" Jawab Karta menatap Lya tajam. "Lo gak seharusnya semangatin musuh!"
Lya membalas tatapan tajam Karta. "Gue gak semangatin Rio! Dan Rio bukan musuh gue!"
Karta mengepalkan tangannya. "Lo lupa siapa lo? Lo Rakasa dan Rio Daksa!"
"Gue tau!" Jawab Lya mencoba tenang. "Sekarang gue tanya, ada peraturan Rakasa yang ngelarang anggotanya berhubungan baik sama geng motor lain? Setau gue kita lagi gak ada masalah sama geng mereka."
"Lo salah! Apa susahnya minta maaf!" Celetuk Noah berdiri di samping Karta.
Lya tersenyum miring. "Perlu kaca? Gue rasa kata-kata itu lebih cocok buat lo!" Ujar Lya membuat mereka yang ada disana terkejut.
Jika tadi beberapa anggota masih sibuk dengan urusan sendiri, sekarang mereka semua sudah memusatkan perhatian mereka pada Lya dan inti Rakasa.
"Lo cuma anggota baru, gak seharusnya lo ngomong gitu ke Noah!" Sentak Karta. "Jangan karena kita welcome ke lo dan Diki, membuat kalian berdua bertingkah sesuka hati kalian."
Lya menatap Karta. "Oke maaf! Tapi omongan gue tadi emang cocok buat wakil lo ini!" Lya terang-terangan menunjuk Noah.
__ADS_1
"Ya!" Tegur Diki melihat Lya sudah kelewatan.
"Yang sopan sama senior lo!" Celetuk Elang.
"Nggak buat dia!" Ujar Lya.
Noah sudah tidak bisa menahan emosinya. "Jaga mulut lo," ujar Noah.
"Kenapa? Salah omongan gue? Emang lo itu perlu kaca buat ngeliat gimana lo dan mulut lo yang agung itu!"
"Jangan bawa masalah pribadi yang gak penting sama sekali disini!"
BUGH
Mereka semua terkejut. Lya memukul Noah dengan sangat kencang, bahkan sudut bibir Noah terluka sekarang.
"COWOK SIALAN!" Umpat Lya.
"LYA!" Sentak Karta.
"Lya lo kenapa sih?" Tanya Kevin.
"Ya stop astagfirullahaladzim!" Diki terkejut bukan main.
"GILA LO?" Bentak Juna.
"KENAPA? MAU BELA TEMAN LO? BELA!" Lya balas membentak Juna.
BRUKK
Lya menendang Noah membuat laki-laki itu terjatuh. Elang dan Kevin berlari membantu Noah berdiri.
"LYA SETAN!" Juna hendak menyerang Lya namun ditahan Karta.
"Seumur gue hidup, selama Cla sama gue, gak pernah gue bikin dia nangis. Dengan mulut ANJING lo itu, seenaknya lo sebut dia murahan. SEHEBAT APA LO?" Lya menunjuk Noah denagan amarahnya. "Gue pastiin Cla tidak akan pernah deketin lo lagi dan gue pastiin lo bakal nyesal!"
"Bajingan!" Umpat Lya meludah di hadapan Noah lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Diki berlari menyusul Lya meninggalkan Devan dan Karta yang diam menatap kepergian Lya.
"Anjing!" Umpat Noah terlihat emosi. Dia berjalan meninggalkan teman-temannya dan pergi dari sana.
"Noah gak benar-benar ngatain Clarissa murahan kan?" Tanya Juna setelah sekian lama bungkam. Karena dari permasalahan yang terjadi, kata-kata murahan dari mulut Lya yang paling Juna ingat dan dia tidak percaya bahwa Noah menyebut kata-kata itu ke perempuan terlebih Clarissa. Mulut Noah mungkin sangat kasar jika berbicara, namun tidak kepada perempuan.
"Lya gak mungkin semarah ini kalau Noah gak beneran ngelakuin itu," jawab Kevin.
"Noah setan! Gimana sama olim coba? Ini tinggal menghitung hari," ujar Elang terlihat frustasi. Elang sangat menunggu momen itu, masa jabatannya akan segera berakhir dan olimpiade ini adalah kegiatan penutup di akhir masa jabatannya.
"BUBAR!" Perintah Karta.
"Kalian balik aja, gue nyari Noah," ujar Karta. "Gue ikut!" Celetuk Devan.
"Kita juga," ujar Juna.
Karta menggeleng. "Noah gak akan mau ditemuin sama kita semua, lo tau gimana Noah. Biar gue aja, gue bakal kasih tau ke kalian setelah gue tau permasalahannya."
Kini mereka semua bubar dan menuju tujuan masing-masing. Karta dan Devan beriringan untuk mencari Noah.
"Noah gak akan balik ke rumah," ujar Devan pada Karta.
"Gue tau!"
Karta melajukan motornya dengan cepat. Karta tau dimana dia harus mencari Noah.
"Lo yakin dia di dalam?" Tanya Devan menatap bangunan besar di depannya ini.
__ADS_1
"Seharusnya!" Jawab Karta.
Dentuman musik memekak telinga. Bau asap dan alkohol tercium di indra penciuman Karta dan Devan. Kedua laki-laki itu mengedarkan pandangannya mencari Noah.
Devan menepuk pundak Karta. "Disana!" Tunjuk Devan lalu berjalan disusul Karta.
"Punya masalah tuh di ceritain ke teman, punya teman banyak tapi gak di manfaatin," celetuk Karta pada Noah yang tengah duduk di meja bar dengan segelas cairan berwarna merah di genggamannya.
Noah meneguk minumannya singkat.
"Gue datang kesini bukan mau liatin lo minum!" Ujar Karta lagi. Dia terlihat kesal karena Noah mengabaikannya, sedangkan Devan tengah sibuk dengan urusannya sendiri.
"Gue ngataon Clarissa murahan!" Ujar Noah dengan suara serak. Karta yakin bahwa temannya ini sudah mabuk, meluhat satu buah botol dengan isi yang tinggal setengah di depannya. "Lya pantas marah!"
"Kenapa lo ngatain Cla murahan?"
"Gue capek! Cla selalu deketin gue. Dia gak ada habisnya buat bikin gue suka sama dia."
"Lo suka Clarissa?"
"Hm!"
Hanya itu. Dan Karta tau itu.
"Clarissa cerewet, bawel, manja, nyebelin, tukang spam, cengeng, bego, bodoh, jelek, jelek banget, jelek, gue gak suka," rancu Noah.
"Ck.. kalau mau bilang cantik mah bilang aja!"
"Gue udah usahain untuk jaga hati gue tapi dengan kurang ajarnya dia malah bikin hati gue goyah! Sialan emang. Cla brengsek!"
Karta tertawa. Noah itu batu, mau sekeras apapun batu, dia akan hancur juga meski dengan air yang terlihat sangat lemah. Pertahanan hati Noah yang dia benaji dengan sangat kuat ternyata sudah dihancurkan oleh Clarissa si gadis cengeng dan cerewet itu.
"Nanti minta maaf ke Cla," ucap Karta.
Noah tertawa. "Lya gak bakalan izinin gue nemuin Cla."
"Kuncinya ada di Cla. Kalau lo serius, langsung ungkapin perasaan lo ke Cla. Biar Lya gue yang urus," ujar Karta membuat Devan menatapnya tajam.
"Biar gue," ucap Devan.
"Biar gue! Ini masalah gue. Gue bukan bocah, lo semua diam aja!" Tolak Noah yang masih setengah sadar.
...🌻...
Disinilah Diki. Duduk di kasur Clarissa seperti seorang suami yang tengah membujuk kedua istrinya. Clarisaa yang tengah menangis dan Lya yang tengah emosi. Diki sudah seperti suami beristri dua yang serba salah, ingin mendiami Clarissa tapi gadis itu mengabaikannya, ingin meredakan emosi Lya tapi dia takut menjadi samsak hidup untuk gadis itu.
"Seharusnya kamu gak perlu mukul kak Noah," cicit Clarissa menghapus air matanya.
Lya mendengus kesal. "Gue bahkan bisa bunuh dia kalau gue mau!"
Clarissa menggeleng. "Ini salah aku, aku yang terlalu berlebihan. Aku emang bersikap murahan dengan selalu nempelin dia, kamu aja yang gak tau. Akubselalu chat dia, aku selalu usaha buat bikin dia suka sama aku. Dan mungkin cara aku salah, lagi pula dia sukanya sama cewek lain!"
Diki mengusap wajahnya frustasi. Dia tidak mengerti masalah ini, dia bahkan sedang cek cok dengan Chintya.
"Cewek emang ribet!" Gumam Diki pelan.
"APA LO BILANG?" Tanya Lya tidak santai.
Diki menggeleng cepat. "Nggak! Gak ngomong apa-apa, suer!"
Bego! Bisa di sate gue malam ini. Mulut dakjul! Maki Diki dalam hati.
...🌻...
Jangan lupa Vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1