
Gavin terlihat tidak asing bagi Stefi, ia terus menatap kearah Gavin dan mencoba mengingat dimana dia pernah melihat bocah dingin itu.
Perasaan gue sering ngeliat ni bocah tapi dimana? Batin Stefi. Tapi bukannya ini pertama kali gue kesini ya? Lanjutnya membatin.
"Avin kakak itu kenapa ngeliat kamu kaya gitu?" Bisik Fian kepada Gavin yang jawab gelengan olehnya.
"Kakak kenapa?" Tanya Gavin dengan datar. "Kenapa kakak panggil kita?"
Gavin Anggara, balita yang terlihat periang jika dengan keluarga dan teman-temannya dan seketika jadi dingin jika bersama orang asing.
"Ha? Ah tidak tidak kakak cuma mau tanya kalian habis ngapain di sawah tadi?" Tanya Stefi konyol.
"Tuh," tunjuk Gavin kearah tiga ember yang penuh dengan siput.
Aduh kenapa gue jadi bego gini? Udah jelas-jelas gue tau mereka habis ngapain tadi. Batin Stefi meringis.
"Ah ya sudah kalian bersih-bersih aja dulu di sini, gimana? Kalian kotor banget itu," ujar Stefi.
Gavin yang mendengar itu mentranslitkan kepada teman-temannya dan menyampaikan apa yang teman-temannya ucapkan kepada Stefi. Gavin dan teman-temannya menyetujui ucapan Stefi kemudian Stefi menuntun mereka ke kran air yang ada di halaman Vila.
Tidak lama kemudian mereka duduk di atas rumput taman saling menceritakan banyak hal, Stefi hanya menjadi pendengar tapi matanya tak pernah lepas dari Gavin.
"Wah ternyata banyak anak-anak disini," ujar Sonya yang baru datang bersama keempat laki-laki beda usia itu.
"Lagi pada ngapain nih?" Tanya Larry menatap mereka satu persatu.
Stefi berjalan mendekati Sonya dan membisikkan sesuatu.
"Ma lihat deh anak yang baju biru itu mirip kak Dave waktu kecil yang aku lihat di album foto dirumah," bisik Stefi.
Sonya yang mendengar itu menatap lekat anak yang dimaksud Stefi.
Deg!
Mata Sonya tak henti-henti menatap anak kecil itu, membuat Larry menyenggol lengan istrinya lalu mengangkat alisnya sebelah seolah bertanya, ada apa?
Sonya yang mengerti membisikkan apa yang dibisikkan Stefi kepadanya dan Larry melakukan hal yang sama seperti istrinya menatap lekat anak itu.
Gavin yang menyadari ada yang menatapnya mengedarkan pandangannya sampai manik matanya bertemu dengan manik mata Sonya, Stefi, dan Larry. Gavin menatap mereka dengan datar namun tidak lama kemudian dia menatap sembarang arah untuk menghindari tatapan mereka.
Dia tidak paham ada apa dan jujur saja dia tidak nyaman dengan tatapan orang dewasa di depannya itu. Sampai ucapan Jetno menyadarkannya.
__ADS_1
"Avin bilang sama semua orang besar di depan kamu itu. Aku mau pulang dulu, kebelet pengen buang air besar," bisik Jetno meminta tolong.
Gavin mengangguk singkat kemudian ia memamitkan Jetno kepada orang-orang dewasa seperti yang Jetno katakan.
Ketiga pemuda yang mendengar itu, mengalihkan atensinya menatap Gavin.
"Ni bocah kaya gak asing," gumam Nico yang masih di dengar Dave dan Felix.
"Mirip orang yang disebelah lo," balas Felix.
Mereka bertiga terdiam memikirkan sesuatu.
Satu
Dua
Ti..
Mata Felix dan Nico melotot seketika saat menyadari ucapan Felix lalu mereka saling pandang. Sedangkan Dave menatap kedua sahabatnya dengan bingung tapi tak urung pikirannya memikirkan gumaman Felix yang mengatakan anak kecil yang berbicara kepada mereka tadi mirip dengannya.
Apa jangan-jangan? Batin Nico menerka-nerka sembari menatap Gavin dan Dave bergantian.
Mirip sih. Tapi apa hubungannya? Mungkin hanya mirip doang. Batin Dave.
Halaman Vila milik keluarga Miller penuh dengan suara sekumpulan anak kecil yang asik bertukar cerita dengan seruan Budi yang lebih mendominasi sedangkan Gavin yang hanya sesekali menyimpal, tapi beda dengan kelima orang dewasa yang sibuk dengan hati dan pikiran mereka.
***
Sefira tengah merapikan stok-stok barang yang baru saja datang berkodi-kodi bersama ketiga karyawannya, sedangkan Lia sudah berangkat antar pesanan orang yang malas ke toko. Sesekali Fira juga akan menjadi kasir jika ada yang akan membayar. Jika masih pagi dan siang, tokonya masih terbilang sepi hanya ada beberapa pelanggan tapi jika sudah sore tokonya sangat ramai, mungkin mereka tidak ingin panas-panasan.
"Kayanya aku harus tambah karyawan lagi deh," gumam Fira sambil meregangkan otot-ototnya yang pegal dan sedikit kaku.
"Kakak istirahat aja, biar kita yang beresin ini semua," ujar Dina karena melihat Fira yang kelelahan.
Fira tidak menolak. "Baiklah terima kasih ya na." Fira meninggalkan mereka menuju kursi kasir.
Drttt drtt
Ponsel Fira berdering, tertera di layar ponselnya hanya deretan angka tanpa nama. Fira mengerutkan dahinya tapi tak urung dia mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat siang, benar dengan keluarga dari Aulia Putri Ramangsa?" Tanya seseorang disebrang telepon.
__ADS_1
"Iya benar mba, saya kakaknya," jawab Fira was-was.
"Kami dari pihak puskesmas mba, saudara Lia baru saja mengalami kecelakaan," beritahu orang tersebut.
"Kecelakaan? Terus bagaimana keadaannya mba? Puskesmas mana saya kesana sekarang," ujar Fira panik membuat ketiga karyawannya menghampirinya.
"Keadaannya baik-baik saja mba tapi pasien masih belum sadar. Di puskesmas xx mba."
"Terima kasih mba, tolong jaga adik saya. Saya kesana sekarang!"
Tut tut
Fira mematikan sambungan telepon tanpa mendengar balasan dari orang itu.
"Siapa yang kecelakaan kak?" Tanya Lina salah satu karyawannya.
"Lia. Kakak titip toko sama kalian bertiga, kakak mau cari Gavin dulu ke sawah baru ke rumah sakit," ujar Fira yang diangguki ketiganya.
Fira mengambil kunci motor beat dan tasnya kemudian pergi keluar toko. Tujuan pertama Fira sekarang adalah sawah seperti yang dikatakan Lia sebelum berangkat antar barang pesanan orang, dengan kecepatan tinggi Fira melajukan motornya meski jalanan tak semulus jalan raya.
"Jetno," panggil Fira memberhentikan motornya. "Gavin dimana?" Tanya Fira dengan logat sunda.
"Gavin ada di rumah besar di ujung itu bi sama yang lain juga," jawab Jetno, salah sati teman Gavin yang pulang duluan entah kenapa.
Fira mengangguk kemudian menyalakan mesin motornya kembali dan berlalu tapi sebelum itu tidak lupa dia mengucapkan terima kasih kepada Jetno.
Tidak lama kemudian, Fira sampai di depan gerbang besar ia tau bangunan di depannya itu sebuah Vila. Bisa Fira lihat di halaman Vila tersebut ada Gavin dan teman-temannya sedang berceloteh satu sama lain, ada empat laki-laki dewasa dan dua perempuan beda usia yang tengah menatap Gavin lekat, Fira hanya bisa melihat wajah kedua perempuan sedangkan keempat laki-laki itu membelakanginya.
"GAVIN!"
Semua menoleh kearah seorang perempuan cantik yang baru memasuki gerbang dan betapa terkejutnya ketiga pemuda yang ada disana begitu juga dengan Fira yang melihat mereka terdiam mematung.
Deg!
***
Izin ngelapak dulu ya gengs buat beli kuota biar bisa double up tiap hari!
Geng yuk yang belum download apk Bank Neo silahkan download dengan masukkan kode Refral 'KFDA42' lalu buka rekening. Buat yang sudah jangan lupa komen di paragraf ini dan terima kasih sudah membantu muaah.
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan!
__ADS_1