
Siangnya, Fira tengah berada di tokonya bersama ketiga pegawainya. Sedangkan Lia sudah berangkat kuliah. Dan Gavin seperti biasa bermain bersama teman-temannya.
Seperti hari biasanya, siang hari toko terlihat sepi dan akan ramai jika sore hingga malam tapi jika sudah mau magrib biasanya Fira akan menyerahkan urusan toko kepada tiga pegawainya. Siang ini Fira sedang sibuk dengan cemilan dan cilok yang ia beli di penjual keliling sekitar toko bersama tiga pegawainya. Fira sosok orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri, jika ia membeli sesuatu pasti dia akan membelikan pegawainya juga itu membuat pegawainya sangat senang bekerja bersamanya.
"Assalamualaikum," salam seorang pria dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.
Keempat perempuan yang sibuk makan menoleh ke sumber suara kemudian mereka menjawab. "Waalaikumsalam."
"Mas Rian ya?" Tanya Fira memastikan.
Pria itu mengangguk mengiyakan. "Iya Fira."
"Ada yang bisa di bantu mas? Mau cari apa?" Tanya Fira ramah.
Rian terdiam sesaat. "Hm.. gini Fira, kemarin kan saya belikan ibu saya dres rumahan gitu terus tante saya lihat dan katanya mau. Jadi saya kesini mau beli kaya kemarin lagi," alibi Rian lancar. Sebenarnya itu semua adalah sebuah alasan Rian, tentu niat yang sebenarnya untuk melihat sang pujaan hati bukan membeli baju seperti yang di katakannya.
"Maaf mas baju yang mana?" Tanya Fira karena yang Fira ingat ada beberapa pasang baju dan dress yang adiknya beli kemarin.
Rian terdiam memikirkan baju apa yang akan ia beli. "Daster ini sepertinya sangat cocok untuk ibu, mas." Rian ingat perkataan adiknya kemarin. "Oh ya kalau gak salah namanya daster, Fira," ujar Rian.
"Ohh," ucap Fira mengangguk-anggukkan kepalanya membuatnya terlihat menggemaskan. "Dina daster stoknya masih?" Tanya Fira kepada salah satu pegawainya.
Perempuan yang di panggil Dina terlihat mengingat-ingat. "Sepertinya tinggal beberapa mba. Coba saya carikan dulu," ucap Dina bangkit mencari barang yang pelanggannya cari.
"Tunggu ya mas," ucap Fira ramah.
"Ah iya gak papa ra," balas Rian tersenyum.
Tidak lama Dina datang membawa barang yang di maksud. "Ini mba sisa ini aja tinggal empat," beritahu Dina.
"Bagaimana mas?" Tanya Fira menatap Rian.
Rian melihat-lihat. "Gak ada warna lain? Ini terlalu terang warnanya buat ibu saya," jawab Rian.
"Maaf mas, barang belum datang lagi," balas Fira ramah.
"Gitu ya?" Fira mengangguk. "Boleh saya minta nomor kamu? Biar bisa hubungi kamu menanyakan apakah barangnya sudah ada atau tidak," ucap Rian menatap Fira. Ketahuilah dalam hati Rian terus meramalkan doa supaya Fira mau memberikannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Fira langsung mengangguk karena Fira yang polos dalam hal cinta membuatnya tidak berpikir hal ke arah lain. Fira merobek buku catatannya sedikit dan mengambil pulpen lalu menuliskan deretan angka dan memberikannya kepada Rian.
Rian menerimanya dengan hati yang tidak bisa di deskripsikan. "Terima kasih Fira. Kalau begitu saya permisi pulang dulu," pamit Rian yang diangguki Fira.
Tanpa mereka sadari, ketiga pegawainya tengah menahan tawa melihat kepolosan bosnya dalam hal percintaan. Tapi mereka bertiga juga senang dan berharap semoga laki-laki itu benar-benar tulus dan serius kepada Fira, mereka juga berharap Rian bisa menerima keadaan Fira jika suatu saat nanti Rian tau.
***
Gavin dkk tengah berada di sawah, seperti biasa mencari siput untuk mereka jual ke pak Ujang, salah satu peternak bebek di kampung tersebut.
Tidak lama mereka memutuskan untuk naik dari sawah dan pulang karena mereka sudah mendapat banyak.
"Kita ke rumah besar itu dulu yuk bersih-bersih," ajak Jaka kepada teman-temannya sambil menunjuk vila yang tidak jauh dari mereka.
"Nanti kita dimarahin Jaka," tolak Fian yang tau jika Gavin pasti akan menolak.
"Tidak akan Ian. Kan disana ada ibuku," kekeh Jaka mengajak mereka.
"Ayo," balas Dion dan Jetno.
Mereka memasuki gerbang tinggi beriringan dengan Jaka yang memimpin jalan. "Assalamualaikum ibu," salam Jaka mewakili teman-temannya.
Dyah keluar dengan tergesa-gesa. "Aduhh kamu ngapain kesini nak?" Tanya nya meringis karena takut tuannya marah nanti.
"Kenapa bu? Jaka cuma mau bersih-bersih disini sebelum ke rumah pak Ujang," jawab Jaka membuat Dyah lagi-lagi meringis.
"Gak papa bi," ujar Dave keluar setelah tau yang datang adalah Gavin dan teman-temannya. "Bibi lanjutin pekerjaan bibi aja sana," titahnya.
Dyah mengangguk kemudian pamit ke belakang.
"Kalian habis dari mana?" Tanya Dave menatap anak-anak di hadapannya. Dave duduk di anak tangga untuk menyemakan tingginya dengan mereka.
Jetno menyenggol Gavin membuatnya mendengus lalu menatap nyalang temannya itu. "Sawah!" Ketus Gavin.
Fian dkk memang sedikit-dikit paham bahasa Indonesia tapi dalam pengucapan mereka belum bisa karena belum terbiasa.
Dave tersenyum mendengar anaknya yang menjawabnya dengan ketus. Ia memakluminya karena kesalahannya juga sangat besar mungkin Gavin belum bisa memaafkannya. "Ngapain di sawah?" Tanya Dave lagi. Ia ingin berlama-lama ngobrol bersama Gavin.
__ADS_1
"Tuh!" Gavin menunjuk tiga ember yang berisi siput.
Dave mengerti. "Buat apa siputnya?"
Gavin mendengus mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari lelaki dewasa di hadapannya yang sayangnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan keempat temannya hanya menatap mereka berdua bergantian karena jujur saja mereka sedikit bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
"Kalian mau ke taman kota gak?" Tanya Dave tersenyum manis, sangat manis.
"Tidak!" Tolak Gavin dengan tegas.
"Pak pak pak," panggil Dave pada bapak tukang bangunan yang kebetulan melintas.
"Iya pak?"
"Tolong tanyakan mereka mau ke taman kota atau tidak," pinta Dave sopan.
Lelaki tua itu mengangguk kemudian menatap anak kecil di hadapannya dan menanyakan apa yang dikatakan majikannya menggunakan bahasa daerahnya. Mereka yang mendengar itu bersorak mau membuat Dave tersenyum lebar tapi tidak dengan Gavin yang mendengus.
"Kalau begitu kalian bersih-bersih dulu disini, untuk ganti bajunya nanti aja sekalian kita jalan," titah Dave dan tentu dengan laki-laki yang tadi di panggil Dave yang menterjemahkan.
Gavin menghembuskan nafasnya pasrah mengikuti langkah teman-temannya masuk vila tersebut.
"Gavin kamu di kamar daddy aja," ucap Dave namun tak dihiraukan oleh Gavin.
"Kalau kamu nunggu nanti lama. Ayo ke kamar daddy aja," ujar Dave masih terus berusaha untuk mencuri waktu agar bisa berdua dengan anaknya.
"Apa yang dikatakan paman itu benar Avin. Kamu di kamar paman itu aja," bisik Fian kepada Gavin membuat Gavin mendelik menatap temannya itu.
"Tidak!" Tolak Gavin tanpa ekspresi.
"Ayo kamu ikut paman itu aja," kekeh Fian. Dia tau Dave ingin berdua bersama Gavin, Fian juga tau Gavin ingin bersama Dave tapi Gavin terlalu gengsi untuk itu.
Diantara mereka berlima tidak hanya Gavin yang punya pemikiran dewasa tapi Fian juga. Orang tua Fian bercerai dan ia ikut dengan ibunya yang sekarang bekerja bersama Fira, Laras namanya. Hal itu membuat Fian terlihat dewasa di bandingkan teman-temannya. Fian tau bagaimana rasanya jadi Gavin yang merindukan sosok ayah dalam hidupnya karena Fian juga menginginkan hal yang sama tapi ia tidak tau ayahnya ada dimana sekarang.
...***...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!
__ADS_1