SEFIRA

SEFIRA
GL 50


__ADS_3

"Lo beneran kesini bang?" Tanya Lya pada Karta yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


Lya sedikit terkejut saat pelayannya memanggil dan memberitahu bahwa ada temannya yang datang.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Karta berdiri, laki-laki itu menelisik tubuh Lya.


Lya menggeleng. "Gue baik-baik aja, serius."


"Makan," ujar Karta menunjuk pizza yang dia beli sebelum menemui Lya. Lya terdiam menatap pizza yang ada di meja. Gadis itu duduk di karpet telat di depan meja dan membuka kotak pizza, sedikit teekejut saat melihat toping yang menghiasi pizza tersebut.


"Gue bingung mau pesan yang mana, karena gue juga laper jadi gue pesan selera gue aja. Gue alergi jamur, jadi gue pesan yang tidak ada jamurnya," cetus Karta yang mengambil satu potongan pizza.


Lya yang mendengar itu hanya diam sambil memakan pizzanya. Karena tidak biasa melihat Lya diam, Karta merasa sedikit aneh.


"Lo beneran gak kenapa-kenapa? Kenapa diam aja? Ada yang sakit? Atay gak suka pizzanya?" Tanya Karta beruntun.


Lya hanya menggeleng. Mulutnya penuh dengan pizza membuat kedua pipinya mengembung, namun bukan itu yang menarik perhatian Karta. Air mata yang mengalir di pipi Lya membuatnya panik seketika.


"Ya lo nangis?" Tanya Karta turun dari sofa dan berjongkok di samping Lya. "Heh kenapa?"


Air mata Lya semakin deras, dia tetap mengunyah pizza yang tersisa di mulutnya membuat Karta merasa gemas.


"Lo kenapa?" Tanya Karta lembut.


"Jangan hiks tanya kenapa hiks.. nanti bakal hiks tambah nangis hiks!"


Karta yang tidak tau harus melakukan apa, menarik tubuh Lya kedalam pelukannya. Mengelus rambut lembut Lya mencoba menenangkan gadis itu.


"Hiks Dika!" Ucap Lya lirih. Karta sedikit terkejut mendengarnya, namun dia memilih diam. "Gue hiks kangen hiks."


"Sabar Ya! Abang lo juga kangen sama lo, jangan nangis begini nanti dia sedih," bisik Karta. Laki-laki itu memeluk Lya dengan erat, meletakkan dagunya di kepala Lya sambil memberikan kenyamanan bagi Lya.


"Dika juga alergi jamur," ujar Lya.


Karta tersenyum. "Jadi lo nangis karena gue sama Dika sama-sama alergi sama jamur?" Tanya Karta.


Lya mengangguk. "Sikap lo mirip banget sama dia, jarang ngomong tapi perhatian. Gue suka lo peluk, suara jantung lo nenangin gue."


Karta terkekeh. "Mulai hari ini lo jadi adek gue," ujar Karta mengecup puncak kepala Lya.


"Makasi bang."


Karta melepas pelukannya. Dia tertawa melihat wajah Lya, tangannya terulur mengusap air mata yang ada di pipi Lya. "Makan lagi, abis itu istirahat. Badan lo hangat, gak mau berobat?"


Lya menggeleng dengan mulutnya yang kembali mengunyah pizza.


"LYAAAAAAA!"


Karta dan Lya di kejutkan dengan suara Diki yang menggelegar. Laki-laki jangkung itu menghampiri dan memeluk Lya erat sampai Lya terbatuk-batuk karena tersedak makanan di mulutnya.


"Uhukk..uhukk..!"


"Kenapa gak bilang Ya?" Tanya Diki.


Plak


Karta memukul kepala Diki. "Mau ngebunuh Lya?" Tegurnya.


Diki melepas pelukannya. "Gue gak sadar kalau ada lo bang," cetus Diki menyengir kuda. Karta hanya merotasikan matanya.

__ADS_1


"Lo kenapa gak bilang Ya? Gue khawatir!"


"Gue baik-baik aja. Ada Jessy yang nolongin gue, baik banget dia," jawab Lya pada Diki.


"Jessy?" Beo Diki.


Lya mengangguk. "Gak nyangka kan? Gue juga! Dia, Laura sama Zia gak seburuk yang gue kira."


"Rakasa di bentuk bukan hanya sekedar geng motor Ya. Mungkin Jessy ngerasa utabg budi sama lo, tapi diluar itu kita semua wajib saling tolong menolong," jelas Karta.


"Gak akan gue lepasin tuh Clara," geram Diki.


"Kita urus bareng-bareng."


Lya menatap Karta. "Mau di apain?" Tanya Lya. "Dia pacar Devan!"


"Gue gak peduli. Devan bahkan gak pernah nganggap Clara," jawab Karta.


"Lagian lo kenapa bisa kalah sih?" Tanya Diki.


Lya menatapnya tajam. "Gak liat lo gue di pegangin gitu, lagian gue udah trauma ngeliat kolam," jawab Lya. "Jangan-jangan Clara tau lagi kalau gue gak bisa berenang, ngapain coba dia ngajak gue ketemu disana."


Karta menjitak kening Lya. "Udah tau gak bisa berenang tapi lo iyain ajakan dia kesana."


Lya merengut mengusap keningnya.


"Clara ular!" Umpat Lya dan Diki berbarengan.


"GELL GELLLLLLLL!"


Lya, Karta dan Diki menoleh kearah pintu.


"Oh my God! Mira sent me a video of you being bullied by Clara. Are you okay?" Tanya Clarissa mengecek keadaan Lya.


Wajah panik Clarissa sedikit berubah. "Terus siapa yang nyelamatin kamu dari kolam?" Tanya Clarissa.


"Jessy!"


Clarissa tersenyum. "Oh God! Aku harus berterima kasih nanti," ujar Clarissa. Dia menoleh menatap kearah Karta. "Hai kak, sendirian aja? Kak Noah gak kesini juga?"


Lya mendengus.


"Gue sendiri," jawab Karta.


"Masih aja lo. Gak nyerah?" Tanya Lya.


"Aku cuma tanya doang kok," jawab Clarissa.


Diki menjitak kening Clarissa. "Asal jangan bikin orang susah aja gara-gara nangis gak mau berhenti!"


"Udah malam, gue balik dulu," ujar Karta berdiri dan pamit.


Lya, Clarissa dan Diki mengantar Karta ke depan pintu. "Makasi ya bang."


"Karta mengangguk. "Istirahat!"


"Hati-hati!"


Diki menyenderkan tubuhnya ke pintu. "Ada kemajuan?" Tanyanya pada Lya setelah motor Karta keluar halaman rumah Lya.

__ADS_1


"Banyak! Lo benar dan gue yang salah."


Lya kembali melangkah masuk kedalam rumah diikuti kedua sepupunya. Diki dan Clarissa memutuskan untuk menginap disana.


...🌻...


Pagi ini terasa sangat cerah. Matahari menembus kaca balkon dan menerangi kamar Lya. Gadis itu masih bergelut manja di dalam selimutnya.


"Gel Gel! Ayo sarapan," panggil Clarissa dari luar kamar.


Lya membuka matanya dan meregangkan otot-otot tubuhnya. "Iya," jawab Lya dan beranjak menuju kamar mandi.


"Mentang-mentang hari minggu bangunnya siang banget," celetuk Diki saat Lya baru datang ke meja makan.


Clarissa mencibir Diki. "Kamu juga susah dibangunin tadi, gak sadar diri!"


"Makan!" Ujar Lya.


Bahkan sampai siang hari ketiga persepupuan masih saja bermalas-malasan. Meski tadi pagi mereka sempat berjemur di halaman rumah.


...🌻...


"Pa!" Panggil Devan pada ayahnya saat dia baru saja masuk kedalam ruang kerja ayahnya.


"Apa?"


"Batalin perjodohan konyol ini. Devan gak pernah setuju dijodohin sama Clara, Devan gak mau!"


Ayah Devan menatap tajam Devan. "Jangan gila! Kita sudah sepakat. Kamu gak bisa batalin perjodohan ini gitu aja."


"Bisa!" Ujar Devan. "Devan gak pernah suka sama Clara, Devan bisa nyari pacar yang lebih baik dari Clara."


"Clara itu sudah yang terbaik untuk kamu!"


"Papa aja yang gak tau! Clara itu suka ngebully orang di sekolah. Bahkan kasus kali ini lebih parah," ujar Devan menyerahkan ponselnya yang sedang memutar video kelakuan Clara.


Ayah Devan melihat video itu dengan seksama.


"Please pah! Selama ini Devan selalu nurut sama papa. Pindah sana sini, ikut papa sana sini, Devan gak pernah bantah papa. Kali ini aja dengerin Devan," ujar Devan terlihat memohon. Jika selama ini dia akan berusaha biasa saja di depan ayahnya, berusaha untuk tidak menampakkan kelemahannya, maka sekarang Devan rasa itu harus.


Ayah Devan menatap dalam mata Devan. "Siapa gadis ini?" Tanyanya pada Devan.


"Teman Devan," jawab Devan. Dia tau bahwa ayahnya sedang mananyai tentang Lya.


"Teman atau pacar?"


"Teman pah, anggota Rakasa juga."


"Kamu suka dia?" Tanya ayah Devan membuat Devan terdiam.


Ayah Devan tersenyum miring. "Bawa dia kesini, kalau papa rasa dia cocok buat kamu. Gak akan ada perjodohan!"


Devan menatap ayahnya tidak percaya. "Pah! Lya itu teman Devan, kita juga gak dekat."


"Keluar! Papa sibuk."


Devan menatap kesal pada ayahnya yang kembali sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Kenapa malah jadi ribet begini sih," gumam Devan mengacak rambutnya setelah keluar dari ruangan ayahnya.

__ADS_1


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2