
Setelah selesai dengan urusannya, Lya keluar dengan dua kantong plastik di tangannya berisi beberapa es krim dan snack-snack. "Ayo," ajaknya.
Mereka sampai di panti, Lya langsung masuk sedangkan Fiki mengurus barang yang diantar kurir.
"Kakak datang lagi?" Tanya seorang anak perempuan dengan rambut yang di kuncir dua. Lya tersenyum.
"Halo Rumi," sapa Lya.
"Ayo masuk kak," ajak Rumi.
"Assalamualaikum," ucap Lya setelah masuk panti.
"Nak Lya," panggil ibu panti. "Kesini lagi?" Dengan senyum ibu panti vertanya, Lya mengangguk sebagai jawaban.
Lya memberikan barang bawaannya pada ibu panti yang langsung di serbu anak-anak disana. "Makasu ya nak Lya," ujarnya pada Lya.
"Sama-sama bu. Dirga mana?" Tanya Lya.
"Ada di taman samping, tempat kamu sama dia kemarin."
Lya pamit untuk mencari Dirga, Diki yang melihat Lya langsung menyusulnya.
"Dirga," panggil Lya.
Anak laki-laki itu menoleh lalu tersenyum setelahnya. "Kakak datang lagi?"
Lya ikut tersenyum. "Iya. Kan kemarin udah janji."
"Dia siapa?" Tanya Dirga menunjuk Diki. "Dia sepupu kakak, namanya Diki. Ayo kenalan."
"Halo, nama abang Diki, sepupunya kak Lya," ucap Diki mengulurkan tangannya.
Dirga menjabat tangan Diki. "Dirga, pacarnya kak Lya.
Diki menganga, Lya memejamkan matanya kenapa Dirga masih ingat saja. "Jangan ketawa," tegur Dirga.
Diki menoleh pada Lya, dia benar-benar butuh penjelasan. "Uhm.. kakak udah beli skuternya," ujar Lya mengalihkan pembicaraan.
Dirga menoleh. "Kakak beneran beliin?" Lya mengangguk. "Ayo kak, tadi pagi dia kesini. Ayo kita kasihin ke dia."
__ADS_1
Dirga menarik tangan Lya. Gadis itu hanya mengikut, Diki yang merasa tidak mengerti hnaya mengikut di belakang. "Kakak cuma beli satu. Tadinya mau beli dua, buat kamu satu. Tapi tidak jadi, takut nanti anak-anak yang lain iri."
"Gak papa, satu aja buat ganti punya Riski," balas Dirga lalu menoleh pada Diki. "Abang bisa minta tolong bawain skutrrnya? Rumahnya ada disana!"
Diki hanya mengangguk. Dirga kembali menggandeng tangan Lya berjalan menjauh dari panti. "Ini kenapa gue berasa jadi nyamuk," gumam Diki.
Mereka sampai di rumah yang cukup besar, Dirga mengetuk pintu.
Ceklek
Seorang wanita yang Lya yakini ibu dari teman Dirga itu melangkah keluar.
"Ada perlu apa?" Tanyanya pada Lya.
"Dirga mau gantiin skuter Riski yang Dirga rusak. Maaf ya mama Riski, Dirga gak sengaja."
Wanita itu menatap tidak percaya pada Dirga. "Kamu beneran gantiin? Padahal tante udah bilang, skuternya biar papa Riski yang benerin.
Dirga menggeleng. "Nggak apa-apa. Ini tantr, makasi," ujar Dirga lalu menarik tangan Lya untuk pergi dari sana.
"Kami pamit ya bu," ucap Lya sebelum pergi.
"Seharusnya gak perlu di ganti," ujar wanita itu pada Diki yang baru saja akan beranjak. "Harganya terlalu mahal," tambahnya membuat Diki menatap mama Riski. "Bukan maksud merendahkan. Dirga anak panti asuhan, dibanding ganti barang yang jelas mahal, mending uangnya di pakai untuk beli makan biar gak kelaparan. Lagi pula dapat uang dari mana bisa beli skuter ini?"
Diki merasa tidak suka dengan perkataan wanita ini. "Dirga memang anak panti, barang ini juga mahal. Yang beli saudara saya, pakai uang sendiri. Mereka gak pernah kelaparan, meskipun sederhana mereka gak pernah sampai gak makan sampai kehabisan makanan. Kami bantu Dirga dengan ikhlas, bukankah rezeki itu gak pernah salah alamat? Bantuan akan selalu datang untuk orang-orang baik. Pemrisi," ucap Diki panjang lebar lalu Diki segera pergi dari sana.
...🌻...
Sore sudah berganti malam. Mesku jalanan masih ramai oleh pengendara dan orang-orang yang tengah melakukan aktivitas di luar, tapi tidak sedikit juga yang menghabiskan waktu di rumah. Begitu juga Lya, dia hanya berbaring di kamarnya tanpa melakukan apapun. Setelah melaksanakan sholat isya dan makan malam, Lya tidak tau harus melakukan apa. Sedangkan Diki, pemuda itu tengah pergi entah kemana.
Karena merasa sangat bosan tapi matanya enggan tidur, Lya turun ke lantai dasar. "Diki belum pulang bun?" Tanya Lya pada bunda Intan yang tengah membuat kue.
"Belum," jawabnya.
"Ini udah malam, ngapain buat kue sekarang sih bunda?" Tanya Lya lagi.
"Gabut! Bunda nyoba resep baru, lagian punya anak gadis bukannya bantuin juga."
Lya mengeluarkan cengirannya. "Biar bunda aja, kalau Lya yang buat rasanya gak enak hehe!" Lya berjalan kembali ke kamarnya. Dia memang sangat tidak suka berurusan dengan dapur, pernah sekali dia mencoba memasak, alih-alih makanannya jafi Lya malah hampir membakar rumah. Karena kejadian itu, dia tidak pernah mau berurusan dengan dapur lagi.
__ADS_1
Lya menoleh kearah balkon saat mendengar suara motor masuk ke halaman, pikirannya tertuju pada Diki tapi sedikit bingung karena suara motor yang ada terasa sangat berisik dan banyak. Dengan penasaran Lya berjalan menuju balkon. "Siapa tuh?" Tanya Lya pelan pada dirinya sendiri. Sedetik kemudian dia sudah tau, inti Rakasa bersama Keenan dan Eadred lah yang datang.
Ngapain malam-malam kesini? Batin Lya bertanya-tanya.
"Turun gak ya? Ck.. males ah. Perjalanan dari dapur ke sini tuh memakan tenaga yang besar," ujar Lya merebahkan dirinya di kasur.
Tok tok
"Ya!"
Lya mendengar suara panggilan dari bunda Intan.
Ceklek
"Kenapa bun?" Tanya Lya.
"Turun gih. Ada teman-teman kamu, bantuin ayah ngobatin."
Lya yang mendengar ucapan bundanya langsung berlari turun. Obatin? Ada apa? Kenapa mereka? Yang ada di pikiran Lya adalah apa mereka habis berantrr? Apa mereka ada war? Kenapa Lya tidak di ajak.
Suara langkah Lya menarik perhatian orang-orang yang ada di ruang tamu. Mereka menoleh, Lya dapat melihat wajah lebam dari mereka semua. "Pada kenapa nih?" Tanya Lya lalu duduk di depan Karta, tangannya mencomot brownies yang di buat bunda Intan tadi.
"Gak liat nih muka babak belur begini? Jelas abis berantem lah," jawab Diki ketus, dia sedang di obati oleh Ayah David.
Lya tersenyum miring. "Rasain! Gak ngajak-bgajak gye sih lo!"
"Jadi kamu mau begini juga?" Tanya ayah David.
Dengan cepat Lya menggeleng, dia harus mencari aman sekarang. " Ya nggak! Kalau ada Lya pasti mereka gak akan begini!.
Keenan mendengus. "Banyak omong! Kalau lo ikut, gue yakin lo yang paling babak belur. Lioniel nyariin lo, gue rasa dia dendam banget sama lo."
Lya menatap Keenan. "Masa? Suka kali dia sama gue," jawab Lya membuat mereka semua menatapnya malas.
"Sini bunda bantu," ucap bunda Intan pada Juna. Bunda Intan membantu mengompres lebam pada wajah Juna.
"Makasi tante," balas Juna memberikan handuk basah.
...🌻...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)