SEFIRA

SEFIRA
Chapters 28


__ADS_3

Plak


"Untuk kedua kalinya kamu kecewakan saya," ujar Sonya dingin dengan sorot mata tajam namun siapa pun yang menelisik manik mata itu ia akan tau ada kekecewaan di sana.


Deg!


Jantung Dave seakan berhenti berdetak mendengar tutur kata wanita yang amat ia segani, yang amat ia sayang dan cintai sebut dirinya dengan kata 'saya' yang biasanya 'mama'. Hatinya sakit mendengar itu, tamparan di pipinya untuk yang ketiga kalinya tidak sesakit hatinya saat ini.


Apa aku salah? Apa aku ngelakuin suatu kesalahan? Bukankah aku sudah melakukan apa yang mereka inginkan, pikir Dave. Huft! Satu kata buat Dave gengs!


"Saya harap kamu bisa mengembalikan rasa bangga saya terhadap kamu lagi di masa depan," ujar Sonya lagi kemudian pergi meninggalkan ruang tamu.


Melihat kepergian Sonya, Larry melihat anak sulungnya yang mengusap pelan pipi yang baru saja di tampar kembali. Larry bangkit dari duduknya.


BUGH


Larry tidak segan-segan memukul wajah anaknya sampai tersungkur karena Dave tidak siap. Stefi yang melihat kakaknya kesakitan berlari membantunya. "Stop pa!" Cetus Stefi. "Abang kesakitan hiks," lanjutnya.


Stefi akhirnya paham apa yang terjadi di keluarganya, ia juga kecewa dengan perilaku abangnya tapi melihat bagaimana perilaku mama dan papanya kepada Dave membuatnya sedikit kasian dengan abangnya. Di tampar beberapa kali di pipi yang sama dan di pukul oleh papanya di pelipis abangnya, menurutny sudah cukup untuk semua itu.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Larry pergi meninggalkan kedua anaknya untuk menyusul istrinya.


Anjing! Umpat Dave dalam hati melihat kepergian orang tuanya.


Tidak lama kemudian Sonya dan Larry kembali, mereka melihat Stefi yang sedang mengompres wajah lebam Dave. "Stefi pulang," titah Larry dengan suara beratnya kemudian berlalu melewati kedua anaknya bersama Sonya yang enggan melihat Dave.


Stefi yang mendengar suara berat papanya taku, ia menatap nanar abangnya namun Dave mengangguk. "Kamu pulang sama mama papa ya nanti abang nyusul," ujarnya dengan tersenyum meyakinkan adiknya.

__ADS_1


Stefi mengangguk. "Abang hati-hati ya nanti nyetirnya," ujarnya yang diangguki Dave.


Stefi kemudian berdiri dan menyusul kedua orang tuanya yang sudah menunggu di mobil.


***


Berbeda dengan yang terjadi di rumah Lia. Gavin hanya menunduk dengan air mata yang tak henti dan bibir yang bergetar tanpa suara dalam rengkuhan bundanya. Fira tidak sanggup melihat anaknya seperti ini, ia menangis dalam diam tidak tau harus berbuat apa.


"Avinnya bibi boleh nangis tapi jangan terlalu larut. Bibi tau apa yang kamu rasakan sayang, tapi ingat ada bibi ada bunda juga di sini," nasehat Lia menangkup pipi Gavin yang masih terus basah dengan air mata.


"Maafin bunda sayang," lirih Fira yang di balas gelengan oleh Gavin. "Bukan hiks salah bunda," jawab Gavin membalas pelukan Fira dengan suara tangisan yang terdengar menyakitkan.


Lia yang mendengar itu ikut merengkuh mereka, dia tidak sanggup mendengar isak tangis keponakannya itu yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Ya Allah ujianmu kali ini sungguh berat. Batin Lia menangis dalam diam.


Apa salah hamba di masa lalu sehingga Engkau memberikan cobaan sebesar ini kepada anak hamba Ya Allah. Batin Fira beristigfar.


Fira maupun Lia yang mendengar ucapan bersalah dari bibir anak kecil di depan matanya sekarang ingin menangis kencang tapi mereka urungkan karena mereka tau kenapa Gavin berbicara seperti itu. Mereka berdua tersenyum terpaksa. "Ini bukan salah Avin," ujar Lia ikut menghapus air mata Gavin di pipi gemoy nya.


Fira mengangguk. "Ini bukan salah Gavin, ini salah bunda. Maaf," lirih Fira.


Gavin menggeleng. "Semua ini bukan salah siapa-siapa, ini semua sudah takdir dari Allah buat kita," terang Gavin tersenyum melihat Fira dan Lia bergantian.


Fira dan Lia yang melihat senyum Gavin ikut tersenyum. Fira mencium dahi anaknya kemudian kedua pipi dan terakhir kedua mata anaknya. Lia tidak ingin ketinggalan, ia mengikuti Fira mencium Gavin membuat sang empu menyebikkan bibirnya.


"Bunda," rengek Gavin. "Kaki Avin sakit," adunya.


Lia tertawa mendengar itu, air matanya kembali turun. Kamu hebat sayang, sungguh hebat. Batin Lia menatap Gavin.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Lia, Fira juga tertawa mendengar rengekan anaknya. Ya Allah terima kasih telah hadirkan malaikat kecil untukku. Batinnya.


"Kita ke puskesmas aja ya nak," pinta Fira melihat pergelangan kaki Gavin yang sedikit membengkak.


Gavin menggeleng. "Kasih obat merah aja seperti biasa bun," tolaknya.


"Ya sudah sini biar bibi obatin biar cepet sembuh," ujar Lia dengan kotak P3K di tangannya yang diangguki Gavin. "Terima kasih bibi."


"Ya sudah, bunda ke dapur dulu buat makan siang untuk kita bertiga," pamit Fira yang diangguki Lia dan Gavin tanpa melihat orang yang berbicara.


Lia mengedarkan pandangannya memastikan Fira telah benar-benar pergi. Setelah memastikannya, ia kembali mengobati Gavin dengan telaten sesekali mencuri pandang kepada Gavin. "Avin tau tidak?"


Gavin menggeleng. "Tidak bi," jawabnya.


Lia tersenyum. "Bunda adalah satu-satunya perempuan hebat yang bibi temui. Dulu awal mulanya, bunda nyelamatin mbah yang akan di serepet mobil waktu pulang dari pasar. Bunda di ajak ke rumah dan bertanya-tanya kenapa bunda sampai berada di kota ini," jeda Lia melihat raut wajah serius Gavin mendengar ceritanya. "Mbah sama bibi mendengar cerita hidup bunda kamu yang begitu menyedihkan. Hidup sebatang kara di tinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan, sama seperti bibi tapi bedanya ada mbah yang nemenin bibi di sini," lanjut Lia. Gavin larut dalam cerita yang di ceritakan bibinya itu.


"Sampai akhirnya bunda kamu mengubah hidup mbah sama bibi, bunda mengajak bibi merintis usaha di rumah ini dulu dan lama kelamaan kita bisa beli toko yang sekarang. Gavin tau tidak seberarti apa bunda buat bibi?" Jeda Lia melihat gelengan Gavin. "Bibi dulu putus sekolah saat tamat SMP tapi bunda paksa bibi untuk lanjut sekolah karena kata bunda 'biar aku aja yang putus sekolah, kamu jangan' gitu sampai bibi bisa sekolah ke tingkat sekarang berkat bunda kamu. Tanpa bunda mungkin bibi sudah tidak ada di dunia ini."


Mereka berdua larut dalam menceritakan kisah kelam masa lalu. Gavin yang mendengar cerita demi cerita dari bibir bibinya sesekali menitikkan air matanya. Betapa hebatnya bundanya menjalani hidupnya yang begitu berat bagi orang lain. Ia sangat beruntung dan bersyukur lahir dari seorang perempuan yang sangat hebat itu. Ia berjanji tidak akan membiarkan bundanya bersedih dan kecewa. Sepertinya Gavin telah melupakan kejadian yang menimpanya hari ini.


Mereka berdua tidak sadar bahwa Fira telah selesai memasak dan memanggil mereka untuk makan. Lia menggendong Gavin untuk ke teras tempat biasa mereka makan. Mereka bertiga makan dengan nikmat seperti biasa dengan sesekali tertawa dengan candaan mereka.


...***...


Satu kata buat Dave?


Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!

__ADS_1


Jangan lupa juga follow ig aku @thisisririnn thx.


__ADS_2