
Kevin dan Juna sama-sama saling tatap. "Itu si Diki bisa serius juga," ujar Juna.
"Duhh.. Diki idaman banget sih, sampai tanggal menstruasi Lya aja dia tau," ujar Dara dengan wajah memuja.
"Iya, Lya beruntung banget punya Diki yang seperhatian itu," ujar Tiara ikut-ikutan. Lalu mereka berdua berjalan menyusul Lya dan Diki.
Karta menatap seluruh teman-temannya. "Ini kenapa gue ngerasa kalau Tiara sama Dara lagi nyindir kita," ucap Karta.
"Kita? Lo sama Elang aja, gue gak," cetus Noah menyayat hati.
"Sakit," celetuk Kevin dan Juna bersamaan lalu berjalan menyusul Noah yang sudah jalan duluan.
Kini tinggallah Karta dan Elang yang merasa terbodohi. "Gue kurang perhatian ya?" Tanya Karta.
"Kalau lo tanya gue? Terus gue tanya siapa?" Tanya Elang yang juga pergi meninggalkan Karta.
Karta yang tertinggal pun segera berjalan menyusul. "Kenapa gue jadi bego gini?" Beo Karta. "Sialan," umpatnya.
...🌻...
Kini seluruh anggota Rakasa sedang berada di perjalanan menuju sebuah panti asuhan. Mereka datang membawa banyak makanan dan mainan untuk anak-anak panti disana. Karena anggota yang banyak, Karta membagi mereka ke berbagai panti terdekat.
"Yey!!! Kak Karta dan teman-temannya datang lagi," pekik seorang anak kecil datang menghampiri mereka.
"Halo Rumi," sapa Karta.
Mereka mulai membagikan varang bawaan mereka, ada yang bermain bersama anak-anak disana dan ada yang hanya sekedar duduk-duduk melihat kegiatan anak-anak disana. Karta dan Tiara tengah berbincang dengan ibu panti.
Lya yang tidak tau harus melakukan apa berjalan menuju seorang anak yang terlihat sedang melakukan sesuatu sendirian.
"Rusak?" Tanya Lya mengejutkan anak laki-laki itu. Merasa tidak ada jawaban, Lya memilih duduk di sampingnya. "Punya kamu?" Tanya Lya lagi. Pasalnya gadis itu tahu benda yang sedang di perbaiki anak itu bukanlah mainan biasa dan harganya juga tidak murah.
"Bukan," jawab anak itu dengan ketus. Lya yang mendapat jawaban seperti itu mencoba mengerti keadaan.
__ADS_1
"Udah gak bisa di benerin ini, sudah patah," kata Lya lagi.
"KAKAK ITU GAK TAU APA-APA MENDING PERGI AJA!"
Lya terkejut mendapati dirinya tengah di maki. Bahkan beberapa anak panti dan anggota Rakasa juga menatapnya. Pandangan mereka terkejut begitu pula dengan Karta.
"Ya ampun," ucap ibu panti segera menghampiri Lya. "Aduh nak, maaf ya! Dirga ini emosinya sering meledak-ledak. Sebaiknya kamu bermain dengan anak yang lain saja, biar ibu yang urus Dirga."
Lya yang mendengar itu malah mengernyitkan dahinya. "Dirga ayo kita masuk aja ya sayang," ucap ibu panti lagi.
"GAK MAU! IBU JUGA PERGI!" Jawab Dirga. Kini dia tengah melempar sjuter yabg sedari tadi berusaha dia perbaiki.
"Bu biar saya aja. Ibu bisa kesana lagi aja, saya gak papa kok," ucap Lya. Ibu panti terlihat menolak tapi Lya kembali berucap. "Beneran bu, biar saya aja."
Ibu panti berjalan menjauh, Lya kembali melihat anak itu. "Jadi nama kamu Dirga?" Tanya Lya.
"Jangan sebut nama aku!" Balas Dirga ketus.
Lya mencoba mencari cara agar bisa mengambil hati anak ini. "Jadi mau di panggil apa?" Tanya Lya. Anak itu tidak menjawab, dia kembali duduk dan mencoba memperbaiki lagi skuter yang baru saja dia banting.
"Apa aja selain Dirga," jawab anak itu.
"Kenapa?" Tanya Lya.
"Nggak suka. Itu dari papa, aku benci papa."
"Nama kakak Gelya Rawangsa. Papa kakak yang kasih nama, kamu tau gak kalau nama itu doa. Nama kamu itu bagus, Dirga! Kakak suka."
Anak itu kembali melirik Lya. "Kakak suka?" Tanyanya yang diangguki Lya cepat.
"Papa ninggalin aku disini. Papa gak sayang aku. Aku benci papa."
"Kakak gak dekat sama papa. Papa kakak sibuk kerja, jadi selalu pergi. Kakak aja tinggal di rumah orang, kakak gak pernah ketemu mereka dan itu sudah lama. Tapi kakak gak pernah benci, papa kakak pergi karena kerja untuk kakak."
__ADS_1
"Tapi papa aku pergi karena gak sayang sama aku, papa kakak bisa pulang kapan aja, aku nggak," potong anak itu.
"Kira-kira kalau kakak cerita tentang takdir, kamu udah ngerti apa belum ya?" Tanya Lya juga bertanya pada dirinya sendiri.
"Maksud kakak, aku ditakdirkan untuk dibuang sama papa!"
"Bukan gitu. Dengerin yah," ujar Lya menarik nafas dalam-dalam. "Bisa jadi papa kmau menitipkan kamu disini karena dia gak bisa ngurus kamu, coba kamu bayangin kalau kamu masih bayi terus kamu gak ada yang urus. Kalau disini kan kmau diurus ibu panti, kamu banyak temannya. Ibu panti sama teman-teman kamu pasti sayang sama kamu, iya kan?" Tanya Lya menatap anak itu, dia sedang menunduk. Entah sedang memikirkan perkataan Lya atau dia malah tidak mengerti maksudnya. "Intinya, kita itu harus bersyukur. Kamu bisa punya teman banyak disini, kamu gak kesepian," lanjut Lya.
Anak itu menoleh. "Aku selalu sendirian. Mereka gak mau temenan sama aku."
"Bukan gak mau! Kamu pasti suka marah-marah sama mereka? Mereka takut! Kamu gak mau dekat-dekat sama mereka kan?" Tanya Lya. "Kakak gak tau sih sebenarnya kakak ngomong apa sekarang. Intinya, kamu itu spesial. Kamu masih bisa hidup dengan baik meski banyak kekurangan di hidup kamu, Dirga. Kamu adalah anak laki-laki terkuat yang pernah kakak temui."
"Nama Dirga itu bagus ya?" Tanya anak itu dengan wajah polosnya.
Lya tertawa. "Bagus! Jadi udah gak marah kalau di panhgil Dirga?" Tanya Lya.
Anak itu, Dirga. Dia mengangguk meski ragu. Lya tertawa, dengan gemas dia memeluk Dirga.
BRUKK
"AW! KOK KAMU DORONG KAKAK SIH?" Pekik Lya meringis. Dia tengah terduduk di tanah karena Dirga mendorongnya dengan kuat. Kejadian itu tidak luput dari orang-orang yang ada disana, ibu panti dan Karta baru saja hendak menghampiri Lya. Namun terhenti saat melihat Dirga tertawa, tawa yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapa pun.
Dirga adalah anak berusia 10 tahun yang mengidap penyakit Bipolar, mungkin saja karena faktor keturunan karena belum di ketahui penyebabnya. Dirga sering terlihat murung, dia juga lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Itulah mengapa banyak anak-anak tidak mau bermain dengannya karena emosinya juga kadang tidak terkendali.
"Malah ketawa lagi ni bocah," rutuk Lya.
"Kakak jelek," ejek Dirga menjulurkan lidahnya.
"HEH! Manusia cantik kaya bidadari begini dikatain jelek, bosan hidup?" Maki Lya yang malah membuat tawa Dirga semakin pecah. Lya terlihat sangat kesal, namun dia tidak menampik bahwa dia ikut senang.
Ibu panti bahkan terlihat meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya dia melihat Dirga begini, Tiara yang melihat itu langsung mengusap bahu ibu panti. Karta tersenyum menatap Lya dan Dirga. Padahal Karta sudah lebih dulu melakukan pendekatan dengan Dirga, namun dia selalu gagal.
Tiba-tiba Dirga terlihat murung lagi, dia melihat skuternya lagi.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)