
Kita loncat ya gengs ke perjuangan seorang Dave!
Enjoy gengs!
...***...
"Davee!" Panggil Sonya yang baru datang ke vila bersama Larry, sedangkan Stefi tidak ikut karena sekolah.
"Pasti dia belum bangun, ma," tebak Larry.
"Papa benar. Ya udah mama ke atas dulu bangunin anak nakal itu," ujar Sonya naik ke lantai dua tempat kamar Dave berada.
Larry baru datang setelah seminggu cucunya sakit karena ia berada di Bali bersama Sonya mengurus beberapa urusan penting yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Urusannya baru selesai tadi malam tapi karena hanya ada flight pagi jadi mereka harus bisa menunggu pagi hari datang untuk langsung ke Bandung.
Tok tok tok
"Dave," panggil Sonya tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Sonya tarik nafas dalam-dalam. "DAVEE!" Teriak Sonya menggema di vila. Bahkan Larry yang sedang duduk santai di lantai bawah sampai terlonjak mendengar teriakan istrinya. "Astaga Tuhan," ucap Larry mengelus dadanya.
Ceklek
"Apha si maha?" Tanya Dave jengah dengan menggunakan baju handuk dan busa pasta gigi yang masih memenuhi mulutnya.
Sonya menyengir melihat anaknya. "Maaf maaf mama gak tau kamu lagi mandi hehe," ujarnya. "Ya sudah kamu lanjut mandi habis itu turun ke bawah," lanjutnya.
Dave hanya berdehem lalu membanting pintu kamar kesal membuat Sonya kaget bukan maen. "Astaga tu anakkk," geram Sonya.
Dengan wajah masam Sonya turun sambil terus menggerutu tidak jelas.
Tidak lama, Dave menuruni tangga menggunakan pakaian santai seperti biasa. Ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga.
"Bagaimana Gavin?" Tanya Larry to the point. Karena memang itu tujuannya datang ke sini.
"Sudah lebih baik. Sudah bisa jalan walaupun tertatih," jawab Dave.
"Ayo kita ke sana pa," ajak Sonya dengan senyum manis.
"Nanti aja bareng-bareng. Dave mau makan dulu," balas Dave meninggalkan kedua orang tuanya.
Larry dan Sonya pun mengikuti Dave menuju ruang makan. "Papa denger kamu selama di sini belum pernah ke kantor, kenapa?" Tanya Larry setelah duduk di ruang makan.
Dave menggaruk pipinya yang tidak gatal bingung mau jawab apa. "Hm.. hm.. kan sstt apa? Kan Dave selama di sini sedang memperjuangkan Gavin dan bundanya Gavin. Jadi ya gitu deh," jawab Dave kikuk.
"Cieeee," goda Sonya. "Mama masih gak nyangka anak mama sekarang ternyata sudah punya anak. Perasaan baru kemarin mama lahirin kamu sama Stefi," ucap Sonya terharu anaknya sudah dewasa.
"Sudah kita makan sekarang," ucap Larry mengalihkan pembicaraan agar dia juga tidak ikutan sedih.
"Oh ya Dave, bundanya Gavin siapa namanya?"
"Fira ma," jawab Dave.
"Kalau nama panjangnya Gavin, siapa?"
__ADS_1
"Gavin Anggara."
"Segera kamu ubah semua data Gavin. Namanya gak perlu di ubah hanya tambahkan marga Miller di belakangnya," titah Larry yang diangguki Sonya. "Papa kamu benar Dave," timpalnya.
"Iya akan aku usahan tapi perlahan. Fira galak," balas Dave membuat Sonya tertawa begitu juga dengan Larry yang terkekeh.
***
Berbeda dengan keadaan di rumah Fira yang hanya berdua dengan Gavin tengah mengajarkan Gavin berjalan sedikit-sedikit, karena Lia sudah berangkat kuliah.
"Sedikit lagi nak," ucap Fira.
"Yak sedikit lagi Avin sampai."
"Terus terus terus sayang."
Fira heboh sendiri melihat anaknya yang sudah lancar berjalan lagi walaupun harus ekstra hati-hati.
Hap!
"Alhamdulillah sayang. Kamu bisa," pekik Fira memeluk Gavin yang tersenyum puas.
"Anak bunda pinter banget si," puji Fira mengecup kedua pipi gembul Gavin membuatnya geli. "Haha geli bun haha."
Fira menoel-noel pipi Gavin. "Ini pipi atau apa sih," goda Fira terkekeh. Gavin cemberut mendengarnya. "Bunda ledek Avin?" Tanya Gavin tak santai.
Fira memiringkan kepalanya melihat wajah masam anaknya itu. "Ulu uluu an-ak"
Tok tok tok
Gavin menggeleng. "Avin bisa sendiri. Bunda buka pintu aja," tolak Gavin.
"Yakin?" Gavin mengangguk. "Ya sudah tunggu sebentar."
Tok tok tok
"Ya sebentar," jawab Fira dari dalam.
Ceklek
"Gavin ada kan?" Tanya Dave.
Yaps, yang datang adalah Dave dan kedua orang tuanya pren.
Fira mengangguk lalu membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan ketiga tamunya masuk tanpa suara. Tidak sopan memang tapi begitulah Fira jika bertemu dengan Dave.
Dave masuk ke rumah bersama kedua orang tuanya. "Assalamualaikum dulu terus kaki kanan yang duluan masuk biar setan yang nyangkut di badan lo gak ikut masuk," beritahu Fira yang tersirat sindiran di balik kalimat yang ia ucapkan.
Dave menghentikan langkahnya. Jujur saja dia bingung apa hubungannya setan dengan masuk rumah harus kaki kanan duluan. "Maksudnya?"
Fira hanya mengendikkan bahunya lalu meninggalkan ketiganya masuk.
Sonya yang melihat wajah bingung anaknya menahan tawa tapi hatinya sedikit tercubit dengan perkataan Fira yang secara tidak langsung mengingatkannya untuk mengajarkan anaknya adab dan sopan santun. Dia sadar, dia salah.
__ADS_1
Begitu juga dengan Larry yang merasa de javu dengan perkataan Fira. Seketika ingatannya jatuh pada ibu mertuanya dulu yang mengatakan hal yang sama seperti yang Fira katakan tapi bedanya ibu mertuanya lebih lembut bukan ketus seperti Fira tadi.
"Assalamualaikum," ucap ketiganya dan seperti yang dikatakan Fira bahwa kaki kanan yang terlebih dahulu melangkah memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Gira dan Gavin barengan.
Senyum di wajah Gavin semakin mengembang melihat siapa yang datang. "Daddy!" Pekik Gavin.
"Bagaimana hari ini?" Tanya Dave yang sudah duduk di samping Gavin.
"Sudah lebih baik, ya kan bunda," jawab Gavin meminta pendapat kepada Fira yang diangguki Fira.
"Wahh anak daddy pinter banget," celetuk Dave tersenyum.
Sonya dan Larry yang melihat keakraban anak dan cucunya itu hatinya menghangat. Larry melihat setiap sudut rumah kecil yang menjadi tempat tinggal cucu dan calon menantunya. Hatinya sakit, bagaimana bisa cucunya selama ini tinggal di rumah kecil sedangkan dia dan yang lain di rumah yang sangat besar.
Fira pergi ke dapur untuk membuatkan tamu tak di undangnya minuman. Tidak lama Fira kembali dengan membawa dua minuman berwarna kuning lalu menaruhnya di depan Larry dan Sonya. "Silahkan pak bu," ucap Fira kemudian duduk di tempatnya lagi.
"Panggil mama sama papa aja sayang," cetus Sonya.
"Papa mau renovasi rumah kamu ini ra," celetuk Larry membuat Fira menoleh kepadanya.
"Tidak perlu pak. Ini sudah sangat nyaman bagi saya, adik saya dan anak saya," jawab Fira formal.
"Tapi ini tentu menurut papa kurang nyaman untuk di tinggali," balas Larry. Sonya mengangguk menyetujui ucapan suaminya.
"Maaf sekali lagi pak. Saya tidak bisa menerima bantuan bapak," balas Fira lagi.
"Iya opa. Meski rumah ini kecil, tidak sebesar rumah daddy tapi Gavin nyaman di sini," timpal Gavin.
"Tapi lihat atapnya sudah hitam banget sisinya. Dan lihat juga kursinya sudah bolong-bolong di makan rayap. Biar opa ganti dengan yang lebih mahal," ujar Larry.
"Nanti daddy belikan juga tv yang besar," timpal Dave.
"Terima kasih atas tawaran anda semua," ucap Fira tersenyum. "Tapi biar pun rumah kami begini, kami sangat bersyukur."
"Apa yang kakak saya bilang benar. Meski rumah kami terbilang cukup kecil tapi ini sangat nyaman," celetuk Lia yang tiba-tiba masuk.
"Insya Allah kami masih bisa memberikan rumah yang nyaman untuk Gavin."
"Bukan begitu maksud papa. Papa cuma ingin kalian memiliki hunian yang indah apalagi kalian sudah jadi bagian dari keluarga Miller," jawab Larry.
"Saya tau anda kaya, pengusaha terkenal. Tapi menurut saya rumah yang nyaman bukan dari rumah yang bagus, isinya harus mewah dan mahal. Tapi kalau kalian terus paksa, ya kenapa saya harus nolak."
"Loh dek?" Fira kaget mendengar penuturan Lia.
"Gak papa kak, lumayan tabungan kita gak terkuras," jawab Lia terkekeh.
Sonya dan Larry terkekeh melihat adik kakak itu berdebat. Mereka kira, Lia akan menolak seperti Fira tapi ternyata tidak.
"Terserah kalian sajalah."
...***...
__ADS_1
Maaf part ini agak ngawur sedikit wkwk.
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!