SEFIRA

SEFIRA
GL 18


__ADS_3

"Haduh gue deg-degan anjirr," ujar Keenan yang sedang misah-misuh.


Sabtu ini menjadi penentu bagi seluruh murid SMA Satu Nusa. Kini mereka tengah berdiri di tengah lapangan untuk mendengar sambutan kelapa sekolah sekaligus pengumuman juara umum dan nilai ujian tertinggi.


Banyak para murid yang terlihat tidak fokus bahkan mengabaikan kepala sekolah yang sedang berpidato di podium, sama halnya dengan Lya.


Keenan menghela nafas kasar. "Aduhh gimana kalau nilai gue jelek, motor gue bisa di jual sama bapak gue!"


Keenan masih berceloteh membuat Lya kesal. "Berisin Nan, tungguin aja hasilnya. Ribet lo!"


"Baiklah tanpa berlama-lama lagi, di karenakan seluruh wali murid juga sudah menunggu. Ibu akan mengumumkan para juara," ucap salah satu guru dengan selembar kertas di tangannya.


"Kita akan mulai dari kelas X IPS. Untuk juara tiga dari seluruh kelas X IPS dilihat dari nilai ujian tertinggi jatuh kepada Dini Aulia Putri."


Tepuk tangan terdengar memenuhi lapangan. Lya dapat melihat seorang siswi berhijab maju ke depan. Setelah menyebut semua juara kelas IPS kini giliran kelas IPA.


"Baik juara tiga dari kelas X IPA adalah Fikri Januar."


Lya ikut memberikan tepuk tangan.


"Gila! Gue yakin sih gak bakalan dapat, tapi kenapa gue ikut deg-degan anjirr," ujar Diki.


"Gue sih asal naik aja udah syukur," balas Lya menutup kepalanya menggunakan hoodie Diki.


"Sekarang, juara satu dengan nilai tertinggi diambil dari nilai akhir semester genap ini jatuh kepada Gelya Rawangsa."


Suara gemuruh terdengar dari barisan kelas Lya.


"LO YA!"


"TEMEN GUE TUH!"


"ANJAYY! GAK NYESAL GUE NYONTEK LO YA!"


Pekikan teman-teman Lya menyadarkan gadis itu. Lya merasakan seseorang memeluknya. "Selamat," bisik Diki mengecup puncak kepala Lya lalu mendorong tubuh Lya untuk maju ke depan.


"Si Lya tuh."


"Ternyata selain cantik, dia juga pintar, njirr!"


"Makin suka gue!"


"Makin susah di gapai!"


Lya berdiri di depan bersama beberapa juara lainnya. Kini mereka sedang menunggu para juara dari kelas sebelas.


"Selamat ya nak," ucap kepala sekolah yang ternyata sudah berdiri di depannya dengan sebuah piala di tangannya. Lya tersadar lalu tersenyum.


"Terima kasih pak," balas Lya menerima piala tersebut.

__ADS_1


Lya menoleh dan mendapati Noah juga berdiri di barisannya. Dia tersenyum melihat Noah menjadi juara satu di jurusannya.


"Sekarang kita akan mengumumkan nilai tertinggi dari seluruh murid. Kita mulai dari juara tiga ya."


"Juara tiga dengan nilai 850 di raih oleh Naura Ayu dari kelas XI IPS 2."


"Juara dua dengan nilai 897 di raih oleh Noah Candra dari kelas XI IPA 1."


"Dan juara satu dengan nilai tertinggi yaitu 970 di raih oleh Gelya Rawangsa dari kelas X IPA 2."


Lya mendengar sorakan riuh memburu, dia tidak menyangka akan mendapatkan juara satu umum. Lya hampir menangis terharu.


Kepala sekolah kembali memberikan piala kepada para juara. Lya mendapatkan piala brrtingkat yang terlihat sangat cantik. Lya tersenyum menatap pialanya.


"Selamat," ucap Noah mengulurkan tangannya.


Lya tersenyum dan menjabat tangan Noah. "Makasi. Abang juga."


Noah tersenyum. "Lo hebat, gue akui."


Seluruh murid sudah mulai bubar dan berjalan menuju kelas masing-masing. Namun ada beberapa dari mereka yang masih tinggal di lapangan.


"Anjirr keren lo Ya, selamat ya!" Ucap Keenan yang datang bersama Eadred, Diki dan Mira.


"Selamat ya, Ya," ujar Eadred dan Mira.


"Lo juga bang, selamat," ujar mereka bergantian pada Noah.


"Selamat bro!" Inti Rakasa bergantian memberi selamat pada Noah.


"Selamat kepada saudari Gelya, saya sebagai ketua OSIS dan inti Rakasa merasa sangat babgga atas pencapaian saudari," ucap Elang.


Lya terkekeh mendengar ucapan Elang. "Saya ucapkan terima kasih kembali keapda saudara Elang!"


"Selamat cantik!" Kevin ikut memberikan selamat kepada Lya.


"Lya mah tidak perlu di ragukan," ujar Juna.


"Makasi ya bang," balas Lya pada keduanya.


"Selamat Ya, gue ikut bangga," ujar Karta mengulurkan tangannya.


Lya menjabat tangan Karta dengan senyum manisnya. "Makasi bang."


"Selamat ya sayang. Bunda bangga sama Lya!" Bunda Intan tiba-tiba muncul dan memeluk Lya. Piala Lya sedari tadi sudah berada di tangan Diki. Kata lelaki itu biar dia bisa ngerasain peganh piala juara umum.


"Makasi bunda," ujar Lya membalas pelukan bunda Intan, namun sedetik kemudian tubuhnya menegang. Seseorang yang berdiri di hadapannya dengan senyum manis.


"Ya," panggil bunda Intan saat merasakan Lya tidak bergerak sama sekali. Diki mengikuti arah pandang Lya.

__ADS_1


"Ngapain kesini?" Tanya Lya dengan suara dingin. Semua yang ada disana bingung.


"Mami kangen Lya, mami datang buat nemuin Lya tentu saja, mami bangga sama anak kesayangan mami!"


Mereka menatap cengo pada seorang wanita paruh baya dengan setelan simple tapi terlihat sangat mahal, sangat stylish. Yang ada di pikiran mereka adalah, pantas saja Lya bisa secantik ini, lihat saja ibu Lya yang seperti artis korea. Muka mulus, kulit putih, senyum manis, tubuh ideal yang membuatnya seperti belum menikah.


"Lya gak kangen mami?" Tanya wanita itu lagi.


"Nggak! Mami balik kerja aja lagi, Lya disini udah sama bunda."


Mereka sedikit terkejut dengan jawaban Lya. Tapi wanita yang tidak lain adlaah ibu Lya, malah terkekeh. Dia terlihat tidak sakit hati dengan ucapan Lya. "Bener? Ya udah mami balik lagi!"


"BENER! PERGI AJA SANA! LYA GAK KANGEN MAMI!"


Wanita itu memeluk Lya. "Mami juga kangen Lya," ujarnya.


Lya berdecak. "Ck.. mami nyebelin, gak pernah ngasih kabar tiba-tiba muncul kaya setan."


"Anjing! Lya mulutnya gak pernah di filter emang," bisik Juna pada Kevin.


Kevin mengangguk. "Iya njirr. Maknya dikatain setan!"


"Lya gak ada akhlak emang," bisik Keenan yang ikut-ikutan.


"Ampun! Mami salah. Mami minta maaf! Kamu bebas minta apa aja nantu "


Lya menatap mami Risma. "Bener?" Tanyanya memastikan.


Mami Risma tersenyum. "Uya bener. Jadi kita baikan?" Tanya mami Risma mengulurkan jari kelingking. Lya menautkan jari kelingkingnya tanda menyetujui ajakan baikan dari ibunya.


Jika kalian berpikir Lya akan menangis setelah sekian lama tidak bertemu dengan ibunya, maka kalian salah. Lya sangat tidak suka menangis dan hak sepertu ini sudah biasa terjadi pada Lya dan ibunya.


"Kalian teman-teman Lya?" Tanya mami Risma pada mereka yang sedari tadi menyimak percakapan ibu dan anak itu.


"Iya tante cantik," jawab Juna cengengesan.


Mami Risma tertawa. "Tante mengundang kalian semua buat makan malam di rumah nanti."


"Serius tante?" Tanya Elang.


"Iya. Cuma sekedar makan malam biasa kok, tante cuma ngundang teman-teman Lya aja."


"Asik malan gratis," celetuk Juna.


"Gak usah malu-maluin," balas Karta.


Mereka memutuskan untuk berpisah disana. Mereka berjalan menuju kelas masing-masing untuk mengambil raport dan juga bertemu orang tua mereka.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)


...Tbc....


__ADS_2