SEFIRA

SEFIRA
Chapters 32


__ADS_3

Malamnya, seperti biasa setelah selesai mengaji dan shalat isya Fira, Lia dan Gavin akan makan malam. Selesainya mereka makan malam mereka duduk di teras depan tv mengobrol santai.


"Bun," lirih Gavin. "Tadi siang Jaka ajak Gavin ke rumah daddy," beritahunya.


Fira yang tengah menonton mengalihkan atensinya menatap anaknya begitu juga dengan Lia. "Terus Avin ke sana?" Tanya Lia.


Gavin menggeleng. "Gak bi, Avin sama Fian pulang," jawabnya sendu.


Fira tau apa yang di pikirkan dan dirasakan anaknya. Gavin masih mengharapkan daddy nya, Fira memeluk sayang anaknya. "Bunda gak pernah larang Avin ke rumah itu lagi. Bunda juga tidak pernah melarang Avin bertemu sama daddy lagi. Tapi bunda takut Avin sakit lagi, mental anak bunda terganggu lagi seperti kemarin. Bunda tidak sanggup melihat anak bunda disakiti lagi. Bunda tau kamu cerdas nak, kamu pasti mengerti yang bunda maksud," terang Fira.


Fira tau anaknya tidak lepas dari anak usia empat tahun apalagi anak laki-laki yang butuh kasih sayang seorang ayah, bermain bersama ayahnya, mengadu jika ada yang jahatin dia, di peluk di cium dan lainnya. Meski Fira berusaha sekeras mungkin menggantikan peran sosok ayah buat anaknya, tetap saja anaknya itu butuh sosok yang benar-benar ayahnya. Tapi kembali lagi pada takdir yang sudah di gariskan Tuhan bahwa tidak semua angan-angan manusia berjalan sesuai keinginan.


Lia membiarkan ibu dan anak itu saling merangkul satu sama lain. Ia menatap Fira kagum dengan kepribadiannya yang kuat dan tidak egois yang hanya mementingkan dirinya. Lia kagum dengan kakaknya yang bagaimana bisa berdamai dengan masa lalunya yang sangat kelam. Ia berharap masalah keluarganya segera berakhir.


"Sudah malam, ayo Avin tidur," titah Fira yang diangguki Gavin.


"Avin tidur sama bibi aja yuk," ajak Lia yang langsung diangguki Gavin.


Lia tersenyum melihat anggukan Gavin tapi tidak dengan Fira yang menyebikkan bibirnya. "Kalau tidur sama bunda gak pernah mau selalu bilang Avin sudah besar," kesalnya sambil meniru suara anaknya itu.


Lia dan Gavin tertawa mendengar kekesalan Fira membuat Fira mendengus. "Papay kak," goda Lia dengan gaya sombongnya membuat Fira mendelik melihat kelakuan adiknya itu. Sedangkan Gavin hanya tertawa sumbang melihat kedua permatanya.

__ADS_1


"Selamat malam bunda," ucap Gavin tersenyum.


Fira tersenyum. "Selamat malam juga sayang."


Di kamar Lia, bukannya kedua orang di dalamnya itu tertidur tapi mereka berdua sibuk bercerita dengan Gavin yang bertanya banyak hal.


"Bi, Gavin salah ya kangen sama daddy?" Tanya Gavin menatap langit-langit kamar Lia.


Lia menoleh sebentar menatap keponakannya itu lalu kembali memandang langit-langit kamarnya. "Avin tidak salah untuk itu. Gavin berhak untuk itu. Tapi kalau boleh bibi bilang, bibi maupun bunda tidak mau lihat Avin sedih lagi seperti kemarin. Tidak ada yang larang Avin untuk bertemu daddy bahkan bunda sudah bilang kan tadi, tapi jika bertemu dengan daddy membuat Avin sakit di sini," jeda Lia menunduk dada Gavin tepat di jantungnya. "Lebih baik jangan. Cukup kemarin Avin menangis ke depannya jangan," terang Lia tersenyum tulus.


Lia tau apa yang sedang di rasakan keponakannya itu, bukankah ia dan Fira pernah merasakan di tinggal kedua orang tua mereka. Terlebih Lia yang sudah di tinggal dari kecil. "Apapun yang Avin rasakan apapun yang Avin inginkan cerita sama bibi kalau Avin gak mai cerita sama bunda ada bibi di sini. Jangan di pendam sendiri, kamu tidak sendirian sayang," ucap Lia pelan setelahnya mencium kening Gavin.


Gavin mengangguk. "Iya bi."


Tanpa mereka sadari, Fira mendengar semua yang mereka bicarakan. Ia menitikkan air matanya menangis tanpa suara dengan bibir yang bergetar mendengar curhatan hati anaknya. Memang Gavin lebih dekat dengan Lia di bandingkan dirinya. Bukan sekali dua kali dia mendengar anaknya mengeluh kepada Lia, menceritakan apapun kepada Lia, mencurahkan apa yang ia rasakan pada Lia. Ada rasa iri yang Fira rasakan tapi kembali ia berpikir, mungkin Gavin tidak ingin membuatnya sedih karena semua yang Gavin inginkan selama ini semua tentang sosok ayah.


Fira berjalan ke kamarnya sendiri, menumpahkan semua yang ia rasakan di kamarnya. "Maafin bunda sayang, ini semua salah bunda," lirihnya menatap dalam figura dirinya dengan Gavin.


***


Pagi ini, matahari masih bersembunyi di balik gunung, hanya cahaya berwarna orange yang masih jadi penerang bumi saat ini dan Dave sudah siap dengan memakai baju olahraga. Rencananya ia akan berlari kecil mengelilingi kampung tentu dengan maksud yang berbeda. Dia berharap di pertengahan jalan ia bisa bertemu dengan Gavin dan tau letak rumahnya.

__ADS_1


"Loh bapak mau kemana sepagi ini," tanya Dyah di pintu dengan dia yang akan masuk sedangkan Dave akan keluar.


"Mau joging sebentar bi," jawab Dave kemudian meninggalkan Dyah.


Sebelum keluar gerbang, Dave memakai earphone terlebih dahulu di telinganya lalu memutar musik melalui ponselnya. Setelah di rasa cukup baru Dave mulai berlari santai.


Banyak orang yang sudah berlalu lalang dengannya, ada yang masih memakai mukena maupun sarung dan jalan-jalan santai, mungkin selesai shalat subuh mereka langsung jalan-jalan menikmati udara segar. Tidak sedikit orang yang menyapa Dave yang sesekali ia tanggapi dengan senyum manisnya.


Meski telinganya mendengar musik tapi matanya celingak celinguk seperti mencari seseorang. Sepertinya gue sudah jauh deh tapi dari tadi gue gak liat salah satu dari mereka. Apa mereka gak pernah keluar sepagi ini. Batin Dave.


Dave menatap sekeliling sudah banyak orang yang keluar melakukan aktifitas mereka seperti biasa dan matahari sudah menampakkan dirinya sedikit demi sedikit. Dave memutuskan untuk balik ke vila karena seperti dugaannya Fira, Gavin maupun adiknya Fira itu tidak akan keluar sepagi ini. Dengan wajah masamnya Dave berlari kecil kembali ke vila ditemani alunan musik dari earphone.


Sepertinya dewi keberuntungan sedang baik kepada Dave pagi ini, terbukti di pertengahan jalan pulang Dave melihat orang yang ia cari keluar dari rumah kecil menurutnya, dengan seorang perempuan yang kemarin menampar Fira di vila. Senyuman dibibirnya terbit ketika netra matanya melihat Gavin yang berlari ke tukang sayur keliling bersama perempuan yang tidak Dave ketahui siapa namanya.


Dave berdiri sedikit jauh. Netra matanya tidak lepas dari semua pergerakan Gavin begitu juga senyum di bibirnya tidak luntur. Hatinya menghangat melihat betapa cerianya anaknya mengambil makanan basah lalu duduk di bebatuan dan memakannya. Dave juga dapat melihat Lia yang menggeleng-geleng melihat kelakuan Gavin. Tidak lama Fira keluar dari rumah kecil dengan membawa ember berisi cucian lalu menjemurnya.


"Cantik" gumam Dave tanpa sadar melihat Fira yang memakai daster dan rambut yang di cepol asal.


...***...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!

__ADS_1


Maafkan ceritaku yang ngawur ini wkwk. Jika kalian tidak suka bisa skip ya, thx.


Tbc.


__ADS_2