
"Btw, gue masih ganteng kan! Muka gue gak bonyok-bonyok banget kan? Entar mau kerumah Ririn soalnya," ujar Juna melenceng dari topik. Laki-laki itu tengah meraba-raba wajahnya.
Kevin menoyor kepala Juna. "Lo kenapa sih suka banget lari dari topik pembicaraan?" Geramnya. "Ck.. gue nanya ini. Kalau muka gue jelek kan nanti Ririn gak mau sama gue," balas Juna.
"Aman kok bang, muka lo udah jelek dari sananya jadi gak perlu khawatir," ujar Diki lalu tertawa bersama Elang. "Sialan!" Umpat Juna.
"Tqpi kalau di lihat-lihat kemampuan anak Vrax lumayan juga, si Ronald juga lumayan imbang buat lo Ta," ujar Elang pada Karta.
Karta mengangguk. "Gue juga mikir gitu, seenggaknya kita masih unggul dari mereka," jawab Karta yang mengingat kejadian semalam.
Flashback On
"Kita gak punya banyak waktu, mereka pasti udah nungguin kita," ujar Elang pada Karta.
Selepas kepergian Lya, mereka memang langsung berangkat ke tempat yang telah mereka janjikan. Ronald si pemimpin Vrax menyanggupi permintaan Karta untuk bertemu dengannya.
Puluhan motor memecah jalanan, motor Karta memimpin di barisan depan lalu ada motor Kevin dan Juna yang berada di sisi kiri dan kanan Karta. Noah dan Elang berada di belakang mereka bersama Diki. Keenan dan Eadred berada di tengah-tengah inti Rakasa membawa bendera Rakasa. Pasukan mengukuti di belakang, aura peperangan sudah terpancar dari masing-masing dari mereka. Jalanan tidak sepi namu tidak juga ramai, Elang sudah mengerahkan beberapa koneksinya untuk mengurus jalan dan polisi. Mempunyai ayah seorang polisi membuat Elang selalu meminta ayahnya membantu mengurus pergerakan anggotnya. Dengan berbagai syarat dan janji, Elang bisa meyakinkan ayahnya agar tidak ada korban jiwa bahkan korban dari kedua pasukan. Tidak menyalahi aturan dan menyalahgu akan profesinya, ayah Elang tetap pada ketetapannya.
"Gue pikir lo gak jadi datang. Hampir aja geng motor lo itu di cap pengecut," ujar Ronald remeh.
Mereka semua berada di dekat gedung tua yang sudah tidak terpakai, sedikit jauh dari kerumunan masyarakat.
Elang juga yang menjadi informan tentang nama ketua dari Vrax dan beberapa informasi tentang geng itu. Intinya, jangan pernah meremehkan seorang Elang.
"Pengecut? Gak punya kaca?" Tanya Karta berdiri di barisan paling depan. "Kalau gue pengecut? Harus gue sebut apa lo dan antek-antekan lo ini? Ngeroyok cewek bahkan makek senjata tajam buat lumpuhin musuh lo! BANCI!"
Ronald mengepalkan tangannya. Niatnya ingin memancing emosi Karta, tapi dia yang emosi duluan.
"SERANG!" Perintah Ronald pada pasukannya. Pasukan Ronald berlari menyerang pasukan Karta.
"Attack!" Ujar Karta santai lalu berlari menerjang Ronald.
Kevin dan Juna menerjang dua teman Ronald yang tidak pernah jauh dari ketuanya itu.
BUGH
BUGH
BRUKK
Suasana terlihat sangat kacau, tapi belum ada yang tumbang. Kemampuan mereka terlihat sedikit imbang.
BUGH
Juna tersenyum remeh. Dia menatap lawannya yang terduduk di tanah. "Lemah lo," ejek Juna. Lelaki yang bernama Sua itu bangun dan membalas Juna.
Tidak jauh dari sana, Kevi juga sama usahanya untuk menjatuhkan musuh. Lawan kevin adalah Heri, pemuda jangkung yang tingginya melebihi tinggi Kevin namun tidak membuat Kevin takut.
Noah dan Elang juga tidak jauh berbeda. Hanya saja Noah terlihat sangat tenang, sedangkan musuhnya sudah sangat kesal.
__ADS_1
"Nyerah?" Tanya Karta melihat Ronald yang sudah terjatuh. Karta mengedarkan pandangannya melihat beberapa pasukan Vrax sudah tumbang. "Pasukan lo udah nyerah kayaknya."
Ronald meludah. "Gak ada kata nyerah di kamus gue!" Laki-laki itu kembali berdiri.
BRUKK
Karta terjatuh, bukan ulah Ronald. Aalah stau pasukan Vrax menendang Karta tiba-tiba.
"BANGSAT!" Umpat Juna melihat Karta terjatuh. Dengan emosi yang menggebu-gebu, Juna menghantam laki-laki yang tadi menendang Karta. Kini Juna melawan dua orang sekaligus, bukannya merasa terancam, Juna malah tersenyum lebar. "Let's play," ujar Juna menyeringai.
BUGH
BRUKK
BUGH
Karta menatap Ronald tajam. "Lo emang gak bisa di baikin," ujar Karta langsung menyerang Ronald. Kini dia smaa emosinya dengan Juna.
Karta memukul Ronald tanpa ampun.
BUGH
BRUKK
"Arrrghh!"
BUGH
"****!"
BUGH
Kondisi semakin tidak terkendali, pasukan Rakasa terlihat sangat tidak terkendali. Melihat musuh yang sudah tidak berdaya membuat Noah mengambil langkah untuk mundur.
"IT'S OVER! KITA MENANG. BALIK KE MOTOR!"
Suara Noah menggema, Karta menoleh dan melihat keadaan. Matanya menangkap Noah yang berdiri tidak jauh darinya.
Karta mengangguk pada Noah. "Lo kalah! Ini bukan cuma peringatan, tapi juga hukuman buat lo," ujar Karta pada Ronald yang sudah tidak sanggup untuk berdiri lalu berjalan menuju pasukannya.
"KITA BALIK!" Perintah Karta, seluruh pasukan meninggalkan tempat itu. Beberapa dari mereka terlihat bertos ria.
...🌻...
"HALO EVERYBODY, DIKI GANTENG DATANG!"
Suara Diki menggema di rumah besar milik Lya. Laki-laki itu berteriak tanpa malu.
"NOISY! JANGAN TERIAK-TERIAK! INI BUKAN HUTAN TEMPAT KAMU TINGGAL! DASAR COCNUT!" Teriak Clarissa membalas. Gadis itu sudah turun dan sekarang tengah berkacak pinggang di depan Diki.
__ADS_1
Diki juga melakukan hal yang sama, dia meletakkan kedua tangannya di pinggang lalu menatap sinis pada Clarissa. "LO JUGA TERIAK. LO KATAIN GUE KELAPA? LO MONYET!"
Clarissa melotot. "MONKEY? PEREMPUAN SECANTIK AKU? YOU CALL ME A MONKEY?"
"CANTIK? LO JELEK!"
"KAMU YANG JELEK!"
"LO!"
"KAMU!"
"DIAM ANJING! BANGSAT LO BERDUA PERGI GAK!" Lya berdiri di tangga menatap kedua sepupunya dengan tajam. "Kalau cuma mau ngerusuh, mending lo keluar."
Clarissa tersenyum mengejek. "Tuh dengerin, keluar sana," ujarnya pada Diki.
"Lo juga! Kalian berdua tuh sama aja!"
Diki tertawa mengejek Clarissa membuat gadis itu menghentakkan kakinya kesal.
Diki menoleh pada Lya. "Ayo beli perlengkapan sekolah. Sekalian kita jalan-jalan," ajak Diki. "Males ah, gak mood gue," jawab Lya duduk di sofa.
Diki ikut duduk di samping Lya. "Ih kok gitu sih, kita udah mau sekolah lagi ini. Kita perlu beli buku, pena, penggaris, kotak pensil, tas, sepatu dan masih banyak lagi."
Lya melirik Diki dengan tatapan heran. Paslanya Diki berbicara sudah seperti seorang anak yang mengadu pada ibunya untuk di belikan perlengkapan sekolah.
"Gayaan beli buku, tahun kemarin juga lo gak punya buku," jawab Lya. Diki merengut. "Ih gue mau berubah. Kita harus berubah jadi anak yang baik. Lagian ni bocah juga belum punya satupun barang sekolah," ujar Diki di akhiri menunjuk Clarissa.
Clarissa mengangguk. "Ayo Gel Gel, aku mau beli buku. Kita harus belanja hari ini, bosan juga di rumah terus."
Lya menatap kedua sepupunya. "Bilang dulu kalau cuma Lya yang cantik di dunia ini," ujar Lya membuat Diki dan Clarissa menatapnya jijik. "Gak mau?" Tanya Lya lagi.
Diki berdecak lalu menatap Clarissa. "Cuma Lya yang cantik di dunia ini," ujar keduanya. Lya tertawa lalu berjalan ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Setelah melewati tiga puluh menit, mereka sudah berada di sebuah mall besar. Mereka turun dari mobil.
"LET'S GO! POKOKNYA HARI INI KITA BAKAL NGABISIN WAKTU BERTIGA. BELANJA SEPUASNYA, KALAU BISA MALL INI KITA BELI!"
Clarissa dan Diki melotot seraya menutup muka mereka, pasalnya banyak pengunjung yang menatap ke arah mereka.
Diki menjitak kening Lya. "Anjing! Lo ngapain bego? Bikin malu aja," sungut Diki yang sangat malu. Kenapa gadis itu malah terlihat santai.
Lya memukul lengan Diki. "Apaan sih? Kenapa emang? Mulut-mulut gue, suka-suka gue alh mau ngapain," jawab Lya tidak santai.
Clarissa meringis kecil. "Aduh Gel Gel, bukan masalah mulut siapa, tapi gak perlu teriak-teriak di tempat umum gini dong. Kalau kamu sendirian sih gak apa-apa, tapi sekarang aku juga ikutan malu."
Lya mendengus pada kedua manusia yang mengintilinya. "Gak peduli, ayo masuk. Gue traktir apapun buat kalian," ujar Lya membuat Diki dan Clarissa tersenyum lebar dan mengejar Lya.
...🌱...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)