
Aulia paham, salah satu orang di depannya sekarang adalah ayah biologis dari keponakannya itu. Mengingat kisah hidup seorang Sefira yang sudah ia anggap kakaknya sendiri membuat hati dan matanya panas apalagi mendengar Fira yang berulang kali mengucapkan maaf kepada Gavin.
Lia benci situasi dimana dia tidak bisa bertindak melindungi orang yang ia sayang untuk kesekian kalinya. Ia benci, sungguh. Lia menatap tajam orang di depannya satu persatu. "Saya rasa saya tidak perlu memberitahukan dimana letak pintu keluar kepada Anda semua," ujarnya dingin.
Ujaran Lia berhasil mengalihkan atensi mereka semua dari Fira dan Gavin ke Aulia yang tengah duduk di brangkar.
"Saya bisa saja berteriak memanggil petugas untuk mengusir anda semua karena mengganggu ketenangan pasien tapi saya rasa kalian mengerti akan hal itu," lanjut Lia tetap dengan raut wajah datarnya.
Felix yang hanya terdiam saja dari awal membawa Nico dan keluarga Miller untuk keluar. Ia sangat ngerti, apa yang mereka bicarakan tadi akan sangat mengganggu mental anak kecil yang berada di pelukan Fira. "Lebih baik kita semua keluar dulu,' titahnya.
Larry yang juga mengerti membawa Sonya dan Stefi keluar meski harus sedikit memaksa karena Sonya kekeh ingin terus melihat cucunya.
Nico dan Felix menyeret paksa Dave keluar, Dave terus bergumam maaf, maaf, dan maaf.
Melihat semuanya sudah keluar, Lia menoleh kepada seorang ibu dan anak. "Avin sini duduk," ajak Lia menepuk sisi depan brangkar.
Gavin melepaskan pelukan ibunya dan naik brangkar pesakitan bibinya di bantu Fira. Lia langsung merengkuh badan kecil Gavin meski pundaknya sakit tapi ia tak menghiraukannya. "Avin dengerin bibi. Apapun yang kamu dengar tadi jangan terlalu dipikirkan meski sangat sakit bagi kamu, bibi gak mau Avinnya bibi nanti sakit gara-gara memikirkan hal itu. Anggap semuanya angin berlalu dan lihat bunda kamu nak, bukankah kamu berjanji sama bibi untuk tidak membuat bunda kamu mengeluarkan sebutir air matanya," ujar Lia meneteskan air matanya.
Sakit rasanya disaat orang yang sedang tidak baik-baik saja harus terlihat baik-baik saja demi dia dan Fira. Gavin, anak berusia empat tahun itu tidak pernah sekalipun menunjukkan kesedihannya, dia akan berusaha terlihat baik-baik saja meski keadaannya berbanding terbalik. Seperti saat ini, disaat kenyataan pahit yang baru saja ia dengar, satu butir pun air matanya tidak keluar.
"Bibi," lirih Gavin.
"Nangis nak jika kamu ingin, jangan ditahan, tumpahkan!" Ucap Lia mengecup pucuk kepala Gavin.
Isak tangis menyakitkan Gavin mulai terdengar, pertahanannya runtuh, air mata yang sedari tadi Gavin tahan akhirnya tumpah sekarang.
Fira memeluk keduanya, air matanya kembali mengalir mendengar isak tangis anaknya. Hatinya sakit mendengar suara itu tapi ia juga lega anaknya menumpahkan semua rasa sesak didadanya.
Ruangan itu penuh dengan suara tangis pilu dari ketiga penghuninya. "Janji sama bibi dan bunda apapun yang kamu rasakan apapun yang kamu inginkan cerita sama bibi dan bunda jangan di pendam nak. Bibi takut Avin kenapa-napa hanya kalian berdua yang bibi punya," lirih Lia mengeratkan pelukannya kepada Gavin.
Gavin mengangguk, isakkannya tidak terdengar keras seperti tadi. Sampai beberapa detik ruangan tersebut menjadi hening hingga suara perut yang berasal dari Lia berbunyi.
Krucuk krucuk
Ketiganya saling lirik kemudian tertawa pelan bersama.
"Maaf," ucap Lia kikuk.
__ADS_1
"Aduh dek maaf-maaf, kakak lupa kamu kasih makanannya," ucap Fira mengusap sisa air matanya.
"Hehe gak papa kak."
"Sayang jangan sedih lagi. Kamu pasti laperkan nak? Kita makan ya?" Titah Fira menatap anaknya tersenyum.
Gavin tersenyum manis lalu mengangguk. "Iya bunda."
Gavin menoleh menatap bibinya yang tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maafin Avin bi, gara-gara Gavin bibi jadi kelaparan."
"Hei sayang bukan salah kamu," balas Lia menangkup pipi keponakannya itu. "Stop sedih-sedihnya, Oke?"
Gavin mengangguk semangat. "Nah gitu, anak bunda harus ceria seperti ini," cerocos Fira tersenyum melihat anaknya yang tidak murung lagi. "Nih nak, makan yang banyak ya."
"Oke bunda," balas Gavin menerima nasi bungkus yang diberikan Fira.
"Dek, kakak suapin ya," ujar Fira membuka bungkus nasi tersebut tapi ditahan Lia. "Biar Lia aja kak, kakak juga harus makan biar kita bertiga makannya bareng," tolak Lia mengambil nasi yang ada di tangan Fira.
"Yakin bisa? Emang gak sakit dek? Kan tadi katanya sakit," tanya Fira beruntun.
"Tangan kanan gak papa kak masih bisa digerakin bebas. Tolong bukain kertas nasinya tapi ya kak," pinta Lia.
Terima kasih ya Allah. Batin Fira.
***
Berbeda dengan situasi yang ada di vila. Keluarga Miller beserta Felix dan Nico tengah duduk di ruang keluarga. Larry memulangkan pekerja bangunan yang bekerja hari ini karena ia tidak ingin masalah keluarganya diketahui orang luar.
"Jelaskan!" Titah Larry dingin.
Hening.
Satu kata itu yang menggambarkan bagaimana suasana di ruangan itu sekarang. Dave masih menitikkan air matanya, bayangan dan ucapan anak kecil yang ternyata darah daging yang ingin ia hilangkan dulu terus berputar di otak dan telinganya.
"Apa kalian berdua juga mengetahui hal ini?" Tanya Larry kepada menatap tajam sahabat anaknya itu.
"Maaf om," jawab Felix. Hanya itu.
__ADS_1
"Aku tau baru-baru ini om, kita berdua cari bukti lebih kuat dulu karena kami berdua tau om dan tante tidak akan percaya hanya dengan rekaman CCTV," jawab Nico.
"Mama gak mau tau! Bagaimanapun caranya, kamu harus bawa cucu dan menantu mama tinggal bersama kita!" Ucap Sonya tajam lalu beranjak dari duduknya pergi naik ke lantai dua.
Huft ini kapan kita makannya. Batin Stefi menggeruti kelaparan tapi tidak berani untuk bicara secara langsung karena melihat bagaimana menyeramkan raut wajah papanya saat ini.
Stefi hanya menekuk wajahnya memelas sambil bergerutu di dalam hati.
Jika kalian berpikir, Stefi adalah gadis dewasa seperti umurnya sekarang empat belas tahun maka kalian salah. Stefi gadis yang manja, maka tidak heran dia tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan didepannya itu. Bukan, bukan tidak tertarik tapi lebih tepatnya tidak mengerti, yang dia ketahui saat ini adalah kakaknya sudah memiliki anak entah bagaimana caranya kakaknya itu memiliki anak padahal belum menikah, Stefi tidak mengerti. Stefi menyusul Sonya untuk mengadu nasib.
"Papa setuju dengan mama kamu. Papa gak mau tau usaha apa yang akan kamu lakukan untuk bisa membuat cucu dan menantu papa itu tinggal bersama kita, yang papa mau tau hanya mereka disini bersama kita!" Sercah Larry menyusul istri dan anaknya ke lantai dua tapi ia menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. "Nanti sore kamu tidak papa izinkan untuk ikut pulang. Kalian berdua terserah mau pulang atau stay disini sama Dave terserah," lanjutnya kemudian melanjutkan langkahnya.
"Tapi pa, aku gak bisa. Bagaimana dengan Nila? Aku gak bisa ninggalin dia begitu aja pa," tolak Dave. Entah apa yang Dave pikirkan sampai disaat seperti ini masih memikirkan pacarnya itu.
Larry, Felix, dan Nico menatap tajam Dave, mereka tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan Dave barusan. Larry kembali turun dengan langkah lebar dan mata wajah merah padam dia mendekati anaknya itu.
PLAK
"LALU BAGAIMANA DENGAN ANAK KAMU? DARAH DAGING KAMU SENDIRI HAH? BAGAIMANA?!" Bentak Larry di depan wajah anaknya sendiri.
Felix dan Nico sama sekali tidak mencegah apa yang dilakukan Larry kepada Dave, mereka masih menatap tajam Dave. Mereka juga tidak ingin terlalu ikut campur masalah keluarga Miller.
"Tap-"
"TAPI APA HAH? TAPI APA? KAMU MAU ANAK KAMU TIDAK MENGENAL SIAPA AYAHNYA? PAPA GAK PERNAH NGAJARIN KAMU JADI LAKI-LAKI SEPERTI INI DAVEE!" Bentak Larry lagi. Untuk pertama kalinya ia membantak anaknya itu dan untuk pertama kalinya juga ia kecewa dengan anak yang selama ini ia sanjung-sanjungkan.
"Jika kamu masih berhubungan dengan pacar kamu itu dan tidak bisa bawa mereka berada di antara kita, jangan pernah temui papa," ancam Larry kemudian pergi meninggalkan ketiga pemuda itu.
"Lo bukan anak kecil lagi sekarang. Lo tau mana yang harus lo perjuangkan," ujar Felix pergi keluar Vila setelah mengatakan itu.
"Jangan sampai lo nyesel," sahut Nico menepuk pelan pundak Dave lalu menyusul Felix.
"Aarrgggh!"
Dave menjambak rambutnya frustasi.
...***...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!