SEFIRA

SEFIRA
GL 16


__ADS_3

"Kalian ganteng-ganteng banget sih!" Kata bunda Intan lagi. Para pemuda yang ada disana langsung tersenyum lebar.


"Ck.. jangan di puji bun, besar kepala nanti," ujar Lya.


"Sirik lo!" Balas Eadred.


"Kamu bantuin juga Lya, jangan makan aja kerjaannya," titah bunda Intan.


Dengan malas Lya mendekati Karta dan lamgsung mengambil kapas, alkohol dan juga obat merah untuk luka Karta. "Kalau di lihat-lihat, lo yang plaing parah bang," ujar Lya mengoleskan alkohol untuk membersihkan luka Karta.


"Sshhh.. pelan-pelan," desis Karta.


Lya menatap Karta dalam membuat Karta merasa tidak nyaman. "Kenapa lo?" Tanya Karta.


"Jangan sakit!" Ujar Lya membuat Karta terdiam. "Lo ketua kita! Kalau lo kenapa-kenapa, Rakasa gimana? Lo itu role model gue bang, gue respect banget sama lo," lanjut Lya, lagi-lagi membuat Karta terdiam. Bukan hanya Karta, mereka semua diam.


Inti Rakasa menatao Karta dan Lya. "Ekhem.. thanks," hawab Karta lalu membuang pandangannya. Dia merasa aneh dengan tatapan Lya.


"Jangan mikir gue suka sama lo, itu gak bakal terjadi," ujar Lya yang seakan tau apa yang Karta dan mereka pikirkan.


"Tau," jawab Karta seadanya.


"Kalian ngobrol disini aja yah, ayah mau tidur duluan, besik ada operasi. Lain kali jangan berantem lagi, sebisa mungkin menghindari hal-hal seperti ini," ucap ayah David berdiri.


"Ini kuenya jangan di anggurin aja. Kalau kurabg di belakang masih ada," ucap bunda Intan juga ikut berdiri.


"Makasi om makasi tante," balas mereka semua.


"Siapa lawan lo?" Tanya Lya selepas kepergian orang tuanya.


"Hah?" Beo Karta.


"Lioniel! Tapi Lioniel gak sendirian!" Bukan Karta yang menjawab melainkan Elang.


"Wah nyari masalah banget tuh bulepotan! Awas aja kalau ketemu gue, bakal gue bikin mukanya lebih babak belur dari ini. Seenaknya aja dia bikin muka ketua gue jadi jelek," runtuk Lya dengan emosi menggebu-gebu. Karta sampai terkejut karena Lya menunjuk-nunjuk mukanya.


Diki yang melihat itu ikut-ikutan emosi. "Ada Rio juga. Nyari masalah emang tuh anak mami, harus kita kasih pelajaran tuh bocah!" Ujar Diki ikut-ikutan emosi.


"Wah tau tadi, gue palingin semua jambu airnya," balas Lya.


Mereka yang melihat kedua manusia yang bersepupu itu dengan tatapan jengah dan bingung. "Lo deket sama Rio?" Tanya Noah yang akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Musuh kita itu bang," jawab Diki.

__ADS_1


"Anak mami, nyebelin, lemah, tukang ngadu!" Lya ikut menjawab. "Gayanya yang sombong bikin gue pengen lelepin di kali."


"Kenapa dia gak sekolah di sekolah kita? Padahal jaraknya lebih dekat?" Tanya Kevin.


"Dia takut sama Lya," jawab Diki membuat mereka semua menatap Lya. "Waktu SMP pernah dipatahin tangannya sama Lya," lanjut Diki.


Lya yang melihat tatapan teman-temannya membuatnya risih. "Gak usah gitu banget ngeliatnya. Itu juga karena dia nyebelin. Dia ngaduin gue ke bunda kalau gue ngerusakin sepeda teman sekolah kita," jawab Lya.


"Lo beneran ngerusakin sepeda temen lo?" Tanya Juna. Lya mengangguk membuat mereka menatap Lya horor.


"Terus gimana ceritanya lo bisa patahin tangannya Rio?" Tanya Kevin.


Lya mengingat kejadian dulu. "Abis gue di omelin bunda, gue langsung nyari dia. Pas ketemu langsung lah gue maki-maki dia, dia berdua sama temannya malah ngedorong gue sampai jatuh. Karena gue kesal, gue pukul dia. Kita berantem, gak keren sih, soalnya masih jambak-jambakan. Gue dorong dia sampai jatuh di selokan terus tangannya patah," jelas Lya membuat mereka terperangah.


"Lo gak di marahin Maknya?" Tanya Eadred.


"Dimarahin lah. Gue dimarahin mami nya Rio, sama bunda, sama mami juga. Tapi gue gak nyesel, yang penting balas dendam terselesaikan."


Karta menggelengkan kepalanya. "Lo itu cewek, bar-barnya jangan kelewatan," ujar Karta mengingatkan.


"Itu masih batas wajar bang," jawab Lya. Lya sangat suka saat dia memanggik Karta dengan sebutan abang. Dia merasa Karta sangat cocok menjadi abangnya.


"Pantes gak ada cowok yang mau ngedeketin lo, keburu takut duluan," celetuk Kevin.


Gadis itu menyenderkan kepalanya di pinggiran sofa tempat Karta duduk. Karya menatal Lya, dia selalu merasa betah menatap gadis itu. "Kabar mba Tiara gimana, bang?" Tanya Lya.


"Baik. Ngapain nanya dia?" Tanya Karta balik.


"Kangen gue," jawab Lya sekenanya, Lya memejamkan matanya.


"Bang," panggil Lya pelan, Karta yakin Lya memanggilnya.


"Hm?" Gumam Karta yang sibuk dengan minuman kaleng di tangannya.


"Bang," panggil Lya lagi.


"Apa?" Karta menoleh pada gadis yang malah memejamkan matanya.


"Bang," panggil Lya sekali lagi.


Karta menarik nafas dalam. "Apa Gelya? Gue udah nyaut dari tadi, ada apa?" Tanya Karta kesal, mereka semua juga menatap Lya bingung.


"Lo punya adek gak?" Tanya Lya mendongak untuk menatap Karta.

__ADS_1


"Gak ada. Gue anak tunggal," jawab Karta.


"Gue jadi adek lo, mau?"


Karta melotot. "Nggak! Mana mau gue punya adek badung kaya lo!"


"Oke bang makasi, mulai sekarang lo jadi abang gue," ujar Lya beranjak pergi ke kamarnya.


Karta melotot melihat Lya yang meninggalkan setelah mengucapkan kata terima kasih atas apa yang tidak dia setujui. Apa-apaan tuh bocah? Batinnya.


Diki yang sedari tadi sudah memperhatikan Lya hanya menatap sendu gadis itu. "Dia mungkin kangen abangnya, bang. Maaf yah," ujar Diki pada Karta. Dia merasa tidak enak melihat ekspresi laki-laki itu.


"Lya punya abang? Terus abangnya kemana?" Tanya Juna.


"Udah meninggal," jawab Diki singkat yang mempu mendiami mereka semua. Karta mendongak menatap anak tangga yang baru saja dilewati Lya. Ada rasa tidak enak di hatinya.


...🌻...


"Ya!"


Lya menoleh kearah pintu, Diki datang dengan setelan baju tidurnya. Celana bola dengan baju kaos hitam.


"Apa?"


"Bosan," ujar Diki menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk milik Lya. Lya yang duduk di kursi belajarnya hanya menatap Diki malas. Hei! Dia baru saja merapikan kasurnya.


"Cari kegiatan lah," ujar Lya.


"Besok terima raport. Kira-kira gue naik gak ya?"


Lya membalikkan kursinya menghadap Diki. "Kenapa bisa mikir gitu? Ngeraguin semua jawaban ujian yang gue kasih?"


Dapat Lya lihat bahwa Diki mengusap wajahnya kasar. "Bukan gitu maksudnya, gue cuman takut aja. Kita makin bandel, siapa tau sekolah gak naikin kita karena suka keluar masuk BK."


Lya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Kita pasti naik kelas. Percaya sama gue, gue tau lo takut ngecewain bunda, sama gue juga. Tapi kita gak boleh berpikir negatif."


"Bunda bangga gak ya punya anak kaya gue?"


Lya mendengus. Diki sedang berada dalam mode insecure nya, jika sudah begini pemuda itu akan merendahkan diri serendah-rendahnya.


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)

__ADS_1


__ADS_2