SEFIRA

SEFIRA
GL 47


__ADS_3

Karta melajukan motornya dengan cepat. Karta tau dimana dia harus mencari Noah.


"Lo yakin dia di dalam?" Tanya Devan menatap bangunan besar di depannya ini.


"Seharusnya!" Jawab Karta.


Dentuman musik memekak telinga. Bau asap dan alkohol tercium di indra penciuman Karta dan Devan. Kedua laki-laki itu mengedarkan pandangannya mencari Noah.


Devan menepuk pundak Karta. "Disana!" Tunjuk Devan lalu berjalan disusul Karta.


"Punya masalah tuh di ceritain ke teman, punya teman banyak tapi gak di manfaatin," celetuk Karta pada Noah yang tengah duduk di meja bar dengan segelas cairan berwarna merah di genggamannya.


Noah meneguk minumannya singkat.


"Gue datang kesini bukan mau liatin lo minum!" Ujar Karta lagi. Dia terlihat kesal karena Noah mengabaikannya, sedangkan Devan tengah sibuk dengan urusannya sendiri.


"Gue ngataon Clarissa murahan!" Ujar Noah dengan suara serak. Karta yakin bahwa temannya ini sudah mabuk, meluhat satu buah botol dengan isi yang tinggal setengah di depannya. "Lya pantas marah!"


"Kenapa lo ngatain Cla murahan?"


"Gue capek! Cla selalu deketin gue. Dia gak ada habisnya buat bikin gue suka sama dia."


"Lo suka Clarissa?"


"Hm!"


Hanya itu. Dan Karta tau itu.


"Clarissa cerewet, bawel, manja, nyebelin, tukang spam, cengeng, bego, bodoh, jelek, jelek banget, jelek, gue gak suka," rancu Noah.


"Ck.. kalau mau bilang cantik mah bilang aja!"


"Gue udah usahain untuk jaga hati gue tapi dengan kurang ajarnya dia malah bikin hati gue goyah! Sialan emang. Cla brengsek!"


Karta tertawa. Noah itu batu, mau sekeras apapun batu, dia akan hancur juga meski dengan air yang terlihat sangat lemah. Pertahanan hati Noah yang dia benaji dengan sangat kuat ternyata sudah dihancurkan oleh Clarissa si gadis cengeng dan cerewet itu.


"Nanti minta maaf ke Cla," ucap Karta.


Noah tertawa. "Lya gak bakalan izinin gue nemuin Cla."


"Kuncinya ada di Cla. Kalau lo serius, langsung ungkapin perasaan lo ke Cla. Biar Lya gue yang urus," ujar Karta membuat Devan menatapnya tajam.


"Biar gue," ucap Devan.


"Biar gue! Ini masalah gue. Gue bukan bocah, lo semua diam aja!" Tolak Noah yang masih setengah sadar.


...🌻...


Disinilah Diki. Duduk di kasur Clarissa seperti seorang suami yang tengah membujuk kedua istrinya. Clarisaa yang tengah menangis dan Lya yang tengah emosi. Diki sudah seperti suami beristri dua yang serba salah, ingin mendiami Clarissa tapi gadis itu mengabaikannya, ingin meredakan emosi Lya tapi dia takut menjadi samsak hidup untuk gadis itu.


"Seharusnya kamu gak perlu mukul kak Noah," cicit Clarissa menghapus air matanya.


Lya mendengus kesal. "Gue bahkan bisa bunuh dia kalau gue mau!"


Clarissa menggeleng. "Ini salah aku, aku yang terlalu berlebihan. Aku emang bersikap murahan dengan selalu nempelin dia, kamu aja yang gak tau. Akubselalu chat dia, aku selalu usaha buat bikin dia suka sama aku. Dan mungkin cara aku salah, lagi pula dia sukanya sama cewek lain!"


Diki mengusap wajahnya frustasi. Dia tidak mengerti masalah ini, dia bahkan sedang cek cok dengan Chintya.


"Cewek emang ribet!" Gumam Diki pelan.


"APA LO BILANG?" Tanya Lya tidak santai.


Diki menggeleng cepat. "Nggak! Gak ngomong apa-apa, suer!"


Bego! Bisa di sate gue malam ini. Mulut dakjul! Maki Diki dalam hati.


...🌻...


Hari ini sekolah Satu Nusa mendapatkan jam kosong berjamaah karena para guru sedang mengadakan rapat untuk membahas mengenai olimpiade.


"Kita ngapain duduk di lantai begini sih?" Tanya Mira sembari menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Disini ajalah, kantin rame banget pasti. Kalau di dalam kelas gak enak, gak bisa ngeliatin cewek-cewek cantik yang lewat," jawab Keenan yang ikut duduk di depan kelas bersama kelima temannya yang lain.


"Mari kita hentikan ocehan ini, ayo kita makan jajan sepuasnya!" Ujar Keenan mengulurkan tangannya pada Lya.


Lya mendengus kesal, dengan malas dia merogoh sakunya dan memberikan Keenan uang pecahan seratus ribu dua lembar. "Punya teman bisanya cuma jadi beban," ujar Lya mendapatkan cengiran dari mereka semua.


"Biar gue sama Eadred aja yang beli, sekalian gue mau ke toilet," ujar Mira.


Keenan langsung memberikan uangnya. "Jajannya yang banyak! Kita lagi syukuran ini."


Mira dan Eadred mengangguk lalu beranjak pergi.


"Mereka tuh sweet banget!" Celetuk Clarissa memanyunkan bibirnya menatap kepergian Eadred dan Mira.


Diki mengangguk menyetujui ucapan Clarissa. "Kadang gue ngerasa kasihan sama mereka," timpal Diki.


"Mau semanis apapun kedekatan mereka, kalau udah LDR Tuhan mah susah," celetuk Lya.

__ADS_1


"Bisa! Asal salah satu dari mereka ada yang mau ngalah," balas Keenan menatap Lya.


Lya mendengus. "Maksud lo, salah satu dari mereka pindah agama gitu?" Tanya Lya.


Keenan mengangguk. "Coba kasih tau gue, ayat berapa dan hadist yang mana memperbolehkan umat muslim pindah agama?" Tanya Lya lagi.


"Ya Eadred nya yang masuk Islam!" Diki bersuara.


"Emang di Al-kitab dia memperbolehkan umat Kristen pindah agama?" Tanya Lya telak.


Keenan dan Diki saling pandang, kenapa pembahasan mereka menjadi berat seperti ini. Clarissa bahkan hanya diam menyimak.


"Lo gak senang kalau Eadred masuk islam? Gak senang dia jadi mualaf?" Tanya Keenan pada Lya.


"Kalau alasannya cuma karena Mira, nggak!" Jawab Lya telak membuat Diki dan Keenan cengo.


"Maksud lo?" Tanya Diki tidak mengerti. "Kalau Eadred cintanya sama Mira ya pasti karena Mira lah. Lo gak setuju Eadred jadian sama Mira?"


"Denger! Ini pendapat gue. Gue bakal senang banget kalau Eadred jadi mualaf, tapi gue gak setuju kalau dia masuk Islam cuma buat ngejar Mira. Gue mau dia niat buat masuk Islam karena kecintaan dia terhadap dirinya sendiri dan yakin bahwa Islam itu yang terbaik buat dia, urusan cinta dia ke Mira bakal ikut di belakang. Kalau misal Eadred masuk Islam cuma untuk Mira, gimana kalau ternyata mereka gak jodoh dan Eadred milih buat kembali meninggalkan agama Islam? Agama bukan mainan, semua agama baik dan mengajarkan hal-hal baik juga," ucap Lya mendiami Keenan, Diki dan Clarissa. "Itu cuma menurut gue, Eadred sama Mira tau mana yang baik buat mereka. Kita sebagai teman cukup dampingi mereka berdua, Tuhan selalu punya rencana yang baik untuk hambanya!"


"That's true!" Ujar Clarissa tersenyum.


Keenan mengangguk. "Gak salah kalau lo dapat predikat cewek terpintar di sekolah," timpal Keenan.


"Pembahasan kali ini berat bung!" Celetuk Diki.


Lya tertawa kecil. "Itu sih pendapat gue. Semua orang punya pandangan masing-masing tentang hal seperti ini. Tapi untuk mencintai, setiap orang bebas untuk merasakan cinta. Cuma kalau di agama kita, tidak di anjurkan untuk berpacaran. Cukup mencintai seseorang, kalau mau nyatain juga gak masalah asal gak ngajak pacaran," ucap Lya lagi. Diku merasa tersindir, tidak hanya Diki, Clarissa dan Keenan juga.


"Kata-kata lo nyentil lambung gue," celetuk Diki lagi.


"Gue gak sok ya! Pengetahuan gue tentang agama sebatas itu doang. Itu juga gue dapat dari toktok," ujar Lya tertawa. "Gue gak se suci itu kok."


"Sebernanya bahas beginian bagus banget, apalagi buat kita yang kelakuannya astagfirullah. Cuma boleh gak kalau kita ganti topik, soalnya gue ngerasa sedikit panas," ujar Keenan tertawa kecil.


Diki menonyor kepala Keenan. "Setan di badan lo berontak?" Tanyanya tertawa terbahak-bahak. Lya dan Clarissa ikut tertawa.


"Bahas apaan sih? Heboh bener?" Tanya Eadred yang baru saja datang dengan dua kantong gresek besar berisi beberapa makanan dan minuman.


"Gak usah kepo! Ini pembasahan orang tua, berat banget. Lo gak akan kuat," balas Keenan.


"Uangnya masih sisa Ya," ujar Mira.


"Gak apa-apa, buat nanti lagi aja," jawab Lya membuka satu bungkus jajanan.


Mereka sibuk dengan jajanan yang berserakan di hadapan mereka. Tanpa memperdulikan berbagai jenis manusia yang melewati mereka dengan berbagai pandangan. Ada yang iri melihat kedekatan dan keseruan mereka, ada yang memandang tidak suka terutama para siswi, ada yang tidak peduli dan ada yang menyapa mereka jika ternyata mereka salah satu kenalan.


Tidak jauh dari sana, ada inti Rakasa beserta Devan dan Alix yang tengah berjalan. Jelas saja mereka akan melewati Lya and the gang.


"Nggak!" Jawab Noah.


Devan berdecak. "Batu!" Celetuknya tanpa menatap Noah.


Mereka sampai di depan Lya.


"Bang!" Tegur Eadred. Eadred santai namun tidak dengan Keenan, apalagi Diki. Keenan tersenyum kaku bersama Diki. Lya sibuk dengan jajanan tanpa menoleh sedikit pun.


"Ya!" Panggil Elang berdiri di samping Lya membuat inti Rakasa yang lain berhenti. "Nanti yang olim ngumpul di ruang OSIS ya," ujar Elang sedikit ragu, dia takut jika Lya tiba-tiba mengundurkan diri.


"Iya nanti," jawab Lya mendongak menatap Elang. Laki-laki itu tersenyum, hatinya lega mendapati Lya tidak ikut marah padanya.


"Jam berapa kalian kumpul?" Tanya Karta pada Elang.


"Sekitar jam sebelas."


"Kosongin ruangan OSIS sekarang, Diki sama Lya gue tunggu disana," ujar Karta lalu berjalan pergi.


"Oh my God! Gel Gel, how is it?" Cicit Clarissa.


"Ada masalah apa sih?" Tanya Eadred penasaran.


"Masalah hidup Red, hidup kan gak pernah lepas dari masalah," jawab Lya asal. Dia segera berdiri dan merapikan seragamnya. "Ayo Dik!"


Diki berdiri mengikuti Lya. "Tolong di bersihkan ya wahai budak-budakku," ujar Diki menunjuk sampah-sampah jajanan mereka lalu berjalan mengikuti Lya.


Keenan melempar Diki dengan tutup botol. "Sialan!"


Lya berjalan mengikuti inti Rakasa di depannya. Saat sampai di ruang OSIS gadis itu melihat beberapa anggota OSIS yang berjalan keluar.


Lya dan Diki masuk, tidak munafik bahwa dia merasa deg-degan mendapat tatapan dari ketujuh laki-laki di hadapannya.


"Duduk Ya," ucap Elang menunjuk kursi pada Lya. Lya segera duduk mengikuti perintah Elang.


Juna menatap Diki. "Lo ngapain berdiri disitu?"


Diki tertawa canggung. "Eh hehe i-iya bang," jawab Diki duduk di samping Lya.


"Ini masalah pribadi lo sama Noah, gue sebenarnya gak mau ikut campur tapi kalian berdua anggota gue. Terlebih kalian satu tim olimpiade dan itu bakal menyulitkan kalian," ujar Karta pada Lya. Lya tidak bersuara, dia hanya menatap Karta dengan wajah datar.


"Gue minta maaf!" Ucap Noah menatap Lya. "Maaf untuk Clarissa dan lo! Gue bakal minta maaf juga sama dia."

__ADS_1


Mereka menatap Lya menunggu respon apa yang yang akan di keluarkan satu-satunya gadis di ruangan ini.


"Oke!" Jawab Lya akhirnya. Gadis itu berdiri dari duduknya dan menuju sebuah lemari di sudut ruangan, pergerakan Lya tidak lepas dari pandangan para laki-laki disana.


Lya kembali duduk dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


"Kerjain yang stabilo merah, hukuman buat lo," ujar Lya membuat mereka semua cengo.


Noah menatap tajam Lya. "Gue leader lo


Lo gak bisa merintah gue buat ngerjain soal yang seharusnya kita bagi tiga!"


Lya mengerucutkan bibirnya. "Otak gue lagi ngelag bang, tolong dong kerjain. Gue traktir es jeruk ntar," jawab Lya tersenyum manis sambil mengedipkan matanya beberapa kali.


Inti Rakasa bahkam Devan dan Alixy yang sedari tadi diam mati-matian menahan diri untuk tidak menerkam Lya. Gadis itu terlihat gemas dan imut sekarang. Bahkan Juna dan Kevin berpikir kenapa Lya tidak pernah berprilaku seperti ini di depan mereka.


Sialan! Lya nguji iman banget. Batin Devan menatap Lya lamat.


Karta bahkan ikut membatin betapa betapa imutnya Lya sekarang.


Diki mengusap wajah Lya. "Muka lo gak usah gitu juga kali!" Dia tidak terlalu suka melihat reaksi teman-temannya pada Lya.


"Heran kan kalian kenapa Lya bisa sok imut?" Celetuk Elang yang memahami isi pikiran teman-temannya. "Cuma sama Noah dia begini," tambah Elang membuat teman-temannya mendengus.


Noah tidak menghiraukan mereka. Dia segera berjalan dan duduk di samping Lya lalu mengerjakan soal yang ada di kertas.


"Gue lebih senang lihat muka datar lo dibanding muka lo begitu, lo jelek!" Ujar Devan menatap tajam Lya.


"Yakin gue jelek?" Tanya Lya.


"Banget!" Balas Devan cepat.


Lya tersenyum remeh. "Kemarin aja lo bilang mau jadiin gue pacar," ujar Lya membuat teman-teman Devan menatap kearahnya.


Devan yang di tatap pun mencoba mempertahankan wajah datarnya. "Iya! Biar lo bisa gue jadiin babu," timpal Devan dengan muka songong.


"Sialan!"


"Eh rame," celetuk seseorang muncul di depan pintu.


Mereka semya menatap kearah seorang gadis yang baru saja datang.


"Masuk aja! Noah sama Lya lagi diskusi nih," ujar Elang menyuruh Lolita masuk.


Lolita pun masuk dengan cepat dan duduk di samping Noah.


"Wah kak Noah ngerjain soal yang itu," ujar Lolita tersenyum.


"Nyenyenyeee," celetuk Lya membalas ucapan Lolita.


"Ya!" Tegur Noah.


"Eh lupa kalau ada pacarnya," balas Lya menatap Noah dengan senyumnya.


"HAH?"


Dengan tidak santainya Juna, Kevin dan Diki memekik kaget.


"Pacar? Noah sama ini bocah?" Tanya Juna tidak menyangka.


"Nggak!" Jawab Noah menatap Lya tajam. Gadis yang di tatap hanya diam menatap ke lain arah.


"Mending kita keluar, mereka harus fokus diskusi," ujar Karta lalu bangkit diikuti yang lain.


Sebelum benar-benar pergi, Devan menatap Lya dengan tajam dan tentu saja Lya juga membalasnya tidak kalah tajam. Hal itu mengundang tawa Alixy.


Kini tinggallah ketiga orang yang sedang berkutat dengan soal-soal, kecuali Lya temtu saja. Dengan santainya gadis itu hanya duduk tidak melakukan apapun.


"Kak Noah udah makan gak?" Tanya Lolita membuat Lya mencibirnya diam-diam.


"Sudah!"


"Uhm gitu ya? Kak Noah nanti pulang sama siapa?" Tanya Lolita lagi. Lya benar-benar muak mendengar suara sok imut dari gadis itu.


"Sendiri," jawab Noah.


"Boleh gak kala-"


"Gak bisa!" Noah memotong ucapan Lolita. "Gue bukan sopir lo, kalau lo gak dijemput lo bisa naik taksi, pesan ojek online juga bisa. Jangan nyusahin orang terus!"


Bibir Lya bergetar menahan tawa, sepertinya Lya harus berguru kepada Noah untuk menghujat orang.


Noah beralih menatap Lya meninggalkan Lolita yang tertunduk. "Gue kesusahan yang ini," ujar Lya menunjuk salah satu soal yang ada di kertasnya.


Lya menunduk untuk melihat soal. "Kalau lo aja kesusahan apalagi gue," jawab Lya. Noah mengeluarkan ekspresi datarnya membuat Lya menyengir tanpa dosa.


Ting!


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favorikan yaw pren:)


__ADS_2