
Air mata Lya tidak berhenti mengalir, tubuhnya semakin bergetar. Dengan ragu Jessy memeluk tubuh basah Lya. Tangannya terulut mengusap punggung Lya, Zia mengerucutkan bibirnya terharu melihat Jessy, tanpa memperdulikan tubub Lya dan Jessy yang basah Zia ikut memeluk kedua gadis itu.
"Gue juga gak bisa berenang," ujar Zia.
Laura hanya tertawa. Tangannya terulur mengacak rambut basah Lya. "Gue gak ikutan meluk ah, kalian basah," ujarnya.
Setelah tenang, Lya tersenyum menatap ketiga sekawan itu. "Makasih sekali lagi. Maaf kalau lo harus ikutan basah karena nolongin gue," ujar Lya pada Jessy.
"Anggap aja gue balas budi," jawab Jessy.
Mereka memutuskan untuk pergi dari sana. Laura meminjamkan Lya jaket Rakasanya sedangkan Jessy memakai jaketnya sendiri.
"Kok sepi?" Tanya Zia dengan wajah polosnya.
"Lo gak dengar suara bel sekolah udah bunyi dari tadi," jawab Laura.
Lya bahkan ikut berpikir, seberapa lama dia menangis sampai mereka menghabiskan banyak waktu di dekat kolam.
"Orang-orang udah pada pulang," celetuk Jessy.
Mereka sedang berada di kelas Lya, memutuskan untuk menemani Lya mengambil tasnya.
Lya menatap kelasnya. "Kayaknya Diki udah pulang duluan deh," gumam Lya pelan.
"Lo balik sama kita aja," ajak Zia pada Lya.
Lya terlihat berpikir, dia tidak enak jika harus menyusahkan mereka lagi.
"Ayo!" Ajak Jessy berjalan keluar kelas. Zia menarik Lya untuk mengikuti Jessy dan Laura.
"Lya!" Panggil seseorang.
Mereka berbalik menatap Noah yang berjalan kearah mereka.
Noah menelisik penampilan Lya. "Habis ngapain lo basah begini?" Tanya Noah pada Lya, sedikit terkejut saat mendapati Lya berjalan bersama Jessy dan teman-temannya. Apalagi sekarang Lya tengah di gandeng oleh Lya.
"Kok lo masih disini?" Tanya Lya pada Noah balik.
"Masih ada urusan sama pak Juan soal olimpiade," jawab Noah. "Terus kenapa li basah begini?"
Baru saja Zia ingin menjawab, tapi Lya sudah mencegahnya. "Habis nangkap kecebong bareng Jessy," celetuk Lya menjawab dengan asal.
Noah mengernyitkan dahinya. Sedangkan Jessy sudah melotot kepada Lya.
"Ya udah kita balik dulu bang," ujar Lya cepat. Gadis itu mendorong tubuh Jessy di depannya agar cepat berjalan.
Noah hanya menatap Lya dalam, dia tidak percaya dengan ucapan gadis itu. Jelas saja Lya habis dipukuli orang, wajahnya lebam dan sudut bibirnya sobek, matanya juga bengkak diikuti hidup merah.
...🌻...
"Makasi sekali lagi," ucap Lya setelah turun dari mobil Jessy. Jessy membawa Lya kerumah orang tua Lya, itu juga Lya yang memintanya. Dia tidak ingin pulang kerumah bunda Intan karena takut bunda khawatir melihat kondisinya, lagi pula Lya juga sering pulang beberapa kali dan menginap jika dia ingin. Bunda Intan tidak akan curiga, hanya tinggal menelpon dan mengatakan akan menginap di rumahnya.
"Santai aja," jawab Jessy.
"Mau mampir?" Tanya Lya menawari.
Jessy menggeleng. "Lain kali aja," jawab Jessy.
Sedangkan Laura dan Zia sibuk memperhatikan rumah besar Lya.
"Wahh rumah lo gede banget! Gak nyangka gue lo sekaya ini," celetuk Zia dengan wajah cengo nya, Laura hanya mengangguk-angguk.
Lya tertawa. "Rumah majikan gue," ujar Lya.
"Serius?" Tanya Laura.
Jessy berdecak. "Ck.. kita balik dulu."
"Hati-hati," ucap Lya.
Jessy menjalankan kembali mobilnya meninggalkan rumah Lya.
"Lya anak pembantu?" Tanya Zia dengan mode polosnya.
"Itu rumah dia," jawab Jessy.
Zia dan Laura menganga. "Jadi lo pernah nginap disana dong?" Tanya Laura dan di jawab anggukan kepala dari Jessy.
__ADS_1
"Oh iya. Video tadi di apain Jess?" Tanya Zia lagi.
Jessy tersenyum miring. "Kita kasih kejutan buat Clara dan teman bego nya itu."
Laura mengangguk. "Gedek gue sama tuh cewek. Berani-beraninya dia sok berkuasa di sekolah! Gak kapok udah kita labrak."
Zia ikut mengangguk dengan semangat. "Bahkan Lya juga udah sering mukul dia. Emang sok banget deh, apalagi tadi dia bilang kalau Devan punya dia. Ih walaupun gue gak suka sama Devan, tapi gue gak rela kalau cowok seganteng Devan harus nikah sama cewek ular kayak dia."
Jessy tertawa jahat. "Dia salah berurusan sama kita. Gak sabar banget gue ngeliat reaksi Karta pas tau anggotanya hampir mati!"
"Lucu gak sih? Padahal dulu lo gak suka banget sama Lya apalagi pas dia nampar lo sampai pingsan," celetuk Laura tertawa mengingat kejadian dulu.
Jessy juga tersenyum mengingat pertemuan pertama dia dengan Lya yang jauh dari kata baik. "Gue pengen tobat. Setelah gue di tolongin Lya, gue ngerasa bego banget. Gue banyak mikir sama kelakuan kita dulu yang suka ngebully orang lagi. Kita juga udah minta maaf sama orang-orang yang pernah kita jahatin, ya walaupun cuma sekedar ngucapin maaf terus pergi gitu aja," ujar Zia mengingat bagaimana mereka mulai merubah kebiasan buruk mereka.
"Gak sia-sia Noah ngomelin kita," ujar Laura.
"Kalau ingat waktu Noah ngomelin kita berjam-jam ngebuat gue ketawa sendiri," ujar Jessy tertawa. Laura dan Zia juga ikut tertawa.
...🌻...
Group chat sekolah yang dibuat OSIS untuk mengirim berbagai informasi kini dibuat heboh dengan sebuah video yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.
Video lima orang siswi membully satu orang siswi.
Baru juga beberapa menit tapi komentar dari para penghuni group sangat beragam.
Gila gak punya hati banget!
Gak nyangka gue ada pembunuh berkedok pelajar.
Itu Clara sama teman-temannya, sekelas sama gue!
Bukannya itu Gelya?
Beraninya keroyokan!
"ANJING!" Umpat Juna heboh.
Kevin melempar kulit kacang pada Juna. "Mulut lo, gak bisa santai apa?"
"Buka hp kalian semua, buka video yang ada di group sekolah!" Ujar Juna heboh.
Inti Rakasa tengah berkumpul di rumah Devan. Mereka fokus pada pada kegiatan masing-masing dan tidak sempat membuka ponsel.
Karta yang tengah bermain catur bersama Devan, Noah yang sedang membaca buku, Juna dan Kevin yang tengah sibuk dengan cemilan dan Elang yang tengah duduk diantara Karta dan Devan.
"Ini Lya!" Ujar Elang terkejut.
Karta terlihat mengepalkan tangannya, urat lehernya tercetak jelas di balik kulit putihnya.
"Clara bangsat!" Umpat Devan.
Noah melempar buku yang dia genggam sedari tadi. "Seharusnya gue gak percaya omongan Lya sore tadi," gumam Noah terlihat emosi.
"Omongan apa? Lo tau?" Tanya Kevin.
Noah menggeleng. "Gue ketemu dia sebelum pulang. Badan dia basah, mukanya juga lebam, mata dia sembab banget. Gue nanya tapi dia cuma jawab abis nangkap kecebong sama Jessy."
"Jessy?" Tanya Karta.
"Gue yakin Jessy yang nolongin Lya, dia juga basah-basahan tadi. Lya juga balik sama dia, Zia sama Laura. Gue gak tau banget kalau dia habis di keroyok."
Ting
Notifikasi ponsel Karta berbunyi.
Jessy
Gue gak mau pamer sih, cuma mau bilang aja kalau salah satu anggota kesayangan lo hampir aja mati. Gue cuma penasaran aja, lo yang urus itu ular atau gue?
^^^Gue!^^^
^^^Read^^^
Karta menatap Devan tajam. "Urus cewek lo sebelum gue yang ngurus dia!" Ujar Karta berdiri.
Devan ikut berdiri. "Dia bukan cewek gue. Lo pikut gue mau sama dia," jawab Devan.
__ADS_1
"Tapi dia nyelakain Lya karena lo," balas Karta dengan nafas memburu.
Noah yang melihat perdebatan itu segera berdiri menengahi. "Berantem gak akan nyelesain masalah! Mending telpon Lya dan tanya keadaan dia!"
Karta kembali duduk dan mengambil ponselnya lalu menghubungi Lya, dia juga mengaktifkan loudspeaker karena tau teman-temannya pasti juga ingin mendengar.
"Halo?"
"Kenapa gak bilang kalau lo dikeroyok Clara?" Tanya Karta tanpa basa basi.
"Ini masalah gue bang! Gue bisa ngatasinnya."
"LO HAMPIR MATI LYA!" Bentak Karta. Bahkan teman-temannya ikut terkejut, Karta merasa sangat emosi apalagi mendengar suara sumbang dari Lya. Dia yakin Lya baru saja menangis.
"Karta!" Tegur Noah.
"Maaf bang!"
"Gak apa-apa! Gimana keadaan lo?" Tanya Noah.
"Baik kok bang, gue gak kenapa-kenapa."
"Seharusnya lo bilang sama gue. Ada gue disana Ya."
"Maaf bang!"
"Lo beneran gak apa-apa Ya? Diki mana?" Tanya Kevin.
"Gue beneran gak kenapa-kenapa. Diki gak ada, gue di rumah papi."
"Mau dibawain apa?" Tanya Karta membuat teman-temannya diam menatapnya.
"Hah? Apa bang?"
"Lo mau dibawain apa Lya? Gue kesana!"
"Eh gak usah bang. Gue gak apa-apa kok, beneran."
"Ck.. gue otw," ujar Karta mematikan sambungannya.
Juna dan Kevin saling pandang.
"Lo beneran mau kesana?" Tanya Elang.
"Iya!"
Juna menatap aneh Karta. "Tumben?"
"Dia sendirian disana. Gue abangnya kan?" Jawab Karta. Entah kenapa tapi dia merasa ingin memastikan keadaan Lya.
"Gue ikut," ujar Devan.
"Biarin Karta aja! Lya butuh istirahat, kalau banyak orang bakal ganggu dia," ujar Noah. "Hati-hati! Hubungi Tiara dulu."
Karta mengangguk dan berjalan keluar.
Juna mencebik. "Pahadal gue pengen ikut."
"Percaya gak percaya, Lya lebih butuh Karta dibanding kita," balas Noah.
Devan menatap Noah. "Kenapa?"
"Karena Karta abangnya!"
Mereka mendengar jawaban Noah tertawa renyah. Devan bahkan mengeluarkan senyum miringnya. "Abang apanya? Mana ada abang adek ketemu gede! Lagian Karta kenapa terlalu khawatir sama Lya, dia udah punya Tiara."
"Lo gak ngerti," jawab Noah.
"Lo cemburu Dev. Tenang aja, Karta sama Lya gak bakal kelewat batas," ujar Kevin.
"Keliatannya kalian dekat banget sama Lya," balas Devan.
"Kita udah ngelewatin banyak hal sebelum lo dateng!" Noah pergi meninggalkan rumah Devan, meninggalkan keempat temannya yang tengah diam.
Elang hanya menghela nafas. "Lya bawa perubahan besar banget ke kita," ujarnya.
"Gue gak masalah! Lya udah bagian dari kita. Gue gak bohong kalau gue senang kenal dia," celetuk Juna membuat Kevin mengangguk.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)