SEFIRA

SEFIRA
GL 6


__ADS_3

Cek chapter baru Gelya untuk jawaban SEFIRA ya:)


...🌻...


Kini seluruh anggota Rakasa tengah berkumpul di lapangan juga dengan anggita baru yang lulus di seleksi pertama.


"GUE RASA KALIAN SUDAH TAU KENAPA KALIAN DIKUMPULKAN DISINI," teriak Karta yang berdiri di podium. Sekolah sudah sepi tinggal mereka lah yang tertinggal. "KALIAN YANG BARU BERGABUNG, CARI LAWAN DUEL KALIAN."


Kini para anggota baru mulai mencari lawan mereka. Tak luput dari Lya, dia bahkan bingung harus melawan siapa karena hanya tiga wanita disini dan dua lainnya sudah berhadapan.


"Gue sama siapa donh?" Tanya Gelya pada dirinya sendiri.


"ANGGOTA LAMA ATUR POSISI. KASIH WAKTU TIGA MENIT AJA, CEK KEMAMPUAN BELA DIRI MEREKA."


Gelya semakin bingung sekarang, namun seseorang berdiri di depannya sekarang. "Lo lawan gue."


Gelya menatap lelaki di depannya. Juna Livero. "Serius bang? Kan lo cowok?" Tanya Lya.


Juna mengangguk. "Gue penasaran sama kemampuan lo. Tiara bilang lo bahkan ngebuat Lioniel pingsan."


Tanpa aba-aba Juna melayangkan pukulannya pada Lya. Untung saja repleks gadis itu cepat hingga dia bisa menghindar.


Gelya menatap Juna tidak percaya. "Wah jahat lo bang. Masa gak ada aba-abanya."


BUGH


Gelya memukul Juna telak.


Juna tertawa lalu membalas Lya.


BUGH


Bukannya menguji, Juna malah terbawa suasana hingga dia mengabaikan sekitar. Bahkan dia tidak sadar bahwa lawannya sekarang adalah seorang perempuan. Gelya yang melihat pergerakan kasar Juna menguatkan pertahanannya.


BRUKK


Juna menendang perut Lya, membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Lya merasa ini bukanlah tes karena seluruh anggota lainnya sudah berhenti, namun Juna masih menyerangnya.


Mereka saling menyerang dan menangkis serangan. Lya terlihat sudah kewalahan menahan sakit.


BUGH


Lagi-lagi hidung Lya mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"Juna!" Tegur Karya yang sedarintadi memperhatikan mereka berdua. Namun Juna tidak mendengar ucapan Karta.


Juna adalah anggota yang paling mudah terpancing emosinya, jika dia sudah emosi. Tidak ada perbedaan lawan baginya, semua akan dia habisi.


BRUKK


Lya membalas Juna, dia juga sudah mulai emosi. Dia merasa di permainkan disini, bukankah ini sebuah tes? Mengapa lawannya ini memukuli dia habis-habisan.


Juna bersiap menendang Lya namun seseorang menarik Lya hingga Juna terjatuh telak di lapangan. Gelya yang terkejut dan langsung menatap orang yang menariknya.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Karta pada Lya.


Lya mendorong tubuh Karta kasar. "Jadi ini tesnya? Jadi begini tesnya? Dengan cara mukulin anggota baru gitu?" Lya menatap tajam Karta.


"Lo mau ngebunuh gue?" Tanya Lya pada Juna yang sedang di tenangi oleh Kevin. "Ck.. gak guna banget gue disini, belum juga resmi jadi anggota udah mau di bunuh aja. Gue mundur deh," ujar Lya berjalan menjauh dari lapangan, dia mengambil tasnya yang tergeletak di pinggir lapangan. Tangannya terkepal kuat, dia masih emosi dan rasanya ingin mengamuk.


"Lya!" Panggil Diki. "GELYA!" Diki berlari menyusul.


Gelya berbalik dan mengacungkan jari tengahnya tepat ke arah Juna, seeblum benar-benar menjauh dari sana.


"Lo apa-apaan sih? Gila lo?" Sentak Karta pada Juna. "Bukannya gue udah bilang kalau tuh cewek bakal lolos bahkan tanpa tes lagi. Lo ngapain ngajakin dia duel kaya gitu sampai dia luka gitu? Beneran mau ngebunuh tu bocah lo?"


Juna tak bersuara, semua orang tidak bersuara. Karta jelas sedang marah besar, ini bukan kehendaknya. Tidak ada pembicaraan tentang hal ini sebelumnya. "Noah, urus mereka," ujar Karta lagi lalu berjalan keluar sekolah.


Karta berniat mengejar Lya dan Diki. Dia masih bisa melihat kedua orang itu berada di dekat gerbang masuk.


"Kenapa? Lo masih mau gabung? Ya udah sana, gue enggak," jawab Lya sembari menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


Diki meringis melihat darah dari hidung Lya tak berhenti keluar. "Kita ke rumah sakit ya?" Tanya Diki.


"Gak usah!"


"Tapi darahnya gak berhenti keluar."


Sebuah mobil berhenti di depan mereka. "Ayo masuk! Kita ke rumah sakit," ucap Karta yang ternyata kembali ke lapangan untuk meminjam mobil salah satu anggotanya.


"Gak usah, makasi!" Tolak Lya.


"Gak papa lah Ya, nanti kalau parah gimana?" Bujuk Diki.


Karta yang melihat bahwa gadis itu ternyata sangat keras kepala membuatnya harus turun tangan.


"Masuk!" Titah Karta.

__ADS_1


"Gue gak mau!" Jawab Lya.


"Gue gak nanya lo mau apa nggak. Gue nyuruh lo buat masuk, dan lo harus masuk!" Karta menarik tangan gadis itu, memaksanya masuk. Diki yang melihat itu segera ikut ke dalam mobil.


"Maafin Juna, dia emang begitu. Dia gak niay nyakitin lo, dia yang paling emosian diantara kita dan gak aakn mandang lawan. Dia pasti gak sadar sama perbuatannya," jelas Karta. Lya diam tak menjawab, dia yang duduk di samping Karta hanya memejamkan matanya.


"Lya? Lo gak pingsan kan?" Tanya Diki tiba-tiba membuat Karta menoleh. Lya sudah tidak bergerak, bibirnya pucat dan darah yang keluar dari hidungnya tak kunjung berhenti mengalir. "Ya, jangan bikin gur takut," ucap Diki. Dari kursi belakang, Diki mengecek keadaan Lya. "Bang, Lya pingsan bang. Cepat bang," ujar Diki yang bahkan tak sadar lagi jika dia sedang memerintah Karta. Dia lebih panik hingga tak memperhatikan ucapanbya. Diki menyeka darah dari hidung Lya dengan tisu.


Karta yang mendengar suara panik Diki pun langsung melajukan mobilnya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah masuk di rumah sakit diki berniat keluar namun tangannya tengah menahan tisu di hidung Lya.


Karta membuka pintu di samping Lya, melepas sabuk pengaman lalu menggendong Lya memasuki UGD. Gadis di dekapannya ini semakin memucat dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya. Bahkan baju Karta sudah terkena darah Lya.


Diki ikut berlari di belakang Karta. Tangannya merogoh kantong celana mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


"Yah, Diki di UGD."


Empat kata yang keluar dari mulut Diki sebelum mematikan sambungan teleponnya. Diji dan Karta menunggu diluar ruangan. Karta juga mengeluarkan ponselnya.


"Halo? Gue di rumah sakit. Bawa Juna juga kesini," ucap Karta lalu menutup teleponnya.


"Diki," panggil ayah David berlari menuju Diki. Masih menggunakan jas dokter dan terlihat sangat khawatir.


"Yah!" Cicit Diki. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ayah David menatap Diki dan matanya berhenti di tangan Diki yabg berlumuran darah. "Maaf yah!"


Karta hanya diam. Dia tak tahu harus melakukan apa.


Tidak lama pintu ruangan UGD terbuka.


"Gimana keadaan anak saya?" Tanya ayah David kepada dokter yang menangani Lya.


"Tubuhnya sangat lemah, dia kurang istirahat. Tubuhnya juga mendapat beberapa luka lebam, satu rusuknya retak dan itu bukan luka baru. Tulang hidungnya patah, tapi pendarahan di hidungnya sudah berhentu," penjelasaan sokter mendiamkan ketiga lelaki yang mendengarkannya.


Diki sudah terisak, sedangkan Karta menggeram marah. "Maaf yah, hiks. Ma-maafin Diki."


"Berantem lagi?" Tanya ayah David tanpa melihat Diki. Bukannya menjawab, Diki semakin menangis.


"Saya minta maaf om! Gelya seperti ini karena saya. Saya benar-benar minta maaf," ujar Karta berdiri di hadapan David. Dia menunduk siap untuk menerima amukan dari lelaki tua di hadapannya ini.


"Siapa nama kamu?" Tanya ayah David.


"Karta, om," jawab Karta.


"Saya David, salam kenal," ucap ayah David dan berlalu masuk ke ruang UGD meninggalkan kedua laki-laki yang tengah menatap cengo pada dirinya.

__ADS_1


...🌱...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)


__ADS_2