SEFIRA

SEFIRA
GL 19


__ADS_3

"Akhirnya kita kesini lagi," seru Diki merebahkan tubuhnya di sofa empuk keluarga Lya.


"Emang kamu gak pernah kesini?" Tanya mami Risma.


Diki menggeleng. "Lya gak pernah mau. Katanya sepi!"


Maki Risma menatap Lya. "Kenapa gak pernah pulang kerumah? Jadi selama ini rumah cuma di tempati bi Tini?"


"Enak di rumah bunda. Disini sepi, rumah aja yang besar isinya zonk," jawab Lya membuat mami Risma terdiam.


"Teman-teman kamu udah di kasih tau jalan kesini?" Tanya bunda Intan mengalihkan pembicaraan.


"Udah Diki sharelock kok," jawab Diki.


"Mba tolong banyakin masaknya ya," titah mami Risma pada salah satu pelayan disana.


"Baik bu."


"Papi belum pulang?" Tanya Lya pada maminya.


"Masih di perjalanan!"


Rumah Lya adalah rumah terbesar di perumahannya, meski demikian rumah itu terlihat sangat sepi. Lya tidak pernah kesana jika tidak ada yang penting. Rumah itu di urus oleh bi Tini selaku kepala pelayan disana, sedangkan ada lima pelayan wanita lainnya yang mengurus rumah dan tiga pelayan pria yang mengurus halaman, tiga sopir dan dua penjaga keamanan rumah. Bi Tini sudah bekerja di rumah itu bahkan sebelum Lya menginjak usia lima tahun. Itulah yang membuat dia sangat di percaya untuk menjadi kepala pelayan disana. Meski usianya sudah cukup tua tapi dia masih sehat dan dapat di percaya.


Tin tin


Bunyi klakson mobil yang sangat familiar di telinga Lya. Itu adalah mobil khusus yang selalu di gunakan sopir untuk mengantar atau menjemput papinya. Berbeda dengan Lya dan mami Risma, mereka punya sopir pribadi dan mobil pribadi sendiri.


"HELLO! PRINCESS CLA IS BACK," teriak seseorang di depan pintu.


Lya dan Diki saling tatap lalu mengumpat bersama. "****!"


"GEL GEL, OH MY GOD, I REALLY MISS YOU!"


Seorang gadus dengan penampilan yang terkesan hebih menurut Lya, rok mini dengan kaos putih lalu jaket penuh bulu dan tas bermerek berwarna merah menyala senada dengan sepatu boots selutut membuat Lya sakit mata. Gadis itu memeluk Lya erat.


"Ngapain kesini?" Tanya Lya melepaskan pelukan gadis itu.


Gadis itu tersenyum manis. "I bakal live in Indonesia and school with you!"

__ADS_1


"NOO!" Protes Diki tiba-tiba berdiri. "No boleh! Hush hush.. balik sana ke asal lo," usir Diki pada gadis bernama Clarissa itu.


"Hei Coconut! You gak punya hak buat ngusir-ngusir I. Sana you aja yang pergi," balas Cla membuat Diki mengerang frustasi.


Dia Clarissa Jane saurada sepupu Lya dari papinya. Jika Diki adalah saudara sepupu dari maminya, maka Cla adalah sepupu Lya dari papinya.


Clarissa, Lya dan Diki tidak memiliki hubungan baik. Bukan berarti mereka like an enemy. Mereka hanya tidak akur karena beda kepribadian. Lya dan Diki sangat cocok karena sama-sama nakal, suka bela diri, susah di atur dan bebas. Sedangkan Clarissa adalah gadis manja yang penuh dengan ke berisikannya. Dia sangat tidak suka kotor, sangat payah dalam bela diri dan terkadang sangat menjengkelkan. Intinya, Cla adalah gadis yang sangat di manja oleh orang tuanya membuat dia selalu mendapatkan apa yang dia mau.


Meski begitu, Lya akui Cla tidak semenyevalkan itu. Cla sangat jujur jika dia menyayangi Lya, dia bersikap sangat baik pada Lya namuntidak dengan Diki. Cla dan Diki sudah seperti Tom and Jerry, tidak pernah akur, maybe.


"Clarissa akan tinggal di Indonesia," ucap Papi Agung.


"Tinggal dimana?" Tanya Lya.


"Live in this house with you, of course!"


"Pi, Lya kan tinggal sama Diki!" Protes Lya.


"Iya! Diki gak mau kalau bulepotan tinggal sama Diki," ujar Diki menolak juga.


"Kalian gak boleh begitu! Bunda gak masalah kalau Clarissa tinggal di rumah," kata bunda Intan memperingati Lya dan Diki.


"Kalian tinggal disini aja sayang, biar gak terlalu ngerepotin bunda. Kasian juga rumah ini kalau ditinggal," ucap mami Risma mengusulkan.


"Iya! Lagi pula percuma punya rumah gak di tempati," kata papi Agung menyutujui.


"Papi sama mami bakalan stay disini kan? Kalau memang iya, Lya juga akan stay disini," kata Lya. Dia melihat reaksi dari kedua orang tuanya, sudah jelas Lya tau bahwa mereka tidak akan bisa tinggal di Indonesia dalam waktu yang lama. Sudut bibirnya terangkat. "Ck.. lupain aja," sambung Lya lalu berjalan menuju kamarnya.


"Lya," panggil mami Risma namun tidak di hiraukan gadis itu.


"Lya capek mi, biarin dia istirahat dulu," celetuk Diki yang kembali merebahkan tubuhnya di sofa.


Mami Risma menghela nafasnya, dia menatap sendu pada suaminya. "Gak apa-apa. Nanti kita bicara sama dia," ucap papi Agung.


"Cla juga ke kamar sana, istirahat," titah bunda Intan. Dengan sekali anggukan Cla melangkahkan kakibya menaiki tangga.


"Jangan bahas hal begini dulu ya, kasihan nanti kalau Lya makin badmood. Apalagi nanti teman-temannya mau pada datang," ucap bunda Intan pada kedua orang tua Lya.


"Iya mba," balas mami Risma.

__ADS_1


...🌻...


Langit malam dengan ratusan bintang yang mempercantik suasananya menyambut orang-orang yang sedang beraktivitas di malam ini. Sama seperti mereka yang berada di kediaman keluarha Rawangsa, jika biasanya rumah itu terlihat sangat sepi, kini berubah menjadi ramai.


"Gue pikir lo semua nyasar," ujar Diki yang duduk atas motornya yang berada di halaman rumah Lya.


"Widiihh ini rumah apa istana?" Celetuk Keenan menatap bangunan besar di hadapannya.


"Gila sih! Buat masuk kesini dari pagar depan aja jaraknya jauh banget," imbuh Eadred.


"Anjir! Ini beneran rumah Lya?" Bisik Juna pada Kevin.


"Gue gak nyangka Lya sekaya ini," jawab Kevin.


"Gue rasa Lya lebih kaya dari lo, Ta," ucap Elang.


Karta berdecak. "Ngapain kalian pusing mikirin harta orang?"


"Hehee, kan kita cuma senang punya teman begini, jadi sekarang bukan cuma lo aja yang jadi ATM kita," jawab Juna yang langsung mendapat geplakan sayang dari Karta.


"Udah udah! Pada mau masuk gak nih?" Tanya Diki melerai. Dia berjalan lebih dulu menuju pintu masuk.


Lagi-lagi teman Kya terkejut mendapati empat orang pelayan wanita dengan seragam yang sama berdiri menyambut mereka.


"Anjirr.. berasa berkunjung ke istana negara gue," bisik Eadred.


"Duh! Jadi gugup gini gue, mana kita cumq pakek baju kaos semua, gak ada formal-formalnya sama sekali," balas Mira.


"Selamat datang," sapa pelayan tersebut tersenyum. Mereka hanya membalas tersenyum canggung.


Saat memasuki ruang tengah, mereka di buat kagum dengan isi rumah yang tertata dengan rapi, barang-barang mewah tersusun, lukisan mahal terpajang indah memanjakan mata.


"Kalian sudah datang? Duduk disini dulu gak apa-apa kan? Biar pelayan nyiapin makannya dulu," ujar mami Risma menyapa mereka.


Karta tersenyum menanggapi. "Iya tante gak apa-apa," jawab Karta sekenanya.


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)

__ADS_1


__ADS_2