SEFIRA

SEFIRA
Chapters 15


__ADS_3

"Akhirnya tidur kamu nak," ucap Fira bahagia menimang anaknya dalam gendongan.


"Turun ya."


"Hussh kok nangis lagi sih."


Fira kembali menggendong dan menggoyang-goyangkan gendongannya berharap tangis sang anak reda.


"Gavin ganteng, jangan nangis dong. Gavin haus ya nak?" Tanya Fira menampilkan muka lucu.


"Loh kok tambah kenceng nangisnya."


"Kak Gavin kenapa?" Tanya Lia yang nyelonong masuk kamarnya, mungkin dia terganggu dengan tangisan Gavin. "Gak tau ia, udah dikasih asi masih nangis juga."


"Coba aku yang gendong kak," ujar Lia mengambil alih Gavin.


"Hai gantengnya bibi kenapa nangis hm?" Tanya Lia. "Mau main sama bibi ya? Iya? Ayok kita main sayang."


Bukannya berhenti menangis tapi malah semakin menjadi membuat nenek Uti juga ikut keluar melihat mereka. "Cicit nenek kenapa nangis terus?" Ucap nenek Uti mengambil alih Gavin dari Lia.


"Kenapa itu anak kamu nangis terus ra?" Tanya tetangga yang tiba-tiba masuk ke rumah sepertinya suara tangis anaknya itu sampai keluar.


"Gak tau bu, udah saya kasih asi masih nangis juga."


"Kayaknya dia pengen digendong bapaknya deh ra."


Fira hanya tersenyum menanggapi tanpa mau membalas ucapan tetangganya itu.


"Emang bapaknya Gavin kemana ra?"


Fira tegang, tidak mungkin dia bilang Gavin adalah anak diluar nikah bisa-bisanya ia dikucilkan.


"Bibi Yanti kepo banget deh," sewot Lia menatap tak suka kepada Yanti, tetangganya.


"Ayahnya Gavin udah dilangit bu," jawab Fira sopan.


"Eh maaf ya ra, bibi gak tau. Soalnya gak pernah liat bapaknya."


"Iya bu gak papa."


"Kalau gitu bibi permusi dulu ra, bu," pamit Yanti.


"Iya bu."


"Dari tadi kek."

__ADS_1


"Lia!"


Wajah Gavin kini sudah merah akibat menangis dadanya naik turun membuat Fira tidak tega melihat kondisi anaknya, ia mengambil alih anaknya yang berada digendongan nenek Uti kemudian membawanya keluar diikuti Lia.


"Gavin, anak ganteng liat itu ada ayam," ujar Lia menunjuk ayam di ranting pohon yang tidak terlalu tinggi.


Petok petok


Ajaibnya Gavin yang mendengar itu langsung terdiam menampilkan senyumannya yang manis.


"Huh akhirnya keponakan bibi yang ganteng ini diam juga," ujar Lia lega kemudian duduk lesehan di lantai.


"Terima kasih ayam."


"Anak bunda sekarang tidur ya ini udah larut banget sayang," ucap Fira kepada anaknya sambil menepuk-nepuk pantatnya.


...***...


Dave sangat bingung dengan Nico yang akhir-akhir ini mendiaminya, jika Felix yang seperti itu adalah hal yang biasa karena Felix sama dengan dia yang irit bicara. Sejak kembali dari pantai seminggu yang lalu awal mula Nico berubah awalnya ia mengira mungkin Nico sedang tidak enak badan atau ada masalah tapi semakin kesini membuatnya sadar ada yang beda dengan sahabatnya itu apalagi melihat tatapan Nico kepadanya tapi Dave tidak ambil pusing akan hal itu.


Dave semakin jarang bersama kedua sahabatnya karena selalu menghabiskan waktu bersama dengan Nila. Oh ya, Nila baru kelas sepuluh dan Dave kelas dua belas.


"Sayang nanti kita ngemall yuk," ajak Nila disela makannya di kantin yang diangguki Dave singkat.


"Bagaimana sudah ada tanda-tanda?" Tanya Nico yang dibalas gelengan oleh Felix.


"Hufft dia kemana sih?" Gumam Nico dengan nafas beratnya.


Setelah tau tentang kisah hidup seorang gadis bernama Sefira Anggraini yang sudah dihamili oleh sahabatnya yang pengecut itu membuat Nico memaksa Felix untuk mencari terus keberadaanya. Mereka lebih dulu mencari sahabat Fira yang bernama Amanda yang sudah pindah ke Yogya untuk menanyakan tentang Fira tapi nihil Amanda sendiri tidak tau apa-apa.


Bukan apa-apa mereka mencari Fira, mereka hanya ingin sahabatnya itu sadar akan tanggung jawabnya bukan jadi seorang pengecut seperti itu yang dengan tidak punya hatinya mengusir perempuan yang menjadi korban dari kota ini. Brengsek bukan?


"Kalau sampai om Larry dan tante Sonya tau kira-kira gimana ya?" Pikir Nico menatap gedung-gedung pencakar langit yang memadati kota Jakarta.


"Gue gak yakin mereka akan menerima Sefira begitu aja meski nanti akan ada keturunan mereka lahir dari rahim perempuan itu," ujar Nico.


"Om Larry dan tante Sonya bukan orang seperti itu. Mereka tidak haus akan kasta," balas Felix.


Nico menoleh kearah Felix. "Benarkah?"


Felix mengangguk. "Tante Sonya bukan dari orang berada dulu, bahkan tante bekerja paruh waktu saat kuliah karena ayahnya meninggal dan ibunya hanya ibu rumah tangga," jelas Felix.


Nico sedikit terkejut mendengar fakta itu, ia baru tau karena yang ia lihat Sonya seperti orang bermodis meski selalu memakai pakaian yang sederhana. Nico baru datang dalam kehidupan Dave dan Felix saat masuk SMA, sedangkan Felix dan Dave sudah dari kecil bahkan mereka tetangga.


Kring kring

__ADS_1


Bel pulang terdengar nyaring membuat seluruh murid SMA Jayakarta memekik kegirangan dan berhamburan keluar kelas, ada yang menuju parkiran ada yang ke gerbang langsung ada yang masih tetap stay di sekolah.


"Kita kerumah dulu ya," ajak Dave kepada kekasihnya yang telah masuk kedalam mobil mewah berwarna merah milik Dave.


Nila mengangguk dan tersenyum manis.


Flashback On


"Nila, Iren, tolong bawa buku tugas teman kalian ke ruangan saya ya," titah guru yang baru saja selesai mengajar di kelas X IPA 2, kelasnya Nila.


"Baik pak," jawab mereka berdua.


"Baiklah terima kasih untuk waktunya anak-anak, minggu depan kita lanjut lagi, assalamualaikum," pamit guru tersebut kemudian keluar dari kelas dengan membawa dua buku besar dan tebal di tangannya.


"Ayo la," ujar Iren yang diangguki Nila.


Mereka berdua berjalan di koridor menuju ruang guru dengan santai sambil bertukat cerita.


"DAVE!" Teriak Jordan melambaikan kedua tangannya. Dave yang mengerti segera mengoper bola basket kearahnya tapi ternyata melesat dan melambung jauh.


DUGH


"NILA!" Pekik Iren yang melihat temannya mengenai bola dan buku tugas yang jatuh.


Nila sedikit mundur dan linglung sampai akhirnya terjatuh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang seperti berputar-putar.


Dave yang melihat itu berlari menghampiri korbannya dan langsung menggendongnya ala bridel style ke uks. Sesampainya di uks ia membaringnya Nila di brangkar dan langsung meminta anak PMR menanganinya.


Setelah beberapa menit, Nila bangun dan berjalan keluar tapi langkahnya terhenti di hadapan Dave yang duduk di pojok menemaninya.


"Terima kasih," ucap Nila tersenyum manis.


Dave hanya mengangguk singkat dengan muka datarnya.


Manis. Batin Dave melirik Nila yang sudah jauh dari pandangannya.


Kita akan bertemu kembali. Batinnya lagi.


Dave tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak ada yang melihat senyum itu.


Flashback Of**f**


...***...


Jangan lupa dukung aku terus yaw biar aku makin semangat ngat ngat. Vote, like, komen, dan favoritkan!

__ADS_1


__ADS_2