
"Kok perasaan aku tiba-tiba gak enak gini ya," gumam Fira sembari mencatat beberapa barang yang harus ia pesan.
Fira menghembuskan nafasnya panjang, mencoba menetralkan rasa yang tiba-tiba datang. Di rasa sudah sedikit tenang, Fira melanjutkan pekerjaannya.
***
Gavin menahan kesal kepada Fian yang terus-terusan menyuruhnya ikut bersama Dave ke kamar mandi di kamarnya. Disaat melihat Jetno keluar dari kamar mandi bawah tempat mereka menunggu giliran, Gavin langsung lari masuk duluan membuat Dion kaget dengannya karena kini gilirannya tapi Gavin sudah masuk duluan.
Bug bug bug
"Avinnn! Sekarang giliran aku!" Kesal Dion memukul pintu kamar mandi berkali-kali.
Sedangkan Dave menatap nanar pintu kamar mandi tersebut. Ia tau mungkin Gavin belum bisa memaafkannya. Dave harus berusaha lebih keras dan sabar lagi untuk bisa mendapatkan maaf dari anaknya dan Fira.
"Pak," panggil seseorang memakai pakaian formal seperti jas. "Ini baju yang anda minta," ucap orang itu menyerahkan lima paperbag berukuran sedang.
Dave menerimanya. "Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama pak," balas orang itu. Kalau begitu saya pamit," pamitnya yang diangguki Dave.
Dave melihat isi beberapa paperbag tersebut lalu ia tersenyum.
Tidak lama kemudian, Gavin keluar dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah kesal Dion. Tapi Gavin hanya cuek melihat itu, ia berjalan menuju meja makan lalu duduk karena memang kamar mandi yang di gunakan adalah kamar mandi bagian dapur.
"Nih," ujar Dave tiba-tiba memberikan paperbag kepada Gavin membuatnya mengernyitkan dahinya. "Daddy beliin baju ganti buat kamu dan teman-temanmu. Nih ambil terus bagiin ke yang lain," titahnya tersenyum.
Dave menyuruh orang kepercayaan di kantor cabang untuk membelikannya lima pakaian anak laki-laki umur 4 atau 5 tahun.
Gavin sedikit ragu menerimanya tapi tetap menerimanya. "Makasi," ucapnya datar tanpa ekspresi. Dave tidak sakit hati dengan itu, ia hanya tersenyum kecut memikirkan betapa bodohnya dia yang sudah dengan teganya mempermainkan hati anaknya sendiri.
"Kita tunggu teman kamu dulu setelah itu kita makan baru kita berangkat," ucap Dave mendiami Gavin.
Dave tau Gavin tidak akan menbalas perkataannya tapi ia akan tetap mencoba mengajak anaknya berbicara. Karena tau Gavin tidak akan mau bicara dengannya, ia memilih untuk diam sembari menunggu teman Gavin yang lainnya selesai.
Dyah, salah satu pembantu di vila itu yang melihat bagaimana tuannya berusaha mengajak Gavin ngobrol tersenyum penuh arti. Dia juga orang yang memiliki anak yang tau bagaimana perasaan orang tua kepada anaknya, dia juga pernah menjadi anak yang selalu ingin bersama kedua orang tuanya. Jelas dia tau bagaimana perasaan tuannya sekarang begitu juga dengan perasaan Gavin sekarang. Tapi terlihat Gavin yang enggan untuk berbicara bahkan menatap tuannya, mungkin karena kejadian waktu lalu membuat ada rasa trauma dalam diri Gavin.
Tidak lama kemudian, semua teman Gavin sudah selesai dan memakai baju yang diberikan Gavin dengan binar bahagia dimatanya.
"Loh nak ini baju siapa yang kamu pakai?" Tanya Dyah kepada Jaka, anaknya.
"Tadi di kasih Avin bu. Kata Avin ini dari paman Dave," beritahu Jaka.
__ADS_1
Dyah menoleh ke arah tuannya lalu menunduk sedikit. "Terima kasih pak."
"Iya sama-sama," balas Dave. "Bi siapkan makan siangnya ya, biar mereka makan siang dulu baru berangkat," titah Dave.
Dyah mengernyitkan dahinya. "Berangkat kemana pak?"
"Saya berencana mau ngajak mereka ke taman kota," jawab Dave yang diangguki Dyah. "Baik pak. Tunggu sebentar saya sama Siti siapin," balas Dyah yang diangguki Dave. "Kita tunggu di ruang tamu."
Tidak lama Dyah beritahu Dave jika makanannya sudah siap. Dave yang mendengar itu berdiri. "Ayo ajak teman-temanmu makan bareng," titah Dave kepada Gavin.
Dengan wajah datarnya Gavin mengajak teman-temannya. Kemudian mereka berjalan beriringan dengan Dave yang memimpin jalan.
"Paman Dave baik banget ya no," ucap Dion kepada temannya, Jetno.
Jetno mengangguk. "Iya kamu benar ion."
"Kalian berdua kenapa bisik-bisik?" Tanya Fian yang dibalas gelengan keduanya.
Setibanya di ruang makan, Gavin memilih tempat paling ujung membuat Dave menelan kekecewaan. "Kenapa Avin duduk disitu? Bukannya kursi Avin di samping daddy?" Tanya Dave mendiami Gavin. Tanpa menjawab Gavin mengambil nasi dan lauk menaruhnya di piring kemudian makan duluan dengan tenang.
Teman-temannya yang melihat itu menahan kesal dengan kelakuan Gavin yang menurut mereka tidak sopan. Mereka berusaha memberitahu Gavin lewat sorot mata tapi Gavin sama sekali tidak menghiraukan teman-temannya. Sedangkan Dyah yang melihat itu tersenyum maklum tapi berbeda dengan Siti yang menahan nafas melihat kelakuan Gavin, takut Dave marah.
"Silahkan di makan," persilah Dave tersenyum.
***
Mereka sampai di taman kota seperti yang sudah mereka rencanakan. Hari baru akan menjelang sore tapi taman sudah ramai pengunjung. Ada yang olahraga, ada yang bermain, ada juga yang tengah berkencan wkwk.
"Wahh rame banget," cetus Jaka.
"Tempatnya juga bagus," timpal Fian menatap sekeliling.
"Lihat ada perosotannya," sahut Jetno.
"Biasa aja," cetus Dion membuat Jaka, Fian dan Jetno mendelik kepadanya. "Cih sombong! Mentang-mentang kamu sudah pernah kesini," ketus Jetno.
"Iya kita kan belum pernah kesini," timpal Jaka.
Sedangkan Gavin hanya diam menonton perdebatan temannya. Begitu juga dengan Dave yang diam karena tidak tau mereka bicara apa. "Ayo kita ke kursi kosong yang disana," ajak Dave menunjuk kursi panjang yang ada di taman tersebut. Dave berjalan terlebih dahulu diikuti Gavin dkk.
Mata Dave berkeliling menatap sekitar dan berhenti di penjual es krim. "Kamu mau es krim?" Tanya Dave kepada Gavin. "Tidak," tolak Gavin.
__ADS_1
Tidak lama Dion berucap kepada teman-temannya. "Aku mau es krim tapi gak ada uang," cetusnya.
Dave merogoh saku belakang mengambil dompetnya yang terselip. Ia mengeluarkan uang lima puluh ribu dua lembar kemudian memberikannya kepada Gavin. "Nih buat beli es krim sama teman-teman kamu," titahnya karena ia tau salah satu teman anaknya yang tidak ia ketahui namanya itu ingin es krim.
Gavin melihat Dion dan Jetno yang terus melihat penjual es krim merasa iba. Gavin mengambil uang tersebut kemudian mengajak teman-temannya membeli es krim.
"Pak es krim rasa stawberry 1," pesan Dion dengan semangat.
"Saya juga pak yang rasa jagung," pesan Jetno tak kalah semangat.
"Saya yang kaya gini pak," ucap Jaka menunjuk satu gambar es krim di daftar menu.
"Saya juga yang ini ya pak," timpal Fian menunjuk gambar yang sama dengan Jaka.
"Kamu apa Avin?" Tanya Fian.
Gavin melihat daftar menu. "Saya coklat pak," ucapnya.
"Avin paman Dave juga beliin satu ya," ucap Fian. Gavin melihat Fian yang mengangguk lalu dia juga mengangguk mengiyakan.
"Pak tambah yang ini satu," ujar Gavin menunjuk es krim cup yanh ada di daftar.
"Ini ya nak. Totalnya 39 ribu nak," ucap penjual tersebut.
Gavin memberikan uang pecahan lima puluh ribu selembar dan di terima oleh penjual tersebut. "Ini kembaliannya nak."
Gavin dkk berjalan kembali ke tempat semula tapi di pertengahan jalan Gavin berhenti karena netra matanya tidak sengaja melihat anak kecil yang sedang bermain tepat di pinggir jalan, Gavin melihat ada sebuah motor yang melaju dengan kencang.
"AWASSS!" Teriak Gavin berlari kencang.
BRUKK
BRUKK
DUGH
"GAVINN!"
"AVINN!"
...***...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!