
"Bibi bangun. Gavin janji tidak akan nakal, gavin janji akan turutin semua ucapan bibi," lirih Gavin menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Lia.
Tetesan air mata Gavin jatuh mengenai tangan Lia.
"Bibi pasti baik-baik aja nak," ujar Fira mengusap pundak Gavin lembut.
Tidak lama kemudian, mata Fira tidak sengaja melihat tangan Lia yang dipasang infus bergerak pelan. "Dek?" Panggilnya.
Mata indah Lia terbuka perlahan. "Aa-air," lirih Lia.
Fira yang mendengar itu langsung membuka kantong plastik hitam mencari air mineral yang tadi ia beli. Membuka tutup botolnya lalu membantu Lia minum.
"Sudah?" Tanya Fira yang diangguki Lia pelan.
"Bibi," panggil Gavin senang membuat Lia menatapnya tersenyum kaku, ia merasakan sakit di pipinya disaat tersenyum.
"Sebentar kakak panggil dokter dulu," ujar Fira lalu beralih menatap anaknya yang tersenyum. "Gavin tolong jaga bibi ya nak."
"Iya Bunda."
Fira menyikap gorden dan yang pertama ia lihat adalah Dave dan yang lainnya yang terdiam menatapnya. Fira memutuskan kontak mata di antara mereka dan berjalan cepat melewati mereka.
Tidak lama kemudian, Fira masuk kembali bersama dokter yang menangani Lia. Dokter itu sempat bingung dengan orang-orang yang berada di ruangan tersebut terlebih lagi pasien yang berada di pojok kosong tapi dokter itu tak menghiraukannya dan kembali berjalan ke arah brangkar Lia.
"Bagaimana dek? Apa yang kamu rasakan?" Tanya dokter tersebut setelah memeriksa detak jantung Lia.
Lia menunjuk pipi kanannya dengan tangan kanan. "Ngilu," lirihnya.
Lia memegang pundak kirinya. "Sa-kit dok ssh," ringis Lia memejamkan mata.
Dokter itu tersenyum. "Tidak apa-apa dek, pipi kamu memang akan terasa ngilu efek dari goresan aspal yang lebar serta salep yang masuk kulit akan membuat luka terasa perih dan ngilu. Untuk pundak kamu tidak masalah, sakit itu hanya sementara. Saya sarankan untuk istirahat total dulu selama beberapa hari terutama untuk tangan kiri jangan terlalu di gerakkan agar pundak kamu cepat sembuh," terang dokter tersebut.
"Apa boleh saya pulang dok?" Tanya Lia menatap dokter itu memohon.
__ADS_1
"Eh dek apa-apaan kamu mau pulang aja, kamu baru sadar dek jangan aneh-aneh," serobot Fira.
"Tapi ka-"
"Apa hah?!" Sercah Fira garang membuat Lia mencebikkan bibirnya.
Dokter terkekeh pelan mendengar perdebatan kakak adik di depannya itu. "Iya benar apa yang kakak kamu katakan. Untuk saat ini kamu harus di rawat dulu di sini."
"Tuh denger!" Ujar Fira garang.
"Bibi tenang aja nanti Gavin bantu supaya bibi cepat sembuh," ujar Gavin tersenyum lebar. "Gavin gak mau bibi kenapa-napa lagi, Gavin takut. Hanya bunda dan bibi yang Gavin punya," lirih Gavin membuat Lia dan Fira serta dokter manatapnya sendu. Mereka berempat tidak menyadari ada seseorang yang sesak mendengar penuturan anak kecil itu.
"Gavin sini," ujar Lia. Gavin melepaskan tangannya dari genggaman bundanya dan berjalan ke sisi brangkar.
"Kalau begitu saya permisi dulu bu. Jangan lupa ingatkan pasien untuk minum obat teratur dan lukanya diolesi salep yang ada di nakas," pamit dokter.
"Terima kasih dok," ucap Fira tersenyum.
Fira kembali menutup gorden dan berjalan mendekati Lia dan Gavin.
Disisi lain, mereka diam mendengar penuturan anak kecil yang terdengar pilu itu. Nico yang akan melangkah mendekati ketiga orang dibalik gorden itu terhenti karena tangannya di tahan oleh Sonya.
"Biar tante aja Nic," ujar Sonya. "Karena Dave hanya diam saja tanpa mau menjelaskan apapun begitu juga dengan kalian jadi biarkan tante mencari tau sendiri," lanjutnya.
Dave hanya terdiam seperti biasanya tapi hatinya masih merasa sesak mendengar ucapan pilu anak kecil yang ia yakini anaknya yang pernah ingin dia bunuh.
"Maaf. Boleh bicara sebentar?" Tanya Sonya yang menyikap gorden tersebut.
Fira, Lia dan Gavin menoleh kesumber suara. "Ada apa ya bu?" Tanya Fira sopan tapi hatinya memanas.
Lia melihat orang tersebut bingung apalagi disaat seorang gadis dan empat pemuda dewasa di belakangnya menambah kebingungannya. Lia manatap Gavin dan bertanya siapa tanpa suara, Gavin menggeleng tanda tidak tau.
"Siapa sebenarnya kalian?" Tanya Sonya to the point. Dia sudah sangat penasaran dan dia berharap apa yang ia curigai tentang anaknya tidak benar, dia bukannya tidak senang jika semua itu benar tapi jalan untuk membenarkan itu semua SALAH.
__ADS_1
"Apa maksud ibu?" Tanya Fira pura-pura tidak tau.
"Kamu jelas-jelas tau apa yang aku maksud," jeda Sonya. "Apa benar, dia cucu saya?" Tanya Sonya menunjuk Gavin.
"Bukan!" Jawab Fira cepat.
Semua orang yang ada disana hanya menyimak melihat dua orang itu berbicara kecuali Dave yang terus menatap Gavin sendu. Ada perasaan hangat meliputinya saat melihat wajah anak itu, tapi dia juga bingung harus berbuat apa.
"Baik kalau begitu. Biarkan saya melakukan tes DNA," ujar Sonya membuat Fira terkejut tapi cepat-cepat dia merubah raut wajahnya.
"Dia bukan cucu Anda nyonya. Asal Anda tau, Anda tidak berhak melakukan itu semua kepada anak saya karena lima tahun yang lalu anak Anda sendiri yang menyuruh saya untuk membunuh darah dagingnya sendiri dengan alasan keluarganya akan malu!" Ucap Fira berubah dingin dan penuh penekanan.
Deg!
Sonya, Stefi, dan Larry menatap Dave kecewa. Sedangkan Dave yang ditatap seperti itu oleh keluarganya menunduk.
Fira sadar, dia salah karena bicara seperti itu di depan anaknya langsung, mungkin anak lain yang seusia Gavin tidak akan mengerti dengan pembicaan orang dewasa tadi, tapi tidak dengan Gavin yang mempunyai pikiran yang dewasa. Fira merengkuh anaknya yang matanya sudah memerah menahan air mata dan emosinya. Fira tau anaknya sedang tidak baik-baik saja sekarang. "Maafin Bunda nak, maaf," lirih Fira beberapa kali mengecup puncuk kepala Gavin.
Lia berusaha duduk meski badannya masih sakit, ia mengelus pundak Gavin membantu Fira menenangkannya.
"Dave!" Suara berat Larry menyadarkan mereka. Kedua tangan Larry mengepal menahan amarah, ia kecewa sangat kecewa dengan anaknya yang selama ini ia banggakan itu.
"Ga-gavin," ujar Dave. Tenggorokannya seakan tercekat sesuatu.
Gavin melepaskan pelukan Fira lalu menatap dingin orang yang menyebut namanya tadi. "Jangan pernah menyebut nama saya dengan mulut kotor Anda itu!"
Deg!
Hati Dave bagaikan tersayat belati tajam mendengar suara dingin anaknya sendiri. Anaknya sendiri? Hei tolong siapapun untuk sadarkan Dave dengan perlakuannya lima tahun lalu.
Tidak ada satupun mata yang tidak mengeluarkan air matanya kecuali Gavin yang matanya hanya memerah tanpa air mata.
...***...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah kasih vote dan gift, alapyu so much pokok e yang belum kasih di tunggu.