
Noah hanya menaikkan sebelah alisnya. "Suka dia sama lo," ujar Lya lagi. "Gue nggak!" Jawab Noah singkat, padat dan jelas. Lya hanya menghela nafasnya dan beralih ke Kevin. Kevin juga hanya mengendikkan bahunya, dia juga tidak akan bisa melakukan apa pun jika Noah saja sudah berkata seperti itu.
"Wahai tuan putri, tidakkan kau ingin berterima kasih pada kita?" Tanya Juna pada Lya.
Lya menarik nafasnya dalam-dalam. "Terima kasih monyet-monyet ku semuelah sahabat sejati akuuuu," ujar Lya menirukan salah satu adegan yang ada di serial kartun pada zaman dahulu.
Mereka semua melotot. "Gak punya akhlak emang ni bocah!" Sungut Elang.
"Nyesel gue bantuin lo," ujar Juna.
Lya melototi Juna. "Jahat banget," ujarnya.
"Mana ada monyet ganteng kayak gue," ujar Kevin tak terima. Lya hanya cengengesan.
"Cla, Diki mana sih?" Tanya Lya pada Clarissa yang baru saja keluar dari toilet. Gadis itu hanya diam menatap para lelaki yang juga sedang menatapnya. "Uhm di rumah," jawab Clarissa tersenyum canggung.
Lya menyipitkan matanya. "Yakin?"
"I-iya lah. Mom said that earlier!"
"Gak yakin gue," ujar Lya. "Kenapa dia gak kesini? Gak khawatir apa dia sama gue? Awas aja nanti kalau gue sembuh bakal hue gebukin dia!"
Clarissa hanya tertawa. "Hahaha iya Ya," jawab Clarissa membuat Lya menarik ujung bibirnya.
"There's something you're hiding?" Tanya Lya membuat Clarissa gelagapan.
Hal yang membuat Lya bingung adalah kelima lelaki yang ada disana juga terlihat aneh, seperti mengetahui sesuatu. "Kalian nyembunyiin sesuatu?" Tanya Lya pada mereka.
Juna langsung berdehem dan membuka asal ponselnya, Elang juga melakukan hal yang sama. Kevin dan Karta membuang pandangannya menatap asal, sedangkan Noah hanya diam saja.
Lya mendengus. "Clarissa, semalam gue mimpi kalau lo mati, terus mayat lo-"
"Diki sulking! He's angry with papi for forbidding you two to join motorcycle gang. He was also angry with his mother for blaming him for this incident. He doesn't go home and stay at a friend's house."
Kelima lelaki disana menatap Clarissa cengo. Clarissa berbicara sekali tarikan nafas tanpa jeda. Begitulah Clarissa, jika dia panik atau marah dia akan berbicara dengan bahasa Inggris, bahkan dia bisa mengatakan kalimat yang panjang hanya dalam satu kali tarikan nafas.
"Mana hp gue?" Tanya Lya dengan wajah datar. Bahkan intonasi suaranya terdengar sangat rendah.
Clarissa pasrah, dia memberikan ponsel Lya.
__ADS_1
Lya mencari nomor telepon Diki dan menghubunginya. Sekali percobaan namun tidak ada jawaban membuat Lya semakin kesal.
"Sialan!" Umpatnya. Lya kembali menelpon Diki.
"Mungkin dia membutuhkan waktu, Ya," ujar Kevin mencoba menenangkan Lya.
Lya terlihat semakin kesal karena Diki tidak kunjung mengangkat teleponnya.
"Biarin Diki dulu Ya," ujar Karta. Namun Lya tidak menghiraukan mereka semua.
"Halo?"
"Dimana lo? Udah gak khawatir sama gue? Udah gak peduli?"
"Bukan gitu Ya. Gue lagi istirahat dirumah, nanti gue kesana."
"Jago banget lo ngibul. Kesini sekarang!"
"Nanti ya Ya, gue lagi-"
"Lo kesini sekarang atau gue yang kesana!" Ujar Lya membuat mereka semua yang ada disana melotot.
"No! Jangan coba-coba pergi dari sini," ujar Clarissa pada Lya.
"Oke gue kesana!" Lya hendak mematikan ponselnya namun suara Diki menghentikan pergerakannya.
"Gue kesana! Tunggu!" Ujar Diki memutuskan sambungannya.
Lya memejamkan matanya untuk mengendalikan emosinya.
"Kalian pulang aja, gue mau istirhat. Makasi karena udah jengukin gue," ujar Lya yang langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Kita pulang aja," ujar Karta pada teman-temannya. "Kita pulang. Semoga cepat sembuh," ujar Karta pada Lya lalu berjalan keluar diikuti Elang dan Noah. "Kita pulang Ya," ujar Juna.
Kevin mendekati Lya. "Gue pulang. Kalau mau marahin Diki jangan kelewatan inget kondisi lo," ujar Kevin mengelus rambut Lya yang tertutup selimut lalu berjalan keluar menyusul yang lain.
Lya tidak bergerak. Bukan karena tidur, tapu dia merasa tidak ingin membuka matanya. Dia bisa mendengar suara isakan dari Clarissa, tidak berselang lama, pintu kamar Lya terbuka.
"Dik," cicit Clarissa. Diki berjalan kearah brangkar pesakitan Lya. "Dia marah," bisik Clarissa.
__ADS_1
"Ya! Gue datang," ucap Diki pelan. Lelaku itu terlihat buruk, wajahnya terlihat lelah dan kurang tidur.
"Ya," cicit Diki lagi.
Lya menyibak selimutnya kasar. Dia langsung duduk tanpa bersandar membuat Diki bergerak untuk membantunya, namun Lya dengan kasar menepis tangan Diki yang berusaha menyentuhnya.
"Udah gak peduli sama gue? Udah gak mau ketemu gue lagi?" Tanya Lya menghujam Diki. "Bu-bukan gitu Ya," jawabnya menunduk.
"Lihat gue. Kalah cantik gue sama tu lantai?" Sentak Lya membuat Diki langsung menatap gadis itu. "Cuma lo yang gak ada disaat gue sadar. Waktu gue buka mata gue berharap lo yang nyapa gue duluan. Mau itu mami, pali, bunda sekalipun, gue berharap lo orang yang paling khawatir sama gue Dik. Gue lebih sedih gak ada lo di banding sama papi gue sendiri."
"Maaf! Maafin gue! Maaf Ya!"
Mata Diki memerah. Lya jelas tau lelaki itu akan segera menangis.
"Udah gak sayang sama gue?"
Pertanyaan Lya membuat tangis Diki pecah. "Nggak! Jangan ngomong gitu, gue sayang lo Ya hiks sayang banget. Hiks jangan hiks jangan ngomong gitu!" Diki bersimpuh, Diki memeluk kaki Lya yang menjuntai ke lantai.
Clarissa kembali menangis. Bisa dibilang gadis itu sangatlah cengeng.
"Gue cuman belum siap ketemu bunda sama mami. Hiks gue takut, gue hiks abis ngomong kasar ke mereka semalam hiks bukan gak sayang sama lo Ya hiks jangan marah," ujar Diki lagi.
"Udah ngerasa jago? Udah berasa keren karena bisa maki-maki orang tua?" Tanya Lya lagi membuat Diki semakin menenggelamkan wajahnya di paha Lya. Dia menggeleng tanpa suara, hanya isakan yang keluar dari mulutnya.
Lya menghela nafas, merasa tidak tega melihat manusia bongsor ini menangis. Tangannya terulur untuj mebgusap rambut Diki.
"Berhenti nangis! Lemah banget sih lo!"
"Maafin gue Ya," cicit Diki.
"Udah gue maafin. Lain kali jangan kabur-kaburan, jangan ngomong begitu ke orang tua, kasihan bunda, dia pasti khawatir gak ada lo."
Diki mendongak menatap Lya. "Gue sayang sama lo Ya, lo adek gue. Pokoknya lo segala buat gue," ujar Diki memeluk tubuh Lya. "Gue lahir duluan bego! Gue yang kakak," jawab Lya membalas pelukan Diki. "Tapi badan lo kecil. Pokoknya gue abang!" Uhar Diki kekeh.
"Terus gue apa?" Mereka menoleh melihat Clarissa. Lya tertawa. "Lo yang paling bocil," jawab Lya. "Sini lo!"
Clarissa menghapus air matanya dan berjalan mendekati Lya dan Diki. Lya menarik tubuh Clarissa lalu memeluknya, Diki tersenyum dan memeluk kedua gadis itu. "Gue punya dua bocil, yang satu badungnya kelewatan, yang satu lagi manja plus cengengnya kelewatan," ujar Diki terkekeh.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah tersenyum menatap mereka dari balik pintu. Seseorang itu terlihat bahagia melihat ketiga remaja yang ada di balik kamar inap itu.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)