SEFIRA

SEFIRA
Chapters 26


__ADS_3

"GAVINN!"


Semua mengalihkan atensi kepada dua perempuan di depan pintu yang tadi teriak memanggil nama Gavin.


"Bunda," beo Gavin.


Fira berlari ke arah Gavin begitu juga dengan Lia. Fira mendorong Dave yang masih memeluk Gavin lalu dia duduk dan memeluk anaknya. Hatinya sakit melihat kepala anaknya di balut seperti ini. "Mana yang sakit sayang?" Tanyanya sembari mengusap kepalanya lembut.


"Avin sudah gak papa bun," jawab Gavin menghapus air mata bundanya.


"Jangan seperti ini lagi, bunda takut. Cukup bibi mu kemarin, kamu jangan," lirih Fira memeluk erat anaknya. Lia yang mendengar itu ikut memeluk mereka berdua.


Dave yang mengerti akan keadaan dan ini menyangkut keluarganya membubarkan mereka semua. "Bi, kalian berdua libur untuk hari ini, begitu juga dengan bapak semua kalian bisa istirshat di rumah lebih awal. Mohon bantuannya juga untuk mengantar anak-anak yang lain pulang. Terima kasih," ucap Dave sopan.


Sementara mereka yang paham mengangguk dan yang tidak paham pura-pura paham. Setelah itu mereka pamit pulang, ada yang senang karena pulang cepat tapi ada juga yang penasaran dengan hubungan Fira dan Dave. "Maaf pak, untuk obatnya nanti saya suruh suami saya antarkan, sekarang saya ke apotek," ujar Dyah sopan, ia sadar dia salah karena tidak langsung menuruti perintah tuannya karena kedatangan Fira dan Lia ia mengurungkan niatnya untuk ke apotek.


Dave mengangguk. "Terima kasih," ujarnya.


Setelah itu keadaan vila tersebut hening. Fira, Lia, dan Gavin masih diam saling berpelukan.


"Hmm.. Gavin makan dulu yuk tadi bibi sudah masak banyak untuk kita," ujar Dave memecah keheningan.


Fira tersadar bahwa bukan hanya mereka bertiga di sini, Fira melepasakn pelukannya dan menatap nyalang orang di sebrangnya. "Sayang kita pulang sekarang ya," ujar Fira lembut kepada Gavin.


"Tapi Gavin lapar bunda," ujar Gavin menunduk. "Iya kita makan di rumah nanti," balas Fira.


"Sudah kamu jangan egois ra, biarkan Gavin makan disini. Lagian juga siapa yang akan makan makanan sebanyak itu nanti, di vila ini cuma ada aku," terang Dave menengahi.


"Ego-" ucapan Fira terhenti karena Lia mencekal tangannya kuat membuat Fira menoleh ke arahnya dan Lia mengkode dengan sorot mata mengarah ke Gavin tanda jaga sikap ada anak kecil.


Fira yang mengerti dan tersadar menghembuskan nafas panjang. "Gavin mau makan di sini?"


Gavin mengangguk semangat. "Mau bunda, makan bareng daddy, bunda, dan bibi," jawabnya semangat. Sepertinya Gavin sudah melupakan kebeciannya terhadap Dave, maybe.


Fira terperangah. "Daddy?" beonya begitu juga dengan Lia.


"Kenapa? Emangnya salah anak aku sendiri panggil aku daddy?" Serobot Dave.


"Cih daddy daddy," sebal Fira tapi tak urung ia menarik tangan Gavin ke ruang makan diikuti Lia, sedangkan sekarang giliran sang tuan rumah yang terperangah dengan tingkah mereka bertiga.


"Kok gue yang di tinggal ya? Kan gue tuan rumahnya," gumam Dave tapi tetap mengikuti langkah mereka.


Fira, Lia, dan Gavin yang melihat berbagai macam makanan berbinar, Fira dan Lia juga sebenarnya sudah sangat lapar dan semakin lapar melihat lauk pauk di depannya. Dengan semangat mereka duduk dan mengambil nasi serta lauknya, tapi Fira seakan tersadar akan sesuatu kemudian melihat ke arah anaknya.


Fira menepuk jidatnya. "Sayang kamu mau makan pakai apa, hm?" Tanya Fira lembut.

__ADS_1


"Ayam goreng aja bun," jawab Gavin semangat.


"Sama sayur sop juga ya jangan ayam aja," tawar Fira yang diangguki Gavin.


Setelah mengambilkan Gavin makanannya baru ia mengambil untuk dirinya sendiri. Sedangkan Lia sudah makan lebih dulu tanpa menghiraukan mereka. Dave? Orang itu masih diam melihat mereka bertiga yang tanpa sungkan makan dengannya, Dave tersenyum tipis melihat itu.


"Kenapa gak makan?" Tanya Fira tanpa melihat orang yang di tanya.


"Ah iya ini mau makan," jawab Dave lalu mengambil nasi dan lainnya.


"Bunda bibi rasanya gak enak makan kayak gini," keluh Gavin.


Lia yang mengerti melihat setiap sudut siapa tau dia menemukan alas tapi tidak ada lalu dia menelisik lantai yang bersih. "Gak ada alas tapi lantai ini bersih sepertinya baru selesai di pell. Ayo kak," ujar Lia membawa piringnya yang nasinya tinggal setengah kemudian duduk bersila di lantai.


Fira yang baru paham melakukan hal yang sama seperti Lia sembari membawa piringnya Gavin. Sedangkan, Dave memandang mereka bertiga bingung. "Kalian ngapain duduk di lantai gitu?" Tanyanya bingung.


"Kita gak terbiasa makan pakai kursi kaya gitu kak karena gak ada alas jadi kita dudum di lantai aja," jawab Lia santai kembali memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. Fira hanya mengangguk menyutujui apa yang dikatakan Lia.


Dave yang tidak ingin makan sendirian di atas mengikuti mereka bertiga yang makan duduk di lantai tanpa alas.


Kaya beda sih rasanya, lebih enak. Batin Dave.


***


Sudah tiga hari semenjak kejadian itu dan selama itu juga Dave dan Gavin jadi tidak canggung lagi, begitu juga dengan Gavin yang tidak sedatar dulu dengan ayahnya. Tidak malu-malu Gavin sering kali memeluk Dave dan sering ngadu jika temannya ada yang menyebalkan menurut dia.


"Kok sepi ma? Abang mana?" Tanya Stefi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru vila.


"Selamat pagi pak, bu," salam mandor yang mengerjakan vila tersebut.


Larry mengangguk. "Bagaimana?"


"Sudah rampung semua pak, tinggal di cat dan taman dekat kolam di tanamkan beberapa pohon dan bunga serta beberapa pelaratan dan perlengkapan vila yang akan datang besok pak sesuai permintaan nak Dave dan bu Sonya," jelas mandor.


"Bagus, kalian menyelesaikannya lebih awal dari target yang sudah di tentukan. Bonusnya saya teransfer nanti," ujar Larry membuat mandor itu sangat senang bukan maen.


"Terima kasih pak, kalau begitu saya ke belakang dulu bantu yang lain," pamit mandor itu.


Larry kembali melihat-lihat setiap sudut vila tersebut. Sedangkan Sonya dan Stefi sudah berada di kamar Dave yang ternyata masih asik dengan mimpinya.


"ABANG BANGUN!" Teriak Stefi membuat Dave seketika terlonjat duduk dan hal itu membuat Stefi dan Sonya tertawa. "Bagus dek," cetus Sonya.


Setelah semua nyawanya terkumpul dan tersadar, Dave menatap tajam kedua perempuan beda usia tersebut. "Puas hah?" Sentak Dave kesal.


"Belum bang hahaa," cetus Stefi tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Sudah-sudah ayo kita makan," ujar Sonya menengahi.


Dave mendengus tapi tetap berdiri ke kamar mandi mencuci wajahnya kemudian menyusul ke bawah.


"Kamu sejak kapan pekerjakan dua art?" Tanya Larry setelah Dave duduk di kursinya.


"Semenjak di tinggal kalian," jawab Dave santai.


"Lalu bagaimana dengan cucu mama?" Tanya Sonya penasaran.


"Baik," jawab Dave singkat.


"Heh bukan gitu maksud mama huh," sebal Sonya. "Maksud mama bagaimana sudah bisa di ajak tinggal bareng gak?" Tanyanya lagi.


Dave mengangguk. "Sudah. Gavin sudah luluh sama Dave, malah setiap hari dia main kesini," jelas Dave membuat Larry dan Sonya senang.


"Kalian lagi bahas apa?" Tanya Stefi menatap mereka satu persatu.


"Bocah gak perlu tau," cetus Dave yang masih kesal dengan adiknya.


"Assalamualaikum daddy," salam Gavin yang baru masuk.


"Waalaikumsalam," balas mereka berempat.


"Sini Vin. Kamu sudah makan belum?" Tanya Dave lembut.


Gavin merapat. "Sudah dad, sama bunda dan bibi tadi di rumah," jawab Gavin.


"Avin sudah izin belum sama bunda kalau mau kesini tadi?" Tanya Dave yang diangguki Gavin. "Bunda gak marah?" Gavin menggeleng. "Malah bunda bilang, hati-hati jangan repotin daddy nya, gitu," jawab Gavin menirukan ucapan Fira tadi sebelum dia ke vila.


Sonya dan Larry tersenyum haru melihat interaksi mereka berdua. "Hai cucu oma, sini sini," ujar Sonya tersenyum melambaikan tangannya untuk Gavin mendekatinya.


Gavin tidak mendekat ia malah memeluk Dave erat dan menyembunyikan wajahnya di badan Dave, ia takut keluarga ayahnya itu tidak suka dengan kehadirannya. "Gak papa sayang, mereka oma sama opa kamu. Salim gih," titah Dave.


Gavin menatap manik mata Dave dan diangguki Dave. Gavin perlahan mendekat kearah Sonya dan meraih tangannya kemudian menciumnya. Sonya memandang cucunya sendu, begitu juga dengan Larry.


"Hai anak kecil," ujar Stefi tersenyum manis. Jujur saja, dia masih bingung dengan situasi sekarang tapi ia tak ambil pusing dan melanjutkan makannya.


"Siapa nama kamu?" Tanya Larry lembut.


"Ga-gavin," jawab Gavin terbata-bata setelahnya ia berlari ke arah Dave lalu memeluknya.


...***...


Mungkin kalian akan merasa kurang srek di part ini tapi percayalah aku sudah atur alurnya sedemikian rupa supaya tidak terlalu lurus-lurus aja.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!


Jangan lupa juga buat follow ig aku @thisisririnn


__ADS_2