Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Tampan sekali Suamimu


__ADS_3

"Wah suami kamu tampan sekali Nay, kamu hebat bisa punya suami setampan dia," celetuk kakak perempuan Nayla, ia terlihat bahagia saat melihat adik bungsunya itu sudah menikah.


Berbeda dengan kakak laki-lakinya, yang terlihat tidak bersahabat, Nayla sudah terbiasa dengan sikap Kakak laki-lakinya itu.


"Mbak Arumi bisa aja," Nayla menunduk malu, ia berfikir apakah kakaknya tidak tahu jika ia menikah karena menggantikan pengantin wanitanya yang entah pergi kemana.


Farhan hanya tersenyum ia tidak menanggapi ucapan Kakak iparnya.


"Kenalkan Mas, ini Mbak Arumi, itu Mas Sandy suami Mbak Arumi, itu Mas Enggar dan yang tadi itu Mbak Murni istri Mas Enggar," Nayla memperkenalkan semua Kakaknya.


"Salam kenal semua saya Farhan," ucap Farhan sambil tersenyum, semua membalas senyuman Farhan kecuali Enggar yang terlihat enggan untuk tersenyum.


Farhan melihat ketidak sukaan di wajah kakak iparnya, ia pun tidak mau terlalu lama berada di sana dengan suasana yang tidak mengenakkan seperti itu. Padahal ini kali pertamanya ia masuk ke rumah itu setelah resmi menjadi keluarga tersebut, tapi justru sambutan Kakak ipar laki-lakinya membuat ia tidak nyaman.


"Maaf Pa, saya sama Nayla kesini mau ambil pakain dan buku-buku Nayla, karena hari ini juga kami akan pindah ke rumah baru, jadi kami tidak bisa terlalu lama di sini," jelas Farhan pada mertuanya, karena ia sudah tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka.


Aditama mengangguk, "Iya saya mengerti Nak Farhan, sekarang Nayla tanggung jawabmu, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui permintaanmu," Aditama menghela nafas sebenatar, "Silahkan kalian langsung ke kamar saja, bereskan baju Nayla, mungkin Bibik bisa membantunya," Aditama tahu, jika Farhan merasa tidak enak hati saat melihat putanya seperti tidak menyukai kehadiran Farhan. Bukan kehadiran Farhan, tapi kehadiran dua insan itu.


"Iya Pa, kami permisi dulu ya. Bibik enggak usah bantu biar aku sama mas Farhan aja yang beresin semuanya," ucap Nayla, ia melirik ke arah pembantunya yang membawakan minum untuk mereka berdua.


Nayla berdiri di susul oleh Farhan, mereka sama-sama naik ke lantai dua dimana letak kamar Nayla. Membuka pintu, setelah masuk Nayla langsung mengunci pintunya, ia tidak mau ada orang lain yang masuk kamarnya. Ia duduk di sisi ranjang, sedangkan Farhan masih berdiri di depan pintu sambil melihat sekeliling kamar Nayla.


"Mas, maaf ya atas sikap kakak laki-lakiku, dia memang seperti itu sejak dulu, berbeda sekali dengan Kak Arumi," Nayla sebenarnya juga tahu jika Farhan tidak enak hati dengan sikap Kakak iparnya.

__ADS_1


Farhan mendekat kearah Nayla, ia tidak duduk di tetapi justru melanjutkan langkahnya menuju jendela kamar itu, "Tidak masalah Nay, sekarang bereskan pakaianmu, setelah ini kita pergi," titahnya tanpa menatap wajah Nayla, "Kamu tidak keberatan kan? Apa mau kangen-kangenan sama kakak kamu dulu?" tanyanya saat Nayla tidak merespon ucapannya.


Nayla menggeleng, tentu saja Farhan tidak melihat karena memunggunginya, "Ia aku beresin pakaian dan buku-bukuku dulu, setelah ini kita pergi," putus Nayla.


Farhan tersenyum mendengar jawaban Nayla, ia bahagia karena Nayla menuruti ucapannya.


Nayla mulai membereskan pakaiannya kedalam koper tanpa memperdulikan Farhan yang sudah merebahkan diri di atas ranjang se enak hatinya, ia tahu suaminya itu lelah jiwa dan raganya, sudah lelah ditambah lagi dengan sikap kakaknya yang seperti itu, meski Farhan mengatakan 'tidak masalah' tapi ia tahu di dalam hati kecil suaminya ada kekecewaan yang terpendam.


Nayla sudah membereskan semua perlengkapan yang ia butuhkan, tidak semua pakaian ia bawa, menyisakan beberapa untuk di tinggal karena sudah pasti suatu saat ia akan menginap di rumah orang tuanya. Ia menoleh ke arah Farhan yang masih terelelap, tidak tega membangunkan lelaki itu, ia pun memilih untuk keluar kamar, menemui kakak-kakaknya sebentar.


Mereka masih terlihat berkumpul di ruang keluarga, tapi ia memilih untuk ke dapur terlebih dahulu, mengambil minum karena tenggorokannya yang terasa mengering.


Ternyata kakak perempuannya juga sedang berada di sana, entah membuat apa yang ia tahu sang kakak sedang melakukan sesuatu.


"Eh kamu Nay, ini mau buat puding untuk anak-anak," jawabnya menoleh sekilas ke arah Nayla yang duduk di depannya. "Suamimu?" tanyanya.


"Dia tertidur mbak." Menegak minum yang baru saja ia tuang ke dalam gelas, "Mbak Arumi sama Mas Enggar kesini di suruh Papa?" tanyanya karena mereka sejak tadi belum sempet ngobrol.


Arumi mengangguk, ia masih sibuk mengaduk-aduk adonan, "Iya, kemarin Papa bilang katanya kamu nikah, kami sempet marah kenapa Papa sama Mama enggak ngomong sejak awal kalau kamu mau nikah, tapi setelah Papa menjelaskan semuanya kami mengerti," beritahunya.


"Jadi Papa sudah cerita?" tanya Nayla lagi.


"Iya, Mbak salut sama kamu Nay, semoga pernikahan kalian langgeng ya, kalian bisa saling mencintai satu sama lain," tersenyum menatap Nayla, ia bangga pada adiknya itu.

__ADS_1


"Mbak Arumi bisa saja, tapi Mas Enggar?" tanyanya cemberut mengingat wajah Kakak laki-lakinya tadi seperti itu.


"Sudah, enggak usah pikirkan dia, kamu tahu sendiri sifatnya seperti itu sejak dulu." Menuangkan adonan ke loyang, "Kamu bilang sama suami kamu, enggak usah tanggepin sikap Enggar, dia memang seperti itu, dengan siapa pun," tambahnya.


Nayla mengangguk, lalu ia berdiri mendekati sang kakak, memeluknya dari belakang karena sang kakak masih sibuk dengan kegiatannya. Arumi tidak menolak dengan sikap manja sang adik, ia sudah terlalu biasa medapatkan perlakuan seperti itu, karena memang dia yang sering berkunjung ke rumah tersebut, berbeda dengan Enggak kakak laki-lakinya yang jarang sekali datang.


Arumi berbalik setelah menyelesaikan pekerjaannya, "Aku aja yang kakaknya bahkan kita sering bertemu tidak tahu seperti apa maunya Enggar," ucapnya karena ia tahu adik perempuannya itu selalu merasa terasingkan dengan sikap Enggar.


Nayla melepaskan dekapannya, "Jadi pengen nangis," air matanya menetes tapi langsung ia seka, duduk kembali di kursi yang tadi ia duduki, "Makanya aku mengagumi Mas Farhan dulu, karena dia sayang sama semua adik-adiknya, bahkan aku yang bukan adiknya saja bisa merasakan betapa dia menyayangiku sebagai adik," ia memang sering bercerita tentang Farhan pada Kakak perempuannya tersebut, ternyata orang yang ia kagumi selama ini justru menajdi suaminya.


"Dan kamu beruntung sekarang jadi istrinya," timpal sang Kakak ia tersenyum, lalu duduk di sisi Nayla.


Nayla mengangguk, "Iya meskipun tidak ada rasa cinta untuk saat ini," ucapnya lalu menatap sang Kakak karena teringat sesuatu, "Mbak Arumi dulu nikah sama Mas Sandy karena di jodohkan Uty kan? Cerita dong Kak gimana kalian bisa saling mencintai," ucap Nayla dengan semangat menggebu-gebu. "Apalagi kasus kita hampir sama kan? Mas Sandy dan Mbak Arumi sama-sama punya kekasih kan sebelum akhirnya menikah karena perjodohan?" tanyanya, ia makin penasaran dengan kisah sang Kakak.


Arumi mengangguk, "Iya, betapa bodohnya kami dulu Nay, kami sepakat untuk bercerai setelah satu tahun menikah karena masih menjalin hubungan dengan pacar-pacar kami, ternyata Tuhan berkehendak lain, aku hamil duluan sebelum waktu setahun tiba, padahal kami melakukan hubungan suami istri hanya sekali saat Mas Sandy pulang dalam keadaan mabuk," mengingat kisah cintanya dulu, "dan sejak saat itu kami memutuskan untuk menerima pernikahan kami karena ada anak yang harus kami jaga, entah sejak kapan kami jadi saling mencintai," tukasnya, lalu menatap Nayla dan memegang kedua tangannya.


"Nay, Tuhan sudah mentakdirkan kalian untuk bersatu meski dengan cara seperti ini, sekarang kamu harus berusahan mempertahankan rumah tangga kalian yang baru saja di mulai, berusahalah mencintai suamimu dan buat dia jatuh cinta padamu, Mbak yakin kamu pasti bisa. Apa pun yang terjadi kedepannya, teruslah berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kalian, semangat ya, Mbak akan selalu mendoakan," tutrnya, ia berfikir dengan pernikahan adiknya yang seperti itu, kedepannya pasti akan banyak rintangan yang akan mereka hadapi.


"Terimakasih Mbak, Mbak Arumi emang paling the best deh." Nayla kembali memeluk Arumi. Ia mengernyit saat ponselnya berbunyi, ada nama Farhan disana. "Sudah bangun rupanya. Mbak aku naik dulu ya, suamiku sudah bangun," ucapnya lalu berdiri meninggalkan sang Kakak tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.


Bersambung....


Jangan lupa like dan komennya yah.

__ADS_1


Masih ringan-ringan aja konfliknya, karena memang belum di mulai konflik. Sudah dua episode ya...


__ADS_2