
Setelah susah payah membangunkan sang istri yang memang sulit untuk di bangunkan, kini keduanya sudah berada di dalam mobil, bahkan mereka pergi tidak menunggu subuh tiba terlebih dahulu.
Farhan menoleh ke arah Nayla yang terlihat masih mengantuk, ia sebenarnya kasihan melihat gadis itu, ia juga sudah melarang Nayla untuk ikut, tapi gadis itu memaksa dan akhirnya mereka berangkat bersama.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di tempat tujuan, yaitu sebuah rumah sakit. Di mana sang adik sedang berjuang antara hidup dan mati, ya tadi Farhan dapat telfon dari sang Mama yang mengatakan kalau Icha akan melahirkan dan sudah berada di rumah sakit saat ini.
Tepat saat menginjakkan kaki di rumah sakit, adzan subuh berkumandang. Farhan memutuskan untuk sholat subuh terlebih dahulu, sedangkan Nayla ia memilih menemui mertuanya, meninggalkan Farhan di mushola.
Masuk ke ruangan khusus untuk persalinan, ia melihat ke dua mertuanya sedang berada di luar ruangan. Menghampiri, mencium punggung tangan keduanya.
"Farhan mana Nay?" sebelum Nayla bertanya pada mereka, sang Mama mertua lebih dulu bertanya.
"Ada Ma, sedang sholat subuh di mushola," jawab Nayla, dan di angguki oleh keduanya.
"Icha gimana Ma?" sejak tadi ia ingin sekali bertanya seperti itu.
Mama menghela nafas, "Dia harus di operasi, karena air ketuban sudah pecah sejak tadi, di tambah tekanan darahnya naik, pembukaan juga enggak nambah-nambah," menjeda ucapannya sejenak, "Rencana operasi habis subuh ini, sekarang di dalam sama Al," tambahnya.
Nayla terkejut mendengar ucapan Mama mertuanya, "Yang tenang ya Ma, Icha pasti bisa melewati ini semua," Nayla memeluk Mama mertuanya, ia tidak merasa canggung karena memang sering memeluk Mama dari sahabatnya itu yang sekarang jadi Mama mertuanya.
Sang Mama mengangguk, ia terus berdoa untuk keselamatan putri dan juga cucunya.
"Boleh aku masuk Ma?" tanya Nayla, saat ia sudah melepas pelukannya.
"Masuklah, Icha pasti menunggumu," Mama mempersilahkan Nayla masuk.
Nayla membuka pintu ruangan dengan amat pelan, setelah terbuka ia melangkah mendekati sahabatnya. Melihat Icha yang sedang meringis menahan sakit, Nayla jadi tidak tega melihatnya, ia membayangkan jika dirinya yang berada di posisi itu. Ia sadar dirinya pun akan mengalami hal yang sama suatu hari nanti.
"Nay," ucap Icha dengan suara bergetar menahan rasa sakit.
Nayla mendekat, setetes air bening lolos begitu saja tanpa permisi, "Cha, kamu pasti kuat," kata itu yang pertama kali terucap, ia mendekap sahabatnya itu dari sisi yang berlawanan dengan suami Icha.
Icha mengangguk, ia tersenyum dengan paksa.
"Eugh, sakit," Icha melengkuh ketika kontarksi kembali hadir. Ia bahkan terlihat mencengkaram lengan suaminya.
__ADS_1
Lagi-lagi Nayla tak kuasa menahan air matanya, ia kasihan melihat sahabatnya kesakitan.
Pintu terbuka, menampakkan Farhan di sana, ia mendekati adiknya, "Semua ibu merasakan hal yang sama saat akan melahirkan, jadi nikmati saja. Pas buatnya aja nikmat, kan? Kenapa pas mau ngeluarin harus nangis?" bukannya menyemangati sang adik Farhan malah mempermalukan adiknya.
Icha diam, ia tidak mau membalas ucapan sang Kakak, karena yang di katakan itu benar.
Netra Nayla membola menatap sang suami, bisa-bisanya suaminya itu mengatakan seperti itu, ia menarik Farhan menjauh dari Icha dan suaminya.
"Mas, jangan gitu, coba kamu bayangin kalau aku yang ada di posisi Icha," bisik Nayla tepat di telinga Farhan.
"Bagus dong, berarti kamu sudah siap," Farhan tersenyum sambil mengedipkan salah satu kelopak matanya.
Nayla tidak menggubris godaan Farhan, ia kembali menarik lengan suaminya itu, "Kami keluar dulu ya," ucap Nayla, menoleh ke arah duan insan itu sebentar lalu tersenyum.
Tanpa menunggu persetujuan dua insan itu, Nayla kembali membawa Farhan untuk keluar. Di luar sana tidak ada siapa pun, mungkin ke dua orang tua Farhan sedang melaksanakan sholat subuh.
Nayla duduk di kursi tunggu, Farhan pun menyusulnya duduk di sisi Nayla.
"Mas itu bisa-bisanya ngomong gitu, kasian kan Icha," Nayla menoleh ke arah sang suami, "Aku saja enggak kebayang akan seperti apa kalau berada di posisinya," tambahnya dengan wajah sendu.
"Tapi ucapankau benar, kan?"
"Mau merasakannya?" Farhan mengedipkan satu kelopak matanya.
"Ya pasti semua wanita akan merasakan seperti itu, aku pun pasti akan merasakan hal yang sama suatu saat nanti," jawab Nayla.
"Bukan itu," ternyata pertanyaan Farhan tidak mengarah ke sana.
Nayla mengernyitkan dahinya, "Lalu?" tanyanya.
"Produksi anak," ucap Farhan dengan berbisik di telinga Nayla.
Sontak netra Nayla membola, wajahnya berubah memerah karena malu, ucapan Farhan benar-benar fulgar di pendengarannya.
Bugh
__ADS_1
Nayla memukul lengan sang suami, lalu ia memalingkan wajahnya takut Farhan tahu jika wajahnya sudah memanas karena malu. Ia teringat kejadian sore itu, jika saja ia tidak sedang kedatangan tamu bulanan (kang kredit mungkinš¤£) mungkin ia sudah melepaskan mahkotanya pada sang suami.
Farhan terkekeh ia menyadari perubahan wajah Nayla, "Tapi sayangnya enggak bisa kalau sekarang ya," ucapnya dia buat seakan ia bersedih, "Enggak apa-apa aku akan tunggu waktu itu tiba," tambahnya, kini ia tersenyum, mengingat kejadian waktu itu.
Apa-apaan coba Farhan ini, adiknya sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya, ia justru bahagia menggoda istrinya. Entah apa yang ia fikirkan.
Nayla diam, ia belum menatap wajah Farhan.
Farhan tahu istrinya itu masih malu-malu jika membahas masalah seperti itu.
"Nay," Farhan menyentuh pundak Nayla yang belum mau menghadapnya.
Nayla pun menolah, "Iya Mas?"
"Kamu kuliah jam berapa hari ini?" tanya Farhan mengganti topik, karena sepertinya Nayla masih enggan membahas masalah tadi.
"Pagi Mas, sekitar jam delapan," jawab Nayla santai.
Farhan mengangguk, "Masih ujian?" tanyanya lagi.
"Iya Mas, masih,"
"Yaudah, setelah Mama dan Papa kembali kita pulang aja, nanti ke sini lagi, biar Mama sama Papa yang nungguin Icha," putus Farhan, ia tidak mau Nayla terlambat kuliah.
"Tap ...." Ucapan Nayla terhenti, karena Farhan lebih dulu menyela.
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus kuliah apalagi ini ujian. Icha akan baik-baik saja, kamu doakan aja untuk kebaikan Icha dan bayinya," tutur Farhan.
Nayla mengangguk, "Iya Mas, janji ya nanti setelah aku pulang kita ke sini lagi," timpal Nayla.
"Iya, iya aku janji, kita akan ke sini lagi. Nanti kuliah biar aku antar, nanti pulangnya aku jemput, kita langsung ke sini," ucap Farhan.
Nayla mengangguk, ia menyetujui ucapan Farhan.
Tak berapa lama kedua orang tua Icha pun datang, mereka baru saja melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan alasan Nayla harus kuliah pagi Farhan dan Nayla pun meninggalkan rumah sakit.
Bersambung.....