
Setelah mempertimbangkan beberapa negara yang ingin ia kunjungi, Nayla pun memutuskan untuk berkunjung ke Prancis, negara yang terkenal akan menara Eiffelnya itu. Menara Eiffel adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sebenarnya Nayla sejak dulu ingin sekali ke negara tersebut, apalagi dulu saat ia mengetahui ada seorang warga negara itu viral karena menikah dengan boneka kesayangannya. Membuat ia makin bertambah penasaran akan negara tersebut.
Negara yang menganut paham sekularisme atau lebih dikenal dengan laicite di Prancis. Secara singkat, sekularisme merupakan sebuah prinsip yang memisahkan antara urusan kenegaraan dengan urusan agama. Prinsip ini secara tegas memisahkan urusan kenegaraan dengan segala hal yang berurusan dengan keagamaan. Tempat ibadah, pembiayaan operasional sebuah agama, dan apapun yang berkaitan dengan agama tidak akan dikelola negara. (Sedikit pengetahuan)
Selain alasan penasaran dengan menara Eiffel, ternyata yang Nayla tahu suaminya itu tidak memiliki rekan bisnis atau saham di negara tersebut, dan sudah di pastikan tidak akan berkunjung ke negara itu jika tidak berlibur, berbeda dengan negara Paman Sam, keluarga Farhan ternyata memiliki beberapa saham di negara tersebut dan kemungkinan terkecilnya suatu saat Farhan akan berkunjung di negara itu, dan ia akan mengekorinya.
Tepat hari ini, mereka akan berangkan ke negara yang terkenal dengan menaranya tersebut. Mereka ingin pergi honymoon tetapi seperti akan pergi haji saja, lihatlah mobil mereka di iringi oleh tiga mobil di belakangnya saat akan menuju bandara. Tentu saja bisa menebak tiga mobil di belakang mobil mereka itu milik siapa? Iya tiga mobil itu milik ketiga keluarga yang kini telah bersatu karena adanya pernikahan antara Nayla dan Farhan.
"Kalian hati-hati ya di sana, kami harap nanti pulang membawa kabar baik," ucap Mama Adela da diangguki oleh ke dua Mama yang lain.
Kini mereka sudah berada di bandara internasional, dan akan melepas kepergian Nayla dan Farhan.
"Doakan aja ya Ma, semoga apa yang kalian harapkan bisa segera terpenuhi," Nayla meminta restu pada para orang tua, karena dirinya juga mengharapkan kehadiran malaikat kecil dalam kehidupan mereka.
"Yaudah, kami harus masuk ke dalam pesawat dulu, sebentar lagi pesawat akan take off. Doakan kami selamat sampai tujuan dan kembali pun dengan selamat," kini Farhan yang meminta doa pada para orang tua.
Orang tua mereka pun mengamini.
Setelah itu, dua sejoli itu menyalami satu persatu Papa dan Mamanya, lalu mereka berdua masuk ke dalam pesawat sambil melambaikan tangan ke arah mereka sebelum benar-benar masuk ke dalam pesawat.
¤¤¤
Perjalanan yang memakan waktu sekitar delapan belas jam itu, membuat Nayla sedikit mabuk perjalanan, pasalnya ia tidak pernah naik pesawat selama itu, paling lama hanya sekitar dua jaman saja. Mereka kini sudah berada di bandara Paris Charles de Gaulle, perbedaan waktu Indonesia dengan Paris yang hanya enam jam membuat mereka sampai di sana pagi hari sekitar pukul depalan pagi waktu Paris.
Farhan memilih untuk duduk di kursi tunggu di dalam bandara itu terlebih dahulu, karena merasa kasihan dengan yang istri yang terlihat tidak berdaya.
"Minum dulu sayang," Farhan memberikan sebotol air minenar yang baru saja ia beli di dalam bandara. Yang harganya bisa lima kali lipat dari harga air mineral di supermarket. (Pengalaman🤭)
Nayla menerima air mineral tersebut dan menegaknya sampai habis tak tersisa. Setelah minum tubuhnya terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Gimana masih pusing?" tanya Farhan.
"Sedikit Mas, ayo kita langsung ke hotel saja, aku pengen tidur," ucap Nayla, padahal selama di dalam pesawat, ia lebih banyak tidur.
__ADS_1
"Yaudah ayo,"
Mereka pun keluar dari bandara mencari taksi yang yang memang bertugas di bandara tersebut. Setelah menemukan taksi, mereka pun menaiki taksi tersebut menuju hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya. Hotel yang letaknya tidak jauh dari menara Eiffel seperti permintaan Nayla.
Tiga puluh menit berlalu, mereka pun sampai di hotel. Supir taksi terlihat menurunkan barang-barang mereka, setelah selesai Farhan memberi beberapa lembar uang Euro. Mereka sudah lebih dulu menukarkan rupiah ke Euro saat masih di Indonesia.
Farhan meminta petugas hotel untuk membawa barang-barang mereka, memang hanya ada dua koper berukuran kecil dan satunya lagi berukuran sedang, tetapi Farhan memilih bantuan petugas hotel karena ia juga merasa lelah karena perjalanan yang begitu lama dan menguras banyak tenaga.
Farhan menuntun Nayla untuk masuk ke kamar hotel.
"Kalau mau tidur, tidurlah sayang. Mas mau mandi dulu," ucap Farhan setelah ia menuntun Nayla untuk duduk di sisi ranjang. Mengecup pipi Nayla sebelum ia beranjak dari sana.
Nayla mengangguk, ia melepas sepatunya dan naik ke atas ranjang, merrbahkan dirinya di sana.
"Oh iya, mau sarapan di sini apa kita cari ke luar?" tanya Farhan, sebenarnya dirinya menginginkan untuk sarapan di dalam hotel saja, tetapi ia harus minta persetujuan Nayla.
"Di sini aja Mas," jawab Nayla tanpa menoleh dan di angguki oleh Farhan.
Waktu sudah menunjukkan hapir setengah sepuluh, tetapi Nayla belum juga bangun, Farhan ingin membangunkan istrinya tetapi merasa kasihan, di sisi lain ia juga kasihan karena Nayla belum makan sejak masih di dalam pesawat. Akhirnya Farhan memutuskan untuk membangunkan istrinya.
Nayla tampak menggeliat, lalu ia membuka matanya perlahan, "Jam berapa ini Mas?" tanyanya.
"Hampir setengah sepuluh, sarapan dulu ya, nanti kalau mau tidur lagi setelah makan. Biar kamu enggak sakit," tutur Farhan sambil membenarkan tatanan rambut Nayla yang tampak berantakan.
Nayla mengangguk, karena memang dirinya juga sudah sangat lapar.
"Aku cuci muka dulu Mas," ucapnya lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Setelah ke luar dari kamar mandi, Nayla segera mendekati sang suami yang sudah duduk di sofa. Terlihat di atas meja ada berbagai macam makanan yang Nayla tidak tahu nama makanan-makanan itu, karena ia baru pertama kali melihatnya.
"Ini sarapan kita Mas?" tanya Nayla sambil melihat berbagai macam makanan tersebut.
"Iya, kenapa kamu enggak mau makan ini?" tanya Farhan, "Aku tadi minta makanan halal dari hotel ini, dan ini lah makanan yang ada, coba aja ya, siapa tahu enak. Mas juga belum mencicipinya," ucap Farhan, karena dirinya juga baru kali ini makan makanan Prancis tersebut.
__ADS_1
Nayla pun mengangguk, lalu duduk di sisi sang suami.
Farhan lebih dahulu mencicipi makanan yang terlihat menarik, "Lumayan sih, ayo kamu juga harus coba," ucap Farhan lalu menyuapi Nayla dengan makanan yang baru saja ia makan.
Mereka pun menikmati sarapan kesiangan mereka, dengan mencicipi satu persatu makanan tersebut, sampai semuanya habis tak tersisa.
"Alhamdulillah, meskipun makanannya lebih enak makanan Indonesia yang penting bisa mengisi perut yang lapar," ucap Nayla setelah menyelesaikan makannya.
"Iya, makanan Indonesia itu tetep yang paling enak," timpal Farhan, padahal dirinya menyukai makanan negara lain.
"Bukannya Mas suka makanan Jepang ya?" tanya Nayla, ia baru menyadari setelah hidup dengan Farhan suaminya itu tidak pernah makan makanan dari negeri sakura tersebut.
"Iya dulu, tapi sekarang udah enggak karena kamu enggak suka, aku akan berusaha menyukai apapun yang kamu suka," timpal Farhan sambil tersenyum.
"Oh aku tahu, Mas suka makanan itu karena mantan Mas yang juga suka makanan itu ya? Namanya plin plan itu," dengus Nayla.
"Bukan begitu sayang, Mas memang suka makanan jepang, tapi kamu enggak suka jadi Mas males untuk makan sesuatu yang enggak kamu suka, karena Mas ingin selalu berbagi sesuatu sama kamu, supaya kita bisa merasakan hal yang sama. Seperti kehidupan pun, kita akan melalui ini semua bersama, merasakan kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama pula," ucap Farhan sambil memeluk istrinya dari samping.
Nayla yang tadinya tidak menatap Farhan, setelah mendengar penuturan suaminya ia pun menoleh ke arah Farhan, "Makasih ya Mas, kamu begitu baik dan mau ngertiin aku, jadi makin sayang dan cinta sama suamiku ini," timpal Nayla lalu ia mendaratkan bibirnya di pipi sang suami. Setelah itu ia pun memeluk erat tubuh Farhan.
"Iya, Mas juga berterimakasih karena kamu mau menemani dan melengkapi hidupku," timpal Farhan membalas pelaukan Nayla.
"Geli Mas," ucap Nayla saat Farhan menciumi leher berpindah ke bahu Nayla.
"Kamu bau asem sayang," ucap Farhan sambil terkekeh.
Nayla melepas pelukannya, ia terlihat mengerucutkan bibirnya bak itik, "Nyebelin, asem-asem juga kamu ciumi dari tadi," ucapnya, lalu ia beranjak dari duduknya.
"Mau kemana sayang?" tanya Farhan.
"Mandi, biar wangi dan makin di sayang sama suami," ucapnya sambil berlalu meninggalkan Farhan yang masih duduk di sofa.
Farhan tersenyum mendengar ucapan Nayla, ia semakin kagum dengan istrinya itu yang tidak mudah marah, hanya sesekali berpura-pura ngambek.
__ADS_1
Bersambung....