
Farhan mendengar pintu terbuka, ia mendorong tubuh Sherena dengan kasar. Terkejut saat tahu siapa yang datang, ia pun menghampiri dua orang yang masuk ke dalam ruangannya.
Sedangkan Sherena tersenyum saat tahu siapa yang datang. Ia berfikir sebentar lagi akan menonton pertunjukan seru.
Tak di sangka dan tak terduga, hal yang terjadi
Plak
Satu tamparan meluncur di pipi mulus seseorang.
Farhan yang menejamkan mata karena salah seorang dari dua orang yang datang itu terlihat akan melayangkan sebuah tamparan, ia kira dirinya yang akan di tampar. Tapi ia tak merasakan apa-apa, bahkan setelah mendengar suara telapak tangan membentur kulit.
Sedangkan Sherena yang baru saja mendapatkan tamparan dari Nayla terkejut karena ia mengira Nayla akan menampar Farhan. Ia mengepalkan tangannya, segera melayangkan tangannya untuk membalas tamparan Nayla. Saat akan membalas tamparan itu tangannya malayang bahkan tak sampai menyentuh kulit wajah Nayla, karena Rita menghentikan tangan Sherena sebelum menyentuh pipi Nayla.
Ya, yang datang adalah Nayla dan Rita. Ketika Nayla akan masuk ke dalam ruangan Farhan, Rita mencoba mencegah, tetapi ia kalah cepat karena Nayla sudah masuk, ia pun mengikuti Nayla masuk ke dalam ruangan Farhan, takut jika terjadi sesuatu di dalam ruangan itu.
"Kurang ajar kamu! Berani-beraninya nampar aku!" bentak Sherena.
"Kamu yang kurang ajar! Berani-beraninya minta di nikahin sama suamiku, apa kamu lupa, kamu telah mencampakannya, dan kini kamu justru memintanya untuk menikahimu! Apa kamu tidak malu? Aku enggak akan biarkan itu terjadi, aku enggak rela berbagi suami!" bentak Nayla tak mau kalah.
"Kamu kira aku wanita lemah, yang akan menangis ketika suaminya di peluk wanita lain? Aku bukan pemain sinetron dengan peran protagonis yang mau di injak-injak bahkan selalu tersakiti. Aku enggak akan biarkan kamu merebut suamiku, meskipun kalian pernah saling mencintai di masa lalu. Ingat itu cuma MASA LALU yang sudah terlewatkan dan tak akan terulang lagi!" ucap Nayla dengan nada masih sedikit meninggi. "Sekarang akulah masa depan Mas Farhan!" tambahnya.
Ketiga orang yang mendengar itu seakan tidak percaya dengan sikap Nayla yang seberani itu, bahkan Farhan pun tak menyangka jika istrinya ternyata bukan wanita lemah yang mudah di tindas dan di sakiti.
Farhan bergeming, ia bingung harus berbuat apa? Jika mencegah Nayla, ia takut istrinya akan merajuk, jika mencegah Sherena, ia juga takut Nayla salah faham.
Sherena tersenyum sinis, "Farhan cintanya cuma sama aku, dia tidak mencintaimu, ingat itu. Dia menikah denganmu hanya untuk menutupi rasa malu keluarganya, dia tidak mungkin cinta sama kamu," Sherena masih tersulut emosi.
__ADS_1
Nayla pun membalas senyuman Sherena tak kalah sinis, "Apa kamu bilang? Aku akan buktikan kalau dia sudah melupakanmu," ucap Nayla nadanya sudah sedikit merendah.
Nayla mendekati suaminya, lalu ia menarik paksa tengkuk Farhan. Tanpa rasa malu dan sungkan, ia pun melahap bibir suaminya, tentunya Farhan membalas ciuman Nayla yang begitu brutal, bahkan Nayla belum pernah sebrutal itu saat bercumbu. Mungkin karena emosi wanita itu yang masih memuncak.
Keduanya menikmati cumbuan mereka, tanpa menghiraukan dua orang yang ada di sana. Bahkan Farhan sudah memeluk tubuh Nayla dengan erat, sedangkan Nayla mengalungkan kedua tangannya di leher Farhan. Sherena dan Rita bisa mendengar jelas jika, pasangan suami istri itu saling bertukar saliva, dan menikmati cumbuan mereka.
Sherena mengepalkan tangannya, "Lihat saja, akau akan membalasmu," ucapnya lalu menyambar tas yang ada di atas sofa, berjalan keluar ruangan Farhan, menutup pintu dengan keras.
Brak
Rita pun ikut keluar ruangan Farhan, karena merasa ia hanya jadi obat nyamuk di sana.
Setelah ke duanya keluar, Nayla pun mendorong tubuh Farhan supaya melepaskan cumbuan mereka, lalu ia duduk di sofa meninggalkan Farhan yang masih mematung. Farhan mengernyitkan dahi, bingung dengan sikap Nayla.
"Kenapa di lepas?" tanyanya.
Farhan mendekati Nayla, ia duduk di sisi istrinya yang terlihat sedikit kesal. Memeluk wanitanya dengan erat. Tetapi Nayla meronta mencoba melepaskan pelukannya.
"Aku masih ngambek sama kamu Mas, bisa-bisanya diem aja pas di peluk wanita lain, aku cemburu Mas," ucap Nayla, masih mencoba melepaskan pelukan Farhan.
"Sayang, maaf. Aku tadi berusaha melepaskan pelukan dia, tapi kamu keburu masuk saat aku belum lepas dari pelukan wanita itu," ucap Farhan lembut, ia akan mencium pipi Nayla, tetai Nayla selalu menghalanginya.
"Oh, jadi kalau aku enggak datang masih mau kangen-kangenan, terus peluk-pelukan gitu?" Nayla masih merajuk.
"Enggak sayang, percaya sama aku. Cuma istriku yang aku cintai, aku hanya cinta sama kamu sayang, percayalah," ucap Farhan masih dengan kelembutan.
Nayla menatap wajah Farhan, "Kamu bener-bener sudah tidak mencintai mantanmu itu, kan Mas? Jawab jujur," Nayla sepertinya sudah tidak dalam keadaan emosi, karena tutur katanya kembali lembut.
__ADS_1
"Bener sayang, aku cintanya cuma cinta sama kamu. Mungkin dulu aku suka sama dia, tapi sekarang enggak. Seperti yang kamu katakan tadi, dia cuma masa laluku, dan kamu masa depanku, kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku, dan kita akan hidup bersama hingga maut memisahkan kita," tutur Farhan, ia memang sudah tidak ada rasa sedikit pun dengan mantan kekasihnya.
Nayla mendengar ucapan Farhan yang tulus dari hati itu, ia terharu lalu menenggelamkan wajahnga di dada sang suami, mencari kenyamanan di sana. Sebenarnya ia percaya sama Farhan, tetapi ia ingin melihat kesungguhan Farhan padanya.
"Mas jangan mau di peluk-peluk lagi kaya tadi, cuma aku yang boleh peluk Mas," ucap Nayla dengan manja.
"Iya sayang, meluk wanita lain dengan sengaja kan dosa, berbeda jika meluk istri, justru dapat pahala," tutur Farhan.
"Terus Mas tadi mau di peluk dia, dosa berarti,"
"Sayang, Mas kan udah bilang, dia yang main peluk-peluk tanpa ijin, dan Mas mau lepasin pelukan itu, jadi itu bukan keinginan Mas,"
"Tapi seneng kan?" tanya Nayla, ia menatap wajah Farhan yang menunduk menatapnya juga.
"Enggak sayang, sudah ya enggak usah bahas itu," ucap Farhan, ia tidak mau membahas masalah tadi terlalu dalam, karena hanya akan menimbulkan perdebatan diantara keduanya. Lalu Farhan mengecup sekilas bibir Nayla.
"Sayang, kamu kok bisa tiba-tiba datang ke sini kenapa?" tanya Farhan.
"Oh, jadi enggak seneng aku datang, masih mau berlama-lama sama mantan berdua di sini?" bukanya menjawab, Nayla justru balik bertanya dan menuduh Farhan yang tidak-tidak.
Farhan menghela nafas, "Aku seneng banget kamu datang tepat waktu, aku males meladeni dia. Aku cuma heran aja, kamu kan enggak enak badan bukannya istirahat di rumah malah nyusulin aku," tutur Farhan, ia tak mau tersulut emosi dengan tuduhan Nayla.
"Aku tadi enggak tau kenapa rasanya pengen nyamperin kamu ke sini, terus pas aku dah jalan, Icha nelfon aku, katanya Al liat mantan kamu itu ada di depan kantor," tutur Nayla dengan lembut.
Farhan mengangguk, "Makasih ya sayang, kamu percaya sama aku," ucapnya lalu ia kembali mencium bibir Nayla, sepertinya Farhan menginginkan lebih.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Bersambung....