Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Kangen Sama Kamu


__ADS_3

Sudah lima hari dari kepergian Farhan ke luar kota yang artinya hari ini adalah hari jum'at, selama itu pula keduanya sering memberi kabar tiap satu jam sekali. Nayla pun masih menginap di rumah orang tuanya.


Hari ini setelah pulang dari kampus, Nayla sengaja istirahat karena merasakan lelah, apalagi ia sedang datang bulan dan itu membuat aktifitasnya sedikit terhambat karena rasa malas yang selalu menyerang saat tamu bulanan itu datang. Ia memilih untuk tidur siang setelah pulang dari kampus.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Suara bel rumah berbunyi, Papa Nayla yang baru saja memasuki rumah setelah pulang sholat jum'at itu pun langsung membukakan pintu ketika mendengar bel berbunyi.


"Nak Farhan, katanya Nayla pulangnya besok kalo enggak lusa, kok ini sudah pulang?" tanya Aditama pada menantunya itu.


Farhan menyalami Papa mertuanya, "Iya Pa, kebetulan kerjaan sudah selesai, jadi pulang lebih awal," jawab Farhan.


Keduanya memasuki rumah tersebut, di sambut oleh Mama Nayla, "Nak Farhan, sudah kembali ternyata," ucap sang Mama mertua.


Farhan tersenyum lalu ia mengangguk, tak lupa ia pun menyalami Mama mertuanya, "Iya Ma. Nayla di sini kan? Soalnya tadi saya pulang dulu tapi ternyata dia tidak di rumah," papar Farhan, ia memang sudah pulang ke rumah terlebih dahulu, setelah pulang sholat jum'at ia baru menyusul sang istri di rumahnya.


"Iya, dia sedang tidur siang, susul aja ke kamarnya," titah sang Mama mertua.


Farhan mengangguk, lalu ia berpamitan untuk menemui Nayla. Ia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya pada Nayla, mau buat suprise.


Farhan membuka puntu kamar, ia melihat Nayla yang sedang terlelap memunggunginya. Setelah menutup pintu kamar ia pun menyusul Nayla naik ke atas ranjang, ikut berbaring di sisi gadis itu. Ia akui memang dirinya juga lelah setelah perjalanan dari luar kota tadi belum sempat istirahat.


Farhan merapatkan tubuhnya pada Nayla, ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, ia rindu dengan gadis itu, lima hari tidak bertemu membuat ia merasakan ada yang kurang dalam hidupnya. Mengecupi puncak kepala Nayla, beralih ke tengkuk gadis itu, tapi sama sekali Nayla tidak terusik, ia tetap terlelap dalam tidurnya. Farhan pun memutuskan untuk ikut memejamkan mata.

__ADS_1


¤¤¤


Sinar matahari sudah sedikit bergeser ke arah barat, menandakan hari sudah mulai sore. Nayla membuaka matanya, ia merasakan ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Terkejut saat ada sebuah tangan memeluk pinggannya, ia menoleh ke belakang ada seseorang yang tidur di sampingnya, tapi belum melihat siapa orang itu. Dengan kecepatan kilat ia melepas tangan yang bertengger di pinggangnya, tapi sayang tangan itu justru semakin mempererat pelukannya.


"Sebentar lagi," gumam orang itu, tentu saja Nayla mendengarnya, ia faham suara milik siapa itu.


"Mas Farhan?" ucap Nayla, "Aku mungkin mimpi." Menepuk pipinya ternyata sakit. "Enggak mimpi, berarti ini beneran Mas Farhan, sejak kapan dia ada di sini?" Nayla bertanya-tanya sendiri. Ia tersenyum, orang yang ia rindukan sudah memeluknya tanpa ia sadari.


Nayla membalikkan badan, kini ia bisa melihat jelas wajah Farhan yang masih terlelap. Tersenyum melihat wajah tampan yang selama lima hari ini tidak ia lihat secara langsung. Dengan keberanian penuh ia nekat mengecup pipi Farhan, sontak sang empunya membuka mata, Farhan terkejut dengan keberanian Nayla, tapi ia bahagia Nayla seperti itu.


"Kenapa hanya satu aja? Yang satunya enggak? Entar ngiri gimana?" tanya Farhan, ia bisa melihat dengan jelas wajah Nayla yang sudah memerah. Farhan menunjukkan jarinya pada pipi kanannya.


Entah punya keberanian dari mana, gadis itu mendaratkan kecupan keduanya di sana.


"Terimakasih, salam penyambutan yang luar biasa," ucap Farhan, ia tersenyum kearah Nayla.


Nayla mengangguk dan membalas senyuman Farhan. "Aku kangen sama kamu Mas," ucapnya lalu menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


Nayla mengangguk dan tersenyum manis.


Farhan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nayla, hingga Nayla bisa merasakan hembusan nafas Farhan. Jatung Nayla berdegup lebih kencang, begitu pun dengan Farhan, Nayla bisa merasakannya. Entah kenapa ia memejamkan mata saat hembusan nafas Farhan semakin terasa menyapu kulit wajahnya.


Cup


Farhan mengecup bibir yang beberapa hari ini ingin ia nikmati, mellumattnya dengan lembut. Merasakan betapa manisnya benda kenyal berwarna pink milik istrinya itu.


Untuk pertama Nayla diam dan tidak membalas lummattan itu, tapi lama kelamaan ia pun membalasnya, meski masih kaku karena ini pengalaman pertama untuk keduanya.

__ADS_1


Keduanya melepaskan pagutan tersebut setelah merasakan oksigen mulai menipis, meraup oksigen sebanyak-banyaknya hingga nafas keduanya terlihat terengah-engah.


"Aku juga kangen sayang," ucap Farhan, ia mengelap bibir Nayla dengan ibu jarinya.


Nayla terkejut mendengar Farhan memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Pikirannya melayang jauh, apakah secepat itu Farhan sudah mulai mencintainya, atau ia mengatakan itu tanpa sadar. Saat pikirannya melanglang buana, ia kembali terkejut karena Farhan mendaratkan kembali bibirnya ke bibir Nayla. Dan adegan beberapa detik yang lalu pun kembali terjadi.


Entah sejak kapan Nayla tidak menyadari jika Farhan sudah berada di atas tubuhnya. Farhan melepaskan bibirnya dari bibir Nayla, ia mendaratkan bibirnya di ceruk leher Nayla, membuat beberapa lukisan disana. Nayla pun menikmatinya, karena tubuhnya sudah memanas entah sejak kapan ia pun tidak menyadarinya.


Tanpa terasa ternyata bibir sang suami sudah berada di area buah pepaya miliknya. Persekian detik Nayla tersadar, ia mendorong kepala Farhan dari dadanya.


"Kenapa?" tanya Farhan, ia sedikit kecewa dengan penolakan dari Nayla.


"Maaf Mas, cukup sampai sini, aku lagi kedatangan tamu," jawab Nayla, ia baru teringat jika dirinya sedang kedatangan tamu bulanan.


Farhan mengernyit, 'kedatangan tamu' memangnya kenapa jika ada tamu, pikirnya.


"Aku lagi halangan Mas," seakan tahu apa yang ada di pikiran Farhan.


Farhan menghela nafas panjang, ia kembali merebahkan dirinya di sisi Nayla.


"Maaf ya Mas," ucap Nayla, ia merasa tidak enak dengan sang suami, tapi mau bagaimana lagi.


Farhan yang tadinya terlentang, kini menghadap ke arah Nayla, ia tersenyum pada sang istri, "Enggak masalah, kita bisa coba lain waktu," mengecup pipi Nayla sekilas, "Aku kira kamu belum siap melakukan itu, aku minta maaf kalau kesannya terburu-buru," tambahnya, ia tidak tahu kenapa tadi bisa melakukan hal itu, padahal niatnya tadi hanya ingin merasakan bibir pink milik sang istri, tapi nyatanya ia berbuat lebih.


Nayla menggeleng, "Itu hak kamu Mas dan aku berkewajiban memberikannya, bahkan seluruh tubuhku jika kamu menginginkannya," ucapnya, ia sudah siap jika suatu saat Farhan menginginkan hal itu.


Farhan tersenyum senang mendengar pernyataan Nayla, ia menjepit hidung gadis itu dengan gemas, "Kamu semakin pintar aja, buku waktu itu benar-benar kamu pelajari ya," ucap Farhan dan mendapat anggukan dari Nayla.

__ADS_1


Entah setelah itu apakah mereka akan dengan mudah melakukan itu, atau justru Farhan harus menahannya lagi untuk waktu yang lama.


Bersambung.....


__ADS_2