Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Fikirkan Kesembuhanmu


__ADS_3

Tarlihat kedua Papa sedang duduk di sofa ruang keluarga, ada Al juga, tidak hanya Al bahkan ada Raffa juga yang terlihat sedang bermain dengan keponakannya yang baru berumur lima bulan.


"Nah, ini tuan rumahnya baru datang, di tunggu-tunggu sejak tadi kemana aja Kak?" bukan salah satu dari empat laki-laki itu yang bertanya, karena mereka belum menyadari kedatangan keduanya, melainkan seseorang yang baru datang dari arah dapur membawa nampan berisi minuman.


Mereka yang ada di ruang keluarga itu pun sontak menoleh ke arah Nayla dan Farhan secara bersamaan.


"Kalian kenpa enggak ngasih kabar kalu mau kesini? Kalau kasih kabar kan kita bisa pulang lebih awal," bukannya menjawab pertanyaan sang adik Farhan justru balik bertanya, lalu ia pun menghampiri Papa-Papanya untuk mencium tangan mereka.


"Kami sengaja buat suprise, eh malah kami yang dapet kejutan, ternyata rumahnya kosong penghuninya entah kemana, kalau tahu kalian bakalan lama, tadi mending gondol aja tuh mobil di garasi," timpal Icha yang ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Mana si kembar yang satunya Cha? Kok cuma Aufa aja yang ada, Alisha mana?" tanya Nayla, karena tidak mendapati anak Icha yang satunya. Ia tidak menggubris ocehan adik iparnya itu.


"Ada di kamar, tidur dia," jawab Icha.


"Mama?" tanya Nayla lagi.


"Mama lagi masak, kita mau adain syukuran," jawab Icha.


Nayla mengerutkan dahinya, "Dalam rangka apa?" tanyanya penasaran.


Icha menepuk jidat, kenapa bisa kakak iparnya ini lupa jika hari ini adalah hari spesial mereka.


"Kalian berdua lupa ini hari apa?" tanya Papa Bayu kali ini.


Mereka berdua kompak mengangguk, "Emang hari apa sih Pa?" tanya Farhan penasaran.


"Papa maklumin sih, mungkin karena kalian memikirkan masalah yang ada, apalagi setelah kecelakaan Nayla," timpal Papa Bayu.


Keduanya semakin penasaran, mereka benar-benar melupakan hari ini, setelah berfikir akhirnya Farhan ingat sekarang tanggal berapa dan hari apa.


"Ah iya, aku benar-benar lupa Pa, kalau ini hari pernikahanku," tutur Farhan setelah mengingatnya.

__ADS_1


Nayla menepuk jidatnya, ia juga bahkan melupakan hari pernikahan mereka, mungkin benar apa yang di katakan oleh Papa Bayu jika, mereka lupa karena masalah yang datang silih berganti.


"Udah inget kan? Yaudah sana kalian mandi, kalian dari luar pasti terkontaminasi berbagai macam kuman dan penyakit, kasian Alisha sama Aufa, masih kecil, belum kuat sistem imunnya," cerewet sekali mama muda yang satu ini, padahal dulu sebelum memiliki buah hati tidak secerewet ini, ia mengusir dua sejoli itu dengan mengibaskan tangannya, supaya mereka mandi terlebih dahulu.


Farhan mendengus mendengar ucapan adiknya, lalu ia pun mendorong kursi roda sang istri menuju kamar, untuk membersihkan tubuh mereka yang terasa lengket bahkan tercium bauh obat-obatan karena seharian di rumah sakit


¤¤¤¤


Seperti biasa keduanya mandi bersama, ralat tetapi Farhan yang memandikan istrinya itu, akan tetapi tidak ada kegiatan lebih selain mandi, karena Nayla sedang tahap pemulihan. Sebenarnya Nayla malu dengan perlakuan Farhan yang seperti itu, akan tetapi mau bagaimana lagi, dirinya tak bisa melakukan itu seorang diri, bahkan saat ingin membuang hajat saja, Farhan yang membopong tubuh istrinya, mendudukkan di atas kloset. Farhan melakukan itu sebagai wujud rasa cinta pada sang istri, ia bahkan tidak keberatan sedikit pun, lagi-lagi Nayla bersyukur memiliki suami yang hampir sempurna seperti Farhan.


Setelah menyelesaikan mandinya, Farhan mengeringkan tubuh Nayla lalu melilitkan handuk di tubuh ramping wanita itu, menggendongnya keluar kamar mandi, mendudukkan istrinya di atas ranjang, mencari pakaian bahkan sesekali Farhan juga yang memasangkan pakaian untuk istrinya. Meskipun Nayla sering menolak, karena ia masih bisa melakukannya sendiri jika hanya berpakaian.


Kini keduanya sudah rapi, Farhan kembali mendudukkan Nayla di atas kursi roda, mendorong kursi roda tersebut keluar kamar, mereka lebih dahulu menemui Mama-Mama yang sedang asyik memasak di dapur.


"Kalian sudah pulang? Dari mana?" tanya Mama Sinta saat mendapati anak dan menantunya masuk ke area dapur.


Keduanya mencium punggung tangan kedua Mama mereka.


Mama Hania dan Mama Sinta mengernyitkan dahi secara bersamaan, "Ngapain ke rumah sakit, siapa yang sakit? Apa kalian kontrol? Eh tapi kalau kontrol kenapa hari minggu?" berbagai pertanyaan terlontar dari bibir Mama Sinta.


"Mama Adela yang sakit Ma, beliau terkena typus, karena selama beberapa hari ini selalu memikirkan aku, sampai-sampai enggak mau makan, aku jadi merasa bersalah sama Mama," jawab Nayla sendu, lalu ia menundukkan wajahnya, setes air bening meluncur begitu saja dan segera ia seka.


Kedua Mama yang mendengar tampak terkejut, Mama Sinta yang berada di hadapan menantunya itu langsung menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan Nayla, memeluk tubuh menantunya dengan erat.


Sedangkan Mama Hania, hatinya sedikit ngilu, mendengar penuturan anak yang telah ia asuh sejak masih bayi, ia merasa sedikit cemburu dengan Mama Adela yang begitu mudah di maafkan oleh sang putri, tapi ia segera menepisnya, karena memang seharusnya seperti itu. Hania pun mendekat, ia mengelus ramput panjang putrinya.


"Yang sabar sayang, doakan Mama Adela supaya lekas sembuh," ucap Mama Hania, "Besok kita sama-sama menjenguknya di rumah sakit ya," tambahnya.


Nayla mengangguk masih dalam dekapan mama mertuanya, lalu ia melepaskan pelukannya.


"Makasih Ma, kalian Mama-Mama hebat," ucapnya.

__ADS_1


"Tadinya Mama mau menyuruh kamu, supaya mengundang mereka datang, tapi karena Adela sedang sakit yaudah lain kali saja," ucap Mama Hania.


"Iya Ma, lain kali kita adakan makan malam bersama keluarga besar," usul Nayla dan diangguki oleh kedua Mamanya.


"Yaudah, sekarang kita sholat maghrib dahulu, setelah itu makan malam," tutur Mama Sinta.


Mereka pun melaksanakan sholat secara bergantian di rumah, bagi para wanita. Sedangkan para lelaki memilih melaksanakan sholat di masjid yang berada di dekat rumah Farhan.


¤¤¤


Makan malam pun telah usai, bahkan mereka sudah undur diri. Hanya tinggal Mama Hania dan Papa Aditama, karena mereka berencana menginap di rumah Nayla. Mengingat besok Farhan harus berangkat kerja, Mama Hania berinisiatif untuk menemani Nayla di rumah.


"Sayang, Mas besok berangkat bekerja ya, sudah hampir dua minggu Mas enggak kerja, kamu enggak apa-apa kan Mas tinggal? Atau mau ikut ke kantor aja?" tanya Farhan, sebenarnya ia masih berat meninggalkan Nayla di rumah, tetapi jika tidak bekerja akan lebih fatal lagi.


"Iya Mas, lagian juga ada Mama, kamu bekerja yang tenang jangan fikirkan aku, Mama sudah janji mau nemenin aku sampai sembuh," jawab Nayla, Mama Hania sudah mengatakan hal itu tadi sebelum mereka masuk ke dalam kamar.


Keduanya kini berada di atas ranjang, bersandar pada kepala ranjang. Tangan Farhan berada di belakang tubuh Nayla, memeluk wanita itu.


"Iya sayang, makasih ya. Mas janji enggak akan ambil kerjaan di luar kota atau luar negeri sebelum kamu sembuh, biar jadi urusan Dika," ucap Farhan, mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya, ia tentu tidak akan tega meninggalkan istrinya untuk ke luar kota atau luat negeri, karena kondisi Nayla yang belum pulih.


"Makasih Mas, oh iya gimana dengan kuliahku Mas?" rengek Nayla dengan manja, menatap wajah sang suami yang juga menatapnya, tangannya menyentuh salah satu pipi Farhan


"Kamu tenang aja, yang terpenting sekarang fikirkan kesembuhanmu dulu, soal kuliah nanti Mas yang akan urus, yang penting kamu kembali sehat seperti sedia kala," tutur Farhan.


Nayla beringsut memeluk tubuh sang suami, "Makasih Mas, aku banyak berhutang budi padamu," tuturnya.


"Itu sudah jadi kewajibanku sayang," Farhan membalas pelukan sang istri.


"Udah malam, ayo kita tidur," ucap Farhan, ia pun melepaskan pelukannya.


Merekapun mulai memjamkan mata, berkelana di dalam alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2