Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Saya Pernah Baca Pak


__ADS_3

Farhan menyadari keterkejutan Nayla, "Aku yang mengajak mereka sarapan di sini, karena setelah ini Rita yang akan antar kami berdua ke bandara," jelas Farhan, itu ucapan terpanjang selama beberapa hari ini pada Nayla.


Nayla mengangguk, "Ayo silahkan, aku seneng ada teman sarapan, kan jadi tambah rame," ucap Nayla, duduk di sisi Farhan, ia mengambil piring di hadapan Farhan dan mengisinya dengan nasi dan juga lauk.


Nayla memang selalu melayani Farhan, meski keduanya minim bicara beberapa hari ini. Ia juga selalu memasak makanan untuk Farhan, hanya sehari waktu itu saja ia tidak melayani Farhan dengan baik.


Mereka berempat pun sarapan dalam keheningan, hanya dentingan sendok yang memecahkan sunyinya sarapan pagi mereka.


Setelah selesai sarapan, terlihat Nayla membereskan bekas makanan mereka di bantu oleh Bik Sumi.


"Non, Mbak itu katanya mau menginap di sini sampai Bapak pulang dari luar negeri, apa benar itu?" tanya Bik Sumi, kepo.


"Benarkah? Aku malah belum tahu Bik, Mas Farhan belum bilang, jika memang seperti itu layani dia dengan baik ya. Sepertinya dia orangnya baik kok," jawab Nayla sambil tersenyum.


"Maaf nih ya Non, Bibik kok merasa kurang nyaman sama dia, terlihat sombong gitu," art itu memang mengamati sejak tadi gerak-gerik Rita, ia pun menyimpulkan demikian.


"Sssttt ... Bibik jangan ngawur ah, kita enggak boleh menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, Mas Farhan aja memperkerjakan dia, pasti dia orang baik, enggak mungkin kan Mas Farhan memperkerjakan orang jahat," tutur Nayla, ia menganggap sikap Rita sebuah kebiasaan, meski ia merasa gadis itu seperti meremehkannya, tapi itu hanya perasaan Nayla saja.


"Maaf Non, kalau Bibik salah," ucap Bik Sumi menyesal.


"Sudah enggak apa-apa Bik," Nayla meletakkan piring terahir, lalu mencuci tangannya. Ia pun keluar dari dapur menemui tiga orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu, sepertinya mereka menunggu kedatangan Nayla.


Setelah sampai di ruang tamu, Nayla pun duduk di sisi Farhan.


"Selama aku di luar negeri, kamu akan di temani Rita, jadi enggak usah nginep di rumah Mama, kalau mau main ke sana silakan, tapi jangan nginep di sana," tutur Farhan.


Nayla mengangguk, "Baiklah, terimakasih Mbak mau nemenin aku di rumah, anggap aja rumah sendiri ya," ucap Nayla, ia tersenyum ke arah Rita, dan gadis itu pun membasal senyuman Nayla. "Sampai berapa hari di luar negri? Lama ya?" tanya Nayla.


Rita hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Nayla.


"Enggak, paling lama satu bulan," ucap Farhan, santai. Padahal ia bercanda saat mengatakan itu.


Nayla terkejut, ia bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga, "Lama banget," protesnya, ia berfikir kenapa selama itu ke luar negri tapi tidak mengajaknya.


"Enggak, paling cuma satu minggu," ucap Farhan.


Nayla menghela nafas, lalu ia mengangguk.


"Yaudah, kami harus pergi sekarang, baik-baik di rumah," ucap Farhan lalu ia berdiri di ikuti oleh ketiganya. Keluar menuju teras. Setelah berada di teras Farhan terhenti sejenak, menoleh ke arah Nayla.


"Hati-hati di sana," ucap Nayla, lalu ia meraih tangan Farhan untuk di cium.


"Kamu juga hati-hati di rumah," ucap Farhan, lalu ia mengecup puncak kepala Nayla.

__ADS_1


Nayla mengangguk, lalu tersenyum. Senyum yang selama beberapa hari ia simpan.


Farhan masuk ke dalam mobil, di ikuti oleh Dika dan Rita, karena Rita akan pergi ke kantor setelah mengantar dua orang itu ke bandara.


Nayla mematung di tempat untuk beberapa saat, lalu ia masuk setelah mobil itu keluar gerbang.


Nayla kembali naik ke kamarnya, ia merebahkan diri di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Hobi barunya.


Menghela nafas panjang, "Meski beberapa hari ini diem-dieman tapi tetep aja rasanya sepi kalo enggak ada Mas Farhan, kenpa ya? Seakan aku enggak bisa jauh-jauh dari dia, meskipun aku tahu dia sepertinya masih mencintai mantannya itu, tapi aku sepertinya enggak akan rela kalau mantanya itu merebut Mas Farhan dariku," gumam Nayla, ia menerawang jauh, membayangkan jika Sherena kembali dan merebut Farhan darinya.


"Semoga aja, Kak Sherena itu orang baik, dia akan mengerti kalau Mas Farhan udah punya istri," gumamnya lagi, ia memang beberpa kali bertemu dengan Sherena yang ia lihat sepertinya Sherena orang baik.


Setelah lama termenung, Nayla pun memilih untuk turun. Berjalan ke arah samping rumah, ia duduk di sebuah gazebo yang letakkan dekat kolam renang.


"Nonton drakor di sini sepertinya menyenangkan, dari pada di kamar. Temapat dan suasana baru buat nonton drakor, kuy ah," gumamnya. Lalu ia beranjak dari duduknya, kembali ke kamar untuk mengambil laptop kesayangannya.


"Bik, kalau udah selesai pekerjaannya temani aku nonton ya, di gazebo," ucap Nayla, tangannya membawa laptop, ia mengahampiri Bik Sumi yang sedang mengepel di dapur.


"Iya Non," jawab pembantu itu.


¤¤¤


Malam hari Rita benar-benar pulang ke rumah Farhan, ia menginap di kamar tamu yang letaknya di bawah, semua pakaiannya sudah ia bawa tadi pagi sebelum mengantar Farhan dan Dika ke bandara.


"Mbak Rita sudah pulang? Setelah ini kita makan malam bersama ya Mbak, Bik Sumi udah masak," ucap Nayla, ia sedang berada di ruang keluarga sambil menonton televisi. Menunggu Rita pulang.


Beberpa waktu berlalu, kini mereka sedang makan malam dia ruang makan.


"Ini kamu yang masak?" tanya Rita.


Nayla menggeleng, "Enggak Mbak, ini Bibik yang masak," jawab Nayla santai.


"Kamu enggak bisa masak? Kasian banget Farhan punya istri tapi enggak bisa ngapa-ngapain," entah kenapa Rita mengatakan seperti itu, padahal ia di sana numpang.


Nayla mendengus pelan, lalu menghembuskan nafas, ia mencoba menenangkan dirinya tidak mau membuat masalah dengan sekretaris Farhan, "Aku emang enggak bisa masak yang aneh-aneh mbak, aku bisa masak yang sederhana saja, tapi Mas Farhan enggak pernah protes kok," memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, bersikap santai seolah ucapan Rita tidak berarti untuknya.


Setelah itu tidak lagi ada pembicaraan, karena Nayla telah menyelesaikan makan malamnya. Ia memilih untuk pergi dari dapur lebih dahulu, entah kenapa moodnya menjadi tidak baik.


Duduk di sisi ranjang, dengan mukan di tekuk dan bibir di manyunkan, "Kenapa sih? Mas Farhan nyuruh dia nginep di sini, ternyata orangnya nyebelin, kalo ada Mas Farhan aja sok-sokan baik," Nayla bergumam sendiri, wajahnya cemberut mengingat ucapan Rita tadi.


"Sampai malam gini, Mas Farhan enggak ngabarin lagi, mau ngechat dulu kan enggak enak," Nayla mendengus, ia bertambah kesal mengingat Farhan tidak memberi kabar padanya.


"Minta nomernya Dika aja deh, sama Mbak Rita siapa tahu di kasih, tapi males mau ngomong sama dia," menghela nafas panjang. "Di coba dulu lah," ia beranjak dari duduknya lalu ke luar kamar.

__ADS_1


Menuruni anak tangga, lalu melangkah menuju kamar tamu yang di huni oleh Rita.


"Mbak aku boleh masuk?" tanya Nayla.


Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu, lalu pintu terbuka menapakkan sosok berbeda dari Rita yang biasanya, kini rambut hitam nan panjangnya ia gerai terlihat lebih muda dari penampilan biasanya. Mengenakan hotpen dan kaos berwarna krem kebesaran.


"Ada apa?" tanyanya.


"Minta nomernya Pak Dika dong," pinta Nayla tanpa basa basi.


"Buat apa?"


"Ya minta aja, kalau boleh kalau enggak ya enggak apa-apa,"


"Kenapa enggak minta sama Farhan aja?"


"Enggak boleh yaudah Mbak, enggak jadi," ucap Nayla lalu pergi dari hadapan gadis itu.


"Menyebalkan, mending di rumah sendiri dari pada sama orang kaya dia, ngeselin banget sih, dasar," Nayla mengomel sendiri sambil berjalan ke arah dapur.


"Kenapa ngomong sendiri Non?" pertanyaan Bik Sumi membuat Nayla terkejut.


"Astaga Bik, untung aku enggak jantungan," ucap Nayla.


"Enggak apa-apa Bik, eh Bibik punya nomernya Pak Dika?" tanya Nayla, ia berharap artnya itu punya nomer asisten Farhan.


"Punya Non,"


"Kenapa Bibik enggak bilang? Kalau Bibik punya kan aku enggak harus minta sama sekretaris menyebalkan itu," terlihat Nayla masih kesal dengan Rita.


"Lah Non enggak minta, Bibik kan enggak tahu Non. Emang Mbak itu kenapa?" tanya Bik Sumi.


Nayla tersenyum lalu menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal, "Maaf Bik. Enggak apa-apa kok Bik lupakan dia, mana nomernya?"


"Bentar ya, Bibik ambil hape di kamar dulu,"


Setelah mendapatkan nomer Dika, Nayla pun menanyakan kabar suaminya pada Dika. Tentu saja di sana Dika mengatakan pada Farhan jika Nayla menanyakan kabarnya.


"Kenapa dia enggak telfon aku aja?" tanya Farhan pada Dika, tentu saja Dika tidak tahu alasannya.


"Biasanya wanita itu gengsi Pak, dia nunggu laki-laki yang menghubungi duluan," jawab Dika.


"Kamu sok tahu apa emang beneran tahu?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Saya pernah baca Pak," jawab Dika dan di angguki oleh Farhan.


Bersambung.....


__ADS_2