Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Dia Selalu Baik


__ADS_3

Saat di dalam taksi, Nayla bingung mau kemana, jika ke rumah orang tuanya ia tidak akan menyendiri dengan tenang, mau curhat sama Mamanya juga tak mungkin, ia tidak mau membuat hubungan orang tua dan menantunya renggang. Akhirnya memutuskan untuk ke taman, ia akan menghilangkan penatnya di sana.


Duduk di sebuh kursi taman, yang letaknya tidak jauh dari jalan. Kursi itu terletak di bawah pohon menjadikan suasana di sana sejuk. Lama ia memikirkan masalahnya, mencoba menenangkan hatinya berkali-kali. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Farhan nanti jika hatinya sudah membaik.


Tiba-tiba ada seseorang menghampirinya. "Ngapain lo di sini sendirian?" tanya orang itu.


Nayla mendongak menatap orang yang mengajaknya bicara, karena sejak tadi ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menundukkan wajah. Tapi entah kenapa orang itu bisa tahu jika itu Nayla.


"Lo nangis?" orang tersebut kembali bertanya setelah melihat wajah sembab Nayla. Ia pun ikut duduk di sisi Nayla.


Nayla menghapus air matanya, "Enggak gue ...." sebelum Nayla menyelesaikan ucapannya orang itu sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Gue bukan anak TK yang dengan mudah bisa di bohongi, coba cerita sama gue kenapa di sini sendirian di tambah nangis lagi? Ada masalah sama suami lo?" tanya orang tersebut.


Nayla menghela nafas panjang, "Ya begitulah Fan, sebenarnya ini masalah datang dari diri gue sendiri," tuturnya.


"Kok bisa?" tanya Irfan, ya orang tersebut adakah Irfan.


Nayla berfikir, haruskan ia bercerita dengan Irfan? Jika tidak ia harus bercerita dengan siapa lagi? Dengan sahabatnya Icha tidak mungkin, dengan Erva lebih tidak mungkin karena ia tidak sedekat itu dengan Erva.


"Kalau lo enggak mau cerita, gue enggak maksa Nay, kalo lo mau cerita bakalan gue dengerin, siapa tahu bisa buat lo lebih tenang," ucap Irfan, ketika Nayla tak kunjung menjawab.


Nayla mengangguk, lalu ia menceritakan apa yang membuat dirinya seperti ini. Tentang Farhan yang mengigau menyebut nama mantan kekasihnya.


"Kenapa enggak tanya aja langsung sama suami lo?" tanya Irfan setelah mendengar cerita Nayla.


"Entahlah, gue belum siap nanya itu tadi, karena gue enggak akan kuat jika jawabannya sama seperti dalam mimpinya itu," Nayla menghela nafas kasar.


"Tapi selama ini sikapnya baik kan? Maksud gue Bang Farhan enggak nyuekin lo kan?" tanya Irfan menyelidik.


Nayla menggeleng, "Dia selalu baik sama gue Fan," jawab Nayla.


"Nah kan, menurut gue mungkin dia masih ada sedikit cinta sama mantannya, lo tahu sendiri kan? Berapa lama mereka menjalin hubungan? Pasti akan susah untuk melupakan semuanya Nay, tapi dia juga udah berbuat baik sama lo itu tandanya di menerima kehadiran lo Nay, menurut gue sih gitu. Saran gue bicara baik-baik sama suami lo," tutur Irfan, ia memang menaruh hati pada gadis itu, tapi ia bukan pecundang yang akan memanfaatkan keadaan.


Nayla kembali menghela nafas, "Mungkin bener ucapan lo Fan. Ntar gue akan coba bicara sama dia kalo udah pulang," ucapnya.

__ADS_1


"Nah gitu, sekarang senyum dong, jangan cemberut melulu," ucap Irfan sambil tersenyum.


Nayla pun membalas senyuman Irfan, "Kok lo ada di sini ngapain emang? Lo ngikutin gue ya?" tanya Nayla, karena sejak tadi ia belum menanyakan keberadaan pemuda itu di sana.


"Gue habis nganterin Mama arisan di deket sini, pas gue lewat, gue liat lo sepertinya sedang tidak baik-baik aja, makanya gue samperin," jelas Irfan.


"Lo ngenalin gue? Padahal dari tadi gue menunduk," memang Nayla sejak awal datang ke taman itu, ia menyembunyikan wajahnya.


"Enggak sih, tadinya cuma feelling aja, pas gue deketin semakin yakin kalo itu lo, apal sama tas kesayangan lo itu," Irfan menunjuk tas slempang Nayla dengan ekor matanya.


Nayla melihat tas slempangnya sedikit bingung, kenapa Irfan sampai hafal dengan tas itu, tas yang ia beli waktu masih SMA, tas itu couple dengan milik sahabtanya. Ia memang meyayangi tas itu, dan kemana-mana sering membawa tas kesayangan tersebut, meskipun tidak terlalu bagus tapi menurutnya itu yang paling nyaman, di bandingkan yang lainnya.


"Sejak masih SMA lo selalu pake itu tas, makanya gue hafal," tambah Irfan, setelah melihat ke bingungan di wajah Nayla.


Nayla mengangguk faham. Keduanya larut dalam perbincangan, hingga t'idak menyadari jika dari seberang jalan ada seseorang yang memperhatikan keduanya. Bahkan ia terlihat memendam amarah, tapi seorang yang tak lain adalah Farhan itu memilih untuk meninggalkan keduanya.


Drrrt Drrrtt Drrtt


Ponsel Irfan berbunyi, menandakan ada seseorang yang menelfon. Ia pun meraih ponselnya yang berada di dalam saku, lalu menjawab panggilan itu. Tak lama ia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Enggak enak sama Nyokap lo Fan," ucap Nayla sungkan.


"Udah, Mama orangnya baik, dia enggak akan keberatan juga, kita kan searah, dah ayo," Irfan berjalan lebih dahulu, Nayla pun terpakasa mengikuti Irfan, karena ia tadi sudah menyetujui untuk di antar Irfan pulang.


Tak butuh waktu lama, Irfan memberhentikan mobilnya di depan gerbang sebuah rumah. Keduanya turun, memutuskan untuk menunggu di luar mobil saja. Beberapa mobil mewah keluar dari rumah tersebut. Tak butuh waktu lama Mama Irfan pun keluar dan menghampiri ke dua insan itu.


"Siapa Fan? Pacar kamu?" tanya sang Mama, setelah ia berada di depan ke duanya.


Nayla menyalami Mamanya Irfan, "Bukan Tan, aku teman kuliah Irfan," jawab Nayla.


"Siapa namamu?" tanya Mama Irfan lagi.


"Nayla, Tan,"


"Saya Dela," Mama Irfan memperhatikan Nayla, tentu saja yang di perhatikan merasa tidak enak, "Saya kok enggak asing sama kamu ya?" tambah Dela.

__ADS_1


"Mungkin Mama pernah liat Nayla sebelumnya," timpal Irfan, ia bisa melihat raut wajah Nayla yang terlihat tidak nyaman karena di perhatikan secara intens.


"Ayo pulang Ma, tapi antar Nayla dulu ya, Mama enggak kebertan, kan?" tanya Irfan.


Mama mengangguk, lalu ia masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang, "Kamu duduk depan sama Irfan," ucap Dela sebelum ia menutup pintu mobil.


Nayla pun masuk ke dalam mobil, dan duduk di depan sesuai perintah Dela. Ia terlihat tidak enak dengan Mama temannya itu, karena sepertinya wanita paruh baya itu tak menyukainya, mungkin mengira kalau Nayla adalah kekasih Irfan.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di depan rumah Nayla, kebetulan sang Mama sedang berada di luar gerbang, sepertinya Mama Nayla baru saja membuang sampah di depan rumah. Ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam gerbang, saat melihat mobil berhenti di depan gerbang rumahnya.


"Itu Mama ku, Tate sama Irfan mampir dulu ya, kenalan sama orang tua ku," ucap Nayla.


"Enggak usah, terimakasih," tolak Mama Irfan, ia terus memperhatikan wanita paruh baya yang di sebut Nayla sebagai Mamanya itu.


Nayla pun berpamitan pada keduanya, lalu ia turun dari mobil Irfan, menghampiri sang Mama dan mencium punggung tangan Mama.


Setelah Nayla turun, Irfan pun melajukan mobilnya kembali ke rumah.


"Kamu sama siapa Nay? Mana suamimu?" berbagai pertanyaan muncul dari benak sang Mama, pasalnya bukan suami Nayla yang mengantar, tetapi orang lain.


"Mas Farhan ada, dia lagi sibuk Ma. Aku sengaja menolak untuk di antar dia, kebetulan ketemu sama temenku terus dia katanya searah, dan enggak keberatan nganterin aku pulang. Udah ah Ma, ayo masuk." Nayla menarik tangan Mama dan masuk.


"Nay, dengarkan Mama." Menepuk pundak Nayla, keduanya kini duduk di sofa ruang keluarga.


Nayla menoleh ke arah sang Mama.


"Kamu itu sudah punya suami, jangan sembarangan pergi sama orang lain, meskipun itu temanmu, terutama itu laki-laki. Takut suamimu salah faham Nay, bisa juga di manfaatkan oleh orang yang berniat enggak baik, ngerti kan maksud Mama?"


"Iya Ma, Nay ngerti. Tapi beneran Nay enggak ada apa-apa sama dia Ma, dia cuma temen enggak lebih Ma,"


"Mama ngerti, tapi sebaiknya jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain, takut Farhan salah faham, boleh berteman tapi jangan berlebihan,"


"Iya Ma, makasih ya Ma," ucap Nayla, lalu ia memeluk sang Mama.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2