
Tok
Tok
Tok
"Pak, Pak Dika datang," ucap Bik Sumi sambil mengetuk pintu.
Suara ketukan pintu dan ucapan seseorang di luar sana membuat keduanya menghentikan aktivitas mereka yang sedang menumpahkan rasa rindu. Keduanya melepaskan pagutan yang baru beberapa detik yang lalu mereka nikmati. Mengelap bibir sang istri yang basah karena perbuatannya.
"Aku temui Dika dulu, mungkin ada hal penting," ucap Farhan lalu beranjak dari duduknya. Ia melangkah keluar kamar, mendapati Bik Sumi yang berada di depan pintu dan baru akan meninggalkan tempat itu.
"Buatkan minum untuk Dika ya Bik," titah Farhan, ia melanjutkan langkah menuruni anak tangga. Di susul oleh Bik Sumi yang mengekorinya.
Farhan menemui Dika di ruang tamu, ia duduk di single sofa. "Ada apa Dik?" tanyanya.
"Maaf Pak mengganggu, ponsel Bapak dua-duanya ada di tas saya. Takutnya nanti ada telfon penting kalau tidak langsung saya berikan," ucap Dika, ia meletakkan dua ponsel Farhan di atas meja. Karena sejak ponselnya di matikan, Farhan melupakan ponselnya yang ternyata ada di tangan Dika.
"Oh iya, saya malah lupa, makasih ya, kamu sudah jauh-jauh antar ke sini," ucap Farhan. Rumahnya dengan rumah Dika memang cukup jauh jaraknya, butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke rumah Farhan.
"Tidak masalah Pak, kalau begitu saya permisi," Dika pamit undur diri.
"Iya, sekali lagi makasih, istirahatlah untuk hari ini," ucap Farhan, di angguki oleh Dika, lalu Dika melangkah keluar rumah.
"Yah, Pak Dika sudah pulang Pak?" tanya Bik Sumi yang baru saja datang dengan membawa minuman di atas nampan.
"Iya Bik, di minum Bibik aja," ucap Farhan sambil tersenyum tanpa rasa bersalah. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sedangkan Nayla di dalam kamar memilih untuk membereskan pakaian suaminya yang ada di dalam koper, karena sejak tadi belum sempat ia bereskan. Mengeluarkan satu persatu pakaian di dalam koper, ia bahkan tidak segan mengendus untuk memastikan apakah pakaian itu kotor atau tidak. Akan tetapi ia memilih untuk memasukkan semua pakaian yang ada di dalam koper ke dalam keranjang pakaian kotor karena meskipun masih bersih pasti sudah terkontaminasi dengan pakaian yang kotor.
Ia mengernyitkan dahi saat melihat ada sebuah kotak berukuran sedang di bawah pakaian Farhan. Pensaran, tentu saja. Kotak dengan bungkus berwarna pink muda dengan pita berwarna pink di atasnya itu terlihat manis, bahkan bisa di tebak jika itu di peruntukkan untuk seorang perempuan.
"Mas Farhan mau ngasih kado untuk siapa? Kok warnanya manis banget?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Itu buat kamu, belum sempet aku kasih ternyata udah ketemu duluan," jawab Farhan yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Eh, buat aku?" tanya Nayla memastikan.
Farhan mengangguk, lalu ia duduk di sofa, "Bukalah," ucapnya.
Nayla meletakkan kotak tersebut di atas meja, "Bentar aku beresin ini dulu," ucapnya lalu membereskan koper dan juga keranjang baju kotor.
Setelah selesai, ia mengambil kotak tersebut, duduk di sisi Farhan yang sedang mengotak-atik ponselnya.
Raut bahagia terpancar di wajah Nayla, ia membuka kotak tersebut dengan hati-hati, mengernyitkan dahi saat melihat ada sebuah surat di dalam kotak itu, mengambil lalu membaca isi surat tersebut, ia tersenyum saat membaca isi surat itu.
Farhan memperhatikan Nayla yang sedang tersenyum sambil membaca isi surat tersebut, "Bagus enggak?" tanyanya.
Nayla mengangguk, "Bagus banget, Mas yang buat?" tanyanya.
"Iya dong, masak si Dika, puisi itu mewakili isi hatiku ke kamu," jawabnya, sambil tersenyum.
Ternyata surat itu isinya sebuah puisi romantis, Nayla terlihat bahagia bahkan baru membaca puisi itu, belum melihat isi di dalam kotak.
Farhan mengambil kertas bertulisan puisi itu dari tangan Nayla, ia berpura-pura akan merobek kertas tersebut, dengan cepat Nayla mengehentikannya.
"Eh, jangan di sobek dong, aku percaya ini buatan Mas Farhan, biar aku simpan sebagai kenangan," ucap Nayla, ia melipat kertas itu lalu meletakkan ke dalam kotak kembali.
Di dalam kotak itu ada sebuah kotak lagi yang ukurannya lebih kecil. Ia membuka kotak tersebut, seketika matanya berbinar melihat isi dalam kotak itu. Sebuah kalung emas putih, dengan bandul berbentuk huruf 'N'. Sekeliling huruf tersebut terdapat permata putih, yang membuat kesan kalung tersebut terlihat lebih indah.
"Makasih Mas, ini bagus banget, tidak terlalu wah dan aku suka itu," ucap Nayla sambil memegang benda pemberian Farhan. Ia memang tidak begitu menyukai hal-hal yang terlalu mencolok.
"Alhamdulillah kalau kamu suka, sini aku pakein," ucap Farhan, ia meraih kalung tersebut dari tangan Nayla.
Farhan pun memakaikan kalung tersebut di leher Nayla, "Cantik seperti yang makai," ucap Farhan sambil tersenyum, setelah memasangkan kalung tersebut.
"Makasih ya Mas," ucap Nayla, lalu ia memeluk Farhan dan di balas oleh pemuda itu.
__ADS_1
"Iya sama-sama," jawab Farhan sambil tersenyum yang tentunya Nayla tidak bisa melihatnya, "Nay, istirahat yuk, aku lelah banget," ucap Farhan lalu melepaskan pelukannya.
Nayla pun mengangguki ucapan Farhan. Keduanya pun naik ke atas ranjang dan berkelana di alam mimpi.
¤¤¤
Malam hari, setelah makan malam mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi dan sesekali bercanda. Farhan melihat Rita yang baru saja pulang dari kantor, ia pun menegurnya.
"Baru pulang Rit?" tanya Farhan, saat melihat gadis itu akan masuk ke dalam kamar tamu.
"Iya Han, gue nginep sini lagi boleh ya, ini sudah malam lagian gue juga capek banget," ucap Rita, ia meminta ijin untuk menginap satu malam di rumah Farhan.
Farhan mengangguk, "Boleh," ucapnya lalu melirik Nayla sekilas yang sedang tiduran dengan berbantal pahanya. Tetapi Nayla tidak memberikan reaksi apa-apa, hanya tatapan datar tak berarti.
"Makasih, besok gue ke kantor sekalian bawa barang-barang," ucap Rita lalu ia masuk ke dalam kamar.
"Keenakan dia nginep di sini," cletuk Nayla, ia bangkit dari tidurnya. Menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kasian, ini juga udah malem, rumahnya kan juga jauh. Biarkan untuk malam ini saja menginap lagi di sini ya," ucap Farhan lembut, ia tahu istrinya tidak menyetujuinya.
Nayla hanya mengangguk, ia kembali melihat televisi yang sedang menyiarkan berita banjir yang belakangan ini sedang terjadi di negara ini.
"Apa dia baik sama kamu?" tanya Farhan, ia tahu jika Rita itu sulit berbaur dengan orang yang baru di kenalnya.
"Ya begitulah, meskipun kadang menyebalkan. Kalau sama Mas aja bisa bersikap baik, tapi kalau enggak ada Mas Farhan ngomognya pedes kaya sambel level sepuluh," gerutu Nayla, ia mengingat ucapan Rita jika sedang berbicara dengannya.
"Enggak usah di tanggapi, dia memang seperti itu kalau sama orang yang belum di kenalnya," timpal Farhan.
Nayla tidak menimpali, ia hanya mendengus.
Tak berapa lama Rita keluar dari kamar, sudah berganti pakaian santai, ia menghampiri sepasang suami istri itu.
"Han, ada yang mau gue omongin, soal kerjaan," ucapnya setelah duduk di sofa tanpa permisi.
__ADS_1
Bersambung.....