
"Mau kemana sayang?" tanya Farhan saat melihat sang istri berdiri dari duduknya.
Nayla menyengir, "Mau dengerin mereka bicara apa," jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Jangan! Itu dosa, sama saja dengan menguping, tunggu sini aja sampai mereka selesai berbicara," mendengar ucapan sang suami yang melarangnya, Nayla pun kembali mendudukkan diri di sofa.
Baru saja Nayla duduk, seseorang datang dan memanggil namanya, "Ante, Ma ada Ante!" teriak bocah laki-laki berumur sekitar empat tahun, lalu bocah itu menghampiri Nayla dan langsung duduk di pangkuan Nayla.
"Ponakan Tante yang paling ganteng, Tante kangen sama kamu," ucap Nayla sambil menciumi pipi gembul keponakannya itu.
"Kenapa kalian enggak masuk?" tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang keluarga.
"Enggak enak Mbak, sepertinya lagi ada pembicaraan serius, jadi kami putuskan tunggu di sini dulu," Farhan menjawab pertanyaan Arumi.
"Ada apa sih Mbak, kok serius banget kayaknya?" tanya Nayla, sebelum Arumi berbicara kembali.
"Masmu itu, ada masalah sama istrinya, ayo masuk aja. Mama sudah nungguin kamu dari tadi lho," Arumi mengajak mereka berdua untuk masuk.
Dengan menggendong keponakannya, Nayla pun masuk di susul oleh Farhan. Menyalami semua orang yang ada di sana, lalu ikut duduk di ruangan tersebut.
Nayla heran melihat Kakak laki-lakinya dengan wajah yang terlihat di penuhi oleh awan hitam, bahkan ia menunduk dan sepertinya sedang menangis. Tidak seperti biasanya yang memperlihatkan wajah jumawa saat bertemu dengan dirinya.
Terlihat Mama Hania mengelus punggung anak laki-lakinya itu. Bahkan Mama sepertinya belum menyadari akan perubahan Nayla, karena fokus menenangkan Enggar.
"Kamu yang sabar, ambil pelajaran dari kejadian ini, Tuhan sedang menguji kamu Nak, yang terpenting sekarang anak kamu, jangan sampai hak asuhnya jatuh ke tangan Murni, Mama tidak rela cucu Mama di asuh oleh wanita seperti dia, akan jadi apa nanti cucu Mama nanti," tutur sang Mama.
__ADS_1
"Iya Ma, aku akan berusaha untuk mempertahankan anakku. Tapi saat ini kami belum bisa bercerai karena Murni sedang hamil, meskipun aku tidak yakin jika itu anakku," Enggar masih menunduk saat mengatakan itu.
Nayla paham sekarang masalah apa yang di hadapi oleh Kakaknya itu. Pasti Kakaknya sangat kecewa dengan kenyataan yang ada. Wanita baik itu memindahkan keponakannya ke pangkuan sang suami, lalu ia melangkah mendekati Kakak laki-lakinya, duduk di sisi yang masih kosong.
"Mas Enggar yang sabar ya, ini cobaan Mas. Mama saja dulu bisa melewati semua ini, bahkan rela mengasuhku, harusnya Mas Enggar juga bisa melakukan hal yang sama seperti Mama, mengikhlaskan semuanya, meskipun aku tahu itu berat Mas," tutur Nayla, ia juga mengelus pundak sang Kakak yang selama ini mengabaikannya.
Enggar mengangkat kepalanya, ia menatap adik yang tidak pernah di anggap sebagai adik itu, lalu hal yang tidak terduga pun terjadi. Enggar memeluknya, untuk pertama kali setelah sekian lama membencinya.
"Na, maafkan Masmu ini ya, mungkin ini teguran buat Masmu Na, karena selalu membencimu sejak dulu, menganggap kamu anak wanita j*l*ng, tapi nyatanya istriku sendiri yang j*l*ng," tuturnya penuh penyesalan.
Panggilan yang selalu Nayla rindukan, karena hanya Enggar yang memanggil namanya dengan sebutan Nana. Saat masih kecil dulu sebelum mengenal yang namanya kebencian, dan belum terpengaruh oleh hasutan yang membuat Enggar tidak mau mengakui Nayla sebagai adik.
Nayla tak kuasa menahan air mata, ia bahagia sekaligus bersedih. Bahagia karena Kakaknya telah kembali, bersedih karena keadaan Kakaknya yang tidak baik-baik saja.
"Aku sudah memaafkan Mas Enggar sejak dulu, meskipun aku pernah merasa bersedih karena perbuatan Mas Enggar, tapi aku tetap memakluminya, apalagi setelah mengetahui semuanya," timpal Nayla, "Sudah enggak usah bahas masa lalu Mas, sekarang pikirkan masalh yang sedang Mas Enggar hadapi," tambahnya.
Semua yang melihat kejadian itu merasa terharu dan bahagia, tak terkecuali Farhan. Karena kebencian yang tertanam sejak puluhan tahun lalu kini telah memudar, menjadi secercah kebahagian untuk mereka.
"Jadilah istri yang baik untuk suamimu Na, jangan seperti Murni yang tega menghianati suaminya bahkan dia berselingkuh hingga mengandung anak orang lain," tutur Enggar.
"Apa Mas Enggar yakin kalau itu bukan anak kalian?" tanya Nayla.
Enggar mengangguk, "Yakin sekali, karena di minggu-minggu Murni hamil, aku sedang berada di luar kota bahkan hampir sebulan, karena mengurus kantor cabang yang baru saja berdiri. Saat itu aku mengajak dia untuk ikut, tapi Murni menolaknya dengan alasan dia banyak kegiatan dengan teman-temannya," Enggar menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Dan bodohnya aku, tidak menyadari akan hal itu. Hingga tadi malam aku mengetahui semuanya. Murni mengajak selingkuhannya tidur di rumah, karena aku ada di luar kota yang mestinya pulang lusa. Karena pekerjaan selesai lebih awal, aku memilih pulang dan ingin membuat surprise pada Murni dengan kepulanganku, tapi nyatanya aku yang terkejut, Na. Mungkin Tuhan akan menunjukkan kebi*d*ban Murni padaku,"
__ADS_1
"Bahkah saat aku sampai di rumah, mereka sedang melakukan perbuatan yang menjijikan," Enggar terlihat geram mengingat semalam ia memergoki sang istri.
"Yang membuat aku lebih kesal, Murni menitipkan Nevan di rumah Mamanya sudah dua hari, berarti dia memang sengaja ingin berdua dengan lelaki itu," tambahnya.
"Yang sabar Mas, selesaikan semuanya dengan kepala dingin, jangan sampai Nevan jadi korban, biarkan Nevan di sini dulu sama Mama sampai masalah ini benar-benar selesai, aku akan ikut jagain Nevan buat Mas Enggar," tutur Nayla, ia tahu Kakaknya itu masih di kuasai emosi.
"Terimakasih Na, aku memang berfikir seperti itu, suapaya Nevan tidak tahu kelakuan bej*t Mamanya, karena akan berakibat tidak baik untuk masa depannya kelak," timpal Enggar.
"Setelah anak yang di kandung Murni lahir, aku akan menggugat cerai dia, memang masih lama dua bulan lagi anak itu baru lahir," Enggar terlihat memijit pelipisnya, karena merasakan pusing di kepalanya.
"Aku juga sudah memberesi semua barang-barangku di rumah itu, untuk sementara akan tinggal di rumah Uti sampai masalah ini selesai, dan Nevan biar di sini samapai perceraianku dengan Murni kelar," tambahnya.
Setelah Enggar terlihat lebih tenang karena menceritakan semua keluh kesahnya, bahkan ia juga mendapat nasehat dari Mama dan Papanya, Enggar pun berpamitan untuk kembali ke kotanya. Karena esok ia harus kembali bekerja, meski dengan pikiran yang kacau. Sesuai perkataan Enggar, ia meninggalkan sang anak di rumah Mamanya, meski dengan berbagai bujukan. Anak balita itu pun menurut pada akhirnya, ia mau tinggal di rumah Neneknya dengan berbagai iming-iming dari Tantenya yang tak lain adalah Nayla.
Akhirnya malam itu Nayla memilih menginap di rumah sang Mama, tentu saja Farhan menyetujui permintaan sang istri dan ikut menginap di sana.
Farhan terlihat akrab bercengkrama dengan suami Arumi, karena memang mereka sering bertemu sebelumnya. Mereka berdua sedang duduk di ruang keluarga.
"Mama bangga sama suami kamu Nay, Farhan berhasil mendidik kamu jadi istri yang baik, kamu beruntung memiliki suami seperti dia," tutur sang Mama, ketiga wanita itu sedang berada di kamar tamu yang di jadikan sebagai kamar anak-anak.
"Iya Ma, aku juga beruntung menjadi istri Mas Farhan, dia baik, mengerti semua keadaanku, aku bersyukur Ma," timpal Nayla.
"Mbak juga ikut seneng melihat kamu bahagia Nay, semoga Enggar juga menemukan kebahagiaan nantinya meskipun tidak dengan Murni," Arumi menimpali.
"Aamiinn," mereka bertiga serempak mengamini.
__ADS_1
Bersambung....