
Farhan membuka pintu kamar hotel yang mereka tempati menggunakan kartu yang ia bawa, lalu masuk dan di susul oleh Nayla. Setelah Nayla masuk Farhan kembali menutup pintu, ia melihat Nayla yang sudah duduk di sisi ranjang. Lalu ia pun mendekat.
"Tidur dulu aja Nay, aku mau ngecek kerjaan," ucapnya pada sang istri, "Kamu enggak usah khawatir, aku tidak akan melakukan seperti yang pengantin baru lainnya lakukan saat malam pertama, aku akan melakukan itu jika kita sudah saling mecintai," tambahnya. Ia mengucapkan itu karena melihat wajah Nayla yang gelisah.
Nayla tersenyum malu, ia tidak menyangkan Farhan tahu isi hatinya, "Iya Mas, aku tidur dulu ya," ucapnya.
Farhan tersenyum, lalu ia mengangguki ucapan Nayla, "Selamat malam dan selamat tidur Nay," ucapnya, lalu ia melangkah menuju sofa.
"Iya Mas terimakasih," timpal Nayla, ia merebahkan diri dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai di atas dada. Memejamkan mata, karena rasa lelah yang menjalar seluruh tubuhnya, tak butuh waktu lama ia pun tertidur.
Sedangkan Farhan, ia membuka ponselnya memeriksa email yang masuk. Sudah beberapa hari ini ia cuti kerja, karena mempersiapkan pernikahannya. Bahkan cutinya pun hingga satu minggu ke depan, karena sesuai rencana ia akan berbulan madu setelah resmi menikah. Farhan jadi teringat akan bulan madu, akankah ia dan Nayla melakukan bulan madu? Farhan memutuskan untuk bertanya langsung besok saja pada Nayla, karena ia juga butuh pendapat Nayla.
Setelah selesai memeriksa beberapa email yang masuk, ia meletakkan ponselnya yang masih saja bergetar, banyak pesan yang masuk mengucapkan selamat dan tak jarang juga yang iseng mengatakan hal-hal aneh tentang malam pertama. Farhan tidak menanggapi pesan yang notabene dari teman-temannya waktu kuliah dulu. Ia memilih mendekat kearah ranjang, karena rasa kantuknya sudah tidak tertahan lagi. Merebahkan diri di samping sang istri yang sudah terlelap memunggunginya. Menarik selimut yang sama dengan yang di pakai Nayla, ia pun memejamkan mata. Tidur dengan memunggungi Nayla juga.
¤¤¤¤
Malam telah berganti dengan pagi yang sejuk, Nayla membuka matanya terlebih dahulu. Ia meraih ponsel, melihat jam yang ada di sana. Ternyata sudah pukul lima lewat, ia melihat ke arah suaminya yang tidur memunggunginya. Farhan terlihat masih nyenyak dalam tidurnya, tanpa membangunkan Farhan terlebih dahulu, ia pun masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu.
Setelah melaksanakan ibadah subuhnya, ia pun melangkah mendekati sang suami yang masih pulas dalam mimpinya.
"Mas Farhan bangun, subuh sudah hampir habis." Tampak ragu menggoyangkan tubuh sang suami.
Farhan menggeliat, ia perlahan membuka matanya menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada, "Jam berapa Nay?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hampir setengah enam Mas," jawab Nayla, ia melangkah meninggalkan Farhan karena Farhan sudah terbangun.
__ADS_1
Farhan mengangguk, lalu ia bangkit dari tidurnya, duduk sebentar kemudia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai sholat subuh, Farhan melihat Nayla yang sibuk dengan ponselnya sejak kemarin. Ia tidak peduli akan hal itu, karena ia tahu Nayla masih canggung satu kamar dengannya.
Farhan duduk di sisi Nayla. Nayla mendongak menatap wajah suaminya, "Kenapa Mas?" tanya nya, masih menatap wajah Farhan.
Farhan pun menatap wajah Nayla, "Aku masih cuti sampai seminggu ke depan, rencananya kemarin mau di gunakan untuk bulan madu," ia menjeda kalimatnya sebentar, "Kamu tahu kan maksduku? Gimana apa kamu mau kita bulan madu atau enggak?" tanyanya. "Karena jika aku memutuskan sendiri ini tidak akan etis," tambahnya sebelum Nayla menjawab.
Nayla berfikir sejenak, "Aku ikut apa yang jadi keputusan Mas Farhan," jawabnya, ia berfikir mungkin Farhan akan menggunakan waktu cutinya untuk berlibur.
Farhan mengangguk, "Baiklah, kita enggak usah bulan madu dulu ya, kamu enggak keberatan, kan?" tanya Farhan, ia yakin sebenarnya Nayla juga enggan untuk berbulan madu, tapi gadis itu memilih jawaban lain.
"Iya Mas, aku tidak masalah," jawabnya santai, ia memang sedikit mengagumi pemuda yang kini menjadi suaminya itu, tapi kalau rasa cinta sudah di pastikan belum tumbuh sedikit pun.
"Aku akan ikut kemanapun kamu membawaku pergi Mas," jawab Nayla, ia akan menurut kemanapun Farhan membawanya karena kini dirinya adalah tanggung jawab Farhan suaminya.
"Baiklah Nay, hari ini juga kita pulang ke rumah baru ya, nanti kita ke rumahmu dulu mengambil beberapa pakaianmu," ucap Farhan, karena memang Nayla belum membawa pakaiannya, bahkan orang suruhan Papanya tidak jadi mengantar pakaian untuknya, entah kenapa.
"Iya, sekarang aku akan beresin semuanya dulu ya," ucap Nayla, lalu dia melangkah membereskan beberapa pakaian mereka.
¤¤¤
Mereka sampai di rumah Nayla sekitar pukul sembilan pagi, karena sebelumnya mereka memilih sarapan terlebih dahulu. Nayla mengernyit saat melihat ada dua mobil berplat nomor luar kota, ia yakin kedua kakaknya ada di dalam. Entah itu di sengaja atau tidak ia tidak tahu.
"Sepertinya ada Kakaku," beritahu Nayla.
__ADS_1
"Bagus dong, sekalian aku kenalan sama kakak kamu," timpal Farhan, ia akan memencet bel rumah Nayla.
"Masuk aja Mas, enggak usah pencet bel segala," larang Nayla, ia menurunkan tangan Farhan yang akan memencet bel.
"Enggak sopan dong." Tangannya terangkat untuk memencet bel rumah Nayla.
Lagi-lagi Nayla menurunkan tangan Farhan, tapi kali ini ia tidak berhasil karena Farhan menahannya dengan kuat. Bukannya langsung membuka pintu Nayla justru masih berusaha menurunkan tangan Farhan yang masih menempel di dinding dekat tombol bel rumah. Farhan sengaja melakukan itu, ia sedikit mengerjai istrinya, yang terlihat imut saat kesal.
Kreek
Pintu terbuka, nampak seorang wanita yang umurnya terlihat seusia Farhan, "Ya ampun pengantin baru, di mana-mana maunya bermesraan melulu, enggak mikir sedang berada dimana," ucap wanita itu.
Nayla lebih dulu melepaskan tangannya yang tadi berada di lengan Farhan, di susul Farhan yang juga menurunkan tangannya.
"Mbak Murni sampai sini kapan?" tanya Nayla ia sengaja mengalihkan pembicaraan Kakak ipar perempuannya itu.
"Tadi malam, ajak suamimu masuk sana. Malah main drama di depan pintu," ucap Murni, ia istri dari Kakak laki-lakinya.
"Iya Mbak. Ayo masuk Mas," Nayla sengaja menarik salah satu tangan Farhan tentu saja Farhan tidak menolak dengan perlakuan Nayla.
Farhan menganggukkan kepala dan tersenyum pada Murni dan Murnipun membalas senyuman Farhan. Ia juga kembali masuk kedalam, sampai lupa jika tadi ia keluar rumah untuk mencari pembantu rumah tangganya.
Nayla dan Farhan masuk kedalam rumah, mereka di sambut oleh kedua orang tua Nayla beserta kakak dan kakak iparnya yang malam tadi baru saja datang. Keduanya menyalami kedua orang tua Nayla lalu ikut duduk berlesehan bersama mereka.
Bersambung......
__ADS_1