
Lima hari berlalu, kondisi Nayla sudah semakin membaik, satu persatu perban yang menempel di tubuhnya sudah terlepas. Tinggal beberapa perban dengan luka yang serius. Karena menurut keterangan dokter ia tertusuk pecahan botol kaca saat berguling-guling di pinggir jalan. Itu yang membuat Nayla kehabisan banyak darah. Ada sedikit keretakan di tulang kakinya juga. Untung saja bukan bagian kepala yang parah, karena Nayla melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
Farhan selalu setia menunggu Nayla di rumah sakit, ia membawa pekerjaannya ke rumah sakit. Ia tidak mau meninggalkan Nayla. Takut jika seseorang yang mencelakai Nayla datang kembali. Bahkan sampai saat ini mereka belum menemukan siapa pelaku sebenarnya. Entah secerdik apa pelaku itu, hingga tak mudah aparat menemukannya.
Pagi ini di ruang rawat Nayla hanya ada ia dan sang suami yang sedang sibuk memeriksa email yang masuk, sedangkan Nayla memegang ponsel di salah satu tangannya.
"Mas," Nayla memanggil sang suami yang sedang duduk di sofa berkutat dengan komputer lipatnya.
Farhan menoleh ke arah sang istri, lalu ia beranjak menghampiri istrinya, "Ada apa sayang?" tanya Farhan, ia mengelus rambut panjang Nayla.
"Aku mau minum, haus," rengeknya dengan manja.
Farhan pun meraih gelas dan mengisinya dengan air putih, lalu memberikan pada sang istri. Nayla pun menerima gelas itu dan menegaknya hinga habis. Lalu memberikan lagi gelas itu pada Farhan.
"Terimakasih Mas," ucap Nayla sambil tersenyum.
"Iya sayang, mau apa lagi? Mau buah?" tanya Farhan, ia tahu istrinya itu bosan berada di dalam ruang rawat beberapa hari tanpa melihat dunia luar. Sebenarnya ia ingin mengajak Nayla jalan-jalan tapi dokter belum mengijinkannya.
"Boleh deh,"
Farhan melangkah ke arah kulkas yang menyimpan berbagai macam buah dan makanan. "Mau yang mana? Ini? Ini? Atau Ini?" tanya Farhan sambil mengangkat satu persatu buah yang asa di sana.
"Apel aja Mas,"
Farhan mengangguk, lalu ia mulai mengupas apel lalu mengirisnya dan menaruh irisan apel yang sudah di kupas itu ke sebuah piring, lalu membawanya ke hadapan Nayla.
"Biar Mas yang suapin aja," ucap Farhan saat Nayla akan mengambil piring dari tangannya.
Nayla tersenyum, ia tidak menolak suapan dari suaminya.
"Sayang, kira-kira kamu tahu apa enggak siapa yang menyabotase mobil Mama?" tanya Farhan.
"Entahlah Mas, yang pasti orang itu menaruh dendam sama Mama bukan aku, buktinya mobil Mama yang di sabotase, kalau dia mau mencelakai aku kenapa enggak mobil aku aja. Terus ya, aku tu lihat orang mengikuti mobilku waktu itu sejak keluar dari rumah Mama," terang Nayla, ia mengingat-ingat saat sebelum kecelakaan, "Dan satu lagi, Mama itu jarang keluar pake mobil sendiri, sekalinya keluar pake sopir," tambahnya.
Farhan mencerna ucapan Nayla, benar juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Orang itu mengincar Mama mertuanya bukan istrinya. Dan mungkin pelakunya sudah mematai-matai rumah mertuanya sejak lama, karena sampai hafal mobil Mama Hania.
"Kenapa aku enggak kepikiran sampai situ ya," Farhan bertanya pada dirinya sendiri. "Apa Mama punya musuh sayang?" tanya Farhan.
Nayla menggeleng, "Sepertinya enggak Mas, aku juga enggak tahu," jawab Nayla, "Lagi Mas," rengeknya, karena Farhan melamun dan lupa menyuapi Nayla.
"Ah iya, maaf sayang," ucap Farhan lalu menyuapai satu iris apel ke dalam mulut Nayla.
__ADS_1
Saat sedang asyik bercanda, dan melupakan sejenak masalah mereka, tiba-tiba ponsel Farhan berbunyi.
Drrt Drrt Drrrt
"Aku angkat telfon dulu ya," ucap Farhan lalu ia beranjak dari duduknya, mengambil ponsel yang berada di dekat komputer lipatnya.
"Assalamu'alaikum, Pa,"
" ...."
"Papa Serius?"
"...."
"Baik Pa,"
Setelah mengucapkan salam, Farhan pun mematikan ponselnya lalu ia berjalan kearah Nayla.
"Papa kenapa Mas?" tanya Nayla, karena ia tadi mendengar Farhan menyebut nama Papanya.
"Papa ngasih tahu, kalau yang menyabotase mobil Mama sudah di temukan, mereka sedang diintrogasi oleh polisi dan belum mau mengakui siapa yang menyuruh," jelas Farhan, ia menceritakan apa yang di katakan oleh Papanya.
"Katanya ke luar negeri? Kok udah ketemu, dimana?" tanya Nayla penasaran.
"Entahlah Mas, tapi dia harus dapat pelajaran dari semua yang dilakukannya. Bukannya aku dendam, tapi supaya dia menyadari kesalahannya yang dengan sengaja mau menghabisi nyawa seseorang," timpal Nayla.
"Iya bener apa yang kamu katakan, dia harus mendapatkan balasan yang setimpal," ucap Farhan, ia juga tidak akan rela jika pelakunya terbebas begitu saja.
Krek
Pintu terbuka, nampaklah seorang dokter dan seorang perawat yang membawa rekam medik Nayla.
"Permisi, Pak, Bu, saya akan memeriksa kembali keadaan Ibu," ucap dokter itu dengan sopan.
"Iya Dok, silakan," Farham mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa Nayla.
Dokter pun mulai memeriksa keadaan Nayla, menjelaskan seperti apa kondisi Nayla saat ini. Setelah itu dokter tersebut, ijin untuk keluar ruangan Nayla, sebelum dokter keluar Farhan lebih dulu bertanya.
"Dok, apa istri saya boleh jalan-jalan ke luar ruangan? Kasian dia sepertinya bosan," tanya Farhan.
"Boleh, setelah di ganti perbannya dulu ya, tapi harus pakai kursi roda, karena luka di kakinya masih butuh perawatan lebih. Kalau gitu saya permisi," ucap dokter itu.
__ADS_1
"Baik, terimakasih Dok,"
Farhan tersenyum ke arah Nayla, saat dokter tersebut sudah keluar ruangan. "Nanti Mas ajak kamu jalan-jalan ya, Mas tahu kamu pasti bosan kan, di ruangan terus," ucap Farhan sambil mengelus rambut panjang Nayla yang sedikit kusut karena beberapa hari tidak tersentuh air.
"Iya Mas, aku juga pengen liat suasana luar, rasanya pengen cepet pulang malahan, enggak betah di sini," keluh Nayla.
"Yang sabar sayang, nanti kalau kamu sudah sembuh kita akan pulang," tutur Farhan dan diangguki oleh Nayla.
¤¤¤
Sore hari saat sedang asyik bercengkrama dengan istri dan juga Mama serta Mama mertuanya, Farhan di kejutkan dengan ponselnya yang kembali berdering. Ia pun meraih ponsel tersebut, berjalan ke luar ruangan Nayla dan menerima panggilan telfon tersebut
"Siapa Kak?" tanya Mama Sinta, setelah Farhan masuk ke dalam ruang rawat Nayla.
"Papa Adit Ma, kata Papa pelakunya sudah di temukan. Aku di suruh ikut menemui pelakunya sama Papa juga. Papa Adit baru saja di telfon kantor polisi," jelas Farhan.
"Yaudah, kamu kesana aja, biar kami berdua yang jaga Nayla, Raffa juga ada di sini, jadi kamu tenang aja," Mama Sinta mengijinkan putranya untuk menemui sang pelaku.
"Iya Nak, kamu ka kantor polisi aja, biar kami yang jaga. Tadi Arumi sama suaminya juga katanya sudah hampir sampai, jadi banyak yang jaga Nayla," timpal Mama Hania.
"Sayang, Mas tinggal dulu enggak apa-apa kan?" tanya Farhan pada sang istri.
"Iya Mas, di sini banyak yang nemenin aku juga," jawab Nayla.
Farhan tersenyum, lalu ia mengecup puncak kepala serta kening Nayla yang tertutup perban, lalu Farhan pun bergegas keluar rumah sakit menuju kantor polisi.
¤¤¤
"Pa, kalian sudah lama menunggu?" tanya Farhan setelah sampai di kantor polisi, melihat kedua Papanya yang sudah duduk di ruang tunggu.
"Baru saja masuk," jawab mereka berdua.
Tak lama mereka pun di tuntun untuk menemui pelakunya di ruang penjengukan.
Ketiga orang tersebut, nampak terkejut dengan orang yang di bawa oleh seorang polisi untuk menemui mereka.
"KAMU?"
Bersambung....
Siap-siap, nanti bakalan tahu siapa pelakunya🤭
__ADS_1
Siapa kira-kira ya?
Ayo tebak,