
Pagi hari terlihat Nayla terbangun lebih dahulu, ia bahkan enggan membangunkan suaminya. Masih teringat jelas di benaknya, ucapan sang suami tadi malam, membuat ulu hatinya kembali terluka. Bahkan semalam ia tidak bisa tidur nyenyak, pikirannya berkelana kemana-mana.
Masuk kamar mandi, keluar dengan keadaan lebih segar. Melirik ke arah ranjang ternyata Farhan sudah terbangun, suaminya itu baru akan beranjak dari atas ranjang. Nayla tidak memperdulikan itu, ia memilih melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Nayla memilih ke dapur, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja, entah apa yang akan ia lakukan apakah sanggup untuk memasak atau hanya menemani pembantunya saja.
"Bibik yang masak ya, aku lagi males Bik," ucap Nayla, ia sudah duduk di kursi ruang makan. Meraih air putih yang tadi sempat ia ambil, lalu menegaknya sampai tandas tak tersisa.
"Baik, Non," pembantu itu mengiyakan permintaan Nayla.
Merenung di ruang makan sepertinya bukan ide yang baik, Nayla memutuskan untuk ke area kolam renang, ia belum pernah sekali pun menggunakan kolam itu. Duduk di pinggir kolam, menenggelamkan kedua kakinya sampai lutut kedalam kolam. Fikirannya berkelana entah kemana, terlihat dari sorot matanya yang kosong, gadis itu sedang melamum.
Farhan yang baru saja pulang dari masjid karena jika hari minggu akan ada kajian sebentar, ia mencari Nayla ke dapur tapi gadis itu tidak ada di sana. Pembantu yang sedang memasak sarapan pun memberitahu jika Nayla berada di area kolam renang. Tentu saja Farhan merasa heran dengan perubahan sikap Nayla yang seperti itu, ia berfikir mungkin karena semalam ia pulang terlambat. Farhan akan menanyakan hal itu, tetapi ia lebih memilih masuk ke kamar berganti pakaian terlebih dahulu.
Setelah berganti pakaian, Farhan pun menyusul Nayla. Ia menghampiri gadis itu, duduk di sisinya. Sepertinya Nayla tidak menyadari kehadiran Farhan, karena gadis itu sedang berkelana dalam lamunanya.
"Kamu marah sama aku ya?" tanya Farhan, ia tidak sabar menanyakan hal itu.
Nayla bergeming, bahkan ia tidak menoleh ke arah Farhan. Netranya fokus menatap air kolam.
"Aku minta maaf, semalam ban mobilku kempes, sekarang mobilnya juga masih di kantor," ucap Farhan lagi, ketika Nayla tidak menjawab pertanyaannya.
Nayla tetap membisu, hingga membuat Farhan tak tahan, ia pun menarik tubuh Nayla supaya menghadapnya. Ia menyadari sesuatu, "Kamu nangis? Kenapa?" tanya Farhan khawatir.
Nayla menggeleng, lalu ia memilih untuk berdiri, "Aku mau mandi," ucapnya dan berlalu meninggalkan Farhan seorang diri, yang masih bingung dengan perubahan sikap Nayla.
"Apa salahku? Kenapa dia seperti itu, jika karena semalam aku pulang terlambat ... tapi rasanya tak mungkin dia sampai semarah itu di tambah dia seperti habis menangis," Farhan terlihat frustasi ia menjambak rambutnya karena tiba-tiba kepalanya pusing.
Nayla masuk ke kamar, ia langsung membersihkan diri di kamar mandi. Hari ini ia ingin menenangkan dirinya dengan menghindari Farhan, entah ia mau ke mana yang penting tidak berada di rumah, karena ini hari minggu sudah di pastikan Farhan tidak akan bekerja.
Setelah menyelesaikan acara mandi dan sebagainya, Nayla pun turun ke bawah, ia terlihat seperti akan pergi karena ia menenteng tas slempang di pundaknya.
"Kamu mau kemana Nay?" suara bariton Farhan mengehentikan langkah Nayla yang baru saja menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Mau ke rumah Mama," jawabnya tanpa menoleh ke arah Farhan.
"Biar aku antar," Farhan beranjak dari duduknya.
"Enggak usah," Nayla masih berdiri di tempat semula.
"Kenapa?" tanya Farhan, ia mendekat ke arah Nayla.
"Biarkan hari ini aku sendiri," ucap Nayla, sebelum Farhan sampai di sisinya, ia sudah lebih dulu melangkah.
"Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi tanpa sarapan," ucapan Farhan menghentikan langkah Nayla.
Tanpa sepatah kata pun Nayla melangkah menuju ruang makan, tentu saja Farhan mengikuti gadis itu.
Di meja makan tak seperti biasanya, bahkan kali ini Nayla tidak melayani Farhan. Sarapan dalam keadaan hening, sesekali Farhan melirik Nayla yang terus menunduk tanpa mau menatapnya. Ia semakin yakin jika ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan.
Selesai sarapan, Nayla lebih dulu beranjak dari duduknya. Saat akan melangkahkan kaki tiba-tiba tangannya di tarik oleh Farhan.
Nayla menggeleng.
Farhan meraih dagu Nayla, memaksakan supaya gadis itu menatapnya. "Katakan apa kesalahanku Nay, jika kamu bersikap dingin seperti ini dan tidak mengatakan apa pun, aku tidak akan mengerti," Farhan memohon, tetapi sepertinya Nayla masih enggan untuk berbicara.
"Biarkan aku sendiri hari ini," ucapnya tak menanggapi ucapan Farhan, ia enggan untuk menatap Farhan.
"Baiklah, jika itu maumu, aku tunggu penjelasanmu," putus Farhan, ia akan memberikan kesempatan gadis itu pergi tanpa penjelasan.
Sebelum gadis itu melangkah, Farhan lebih dulu mendaratkan bibirnya, di bibir Nayla. Merasa tidak ada penolakan, Farhan pun melakukan lebih tetapi aneh Nayla tidak membalas ciuman Farhan, tapi ia juga tidak menolaknya. Tentu saja itu membuat Farhan keheranan, lalu ia melepaskan bibirnya. Bergantian mendaratkan bibir itu di kening sang istri.
"Hati-hati ya," ucapnya.
Tidak kah Nayla merasakan jika sang suami sudah mencintainya, dengan semua tindakan Farhan, meskipun lelaki itu belum mengatakan lewat penuturan.
Nayla hanya mengangguk, lalu melenggang pergi meninggalkan Farhan seorang diri.
__ADS_1
Tentunya Farhan mengikuti Nayla hingga sampai depan rumah, tetapi kenapa gadis itu tidak membawa mobil sendiri? Farhan bertambah bingung, ia pun mengikuti langkah Nayla hingga ke depan gerbang, tentunya tanpa sepengetahuan Nayla. Ternyata Nayla menyetop taksi di sana.
Farhan menghela nafas, "Apa sebenarnya yang terjadi?" gumamnya, ia jadi bingung sendiri di buatnya.
Baru saja melangkah, meninggalkan gerbang, suara klakso mobil mengagetkannya.
Tin
Tin
Tin
Gerbang di buka oleh satpam, lalu mobil itumasuk ke area rumah Farhan. Berhenti di sisi Farhan, lalu seseorang itu keluar dari mobil, dan menyapa Farhan.
"Selamat pagi Pak, apa kita berangkat sekarang?" ternyata Dika yang datang, karena Farhan sempat menelfon Dika, suapaya datang ke rumah dan mengantar ke kantor untuk mengambil mobil Farhan.
"Tunggu sebentar, saya mau mandi dulu," ucap Farhan lalu ia melangkah memasuki rumah.
Dika pun memarkirkan mobilnya, lalu mengikuti Farhan masuk ke dalam rumah.
Waktu berlalu, keduanya kini sudah melenggang meninggalkan kediaman Farhan menuju kantor. Dika juga sudah memanggil tukang bengkel langganan untuk mengganti mobil Farhan.
Butuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit, Dika sudah memasuki area kantor. Ternyata mobil Farhan sudah siap, terlihat tukang bengkel itu sudah bersiap-siap kembali.
Keduanya turun dari mobil, lalu Farhan memberi upah pada tukang bengkel tersebut. Setelahnya ia memasuki mobil dan melajukan mobilnya, ia akan pulang ke rumah.
Entah mengapa, ia ingin melewati jalan yang tidak biasa ia lewati. Kali ini ia melewati taman yang biasanya ramai di kunjungi saat hari libur seperti ini. Ia melihat seklebet bayangan orang yang sangat ia kenali, untuk memastikannya ia pun menghentikan mobil di pinggir jalan.
Terlihat Farhan mengepalkan kedua tangannya, ia pun memukul setir mobil beberapa kali. Sorot matanya terlihat penuh amarah, raut wajah yang memerah menandakan ia benar-benar sedang memendam amarah.
Ia melihat dua orang yang amat ia kenali sedang tertawa bersama, entah apa yang sedang mereka tertawakan.
Bersambung....
__ADS_1