
Nayla masih terisak dalam dekapan sang Mama setelah Mama Hania menceritakan kronologis kenapa dirinya bisa di asuh oleh Mama Hania, padahal Mama kandungnya sendiri sudah menyakiti Mama Hania tapi wanita ini berbaik hati mengasuhnya dengan kasih sayang penuh. Ia semakin terisak mengingat itu semua. Mama Hania mengelus rambut panjang Nayla dengan lembut, mencoba menenagkan putrinya itu.
"Mama tahu ini berat buat kamu sayang, buat Mama juga sama, berat sekali. Tapi kamu memang harus mengetahui ini semua mau sekarang atau suatu saat nanti, sama saja," tutur Mama dengen lembut.
"Sekarang tenangkan dirimu, Mama yakin dalam keadaan tenang kamu akan berfikir lebih jernih, dan sedikit demi sedikit pasti bisa menerima semua ini," tambahnya.
Nayla mendongak menatap wajah wanita yang telah mengasuhnya sejak masih bayi, "Kenapa Mama mau mengasuhku? Bahkan aku merasakan seperti anak kandung Mama sendiri, tidak pernah terbesit dalam benakku jika aku ini anak tiri," ucapnya.
Mama tersenyum, menatap putrinya, "Karena memang seharusnya seperti itu, kamu tidak bersalah dalam hal ini, tidak mungkin juga Mama membenci bayi yang tidak tahu apa-apa, bahkan menjadi korban. Jika Mama bersikap tidak baik ke kamu, maka hidupmu sangat malang sekali, dan Mama tidak tega itu. Mama seorang ibu, Mama pernah terluka karena anak kandung Mama kurang mendapat perhatian Papanya, sakit rasanya, meski mereka berdua tidak masalah, tapi hati Mama yang tidak tega melihatnya. Belajar dari itu, Mama memeperlakukan kamu bahkan menganggap kamu seperti anak Mama sendiri, Mama membenci ibumu dulu, tapi tidak dengan kamu karena kamu juga korban dalam hal ini. Mengerti maksud Mama, kan?" jelas Hania panjang lebar, di akhiri dengan sebuah pertanyaan.
Nayla kembali memeluk erat sang Mama, "Makasih Ma, aku sayang banget sama Mama. Mama sudah berbaik hati untuk merawatku selama ini, makasih banget Mama," Nayla mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Mama Hania.
"Enggak usah berterimakasih, itu sudah kewajiban Mama, sayang," terlihat betapa sayanganya wanita paruh baya ini pada putrinya itu, meski dia tak terlahir dari rahimnya sendiri.
"Sekarang kamu istirahat ya, Mama akan menemui Papamu, dia pasti sedih," tutur sang Mama. Aditama sudah lebih dulu keluar dari ruang rawat Nayla, ia terlihat murung ketika putranya menolak dirinya, tapi ia juga sadar dirinya bersalah dalam hal ini.
Setelah kepergian sang Mama, kini giliran sang suami yang mendekat duduk di sisi Nayla.
"Apa kamu tahu masalah ini Mas?" tanya Nayla menyelidik.
Farhan mengangguk, lalu ia menceritakan jika kemarin Papa Aditama sudah menceritakannya, dan dia melarang Farhan untuk menceritakan pada Nayla.
Farhan menyentuk jemari sang istri, "Maaf sayang, aku harus menuruti keputusan Papa," ucapnya setelah menceritakan semuanya.
Nayla menghela nafas, "Aku harus gimana sekarang Mas?" tanyanya. Ia menatap wajah sang suami.
"Maafkanlah Mama Adela sayang, sepertinya beliau sudah menyesal. Meskipun beliau tidak mengasuhmu sejak bayi, tapi beliau yang mengandungmu selama sembilan bulan, adanya kamu juga karena ada beliau, bahkan darah yang mengalir dalam tubuhmu juga darahnya, sayang. Mas tahu ini berat, tapi cobalah sedikit demi sedikit, ya, jangan benci beliau hanya karena mau mencelakaimu, maafkanlah, Allah saja Maha Pengampun, masak kita yang hambanya tidak mau memaafkan," tutur Farhan panjang lebar.
__ADS_1
Nayla mengangguk, "Tapi aku butuh waktu Mas, untuk kembali bertemu dengannya, aku mau menenangkan diri dulu," timpal Nayla.
"Iya, Mas ngerti. Yang penting sekarang pikirkan kesembuhanmu dulu, karena ini saatnya makan siang dan minum obat," ucap Farhan, ia beranjak dari duduknya mengambil piring yang berisi makanan dan membawa ke hadapan Nayla.
"Aku Eng ...." Ucapan Nayla yerputus karena Farhan lebih dulu menyela.
"Enggak ada penolakan, biar Mas yang suapai," Farhan tahu apa yang akan di katakan sang istri.
Nayla tidak membantah, ia pun mengangguk dan menerima suapan dari sang suami.
¤¤¤
Malam hari, Adela tampak gelisah, karena sejak kejadian tadi pagi putranya itu tidak bisa di hubungi bahkan kini ponselnya mati. Adela takut Irfan pergi dari sisinya setelah mengetahui semua kenyataan yang ada. Sejak tadi pagi air matanya selalu menetes ketika mengingat ke dua anaknya itu. Duduk termenung di sisi ranjang, berkali-kali menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Ia berharap sesak dalam dadanya perlahan akan menghilang, pikiran negatifnya pun perlahan mulai memudar. Berkali-kali mengucap istighfar.
"Ma, Irfan butuh waktu, begitu juga Nayla. Jadi Papa harap Mama berfikir positif, berikan mereka berdua ruang untuk memikirkan semua ini," Aditya yang baru saja masuk bisa menebak apa yang menjadi pikiran istrinya.
Aditya duduk di sisi Adela, ia membawa wanita itu dalam pelukannya. Bukannya berhenti menangis Adela justru semakin terisak.
Adela diam, ia tidak kuasa berbicara, akhirnya ia menuruti perkataan sang suami.
Pagi menjelang, benar saja yang di katakan oleh Aditya, Irfan sudah berada di dalam rumah bahkan ini masih sangat pagi sekali. Setelah semalam ia sengaja menghindari Mamanya, akhirnya ia tidak tega jika wanita yang sudah melahirkannya dua puluh satu tahun yang lalu itu terus meradang dalam kesedihan.
Menghampiri sang Papa yang sedang duduk di ruang keluarga di temani secangkir kopi dan koran di tangannya.
"Mama mana Pa?" tanya Irfan, membuat Aditya menoleh kearah sumber suara, ia tersenyum ketika mendapati putranya sudah kembali.
"Mama di kamar, dia sudah menunggu kamu pulang Fan, sana temui dia sejak kemarin Mama tidak mau makan, mungkin kalau kamu pulang nanti dia mau sarapan," jawab Aditya panjang lebar.
__ADS_1
Irfan pun mengangguk, ia melenggang menuju kamar kedua orang tuanya. Membuka pintu kamar, nampaklah wanita paruh baya yang dulu mengandungnya selama sembilan bulan, sedang bersandar pada kepala ranjang, memandangi ponsel yang ada dalam genggamannya.
Irfan duduk di sisi ranjang, Mama Adela belum menyadari jika yang datang itu putranya, mungkin ia mengira yang datang suaminya.
"Ma," seketika Adela menoleh kearah sumber suara. Setelah mengetahui jika yang datang putra tercintanya, ia pun bringsut memeluk sang putra.
"Maafkan Mama Nak, selama ini telah membohongimu tentang keberadaan Papamu, Mama minta maaf, Mama hanya ingin kamu bahagia, Mama tidak mau kamu tahu jika dulu Mama pernah merebut suami orang, Mama tidak mau kamu tahu akan hal itu, Mama takut kamu membenci Mama," kristal bening menetes tanpa lelah dari pelupuk mata wanita paruh baya itu.
Irfan mengelus punggung sang Mama yang berada dalam pelulannya, "Aku sudah memaafkan Mama, aku ngerti Ma perasaan Mama seperti apa. Bang Fahri sudah cerita semua sama aku. Aku memang terkejut, saat itu. Tapi yang buat aku marah sama Mama kenapa Mama mencelakai orang Ma? Apa Mama tidak memikirkan nasib Mama?"
"Niat Mama mau balas dendam Fan, tapi ternyata Mama justru mencelakai anak Mama sendiri, mama menyesal Fan, menyesal sekali. Dendam itu justru menyakiti Mama sendiri, coba saja Mama tidak melakukan itu, Nayla pasti akan menerima Mama sekarang," tutur Adela dalam isaknya.
"Sudah Ma, aku akan bantu Mama, supaya Nayla mau memaafkan Mama. Aku janji akan bawa Nayla kehadapan Mama, dia pasti akan memaafkan Mama, aku janji Ma," Irfan menyingkirkan egonya, ia sadar tidak mungkin mendapatkan Nayla seperti yang ia inginkan, karena status mereka yang ternyata saudara kandung. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Mamanya, karena sejak dulu pemuda itu selalu memprioritaskan sang Mama.
Mama Adela melepas pelukannya, ia menatap lekat wajah sang putra, "Makasih Fan," Irfan pun mengangguk, "Apa kamu sudah menerima jika Nayla itu adikmu sendiri?" tanya sang Mama.
"Mau aku terima apa tidak, status kita tetap sama Ma, dia adikku, darah yang mengalir dalam tubuhku sama dengan darah yang mengalir dalam tubuhnya Ma, meskipun sulit untukku menerima ini, tapi aku tidak akan bisa menolak. Sekarang yang harus aku lakukan mencoba menerima semuanya, mungkin sekarang sulit, tapi suatu saat aku pasti bisa Ma," tutur Irfan.
"Bang Fahri memberi banyak nasehat, sehingga aku bisa berfikir seperti ini," tambahnya.
"Mama salut sama kamu, makasih ya Nak," Mama Adela kembali memeluk tubuh putranya. Ia sadar ternyata putranya sudah dewasa, bahkan bisa menyikapi semua ini dengan baik.
"Apa kamu benci sama Papamu?" Adela melepas pelukannya, ia menatap sang puta saat bertanya seperti itu.
Irfan menghela nafas, "Kalau soal itu, entahlah Ma. Aku masih berat menerimanya, Papa yang dulu meninggalkan Mama, bahkan tidak pernah mencari kita Ma, mungkin dia juga melupakan kita, tapi aku akan tetap menghormati dia sebagai Papaku, meskipun berat Ma," sebenarnya Irfan benci dengan lelaki itu, kenapa bisa melupakan dirinya dan sang Mama? Tapi ia tidak mau mengatakan itu di hadapan sang Mama, takut jika Adela terfikirkan akan hal itu.
"Mau seperti apa pun, dia tetap Papa kamu Fan, Mama saja sudah memaafkan dia, kamu juga harus memaafkannya ya," tutur lembut Adela.
__ADS_1
Irfan hanya menanggapi dengan anggukan.
Bersambung....