
Farhan mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Nayla, "Maksdunya?" tanyanya.
"Enggak bermaksud apa-apa, sudah sana kalau mau mandi, biar aku siapkan baju ganti." Ucap Nayla lalu mendorong Farhan masuk ke dalam kamar mandi.
Waktu berlalu, Farhan sudah selesai mandi dan sebagainya. Ia melihat sekeliling kamar, Nayla tidak ada, tadi ia mengatakan mau menceritakan sesuatu, tapi lihatlah saat ini justru dirinya menghilang. Baru saja akan keluar kamar, suara dari depan pintu bersamaan dengan pintu terbuka menghentikan langkahnya.
"Mas, makan siang dulu ya, belum makan kan?" tanya Nayla, pasalnya tadi Farhan pulang sudah hampir tengah hari.
"Iya, Nay," jawab Farhan, ia berjalan mendekati Nayla lalu keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan.
Setelah makan siang keduanya kembali naik ke atas, Nayla mengajak Farhan ke ruang kerjanya.
"Kenapa ke sini?" tanya Farhan saat Nayla menarik tangannya memasuki ruang kerja.
"Aku mau tunjukin sesuatu, dan itu yang mau aku tanyakan juga," jawab Nayla tanpa menoleh ke arah Farhan.
Farhan pun mengikuti tanpa protes, ia duduk di sofa sedangkan Nayla melangkah ke arah meja kerjanya, membuka laci di bawah meja lalu mengambil selebar foto yang semalam ia temukan.
Nayla duduk di sisi Farhan, ia menyodorkan foto tersebut ke hadapan Farhan. Tak urung Farhan pun menerima foto itu.
"Mas Farhan belom bisa move on dari dia ya? Makanya masih nyimpen foto kalian berdua," ucap Nayla dengan nada sendu.
Farhan tersenyum, ia tahu gadia itu sedang cemburu, "Mas enggak tahu kalo foto ini masih ada, Mas kira udah membuang semua foto-foto dia, bahkan enggak pernah buka laci itu," ucap Farhan, lalu ia menyobek foto itu menjadi dua bagian, yang sebagian ia sobek-sobek menjadi beberapa bagian dan sebagian lagi ia berikan pada Nayla.
"Sekarang ini milik kamu, simpanlah, atau mau kamu sobek juga?" tanya Farhan saat memberikan potongan foto dirinya pada Nayla.
Nayla mengernyitkan dahinya, ia tidak faham dengan apa yang di katakan Farhan, kenapa ia harus menyimpan foto sobekan seperti itu.
"Untuk apa aku simpen foto ini? Aku enggak mau nyimpan foto itu, maunya yang asli aja bukan fotonya," ucapnya tersenyum malu-malu lalu menunduk.
Farhan menarik dagu Nayla, membuat gadis itu mendongak menatapnya. Mendekatkan wajah ke wajah Nayla, seakan tahu apa yang akan Farhan lakukan, ia pun menutup bibirnya dengan telapak tangan.
__ADS_1
Farhan mengernyitkan dahinya, ia sedikit kesal dengan penolakan yang Nayla berikan. "Kenapa?" tanyanya.
Bukannya menjawab, Nayla justru menunjuk ke arah atas, di mana ada CCTV disana. Farhan melihat ke arah telunjuk Nayla, kesalnya menghilang bergantian dengan senyum di bibirnya, ia tadi mengira Nayla menolaknya karena alasan lain.
"Kalau di liat orang lain kan enggak lucu Mas," ucap Nayla.
"Enggak bakalan, palingan Mas yang liat," timpal Farhan.
Nayla mendengus, "Masih ada lagi yang ingin aku tanyakan," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Oke deh. Eh kok tanya lagi? Katanya mau cerita, kan Mas penasaran juga sama cerita kamu,"
"Oke deh, ceritanya jangan di sini, karena di sini udah selesai," ucap Nayla lalu ia beranjak dari duduknya.
"Iya di kamar aja, biar bisa melakukan tadi yang tertunda," timpal Farhan dengan tersenyum menggoda.
Nayla menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik badan akan duduk lagi di sofa, dengan gerakan cepat Farhan mencegahnya.
Nayla tidak menjawab, ia kembali melangkah meninggalkan ruang kerja Farhan dan masuk ke dalam kamar.
"Ayo katanya mau cerita," keduanya kini berada di atas ranjang, dengan Farhan berbaring di sisi Nayla yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mas, sebelumnya aku minta maaf udah diemin kamu selama beberapa hari ini, aku nyesel," ucap Nayla sambil menatap Farhan yang berada di sisinya.
Farhan beranjak, ia pun ikut duduk di sisi Nayla, "Mas juga minta maaf, ini semua karena Mas cemburu liat kamu di taman waktu itu sama Irfan, apalagi kamu malah cuek dan itu membuatku jadi bertambah kesal," jelas Farhan.
"Jadi Mas Farhan liat aku sama Irfan di taman?" tanya Nayla, ia menghela nafas, Farhan pun mengangguk.
"Waktu itu aku enggak sengaja ketemu sama dia, terus kami mengobrol. Dia tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu, terus aku jujur sama dia, kalau malam itu aku cemburu denger Mas Farhan karena manggil-manggil nama mantan dan mengatakan kalau masih cinta sama dia, dan itu juga yang jadi alasan aku diam sama Mas," Nayla menatap netra Farhan. "Apakah Mas masih mencintai dia?" tanyanya.
Farhan menghela nafas, "Jujur ya Nay, sulit sekali buat aku melupakan dia yang udah bertahun-tahun berada di dalam sini," menunjuk dadadnya, "Tapi seiring berjalannya waktu rasa itu telah terkikis Nay, dan aku baru sadar kalau cintaku ke dia sudah berpaling," menatap Nayla yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Aku baru sadar kalau aku mencintai kamu, ya waktu itu saat aku melihat kamu sama Irfan, aku cemburu Nay," tambahnya.
Nayla tersenyum, tanpa terasa air matanya lolos begitu saja tanpa permisi, tentu saja itu air mata bahagia. Lalu Nayla memeluk Farhan dan di balas oleh pemuda itu.
"Makasih Mas, aku juga cinta sama kamu. Aku bahagia banget dengernya," Nayla menyeka air matanya, masih dalam pelukan Farhan.
Farhan mencium puncak kepala Nayla beberapa kali, melepaskan pelukannya lalu ia mengecup kening bergantian dengan kedua pipi dan bibirnya sekilas.
"Udah enggak usah nangis, belum di apa-apain sudah nangis duluan," ucap Farhan, menyeka sisa air mata di pipi Nayla.
"Ini tu, terharu Mas, bukan nangis karena sedih," timpal Nayla cemberut, lalu ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Farhan pun melakukan hal yang sama. Ia meletakkan satu tangannya di pundak Nayla, lalu menarik kepala gadis itu supaya bersandar di pundaknya.
"Aku mau cerita kejadian kemarin Mas, tapi Mas Farhan jangan marah ya," ucap Nayla sambil menatap wajah Farhan dari samping.
"Iya sayang," timpal Farhan sambil tersenyum.
Nayla menceritakan kejadian kemarin dan beberpa hari yang lalu saat keduanya tenggelam dalam lautan ego masing-masing.
Farhan menyimak, ia tampak sedikit terkejut dengan cerita Nayla. "Jauhi Irfan, dia bisa berbuat nekat sama kamu dan Mas enggak mau itu terjadi, Mas tahu banget bagaimana watak anak itu, dia akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang dia mau," menjeda kalimatnya sejenak, "Jadikan pelajaran dari kejadian ini, masalah rumah tangga kita jangan di ceritakan pada orang lain, jika kepepet boleh cerita tapi dengan orang terdekat kita," ucap Farhan mewanti-wanti.
Nayla mengangguk, "Iya Mas, aku sadar sekarang. Aku juga akan menghindari Irfan," timpa Nayla.
"Jangan cuma Irfan saja, tapi semua laki-laki yang bukan mahrom," ucap Farhan, "Cukup aku saja laki-laki yang dekat dengan kamu," tambahnya sambil tersenyum.
"Ma ...." Ucapan Nayla terpotong karen Farhan menyela. Ia tahu jika Nayla akan protes.
"Maksdunya deket-deket kaya gini sayang," entah sejak kapan wajah keduanya sudah tidak berjarak. Nayla memejamkan mata, merasakan sentuhan benda kenyal menyentuh bibirnya. Keduanya saling bertukar saliva, menumpahkan rasa rindu yang terpendam.
Bersambung.....
__ADS_1
》》Pliss jangan di bayangkan. upst.