Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Ada Apa Ini Sebenarnya?


__ADS_3

Aditama keluar dari ruang penjengukan, ia menghampiri besan dan menantunya.


"Mas Aditama kenal sama Dela?" tanya Papa Bayu, setelah melihat besannya itu keluar dari ruang penjengukan.


Aditama mengangguk, "Saya akan menjelaskan sesuatu pada kalian, tapi tidak di sini. Mari kita cari tempat yang lebih nyaman sebelum kembali ke rumah sakit," ajak Aditama pada dua lelaki di hadapannya. Keduanya pun mengangguk lalu mengikuti kemana Aditama melangkah.


"Sebentar, saya mau bicara dengan petugas dulu," ucap Aditama sebelum benar-benar keluar dari kantor polisi. Papa Bayu dan Farhan memilih menunggu di luar, tak butuh waktu lama Aditama pun sudah keluar dari kantor polisi.


Di sinilah mereka saat ini, di kantor Aditama yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor polisi. Mereka bertiga sudah duduk di sofa ruang kerja Aditama.


"Saya mencabut tuntutan pada Dela," ucap Aditama.


Besan dan menantunya tampak terkejut mendengar ucapan Aditama. Kenapa bisa semudah itu melepaskan pelaku yang hampir saja membunuh anaknya sendiri.


"Tapi kenapa Pa?" tanya Farhan heran.


"Karena Adela itu Mamanya Nayla, dia terpukul setelah tahu yang sebenarnya. Saya juga menyuruh dia untuk datang menemui Nayla, karena mungkin ini saatnya kalian semua tahu, bahwa Nayla bukan anak Hania tapi anakku dengan wanita itu," Aditama tampak menunduk, lalu ia kembali menceritakan semua masa lalunya dengan Adela dan Hania, hingga terlahir Nayla.


Dua lelaki berbeda generasi itu nampak terkejut dengan kenyataan yang ada. Tetapi mereka tetap menghargai keputusan Aditama, mengingat Adela adalah ibu kandung Nayla.


Setelah mendengar kisah hidup Aditama, ketiganya pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


¤¤¤


Ketiga lelaki itu tiba di rumah sakit setelah melaksanakan sholat maghrib. Mereka bersama-sama masuk ke dalam ruang rawat Nayla. Yang di dalamnya ada Mama dan Mama mertua Nayla karena yang lain sudah pamit undur diri.


Nayla penasaran dengan siapa pelaku yang membuatnya celaka, sejak tadi ia selalu bertanya pada sang Mama, tetapi Mama mengatakan tidak mengetahuinya. Saat melihat kedatangan tiga lelaki yang baru saja memasuki ruangan rawatnya, Nayla tidak sabaran ingin bertanya.


"Siapa yang menyabotase mobil ku Pa, Mas?" tanyanya.


Yang di tanya saling menatap satu sama lain. "Kita akan ketemu besok dengan orangnya, jadi kamu akan tahu besok," jawab Papa Aditama.

__ADS_1


Nayla tampak cemberut, ia sudah sangat penasaran tapi mereka bertiga tidak mau memberi tahu yang sebenarnya. Ia akan mencoba membujuk sang suami nanti saat kedua orang tua dan mertuanya sudah kembali ke rumah masing-masing.


Tak berapa lama, akhirnya mereka berpamitan. Karena Farhan menyuruh mereka semua untuk pulang, ia sendiri yang akan menajga istri tercintanya.


"Mas," Nayla menepuk tempat kosong di sebelahnya, menyuruh Farhan untuk mendekat, saat lelaki itu baru saja ke luar dari kamar mandi.


Farhan pun duduk di sisi Nayla, "Kenapa sayang?" tanyanya, salah satu tangan terulur mengusap rambut panjang Nayla.


Nayla menyandarkan kepalanya di dada sang suami, "Mas, aku penasaran kalian tadi menemui siapa? Terus siapa yang menyabotase mobil Mama?" tanya Nayla dengan memelas, ia berharap Farhan memberi tahu siapa pelakunya.


"Kamu enggak usah pikirin itu, yang penting pikirkan kesehatanmu dulu, oke," tutur Farhan lembut.


Nayla menghela nafas, ternyata suaminya pun sama tidak mau memberi tahu, "Kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku, iya kan Mas?" Nayla menyadari itu. Karena sikap Papa dan suaminya yang aneh. Apalagi ia tadi sempat melihat Mamanya juga sedang memikirkan suatu hal.


"Enggak sayang, enggak ada yang kami sembunyikan, percayalah," Farhan meyakinkan Nayla, "Sekarang tidur ya, biar Mas temani tidur di sini," tambahnya.


Nayla menurut, saat lebih baik tidak menanyakan hal itu lebih dalam, pikirnya. Karena masih ada kesempatan besok, jika tergesa-gesa yang ada ia tidak mendapatkan jawaban yang pas.


¤¤¤


Pagi hari setelah sarapan, Nayla di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang selalu ia hindari, bahkan orang itu datang bersama Mamanya, dan lagi ada dua orang lelaki yang ia tahu itu sahabat dari mertua dan suaminya. Tapi ia belum tahu, jika Aditya itu Papa dari Irfan, karena mereka memang tak pernah bertemu secara bersamaan.


"Mas, ngapain mereka semua kemari? Aku malu," bisik Nayla pada suaminya.


"Ya mau jenguk kamu, emang mau apa lagi?" Farhan justru balik bertanya, ia seakan-akan tidak mengetahui tujuan mereka datang.


"Tante, Om, Mas Fahri," Nayla menyapa mereka terkecuali Irfan, ia enggan menyapa pemuda itu.


Mereka semua mengulum senyum, satu persatu menyalami Nayla.


Farhan berdiri lalu duduk di sofa bersama mertuanya, ia memberi ruang pada mereka untuk berbicara dengan Nayla.

__ADS_1


"Bagaimana keadaanmu sudah baikan?" Aditya membuka suara lebih dahulu, ia tahu istrinya tidak kuasa berkata apa pun karena menahan sesak atas penyesalannya.


Ya, Adela sudah menceritakan semuanya pada sang suami, meski Aditya awalnya kecewa karena perbuatan kriminal yang dilakukan oleh Adela, tetapi ia bisa memaafkan saat melihat ketulusan Adela yang menyesali semua perbuatannya, apalagi berimbas pada putri kandungnya sendiri.


"Alhamdulillah, lebih baik Om," jawab Nayla. "Kalian saling mengenal?" tanya Nayla karena ia penasaran.


"Dela ini istri saya Nak," jawab Aditya, ia menarik istrinya dalam pelukan.


"Owalah, jadi Om Aditya ini Papanya Irfan? Kok bisa kebetulan sekali ya?" Nayla tampak menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Padahal mereka saling mengenal satu sama lain, tapi mengapa ia tidak tahu jika mereka satu keluarga.


Aditya tersenyum lalu mengangguk, "Tante Dela mau bicara sama kamu katanya," Aditya menepuk pundak sang istri, lalu ia ikut mendudukkan dirinya di sofa.


Adela menarik nafas dalam-dalam, membuangnya dengan perlahan. Karena jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Ia takut putrinya tidak akan menerima dirinya, apalagi ia sudah mencoba membunuh putrinya itu.


Adela mencegah Irfan saat pemuda itu akan berjalan menuju sofa, "Kamu tetap di sini, Mama mau bicara sama kalian," tutur Adela.


Nayla dan Irfan bersama-sama menatap lekat wajah Adela sambil mengernyitkan dahi, heran.


Sedangkan di sofa, Hania tampak menenggelamkan kepalanya di dada sang suami, ia tidak kuasa menahan air matanya. Berat sekali jika anak yang sudah ia besarkan sejak dari lahir itu mengetahui siapa jati dirinya sesungguhnya. Ia takut sang putri akan membencinya, bahkan mungkin meninggalkannya.


Nayla bertambah bingung, saat mereka semua hening, bahkan ia sempat melihat Mamanya menangis. Lebih bingung lagi ketika melihat Adela juga terisak bahkan wanita itu belum mengucapkan sepatah kata pun.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Nayla. Karena di sini dirinya seperti orang bodoh, begitu pun Irfan.


Pemuda itu juga bingung dengan sikap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, apalagi saat melihat Mamanya.


"Iya ada apa sih? Mama kenapa nangis, dan mau bicara apa?" tanya Irfan yang sama penasarannya.


Bersambung....


Aku jelasin part selanjutnya ya, biar enggak gantung...

__ADS_1


__ADS_2