Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Ini Maksudnya Apa?


__ADS_3

"Ini maksudnya apa?" tanya Farhan, ia memperlihatkan foto dirinya.


Nayla menutup mulutnya terkejut, kenapa ia sampai melupakan foto itu. Seingatnya foto itu sudah ia hapus, tapi nyatanya belum.


"Em ... itu ... anu," ucap Nayla terbata, ia bingung harus menjelaskan bagaimana.


Farhan mengernyitkan dahinya, "Itu, anu apa?" tanyanya.


Nayla menarik nafas dalam-dalam, "Itu Icha yang menyimpan Foto Mas Farhan," kilahnya, ia tidak mau jujur, malu sekali jika harus jujur, pikirnya.


"Sepertinya bukan dia, jawab jujur aja, aku tidak masalah jika kamu jujur." Farhan menatap Nayla, yang ditatap justru menundukkan wajahnya malu.


"Nay, coba lihat aku, terus katakan yang sebenarnya," pinta Farhan.


Nayla memberanikan diri menatap wajah Farhan, ia justru bertambah gugup saat menatap wajah itu, "Emang itu aku yang menyimpan," jawabnya. Ia kembali menunduk.


"Aku kagum aja sama Mas Farhan, bisa menyayangi adik-adiknya, bahkan aku yang bukan adiknya aja merasakan kasih sayang seorang Kakak dari Mas Farhan," jelas Nayla.


Farhan tidak menyauti, ia tahu jika Nayla masih mau melanjutkan ceritanya.


"Sedangkan Kakakku sendiri tak pernah menganggapku ada," setes air bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya, "Aku bahkan tidak tahu apa salahku, sejak dulu Kakak laki-lakiku tak pernah menyukaiku, aku tanya sama Mama, Papa, mereka selalu menjawab, Kakak kamu memang seperti itu Nay, tapi aku rasa tidak, ia seperti itu hanya denganku, jika dengan Kak Arumi ia bersikap biasa saja," Nayla menyeka air matanya yang semakin membanjiri wajah cantiknya, "Sejak aku kenal Mas Farhan, aku mengagumimu, aku kagum karena Mas bisa menyayangi adik-adik Mas dengan tulus," tambahnya.


Farhan meletakkan laptop di atas meja, lalu ia meraih tubuh Nayla kedalam pelukannya. Ia mengusap-usap punggung Nayla, "Sudah jangan nangis lagi, Kakak kamu mungkin punya alasan tersendiri, yang penting kamu tidak membalas dengan perlakuan yang sama," masih setia mengusap-usap punggung istrinya.


"Ya, meskipun waktu itu aku juga kesal, tapi kesalku hanya sesaat, nanti jika bertemu lagi aku akan bicara dengannya," tambah Farhan.


Nayla masih menangis dalam pelukan Farhan, ia tidak membalas pelukan itu.


"Menangislah jika memang membuatmu lebih tenang,"


Nayla melepaskan pelukan Farhan, menggeleng, "Buat apa aku nangis, jika tidak akan merubah keadaan," ia menghapus air matanya.


Farhan pun ikut mengahpus air mata Nayla dengan buku-buku jarinya. "Sudah ya, enggak usah di pikirkan," ucapnya.


Nayla mengangguk, "Iya Mas," ucapnya lalu merubah posisi duduknya tidak lagi menghadap Farhan.

__ADS_1


"Kita sholat maghrib aja ya, aku sholat di rumah aja bareng kamu," ucap Farhan, karena ia biasanya sholat di masjid ketika dirinya di rumah. Saat ini ia ingin sholat di rumah, karena melihat Nayla yang seperti itu, jadi ia tidak tega meninggalkan gadis itu.


Nayla mengangguk, lalu ia beranjak dari duduknya melangkah menuju kamar mandi.


Keduanya sudah siap melaksanakan sholat, tentunya Farhan sebagai imamnya.


Baru kali ini Nayla mendengar suara merdu Farhan saat melantunkan ayat suci, ia begitu menikmati lantunan nan indah itu. Bahkan tanpa terasa air matanya menetes mendengar Farhan membaca ayat suci.


Setelah selesai sholat, Farhan memutar tubuhnya, ia meyodorkan tangannya untuk di cium oleh Nayla, tampak ragu Nayla pun menerima dan mencium punggung tangan Farhan. Ia bahagia, karena Farhan benar-benar menepati janjinya untuk belajar mencintai, terlihat dengan sikap manis yang Farhan berikan. Mungkin ia benar-benar membuka hatinya untuk Nayla.


"Sudah, enggak usah di pikirkan lagi," Farhan mengira Nayla masih memikirkan masalah yang tadi, padahal ia memikirkan hal lain.


"Iya Mas," timpal Nayla.


Nayla melepas mukenanya, begitu pun Farhan. Ia melepas pakaian sholatnya.


"Ayo kita makan, aku penasaran sama masakan kamu," ajak Farhan.


Keduanya pun keluar kamar menuju ruang makan, di ruang makan Farhan tersenyum melihat kreasi masakan Nayla, tampilannya sih cantik tapi entah rasanya seperti apa. Semoga aja secantik tampilannya.


"Semua aja, aku penasaran sama rasa masakannya," ucap Farhan sambil tersenyum.


Hati Nayla berbunga-bunga mendengar ucapan sederhana Farhan. Itu membuatnya lebih semangat lagi untuk memasak.


Nayla meletakkan piring yang sudah diisi oleh nasi dan lauk di hadapan Farhan, lalu ia pun mengambil nasi dan lauk untuk dirinya.


Nayla memperharikan Farhan, saat Farhan memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Sesaat kemudia Farhan tersenyum.


"Gimana rasanya Mas?" tanya Nayla, penasaran.


Farhan mengangguk, "Enak, kamu coba aja sendiri," jawab Farhan.


Nayla mulai menyendok nasi beserta lauk, ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia pun tersenyum canggung, "Kemanisan ya Mas?" ucapnya setelah mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Sedikit, tapi lumayan dari pada tadi pagi," Farhan tersenyum, "Masih banyak waktu untuk memperbaikinya, besok masak lagi ya, aku siap jadi jurinya," tambahnya, masih dengan tersenyum ke arah Nayla.

__ADS_1


Tentu saja Nayla bahagia mendengar ucapan Farhan, ternyata suaminya itu begitu baik. Mendukungnya untuk terus belajar supaya bisa memasak.


Keduanya kembali melanjutkan makannya, mereka tampak hening menikmati makanan yang di masak oleh Nayla. Meski rasanya sedikit manis, tapi tetap masih bisa di makan.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nayla membereskan piring-piring kotor bekas makanan mereka, ia mengernyit saat Farhan masih setia duduk di kursinya, dan memperhatikan Nayla.


"Kenapa masih di situ Mas?" tanya Nayla.


"Mau nungguin kamu," tersenyum, "Enggak usah di cuci, biar Bibik yang cuci piringnya," tambahnya.


"Tap ...." sebelum Nayla menyelesaikan ucapnnya Farhan lebih dulu meraih tangan Nayla, lalu ia membawa Nayla keluar dari dapur dengan menggandeng tangan gadis itu.


Nayla menurut, ia mengikuti langkah Farhan sambil terus menatap tangan yang di gandeng oleh suaminya.


Merka pun sampai kamar, lalu Farhan melepas tangannya, lalu ia duduk di sofa. Sedangkan Nayla masih saja mematung di pertengahan kamar.


"Kenapa melamun lagi Nay?" tanya Farhan saat mendapati Nayla tak kunjung bergerak dari tempatnya.


"Sini, aku mau bicara." Farhan melambaikan tangannya, suapaya Nayla mendekat.


Nayla pun berjalan menghampiri Farhan, lalu duduk di sisi suaminya itu. Ia duduk sambil menundukkan kepala, entah kenapa ia malu jika berhadapan dengan suaminya itu. Padahal sebelum menjadi istri Farhan, ia biasa saja ketika berada di dekat Farhan.


"Nayla," panggil Farhan, ia sengaja memanggil Nayla supaya gadis itu menatapnya.


Benar saja Nayla mengangkat kepalanya, ia menatap Farhan, "Iya Mas," ucapnya.


"Besok kan hari minggu, gimana kalau kita jalan-jalan? Supaya mengenal satu sama lain, kamu setuju enggak?" tanya Farhan.


"Aku ikut aja Mas," jawab Nayla.


"Oke, besok kita pergi. Menurut kamu enaknya kemana? Nonton? Pantai? atau ke taman?" tanya Farhan lagi, ia memberi pilihan pada Nayla.


Nayla berfikir sejenak, "Pantai sepertinya lebih seru," jawab Nayla.


"Oke, kita ke pantai besok ya," putus Farhan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2